Valen menghempas bokongnya di kursi teras depan rumah. Manik matanya menatap langit yang gelap gulita tanpa bintang atau pun bulan yang menghiasi. Tampak suram dan kosong sama seperti dirinya. Valen menghela napas lelah. Acara 40 hari kakaknya itu baru saja selesai digelar di kediamannya. Semuanya terasa berat untuk ia jalani. Valen kira rentetan kejadian yang memilukan dalam hidupnya hanya sebuah mimpi dan akan berakhir jika ia bangun di pagi hari. Nyatanya, semua itu adalah nyata yang harus ia lalui dan hadapi. Valen sadar, bahwa semua makhluk hidup pasti akan mati. Tidak terkecuali kakaknya. Meski kematiannya datang secara tragis. Valen harus ikhlas karena itu sudah jalannya. Yang sudah pergi biarlah pergi dan yang ditinggalkan harus melanjutkan perjalanan hidupnya kembali.
Sebuah tepukkan di bahunya membuat ia menoleh dari lamunannya. "Len, gue balik dulu, ya. Lo jangan segan-segan minta bantuan sama gue kalo lo butuh sesuatu. Gue selalu ada buat lo."
Valen menari bibirnya sedikit, mencoba tersenyum walau berat. "Thanks, Bi. Gue udah ngerepotin lo banget. Makasih pijemaan nya juga. Nanti gue cicil ya, ganti nya."
Bianca berdecak. "Kan udah gue bilang nggak usah dipulangin, gue niat bantu lo. Udah ah, gue balik," katanya sambil melihat jam tangan yang melingkar pas di lengan kanannya. "Gue mau kerja juga." Tambahnya lagi. Valen mengangguk, lantas Bianca berbalik melangkahkan kaki jenjangnya berjalan menjauhi Valen.
"Bi!" Panggil Valen yang membuat langkah kaki Bianca berhenti, lalu berbalik menatap orang yang memanggilnya.
Valen terdiam untuk sesaat wajahnya ia tundukan menatap ubi keramik berwarna putih seakan ragu dengan kalimat yang ingin ia lontarkan sebentar lagi.
Alis Bianca mengerut. Wanita itu bingung sebab sahabatnya malah terdiam. Pada akhirnya Bianca bertanya, "Kenapa?"
Valen menghela napas berat, lalu menaikan pandangannya menatap orang yang sedang berdiri tak jauh darinya. "Ada kerjaan di tempat lo nggak, Bi? Kalo ada gue mau dong."
Bianca tampak kaget akan ucapan Valen. Alih-alih menjawab dari perkataan Valen, ia malah membawa kaki jenjangnya melangkah maju mendekati Valen berada, lalu duduk di samping Valen.
Bianca menarik napas. Dirinya tak menyangka akan mendengar permintaan seperti itu dari Valen. "Emang napa sama tempat kerja lo yang sekarang ini?"
"Ya, nggak pa-pa, gue mau cari uang tambahan. Lo kan tau, gue punya tanggungan sekarang. Kalo ngandelin gaji gue di Indomaret mana cukup. Lagi pula kerja di tempat lo malem ini," ucap Valen menjelaskan.
Bianca mengangguk paham. "Kayaknya nggak bisa, Len. Eem, bukan nya gue nggak mau ngajak lo kerja di tempat gue kerja, Len. Tapikan lo tau gue kerja apa? Kerja di tempat gue tuh, banyak nggak enaknya, daripada enaknya. Apalagi kerja di tempat gue buat orang yang nggak biasa denger berisik itu pasti bikin pusing kepala dan masih banyak lagi yang nggak bikin lo nyaman kerja di sana."
Valen menghela napas panjang, lantas pandangan nya menatap langit malam. "Ya, kan belum dicoba, Bi. Lo udah buat kesimpulan kaya gitu aja ke gue. Gue mohon dah, kali ini aja batu gue cariin kerjaan tambahan buat gue. Sumpah gue nggak enak selalu pinjem uang lo mulu."
Bianca memanjangkan tangan, mengusap punggung Valen dengan lembut. "Ya, udah sih, Len, jangan di pikirin selagi gue bisa batu bakalan gue bantu. Jadi, lo nggak usah nggak enak gitu ke gue."
Valen berdecak. Menolehkan kepalanya menatap Bianca sahabat sejak lama. "Ya kali, gue minta bantuan lo mulu. Kan nggak mungkin juga Bi, gue bergantung sama lo muli. Gue sih seneng-seneng aja jadi parasit di hidup lo. Tapi, rekening lo tanpa limit nggak? Lo kan tau ada kakak ipar gue sama ponakan gue yang harus gue urus juga."
