Di kala senja

Asap putih sisa pembakaran nikotin membumbung tinggi takala Arion menghembuskan napasnya dari mulut, lantas tidak lama angin membawanya pergi dan menghilangkannya tanpa jejak. 

Di atas rooftop Arion meng_hisap sebatang rokok yang diselipkan di antara ruas-ruas jemarinya lagi. Dengan manik mata coklat itu menatap hamparan langit yang berubah warna secara perlahan seiring berjalannya waktu. Senja mulai datang yang bertanda hari mulai berganti malam.

Napas Arion terhela begitu saja ketika matanya tidak sengaja melihat burung-burung kecil berterbangan dengan sangat bebas di atas langit sana, seakan tidak mempunyai beban hidup apapun. Entah kenapa ia bisa merasa iri dengan hanya melihat pemandangan itu.

Arion menarik sebelah sudut bibirnya. Mengejek dirinya sendiri. Ia kira keramaian membuatnya menjadi tidak tenang dan gelisah. Tapi nyatanya bukan keramaian itu sendiri yang membuatnya menjadi gelisah. Tapi isi kepalanya yang sangat ramai yang membuatnya menjadi seperti ini. Sebab, kesunyian ternyata tak dapat membuatnya jauh lebih baik.

Arion pikir dirinya akan baik-baik saja setelah ia membatalkan rencana indah yang sudah ia susun sedemikian rupa sejak jauh-jauh hari bersama Jessica. Nyatanya ia merasakan kehilangan yang demikian hebat.

Hanya dalam satu hari, kehidupan yang semula Arion pikir akan sempurna hancur berkeping-keping layaknya gelas kaca yang jatuh membentur lantai.

Arion memejamkan mata ketika ingatannya kembali pada kejadian dimana ia mengetahui bahwa Jessica sedang hamil dan itu bukan hasil perbuatannya. 

Arion mengangkat selembar kertas di depan wajah Jessica dengan rahang yang mengeras. "Coba jelasin maksud selembar kertas ini apa? Sejak kapan kamu main gila di belakang aku?" Napas Arion memburu menahan amarah yang sudah memuncak.

Jessica menundukkan pandangannya dengan air mata yang terus jatuh membasahi kedua pipi. Entah sudah berapa lama ia menangis hingga hidungnya memerah dengan kedua manik mata yang sembab. Sejak tadi Jessica hanya menggelengkan kepala tanpa berkata apa-apa pun. 

Arion yang melihat itu meraih rahang Jessica, mencengkramnya kuat. Lantas menatap mata Jessica dengan nyalang. Meminta agar Jessica berbicara. "It–u … itu cu–ma kesalahan, A," ucap Jessica akhirnya meski dengan tergugu.

Arion melepaskan cengkraman tangannya lantas menyugar rambut hitam miliknya, raut wajahnya terlihat sangat frustasi. "Cuma kesalahan kamu bilang? KAMU SADAR NGGAK SIH JESSICA, KATA 'CUMA' YANG KAMU BILANG TELAH MERUSAK SEMUANYA. MERUSAK KEPERCAYAAN AKU, MERUSAK KEPERCAYAAN ORANG TUA AKU, MERUSAK HUBUNGAN KITA UNTUK SELAMA-LAMANYA DAN NGGAK ADA LAGI YANG HARUS DIPERTAHANKAN. HUBUNGAN KITA UDAH SELESAI." Napas Arion memburu dengan dada yang terlihat turun naik. 

Tubuh Jessica secara refleks mundur kebelakang. Dirinya merasa kaget dengan suara yang dihasilkan oleh Arion sebab ini pertama kalinya ia melihat tunangannya semarah ini. "A, kasih waktu aku untuk menjelaskan semuanya. Aku mohon, A. Aku mohon. Setelah ini terserah kamu mau anggap aku ini wanita seperti apa."

Jessica mengiba didepan Arion dengan tatapan memohon. Arion yang melihat itu mengeraskan rahang seakan ingin menumpahkan kemarahannya sekali lagi.

Arion menggeleng. "Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi Jes, karena itu enggak akan merubah apapun. Orang tuaku sudah memutuskan bahwa pernikahan kita dibatalkan. Dan selamat atas kehamilan kamu. Siapapun pria itu … semoga kamu bahagia bersamanya."

