Setelah bermenit-menit lamanya Valen hanya mematung. Kakinya terasa berat untuk ia bawa melangkah. Dirinya hanya bisa diam di tempat dengan manik mata menatap bangunan yang ada di hadapannya saat ini.
Vallen menoleh ke arah samping. Menatap Bianca yang sedang berdecak kesal.
"Kenapa, lo ragu? Kalo ragu kita pulang aja. Mumpung belum masuk ke dalam," kata Bianca akhirnya.
Valen menarik napas, lantas menggelengkan kepala. "Enggak, ko," elaknya sambil membawa kakinya masuk ke dalam klub Moonlight dimana dirinya akan bekerja meninggalkan Bianca yang masih berdiri di tempatnya.
Sejujurnya Valen cukup kaget tadi karena tiba-tiba saja Bianca datang ketempat kerjanya dan mengabarkan bahwa dia sudah mendapatkan pekerjaan untuk dirinya. Valen tidak menyangka bahwa Bianca akan mencarikan pekerjaan untuk ia secepat ini.
Dan untuk pertama kali di usianya yang ke 23 tahun, ia menginjakkan kakinya di tempat hiburan malam yang katanya terbesar di kotanya.
Saat masuk untuk pertama kalinya ke dalam klub, Valen lupa caranya bernapas. Tubuhnya kembali mematung, semuanya begitu mengejutkan untuk dirinya lihat. Sebab, hal yang pertama kali dirinya lihat adalah seorang pria dan wanita sedang asik berciuman begitu mesra seakan tidak menghiraukan keberadaan orang-orang disekitarnya. Hingga sebuah tangan menariknya untuk kembali berjalan.
Dalam keterkejutan itu Bianca berbisik. "Itu belum seberapa Valen, jadi muka lo tolong dikondisikan. Masih banyak hal lainnya yang lebih dari itu. Gue harap jantung lo siapa."
Bianca mengangguk saat di tatap oleh Valen akibat perkataannya. Valen seakan mencari kebenaran dari tatapan itu.
"Gue berasa lagi ngajak bocah," gerutu Bianca yang tidak dapat didengar oleh Valen akibat terlalu berisik suara hentakan musik disjoki yang dimainkan.
"Niel, kenalin ini Valen yang mau kerja."
Bianca memperkenalkan Valen dihadapan Daniel ketika mereka sudah sampai di backstage. Dan Daniel pun langsung mengulurkan tangannya dengan seutas senyum. Valen pun menyambut uluran tangan itu dan memperkenalkan diri ulang.
"Semoga betah kerja disini," kata Daniel setelah selesai memberitahu apa saja yang harus Valen kerjakan.
"Mohon bantuannya," balas Valen tersenyum.
Bianca yang berdiri tak jauh dari Valen itu menghela napas. Dalam hati kecil Bianca, dirinya tidak rela jika Valen yang polos dan juga baik bekerja ditempat seperti ini. Tempat dimana segala dosa dibuat. Tempat dimana orang-orang selalu menganggap bahwa kerja di tempat seperti ini tuh, orang yang nggak benar. Orang-orang yang penuh dosa.
Bianca menepuk pundak Valen. "Gue tinggal ya, dikit lagi gue tampil. Gue mau siap-siap juga dan kalo ada yang ganggu lo, langsung bilang aja sama Daniel biar dia yang nanganin."
Valen mengangguk. "Thanks, Bi. Gue nggak tau, kalo nggak ada lo gimana hidup gue." Bianca cuma tersenyum lantas berlalu tak membalas ucapan Valen. Entah kenapa hati kecilnya menyesal telah membawa Valen ketempat ini.
Setelah kepergian Bianca, Valen menarik napas panjang, mencoba mengurangi rasa gugup. Lalu Valen berjalan ke arah toilet untuk bergantian seragam kerja yang sudah diberikan oleh Daniel kepadanya. Untung saja pakaian yang diberikan Daniel tidak seperti apa yang ia pikirkan sejak tadi. Pakaiannya masih dikatakan sopan untuk ukuran klub malam.
Setelah beberapa saat.
Ya ya ya, benar apa kata Bianca tempo lalu belum ada satu jam ia berada di tempat ini kupingnya seakan hampir tuli dan kepalanya juga sudah terasa berdenyut pusing. Untung saja pekerjaan yang ia lakukan hanya mengantarkan pesanan kepada pelanggan klub. Valen rasa pekerjaan nya tidak terlalu berat untuk ia jalani.
Saat tangan membawa nampan berisikan beberapa minuman matanya tiba-tiba saja teralihkan ke panggung utama dinama sorak-sorai laki-laki begitu riuh terdengar.
Valen terdiam di tempatnya dengan kedua mata fokus menatap se_xy dancer yang sedang meliuk-liukkan tubuh indahnya di atas panggung, mempertontonkan kemolekan setiap jengkal yang ada pada tubuhnya seperti tidak mengenal rasa malu.
Valen menelan salivanya dengan susah. Ketika ia melihat Bianca, sahabatnya menari dengan sangat lincah di atas panggung. Ia memperhatikannya untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia memutar tumitnya berbalik dimana ia akan mengantar pesanan. Tapi siapa sangka, Valen berbuat hal yang ceroboh di hari pertamanya bekerja.
Prang
Valen memejamkan mata ketika sadar ia telah menabrak seseorang hingga membuat gelas yang di atas nampan jatuh dan pecah berserakan. Seketika ateis tertuju padanya.
Setelah beberapa detik Valen mencoba membuka kedua matanya secara perlahan ketika tidak ada reaksi apapun dari orang yang ia tabrak. Sebab, Valen pikir ia akan habis di marahin seperti adegan-adegan sinetron yang biasa ada di acara televisi.
Tapi kali ini ia salah. Ketika Valen mendongak ternyata orang itu malah tersenyum yang membuat bulu kuduk Valen merinding. Sebab senyuman itu bukan senyum yang biasa Valen lihat.
Valen melangkah mundur sambil menundukkan kepalanya. "Saya minta maaf. Saya tidak sengaja melakukannya. Kalau tidak keberatan akan saya gantikan biaya untuk laundry nya." Valen berkata se-sopan mungkin.
Pria itu berdecak lalu berjalan maju mendekati Valen yang hanya menunduk. Mencondongkan tubuhnya lalu berbisik ditelinga Valen. "Gue nggak suka pake baju bekas, apa lagi yang udah kena noda. Kejadian ini gue anggap utang yang kapanpun bisa gue tagih. Termaksud tubuh lo."
Valen menahan napas ketika hembusan napas dari laki-laki yang berbisik itu membuat bulu-bulu halusnya meremang hingga suara dari laki-laki itu menghilang.
Valen menaikan pandangannya, menatap lurus ke depan, lantas menghela napas panjang setelah itu ia berjongkok untuk membersihkan pecah gelas. Ketika tangannya terulur untuk mengambil beling yang bercecer tangannya langsung dicegah.
Perhatian Valen langsung teralihkan menatap orang yang mencegahnya.
"Daniel."
Daniel menarik sudut-sudut bibirnya tinggi memperlihatkan sebuah senyuman. "Kalo lo ngambil langsung kaya gini tangan lo bisa terluka Valen. Udah lo bangun biar nanti gue suruh orang aja yang bersihin. Dan apa yang laki-laki itu omongin anggapan aja kaya angin lalu. Soalnya dia lagi miring otaknya. Mending lo istirahat dulu deh, gue liat kayak muka lo cape banget."
Valen hanya mengangguk tanpa ingin membantah. Terlalu banyak keterkejutan yang ia alami saat bekerja disini membuat tubuhnya merasa lelah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments