Angin malam berhembus cukup kencang hingga dedaunan yang berguguran ikut berterbangan tak tentu arah. Malam itu di halte bus Valen duduk termenung seorang diri dengan ponsel di tangannya. Menghiraukan orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar dirinya.
Kedua manik matanya fokus menatap layar ponsel. Membaca ulang ketikan yang ia tulis untuk seseorang. Tapi sedetik setelahnya pesan itu ia hapus kembali lantas mengetik ulang pesan itu lagi.
Tapi lagi-lagi setelah itu ia hapus kembali pesan yang akan ia kirim untuk Bianca. Begitu berulang kali sampai pada akhirnya Valen mend_esah frustasi lantas menaruh ponselnya kembali ke dalam sling bag yang ia bawa.
Kenapa nama Bianca yang selalu muncul di otaknya di setiap dirinya sedang ada masalah. Valen yakin untuk masalah kali ini Bianca tidak akan bisa membantu dirinya, seperti masalah-masalah sebelumnya.
Kepala Valen pusing bukan main, padahal ia yakin tadi sudah minum obat. Mungkin karena otaknya terus ia paksa untuk berpikir bagaimana dia bisa mencari uang sebanyak itu dalam waktu singkat.
Kedua mata Valen memejam ketika suara dari pegawai Bank teriang terus di pikirannya tak ubahnya seperti radio rusak.
"Rumah ini sudah dijadikan jaminan oleh pak Calvin atas pinjaman kredit nya."
"Mbak selaku ahli waris Pak Calvin, harus melunasi tagihan kredit beliau, jika tidak ingin rumah ini disita oleh pihak Bank."
"Dan, mohon maaf jika Mbak Valen tidak bisa membayar hutang hingga akhir bulan ini, maka tanah dan bangunan rumah ini akan menjadi milik Bank Makmur Jaya."
Valen pun membuka mata perlahan dengan napas yang terhela begitu saja. Apakah ia harus merelakan rumah peninggalan orang tuanya dengan kenangan yang takkan ia dapat di rumah manapun begitu saja?
Valen memijit pelipisnya yang terasa berdenyut dengan mata melirik jam tangan yang sedang ia kenakan di pergelangannya. Sudah jam 8 : 38 tapi bus yang akan membawanya pergi bekerja belum juga datang. Valen merasa dunia seakan tidak berpihak sama sekali pada dirinya akhir-akhir ini dan semesta seakan sedang bermain dengan kehidupannya.
...****************...
"Valen tolong antar minuman ini ke meja yang ada di ujung sana," pinta Daniel pada Valen yang berdiri di seberang meja bar.
Daniel menunggu Valen yang masih berdiam diri. Wanita itu tidak merespon hingga membuat Daniel mengulangi perkataannya lagi, "Valen tolong antar minuman itu pada Mami Irene, dia sudah menunggu!" Daniel berdecak saat Valen tak juga merespon lantas mencondongkan tubuhnya untuk menyentuh Valen.
"Valen, apa lo dengar?"
Valen yang merasakan sentuhan tangan itu tersadar lantas mengalihkan tatapannya pada Daniel sang bartender sekaligus bosnya.
"Lo kalo lagi kurang sehat nggak apa-apa pulang aja," ucap Daniel kemudian saat mereka bersitatap.
Valen menggeleng. "Saya baik-baik aja," balas Valen sambil ujung matanya melirik minuman yang sudah tersaji di atas meja.
"Harus aku antar kemana?" Valen bertanya sambil mengambil minuman beralkohol itu.
Daniel menghembuskan napas lantas berkata, "Meja yang di ujung sana." Valen mengangguk lalu berjalan ke meja customer dengan membawa pesanan di tangannya.
Valen menghela napas panjang, pikirannya benar-benar tidak konsen untuk ia bawa bekerja.
"Mami," sapa Valen sambil meletakkan nampan pesanan wanita yang sedang memegang ponsel itu. Valen sudah tidak asing lagi dengan wanita yang ada di hadapannya, karena wanita itu sudah menjadi langganan tetap di tempat ini, bahkan sebelum dirinya bekerja di sini.