Saat selesai mengatakan kalimat itu Arion membalikan badannya. Melangkahkan kaki berjalan menjauhi Jessica. Tapi langkah kakinya harus terhenti oleh suara Jessica yang berteriak. 

"PADA SAAT ITU AKU NGGAK SADAR MINUM SAMPAI MABUK, A. DAN AKU NGGAK SENGAJA MELAKUKAN ONE NIGHT STAND. AKU JUGA NGGAK TAU KALO AKU SEDANG HAMIL." Jessica terdiam mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin sambil menatap punggung lebar yang sedang berdiri membelakangi dirinya.

"Kalo kamu juga pergi, aku nggak punya siapa-siapa lagi, A. Orang tuaku menyalahkan aku akibat perbuatan aku dan mereka marah besar karena aku tidak bisa memberikan apa yang orang tuaku mau."

Sebuah tepukkan dipundak Arion membuat ingatan itu buyar lantas Arion menoleh.

Ibram sudah berdiri di sampingnya. "Saya kira Bapak udah pulang tapi ternyata disini." 

Arion mendengus. "Udah jam pulang kantor jadi jangan panggil gue, Bapak. Geli gue di panggil Bapak sama lo. Mau ngapain lo cari gue?"

Ibram menarik kedua sudut-sudut bibirnya tinggi. Dia tersenyum ketika melihat raut wajah Arion yang terlihat seperti sedang banyak masalah. "Mau mastin aja lo masih idup."

"Anjirrr."

Ibram terkekeh. "Abis muka lo kaya orang abis kena tipu investasi. Apa lagi tadi pagi kusut banget pas dateng kaya cucian nggak di setrika. Apa jangan-jangan Mami Irene gagal bawa anak didiknya untuk memuaskan kebutuhan lo?" Tebak ibram asal.

Arion menutup mulut rapat seakan tidak dengar apa yang baru saja Ibram katakan. "Apa Jessica?" Tebak ibram lagi. 

Arion meng_hisap rokok yang ujungnya tinggal sedikit lantas membuang puntungnya. Menghiraukan ocehan Ibram yang sialnya tepat sasaran.

Ibram melirik Arion dalam diam lalu menarik napas panjang. "Tadi nyokap lo telpon gue, katanya tolong jagain lo dari Jessica. Dia nggak mau denger lo sampai ketemu dia lagi."

Saat Ibram selesai mengatakan itu suasana menjadi hening. Mereka seakan asik dengan pikiran mereka masing-masing. Ada keterdiaman panjang saat ibram melanjutkan perkataannya lagi.

"Mungkin jodoh lo bukan dia, A. Jodoh lo masih di luar sana menanti kedatangan lo dengan sabar. Jadi, jangan coba-coba lo lompat dari atas sini, ya."

Lagi-lagi Arion cuma mendengus dan mengabaikan ucapan Ibram yang menurutnya konyol.

Ibram menaruh tangan pada pundak Arion lantas mere_masnya sebelum akhirnya ia berlalu pergi.

Arion termenung dalam kesendiriannya. Apakah ia mampu memulai kembali sebuah hubungan dengan orang lain ketika hatinya penuh dengan luka dan sialnya orang yang menoreh luka itu masih tertinggal disana. Di dasar hatinya yang paling dalam karena sebesar itu ia dulu memberi hatinya untuk Jessica. 

