Arion menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu mobil saat ponselnya berdering kembali. Tak urung Arion merogoh kantung celananya, mengambil ponsel lantas melihat siapa yang menelpon. Arion berdecak saat membaca nama yang tertera di layar ponsel.
Irene
Seorang wanita panggilan yang merangkap sebagai mucikari untuk panggilan kelas atas.
Arion memandang ponselnya dalam diam sebelum akhirnya ia mengangkat panggil yang sudah beberapa kali menelpon dirinya.
"Aah, akhirnya panggilan Mami di angka juga, handsome."
"Jika nggak penting aku tutup."
"Oke, oke Mami tau kau sibuk. Mami punya barang baru dan bagus untukmu. Mami yakin kali ini kamu bakalan suka."
Arion terkekeh kecil seakan paham maksud dari perkataan sang penelepon. "Jangan bilang baru, kalo tidak tersegel dan bekas orang."
"Ayolah handsome, kali ini Mami nggak lagi bercanda dan beneran serius. Dia masih virgin. Masih tersegel. Bukan bekas orang."
Arion berdecak seakan apa yang wanita itu akan hanya bualan belakang. "Pasti buruk rupa."
"Ya ampun, mana berani Mami kasih wanita yang buruk rupa sama pelanggan yang royal sepertimu. Bisa-bisa hilang sumber uang Mami. Dia masih muda, usianya 23 tahun. Dia wanita yang cantik dan manis. Bagaimana? Bukankah kau selama ini mencari wanita yang masih virgin. Jadi, jangan di sia-siakan."
Arion terdiam sejenak untuk berpikir. "Apa kau punya fotonya? Biar ku lihat dulu."
"Sorry, untuk wanita satu ini Mami belum punya fotonya. Kalo kau tidak mau nggak pa-pa. Biar Mami tawarkan kepada pelanggan yang lain. Mungkin Bara akan mau. Karena dia lagi butuh uang cepat."
Arion menaikan satu sudut bibirnya, tersenyum miring ketika nama teman yang berubah jadi musuhnya disebut-sebut.
"Aku setuju."
"Tapi bayaran tidak seperti biasanya. Untuk dia aku hargai 1M. Bagaimana? Apa kau setuju dengan harga segitu?"
Arion tertawa. Pertanyaan dari wanita itu membuatnya merasa diremehkan.
"Apa kau sedang meragukan kekayaanku Mami Irene? Aku jadi penasaran, siapa wanita itu? Sampai kau berani membuka harga semahal itu."
"Mami tidak pernah meragukan kekayaanmu. Mami tau kau terlahir dengan sendok emas di mulutmu. Kalau penasaran lihat saja sendiri, kau pasti tidak akan kecewa."
"Oke, nanti aku kabari waktu dan tempatnya."
Setelah mengatakan itu, Arion langsung mematikan panggilannya begitu saja tanpa mau mendengarkan jawaban dari Irene. Arion langsung memasukkan ponselnya kembali, sebelum akhirnya meninggalkan minimarket.
...****************...
Valen menengadah ke atas langit yang sudah gelap gulita ketika gerimis hujan mulai turun dikit demi sedikit dengan angin yang berhembus kencang. Ternyata musim penghujan sepertinya sudah mulai datang di penghujung bulan Desember. Bulan di mana semua masalahnya di mulai.
Valen pun berlari kecil menuju halte bus berharap rintik hujan tak membuat bajunya basah. Valen menghela napas sambil mendudukkan dirinya di kursi tunggu lalu menyumpal telinganya dengan headset bluetooth menyetel sebuah lagu galau, menemani ia menunggu tumpangannya datang untuk membawanya pergi bekerja. Manik matanya menatap lurus ke depan, melihat pemandangan kendaraan roda dua maupun roda empat yang silih berganti. Seakan mereka tak pernah ada habisnya.
Valen mengalihkan tatapannya pada layar ponsel ketika sebuah pesan masuk.
Mami Irena
Valen sayang, Mami sudah mendapatkan pelanggan untuk kamu, jadi kamu nggak usah mikirin hutang kamu lagi ya. Nanti tinggal Mami kabarin waktu dan tempatnya. Kamu tinggal mempersiapkan diri sebaik mungkin agar pelanggan setia Mami puas. Oke, sayang.
Setelah membaca pesan itu, kedua mata Valen memejam untuk sesaat. Kemudian, ia menarik napas panjang. Ia terdiam dengan tangan menyentuh bagian depan dadanya. Kenapa dadanya terasa sesak sekali seperti ada duri-duri tajam yang menancap tepat di jantungnya? Sampai-sampai air matanya tak dapat ia cegah untuk melintasi kedua pipinya. Valen pun buru-buru mengusap cairan bening itu. Valen harap apa yang ia lakukan saat ini adalah pilihan yang terbaik untuk dirinya. Meski saat ini hati kecilnya menjerit.
Tin!
Tin!
Tin!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments