3. Mengawal lagi.

"Main kemana saja, kenapa baru pulang?" Tanya Bang Prana.

Bang Alden memberi hormat dan meminta ijin untuk segera meninggalkan ruang tamu.

Bang Prana mengangguk mengijinkan ajudannya untuk meninggalkan tempat.

"Ke mall saja Bang." Jawab Syandrina singkat saja. Ia langsung bergelayut di lengan suaminya dengan manja.

"Abang kangen." Bisik Bang Prana di telinga Syandrina.

"Ayo, Syandri juga kangen." Jawab Syandri mengembangkan senyum manis agar suaminya tidak curiga dengan apa yang dilakukan nya di belakang sang suami.

//

"Darimana saja kamu sama ibu Prana?" Bisik Bang Akbar.

"Ke mall saja."

"Yang benar?? Eehh.. apa mau tau aku pernah sekelebat melihat Bu Prana ada di club Phoenix." Kata Bang Akbar litting Bang Alden.

"Oya??" Bang Alden menanggapinya dengan datar saja.

"Aku tidak bohong. Bu Prana itu tidak pakai make up saja terlihat cantik sekali apalagi sudah pakai make up, mungkin mata kita bisa buta saking tidak tahan melihat kecantikannya." Jawab Bang Akbar.

Hanya senyum tipis dari Bang Alden untuk menanggapi celotehan sahabatnya. Ia meneruskan kegiatan merokoknya sambil membayangkan apa yang saat ini tengah terjadi di kamar jenderal.

...

Syandrina keluar dari kamar sambil menggulung rambutnya, ia meninggalkan suaminya yang sudah terkapar tak berdaya di dalam kamar.

"Selamat malam ibu.." sapa Bang Akbar melihat Syandrina menuju ke dapur.

"Selamat malam ibu.." Bang Alden pun akhirnya ikut menyapa.

"Selamat malam Om Akbar, Om Alden." Jawab Syandrina membatasi diri dengan kedua orang ajudan di rumah nya.

"Ibu mau apa?" Tanya Bu Surti.

"Mau buat teh bi. Kepala saya sakit." Jawab Syandri, ia selalu menjaga wibawa suaminya jika sedang berada di lingkungan yang berhadapan langsung dengan suaminya.

"Biar Bibi yang buat Bu." Kata Bibi.

"Terima kasih ya Bi."

"Sama-sama ibu." Bibi segera membuatkan teh hangat untuk Syandrina.

Kedua ajudan segera meninggalkan tempat. Akan terasa tidak pantas jika ajudan berada bersama tuannya tanpa alasan yang jelas di dalam satu tempat.

Sekilas Bang Alden hanya melirik Syandrina saja kemudian mengikuti langkah Bang Akbar keluar dari dapur.

***

"Syandrina main lagi ya Bang..!!" Seperti biasa Syandrina selalu pamit pada Bang Prana setiap kali akan melaksanakan kegiatan di luar rumah.

"Iya, di antar Alden ya. Seperti biasa." Kata Bang Prana kemudian mengusap pipi Syandrina.

"Kenapa tidak Abang saja yang antar?" Rengek Syandrina berbasa basi karena dirinya sudah tau pasti bahwa Bang Prana tidak akan bisa mengantar karena terlalu sibuk dengan kegiatan di kantor.

"Lain kali ya sayang, maaf sekali Abang masih ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal." Tolak Bang Prana.

Syandrina memasang wajah cemberut yang natural hingga tidak ada celah apapun untuk mengoreksi kesalahan di wajahnya itu.

"Oowhh sayaang. Jangan marah, lain kali pasti Abang akan luangkan waktu untukmu." Janji Bang Prana untuk Syandrina. "Tapi semalam Abang gagah khan?" Bisiknya di telinga Syandrina tapi Bang Akbar dan Bang Alden masih bisa mendengarnya dari ruang tamu.

Syandrina hanya mengangguk dengan senyum cantiknya.

~

"Aku heran, kenapa ya Pak Prana tidak juga dikarunia momongan. Sudah dua kali beliau bercerai dan Ibu Syandri adalah istri ketiga, apakah jika nanti Bu Syandri tidak hamil juga mungkinkah Pak Prana akan menceraikannya?" Gumam Bang Akbar sambil mengecek ulang keadaan dalam mobil yang akan di gunakan Pak Prana.

"Jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Lebih baik kita tutup mata, tutup telinga. Kita manusia punya masalah dan ujian masing-masing." Kata Bang Alden menasihati sahabatnya agar teredam masalah yang sedikit banyak telah diketahuinya.