Bianca menghela napas, terdiam untuk sesaat. Berpikir apa yang sahabatnya itu katakan benar adanya, lantas ia menarik sudut-sudut bibirnya tinggi. Bianca tersenyum, lalu menepuk-nepuk punggung itu dengan lembut. "Oke, kalo keputusan lo udah bulat. Nanti gue cariin kerjaan di tempat gue."
Saat mendengar itu Valen tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya. Bianca yang paham akan hal itu pun melakukan hal yang sama, lantas mereka berdua berpelukan. Dalam pelukan itu Valen berkata, "Terima kasih, Bi. Gue jadi ngerepotin lo mulu, akhir-akhir ini."
Bianca menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ucapan Valen. "Gue yang seharusnya terima kasih ke lo, Len. Di saat orang-orang menjauhi gue karena pekerjaan gue dan hal gila yang gue lakuin, lo tetap disisi gue tanpa merendahkan gue atau pun menghakimi gue. Lo juga nggak pernah tuh kasih nasehat kaya yang lain." Bianca menarik napas dalam sambil memejamkan kedua matanya ketika hal-hal bodoh yang pernah ia lakukan terlintas lagi di dalam ingatannya seperti tak ubahnya kaset kusut yang rusak. Bianca memeluk Valen lebih erat lagi. Sedangkan Valen hanya tersenyum tanpa ingin membalasnya.
"Kalo gitu gue balik dulu." Bianca melepaskan pelukannya lalu menyunggingkan senyumnya tipis. "Lo mending tidur gih, istirahat. Kantong mata lo tuh, udah item banget persis kaya panda." Valen mengangguk sebagai respon.
"Hati-hati, Bi. Inget kalo ada cowok cakep minta kenalan jangan lo ladenin atau lo bawa pulang." Pesan Valen serius yang membuat Bianca terkekeh dalam langkah kakinya.
Ketika semuanya kembali terasa sunyi. Valen mendengar seseorang membuka pintu rumah, lantas berjalan ke arahnya lalu duduk disamping dirinya. Valen menoleh, sedetik setelahnya ia tersenyum. "Kakak belum tidur?"
Dwi tersenyum. "Abis dari sini kakak tidur. Kamu udah makan?"
Valen menggelengkan kepalanya. "Belum."
"Mau kakak buatin makanan?"
"Nggak usah deh kakak, aku mah gampang, nanti tinggal beli nasi goreng di depan sana aja. Kakak juga udah makan belum? Atau kakak lagi pengen makan sesuatu? Nanti aku beliin," tanya Valen dengan bersamaan pandangannya menatap orang yang ada di sebelahnya dengan bibir ia angkat kedua sudut-sudutnya.
Dwi tersenyum lantas menggelengkan kepala. "Nggak usah kakak udah makan tadi. Kakak juga nggak pengen apa-apa." Dwi menundukkan wajahnya. "Maaf ya, sekarang kakak jadi beban buat kamu. Andai kakak punya orang tua atau keluarga pasti kakak nggak akan ngerepotin kamu atau jadi beban buat kamu kaya sekarang ini." Kalimatnya berakhir dengan bersamaan air mata yang jatuh melintasi pipi. Dadanya teramat sesak. Tidak ada kalimat yang dapat ia jabarkan bagaimana dirinya saat ini. Semuanya teramat menyedihkan bagaimana orang yang ia sayang pergi untuk selama-lamanya tanpa ada salam perpisahan yang layak. Yang Dwi pahami saat ini ialah, hargai waktu. Karena pada akhirnya hadiah terbesar yang diberikan oleh waktu adalah kenangan.
Valen yang melihat itu langsung saja beranjak dari tempat duduknya. Berjalan menghampiri Dwi lalu mendekapnya. Dalam pelukan itu Valen berbicara dengan nada bergetar, "Kakak bukan beban buat aku. Jadi, aku mohon, Kakak jangan ngomong kaya gitu lagi atau menganggap diri kakak itu beban buat aku. Kita ini keluarga, Kak." Dalam setiap kalimat yang ia lontarkan dirinya mati-matian menahan tangis. Dan pada akhirnya malam ini pun masih sama seperti malam-malam yang sebelumnya. Kami masih menangisi orang yang lebih dulu berpulang dengan tangisan yang teramat pilu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments