2. Tugasku melindungimu.

Bang Alden berjaga di sekitar kamar Syandrina. Terdengar suara des_ah dan rintihan dari dua insan manusia yang tengah di mabuk cinta.

Sebatang rokok telah habis di hisapnya namun Syandrina belum juga keluar dari dalam kamar.

"Egh.." kali ini erangan seorang pria yang mungkin telah usai menunaikan hajatnya.

"Kamu nikmat sekali Lily, kapan kita bisa bertemu lagi?" Kata seorang pria hidung belang.

"Kapan saja Om mau." Jawab Syandrina.

'B******n, mau Syandri jungkir balik pun aku tak peduli. Kecil begitu sudah bisa melayani pelanggan.'

Tak lama pintu terbuka. Pria hidung belang itu meninggalkan satu kecupan di bibir 'Lyli'.

Sebelum meninggalkan kamar, pria itu pun sempat melirik Bang Alden.

Setelah pria itu benar-benar pergi, Syandrina jatuh terduduk. Kakinya benar-benar kram karena terlalu lelah.

"Aku capek, tapi masih ada satu di bule Afrika. Bagaimana cara menolaknya." Gumam Syandrina.

"Lemah sekali, semua pekerjaan mengandung resiko." Jawab Bang Alden kemudian menerobos masuk ke dalam kamar dengan papan nama Lyli.

Syandrina segera menyambar handuk kimononya untuk menutupi tubuhnya agar terlihat sedikit lebih sopan di hadapan Bang Alden.

Tak banyak kata Bang Alden membongkar lemari dan nakas yang ada disana hingga ia menemukan bungkusan bersebelahan dengan banyaknya karet pengaman dalam laci.

"Untuk apa Mas ambil pembalut?? Mas lagi dapet tamu??" Tanya Syandrina.

"Pakai akalmu, masa iya kamu beralasan datang bulan tapi tamu mu tetap memintamu melayaninya???" Kata Bang Alden.

"Mereka tamu 'luar' jelas tidak akan peduli Mas, apalagi kami-kami ini pakai pengaman." Jawab Syandrina.

"Apa semua laki-laki begitu??"

"Tidak semua." Jawab Syandrina lagi.

"Kalau begitu gunakan alasan klasik, katakan kamu sedang datang bulan." Saran Bang Alden.

"Disini di catat tanggal berapa saja tanggal kami haid."

"Aaahh kau pikir saja sendiri lah Syan. Ini masalahmu kenapa saya yang harus pusing." Omel Bang Alden kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar.

Syandrina pun segera berlari dan menarik tangan Bang Alden. "Maaass.. jangan pergi..!! Tolongin Syandri doonk..!!" Rengeknya seperti tadi dan jelas hal itu sebenarnya membuat Bang Alden kesal.

"Kamu ini banyak mau ya, berani bayar saya berapa??" Bang Alden kembali mengomel karena malas meladeni Syandrina.

"Mas Al maunya berapa? Atau mau ini?" Syandrina membuka kimononya dan memperhatikan dua bongkah pemandangan indah menyilaukan mata dan hanya tertutup selembar l******e bahan brokat tipis.

Bang Alden mengibaskan tangan Syandrina. "Tutup..!! Saya tidak tertarik." Bang Alden semakin kesal saat melihat banyak ada semu tanda merah di dada Syandrina.

"Mas kesal sama tanda ini?? Tapi ini tanda dari Bang Prana semalam." Kata Syandrina.

"Nggak tanya, saya nggak mau tau kamu melakukannya dengan siapa, dengan setan pun saya nggak peduli." Jawab Bang Alden.

"Ya sudah." Dengan santai Syandrina mengikat kembali kimononya.

Bang Alden mengalihkan pandangannya tapi ekor mata elangnya masih sempat membidik belahan dada Syandrina. "Astagfirullah.." ucapnya membatin. Namun dirinya yang notabene tetap seorang laki-laki normal jelas merespon dengan pasti apa yang baru saja di lihatnya.

"Mas keluar dulu..!! Apa mau lihat Syandri mandi??" Tantang Syandri.

"Buka saja di sini kalau berani. Dada saja masih rata begitu." Gerutu Bang Alden.

"Maaf ya.. Syandri pun pilih-pilih kalau soal pejantan." Jawab Syandri.

"B*****t, saya ini bibit unggul. Sekali saya lepas anak buah.. celaka dua belas kamu Syan." Ancam Bang Alden.

Syandrina hanya mencebik seakan tak peduli dengan kata-kata Bang Alden.

"Ya Ampun Tuhan.. kenapa aku harus bertemu perempuan macam si Syandri ini." Gumamnya lalu memilih keluar dari kamar.

...

Sore itu Syandrina bersiap menyambut tamunya, tamu yang sejatinya tidak di inginkan nya. Bang Alden melihat raut wajah murung Syandri yang termenung menatap ke arah luar jendela.

Meskipun kesal dalam hati namun Bang Alden tidak tega juga melihat Syandrina. "Astaga.. si kecap angus itu sudah datang." Matanya melihat sosok bule tersebut sudah berjalan menuju kamar Syandrina. Secepatnya Bang Alden melonggarkan ikat pinggang, ia melepas jaket dan kaosnya lalu mengacak-acak rambutnya, tak lupa ia mencakar tangannya sendiri secara bergantian hingga meninggalkan luka.

bruugghh..

"You're crazy. I have paid dearly. I hate you Lily..!!!" Bentak Bang Alden memaki Syandrina yang sama sekali tidak tau apapun.

Melihat keadaan Bang Alden yang lusuh jelas tamu Syandrina sedikit merasa takut apalagi Bang Alden ambruk ke arahnya.

"No, don't ask Lily to serve you. My whole body hurts." Kata Bang Alden.

Tamu Syandrina itu melihat Bang Alden tampak kesakitan meremas tubuhnya dan pria itu pun akhirnya lari tunggang langgang.

Mendengar keributan di luar kamar, Syandrina pun segera menghampiri. "Ada apa Mas??" Tanya Syandrina tapi tepat saat itu dirinya melihat Bang Alden yang tadinya rapi kini berantakan tak karuan. "Mas kenapa?"

"Yo nulungi awakmu sing pekok iku." Gerutu Bang Alden kemudian masuk ke dalam kamar Syandrina untuk merapikan diri.

Syandrina pun akhirnya tersenyum penuh arti. "Nggak usah marah lah Mas, sini Syandri pijatin..!!" Kata Syandri.

"Nggak usah, yang ada saya nanti di gorok suamimu." Jawab Bang Alden sambil membenahi penampilannya.

"Kalau Syandri nggak punya suami, Mas Al mau nggak sama Syandri?" Goda Syandrina.

"Tergantung..!!"

Kening Syandrina berkerut mendengar jawaban singkat Bang Alden. "Tergantung apa Mas."

"Saya gas kalau kamu jadi janda." Jawab Bang Alden sekenanya.

"Memangnya Mas Al nggak berani jadi Ken Arok??" Tanya Syandrina.

"Ken Arok buat apa Syan??" Bang Alden menyisir rambutnya dan kini dirinya sudah terlihat tampan dan gagah.

"Rebut donk Mas.. rebut..!!" Kata Syandrina.

"Aah elaaah Syan, nggak usah aneh-aneh deh. Ayo pulang..!!" Ajak Bang Alden.

"Mas Al nggak pengen gitu pacaran plus-plus??"

"Plus di hantam suamimu maksudnya??" Bang Alden menyimpan sisir kecil pada saku celananya. Ia masih santai menanggapi ujian berat dalam hidupnya.

"Bilang saja Mas nggak berani." Syandrina memalingkan wajahnya.

Bang Alden tau betul gaya seorang wanita malam jika sedang menggoda. Ia pun berdiri di hadapan Syandrina lalu mengarahkan wajahnya agar menatapnya juga.

"Jangan sok berani kalau memang tidak berani. Kali ini saya tidak pakai perasaan untuk menanggapi mu, tapi jika sekali saja saya pergunakan perasaan saya. Tidak hanya saya yang hancur, kamu pun akan terseret Syan. Saya tidak mau ada apa-apa sama kamu. Saya hancur sendiri tidak masalah, tapi saya tidak ingin melihat perempuan terseret masalah bersama saya. Paham??"

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Dara menata

Dara menata

dalam kenyataannya klub itu pasti telah di bubarin jika punya masalah dengan istri jendral.

2024-01-05

1

Shanty

Shanty

wes pekok pokok'e

2023-12-18

0

Re Wati

Re Wati

lanjut kak

2023-11-10

1

lihat semua
Episodes
1 1. Pekerjaan beresiko.
2 2. Tugasku melindungimu.
3 3. Mengawal lagi.
4 4. Selingkuh.
5 5. Aku tidak khilaf.
6 6. Tidak bisa mencegah rasa.
7 7. Bertemu bidadari baru.
8 8. Dua wanita.
9 9. Tidak bisa menerka hati.
10 10. Keputusan.
11 11. Ingin hijrah.
12 12. Kalang kabut.
13 13. Memperbaiki keadaan.
14 14. Cemas.
15 15. Latihan sabar.
16 16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17 17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18 18. Beratnya melepaskan.
19 19. Konco geger.
20 20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21 21. Di dekatkan karena musibah.
22 22. Tuhan tau caranya.
23 23. Sahabat.
24 24. Rahasia tak di inginkan.
25 25. Cari perkara ( 1 ).
26 26. Cari perkara ( 2 ).
27 27. Cari perkara ( 3 ).
28 28. Cari perkara ( 4 ).
29 29. Cari perkara ( 5 ).
30 30. Perkara lanjutan.
31 31. Tanggung jawab suami.
32 32. Belajar merayu
33 33. Adaptasi belum sempurna.
34 34. Kenyataan di balik keadaan.
35 35. Cari akal.
36 36. Kisah malam ini.
37 37. Ini lain.
38 38. Tidak sengaja.
39 39. Masa lalu yang gelap.
40 40. Sudah waktunya.
41 41. Masalah besar.
42 42. Luka.
43 43. Rahasia terkuak.
44 44. Berbesar hati.
45 45. Ingin hidup damai.
46 46. Membuat keputusan penting.
47 47. Cari masalah.
48 48. Nikmatnya sabar.
49 49. Sedikit ada kedamaian.
50 50. Geregetan.
51 51. Ricuh.
52 Dari Nara.
53 52. Detik menegangkan.
54 53. Berdebar kencang.
55 54. Mulai landai.
56 55. Rengekan istri.
57 Cek ketegangan.
Episodes

Updated 57 Episodes

1
1. Pekerjaan beresiko.
2
2. Tugasku melindungimu.
3
3. Mengawal lagi.
4
4. Selingkuh.
5
5. Aku tidak khilaf.
6
6. Tidak bisa mencegah rasa.
7
7. Bertemu bidadari baru.
8
8. Dua wanita.
9
9. Tidak bisa menerka hati.
10
10. Keputusan.
11
11. Ingin hijrah.
12
12. Kalang kabut.
13
13. Memperbaiki keadaan.
14
14. Cemas.
15
15. Latihan sabar.
16
16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17
17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18
18. Beratnya melepaskan.
19
19. Konco geger.
20
20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21
21. Di dekatkan karena musibah.
22
22. Tuhan tau caranya.
23
23. Sahabat.
24
24. Rahasia tak di inginkan.
25
25. Cari perkara ( 1 ).
26
26. Cari perkara ( 2 ).
27
27. Cari perkara ( 3 ).
28
28. Cari perkara ( 4 ).
29
29. Cari perkara ( 5 ).
30
30. Perkara lanjutan.
31
31. Tanggung jawab suami.
32
32. Belajar merayu
33
33. Adaptasi belum sempurna.
34
34. Kenyataan di balik keadaan.
35
35. Cari akal.
36
36. Kisah malam ini.
37
37. Ini lain.
38
38. Tidak sengaja.
39
39. Masa lalu yang gelap.
40
40. Sudah waktunya.
41
41. Masalah besar.
42
42. Luka.
43
43. Rahasia terkuak.
44
44. Berbesar hati.
45
45. Ingin hidup damai.
46
46. Membuat keputusan penting.
47
47. Cari masalah.
48
48. Nikmatnya sabar.
49
49. Sedikit ada kedamaian.
50
50. Geregetan.
51
51. Ricuh.
52
Dari Nara.
53
52. Detik menegangkan.
54
53. Berdebar kencang.
55
54. Mulai landai.
56
55. Rengekan istri.
57
Cek ketegangan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!