Tak lama Pak Prana berjalan ke arah mobilnya. "Ayo Bar, kita sudah terlambat..!!" Ajaknya Pada Letnan Akbar. "Kamu nanti awasi dan jaga kemanapun istri saya pergi." Ucapnya pada Bang Alden.

"Siaap..!!" Bang Alden memberi hormat sebelum bapak buahnya pergi meninggalkan halaman rumah.

...

Seperti biasa Bang Alden membukakan pintu untuk Syandrina sebagai tanda hormat pada istrinya atasannya.

Syandrina pun masuk dengan wajah penuh wibawa.

"Kita kemana?" Tanya Bang Alden tak lagi memasang unggah ungguh sebagai ajudan jika sedang berdua dengan si cantik Syandrina.

"Tempat biasa."

"Setiap hari kamu kesana???" Nada bicara Bang Alden terdengar sedikit meninggi.

"Tidak setiap hari tapi Syandri tidak bisa keluar dari sana. Lagipula Syandri butuh uang." Jawab Syandrina.

"Pekerjaan itu terlalu berbahaya dan beresiko untukmu Syan. Berhentilah bekerja seperti itu..!!" Pinta Bang Alden.

"Apa pedulimu Mas, apa Mas Al yang akan membiayai hidupku??" Syandrina menjawab ketus kemudian memulas lipstick berwarna merah maroon di bibirnya.

"Kamu butuh uang berapa?" Tanya Bang Alden.

"Seratus lima puluh juta. Mas sanggup??"

"Akan saya sediakan asal kamu tidak lagi melayani hasrat laki-laki hidung belang..!!" Jawab Bang Alden serius.

"Lalu melayani siapa? Hasratmu Mas Al???" Syandrina terkekeh sambil membubuhkan bedak di wajahnya.

"Saya serius Syan."

"Syandri juga serius Mas. Memang tidak enak di dengar, selain mencari uang.. Syandri juga ingin merasakan hangatnya pelukan laki-laki." Jawab jujur Syandrina lalu dirinya beralih tempat duduk dan berpindah di samping Bang Alden.

"Apa kamu tidak bisa menahan diri untuk hal satu itu?" Tanya Bang Alden.

"Bukankah dalam hal ini laki-laki atau perempuan sama saja, hanya laki-laki lebih mudah mengutarakan keinginannya sedangkan wanita tidak karena segala tindak tanduknya tertutupi oleh rasa malu. Mungkin benar hal ranjang bukan menjadi faktor utama tapi apakah salah jika Syandri ingin di sayangi juga." Syandrina menyalakan sebatang rokok yang sudah terselip di bibirnya.

Bang Alden terdiam, memang tidak ada yang salah dari perkataan Syandri. Suami istri juga akan saling membutuhkan dalam hal apapun termasuk masalah ranjang. Ia berusaha membolak-balik pikiran dari berbagai sisi, juga berusaha mengerti keadaan ini. Syandrina masih terlalu muda untuk di abaikan, gejolak jiwa mudanya pasti ingin tau dan hormonnya pasti sudah berkembang pesat seiring dengan usia.

"Kalau mau nakal itu yang total, minum.. pakai g***a sekalian. Merokok saja kurang hot." Sindir Bang Alden.

"Ya sudah, ayo minum..!! Tapi yang terakhir Syandri lama tidak lakukan lagi." Jawab Syandrina jujur.

"Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu????? Nggak mungkin perempuan seusiamu sudah melakukan banyak hal gila seperti itu." Tanya Bang Alden jengkel karena ternyata Syandrina lebih dari yang ia pikirkan.

"Penasaran yaaaaa???"

Bang Alden segera menepikan mobilnya di sisi jurang yang sepi. Tangannya segera mencekal pergelangan tangan Syandrina. "Cepat katakan..!! Ada apa sama kamu atau saya lempar kamu ke jurang..!!!!" Ancam Bang Alden.

"Nggak ada apa-apa Mas."

"Syandriiiii.." Bang Alden sampai mengangkat tangan kanannya hendak menampar Syandri namun kemudian Syandri ketakutan.

"Aaaaaaa... Iii_iya. Iyaaa.. Jangan pukul lagi..!! Syandri janji akan kerja cari uang yang banyak..!!" Jawabnya gemetar.

Niat Bang Alden hanya menggertak tapi ternyata Syandrina begitu ketakutan hingga akhirnya lemas tak sadarkan diri menimpa dadanya. "Syaan.. bangun Syan..!! Duuhh.. piye iki."