Episodes
1 prolog
2 tolong
3 klub Moonlight
4 hari pertama kerja
5 Sebuah patah hati
6 Di kala senja
7 Tamu tak terduga A
8 Tamu tak terduga B
9 Tidak ada harapan
10 Sebuah kenangan
11 Tamu tak diundang
12 Hadiah pertemuan
13 Sebuah tawaran
14 Satu mobil
15 Obrolan di dalam mobil
16 Sarapan pagi yang kacau
17 Pertemuan yang disengaja A
18 Pertemuan yang disengaja B
19 Semua karena terpaksa
20 Dunia ternyata sempit, ya!
21 Buka matanya!
22 Berdebar-debar
23 Sebuah penyatuan A
24 Sebuah penyatuan B
25 Sebuah rasa
26 Pulang
27 Di jenguk
28 Melihat
29 ungkapan perasaan
30 Marinka A
31 Marinka B
32 Tidak sesuai harapan
33 kesibukan Arion 1
34 kesibukan Arion 2
35 moonlight 1
36 moonlight 2
37 moonlight 3
38 Arion berhenti
39 Perkelahian 1
40 perkelahian 2
41 sebuah tawaran
42 Kebersamaan Valen dan Daniel 1
43 kebersamaan Valen dan Daniel 2
44 kebersamaan Valen dan Daniel 3
45 kambing hitam
46 Minta di traktir
47 perbincangan di dalam mobil 1
48 perbincangan di dalam mobil 2
49 perbincangan di dalam mobil 3
50 Di rumah Valen 1
51 Di rumah Valen 2
52 pemotretan 1
53 pemotretan 2
54 Obrolan dimeja makan.
55 Ditraktir
56 Calon suami 1
57 Calon suami 2
58 kebersamaan Valen dan Bianca 1
59 kebersamaan Valen dan Bianca 2
60 Valen dibuat salting 1
61 Valen dibuat salting 2
62 Menunggu jawaban
63 Valen memberi jawaban
64 Berjalan beriringan
65 Percakapan ayah dan anak
66 Patah hatinya Daniel
67 sebuah informasi
68 Obrolan malam 1
69 Obrolan malam 2
70 Aku sayang kamu
71 Kebohongan yang lainnya
72 Tawaran
73 persiapan tahun baru
74 perdebatan pertama
75 Tamu yang tidak diharapkan
76 Menjadi tidak nyaman
77 Harapan tahun baru
78 pelukan dari belakang
79 Pindah rumah
80 Hari yang panjang
Episodes

Updated 80 Episodes

1
prolog
2
tolong
3
klub Moonlight
4
hari pertama kerja
5
Sebuah patah hati
6
Di kala senja
7
Tamu tak terduga A
8
Tamu tak terduga B
9
Tidak ada harapan
10
Sebuah kenangan
11
Tamu tak diundang
12
Hadiah pertemuan
13
Sebuah tawaran
14
Satu mobil
15
Obrolan di dalam mobil
16
Sarapan pagi yang kacau
17
Pertemuan yang disengaja A
18
Pertemuan yang disengaja B
19
Semua karena terpaksa
20
Dunia ternyata sempit, ya!
21
Buka matanya!
22
Berdebar-debar
23
Sebuah penyatuan A
24
Sebuah penyatuan B
25
Sebuah rasa
26
Pulang
27
Di jenguk
28
Melihat
29
ungkapan perasaan
30
Marinka A
31
Marinka B
32
Tidak sesuai harapan
33
kesibukan Arion 1
34
kesibukan Arion 2
35
moonlight 1
36
moonlight 2
37
moonlight 3
38
Arion berhenti
39
Perkelahian 1
40
perkelahian 2
41
sebuah tawaran
42
Kebersamaan Valen dan Daniel 1
43
kebersamaan Valen dan Daniel 2
44
kebersamaan Valen dan Daniel 3
45
kambing hitam
46
Minta di traktir
47
perbincangan di dalam mobil 1
48
perbincangan di dalam mobil 2
49
perbincangan di dalam mobil 3
50
Di rumah Valen 1
51
Di rumah Valen 2
52
pemotretan 1
53
pemotretan 2
54
Obrolan dimeja makan.
55
Ditraktir
56
Calon suami 1
57
Calon suami 2
58
kebersamaan Valen dan Bianca 1
59
kebersamaan Valen dan Bianca 2
60
Valen dibuat salting 1
61
Valen dibuat salting 2
62
Menunggu jawaban
63
Valen memberi jawaban
64
Berjalan beriringan
65
Percakapan ayah dan anak
66
Patah hatinya Daniel
67
sebuah informasi
68
Obrolan malam 1
69
Obrolan malam 2
70
Aku sayang kamu
71
Kebohongan yang lainnya
72
Tawaran
73
persiapan tahun baru
74
perdebatan pertama
75
Tamu yang tidak diharapkan
76
Menjadi tidak nyaman
77
Harapan tahun baru
78
pelukan dari belakang
79
Pindah rumah
80
Hari yang panjang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!