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Blue Love

Blue Love

sampe sini, belum paham dengan ceritanya😂
masa iya ajudan berani ngancem2 istri jendral??

2023-11-07

2

🍀 chichi illa 🍒

🍀 chichi illa 🍒

lanjuuut mba nara

2023-10-18

1

M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛⒋ⷨ͢⚤

M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛⒋ⷨ͢⚤

pingsan 🤔

2023-10-15

2

lihat semua
Episodes
1 1. Pekerjaan beresiko.
2 2. Tugasku melindungimu.
3 3. Mengawal lagi.
4 4. Selingkuh.
5 5. Aku tidak khilaf.
6 6. Tidak bisa mencegah rasa.
7 7. Bertemu bidadari baru.
8 8. Dua wanita.
9 9. Tidak bisa menerka hati.
10 10. Keputusan.
11 11. Ingin hijrah.
12 12. Kalang kabut.
13 13. Memperbaiki keadaan.
14 14. Cemas.
15 15. Latihan sabar.
16 16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17 17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18 18. Beratnya melepaskan.
19 19. Konco geger.
20 20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21 21. Di dekatkan karena musibah.
22 22. Tuhan tau caranya.
23 23. Sahabat.
24 24. Rahasia tak di inginkan.
25 25. Cari perkara ( 1 ).
26 26. Cari perkara ( 2 ).
27 27. Cari perkara ( 3 ).
28 28. Cari perkara ( 4 ).
29 29. Cari perkara ( 5 ).
30 30. Perkara lanjutan.
31 31. Tanggung jawab suami.
32 32. Belajar merayu
33 33. Adaptasi belum sempurna.
34 34. Kenyataan di balik keadaan.
35 35. Cari akal.
36 36. Kisah malam ini.
37 37. Ini lain.
38 38. Tidak sengaja.
39 39. Masa lalu yang gelap.
40 40. Sudah waktunya.
41 41. Masalah besar.
42 42. Luka.
43 43. Rahasia terkuak.
44 44. Berbesar hati.
45 45. Ingin hidup damai.
46 46. Membuat keputusan penting.
47 47. Cari masalah.
48 48. Nikmatnya sabar.
49 49. Sedikit ada kedamaian.
50 50. Geregetan.
51 51. Ricuh.
52 Dari Nara.
53 52. Detik menegangkan.
54 53. Berdebar kencang.
55 54. Mulai landai.
56 55. Rengekan istri.
57 Cek ketegangan.
Episodes

Updated 57 Episodes

1
1. Pekerjaan beresiko.
2
2. Tugasku melindungimu.
3
3. Mengawal lagi.
4
4. Selingkuh.
5
5. Aku tidak khilaf.
6
6. Tidak bisa mencegah rasa.
7
7. Bertemu bidadari baru.
8
8. Dua wanita.
9
9. Tidak bisa menerka hati.
10
10. Keputusan.
11
11. Ingin hijrah.
12
12. Kalang kabut.
13
13. Memperbaiki keadaan.
14
14. Cemas.
15
15. Latihan sabar.
16
16. Nikmatnya ilmu ikhlas.
17
17. Tak mengerti takdir Tuhan.
18
18. Beratnya melepaskan.
19
19. Konco geger.
20
20. Bertahan dengan ketentuan Tuhan.
21
21. Di dekatkan karena musibah.
22
22. Tuhan tau caranya.
23
23. Sahabat.
24
24. Rahasia tak di inginkan.
25
25. Cari perkara ( 1 ).
26
26. Cari perkara ( 2 ).
27
27. Cari perkara ( 3 ).
28
28. Cari perkara ( 4 ).
29
29. Cari perkara ( 5 ).
30
30. Perkara lanjutan.
31
31. Tanggung jawab suami.
32
32. Belajar merayu
33
33. Adaptasi belum sempurna.
34
34. Kenyataan di balik keadaan.
35
35. Cari akal.
36
36. Kisah malam ini.
37
37. Ini lain.
38
38. Tidak sengaja.
39
39. Masa lalu yang gelap.
40
40. Sudah waktunya.
41
41. Masalah besar.
42
42. Luka.
43
43. Rahasia terkuak.
44
44. Berbesar hati.
45
45. Ingin hidup damai.
46
46. Membuat keputusan penting.
47
47. Cari masalah.
48
48. Nikmatnya sabar.
49
49. Sedikit ada kedamaian.
50
50. Geregetan.
51
51. Ricuh.
52
Dari Nara.
53
52. Detik menegangkan.
54
53. Berdebar kencang.
55
54. Mulai landai.
56
55. Rengekan istri.
57
Cek ketegangan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!