Wanita yang dipanggil Mami itu meletakkan ponselnya di atas meja, lantas tersenyum sambil memandang Vallen. "Mukamu pucat sekali, tidak seperti biasanya. Apa kau sakit?"
Valen menggeleng sebagai jawabannya.
"Duduklah, kau pasti kelelahan," kata Mami Irene sambil menepuk-nepuk sofa yang berada di sampingnya. Valen masih terdiam. Berdiri di tempatnya. "Sudahlah tak apa, Daniel nggak akan marah. Kalau dia bertanya bilang saja aku yang menyuruhmu untuk duduk di sini," tambah Irene lagi saat melihat rasa tak enak hati pada wajah Valen.
Valen pun akhirnya menurut, ia duduk di samping Irene.
"Aku dengar kau juga bekerja di tempat lain selain disini. Apa itu benar?" Tanya Irene kemudian sambil mengambil satu batang rokok yang berada di atas meja. Menyelipkannya di antara bibir tipis berpoles gincu merah sebelum akhirnya membakar ujungnya hingga tembakau itu membara.
"Benar."
Irene menghembuskan asap putih dari mulutnya yang langsung membumbung tinggi. "Apa karena kebutuhan hidup sampai kau rela bekerja tak kenal waktu?"
Valen mengangguk. "Semua kebutuhan hidup perlu uang, Mam," balas Valen sambil tertawa kecil yang diikuti Mami Irene. Irene pun mengangguk membenarkan.
"Aku lihat sejak tadi kau tidak fokus bekerja. Apa sedang ada masalah?" Tanya Irene kemudian.
Valen menarik napas panjang sambil menundukkan wajahnya. Irene yang melihat itu pun mengelus punggung Valen dengan lembut.
"Coba ceritakan, kali saja aku bisa membantu," pinta Irena.
Valen membuang napasnya berat. Terdiam untuk sesaat. Berpikir apakah tidak apa ia menceritakan masalah ini pada orang lain? Tapi menanggung semuanya terlalu berat. Valen belum berani bertanya tentang masalah ini pada kakak iparnya. Valen cuma takut nanti kakak Dwi jadi kepikiran seperti dirinya semisalnya dia tidak tau menahu tentang masalah hutang ini.
"Aku lagi perlu uang yang banyak, Mam," tutur Valen sambil mengangkat wajahnya, menatap jauh ke depan. Meskipun Valen tau Mami Irene tidak akan bisa membantu, Valen pun bercerita setidaknya ia bisa menyemburkan keluh kesahnya pada orang lain.
"Berapa?" Tanya Irene pemasaran. Ia cukup kasihan pada Valen. Irene tau dia wanita baik-baik yang terpaksa bekerja di tempat seperti ini.
Irene yang melihat Valen masih terdiam pun mengambil minumannya lantas meneguk isinya.
"600 juta,'" cicit Valen pelan yang masih didengar oleh Irene.
"APA?" Pekik Irene.
Wanita itu sampai menyemburkan minumannya sambil terbatuk. Matanya membulat, cukup kaget dengan apa yang dikatakan oleh Valen. Irene kira cukup banyak itu bukan sampai ratusan juta untuk ukuran remaja seperti Valen. Tapi nyatanya ia salah.
"Untuk apa uang sebanyak itu?" Tanya Irene pemasaran.
Valen mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan terlihat frustasi lalu menolehkan kepalanya menatap Mami Irene. "Untuk bayar hutang. Apa Mami bisa pinjamkan aku uang sebanyak itu?"
Pertanyaan bodoh yang langsung Valen rutuki. Dirinya terlalu konyol karena bisa-bisa meminjam uang sebanyak itu pada orang asing. Valen memejamkan matanya pasrah dengan menarik napasnya yang terasa sesak.
"Maaf Valen Mami tidak memiliki uang sebanyak itu. Kalaupun ada yang meminjamkan mu, kamu mau memulangkan nya dengan cara apa?"
Valen menundukkan kepalanya. Terdiam merenungi perkataan Mami Irene yang ada benarnya. Kalo dia meminjam uang pada orang lain bagaimana dia akan memulangkannya. Sepertinya tidak akan ada harapan untuk dirinya untuk mempertahankan rumah peninggalan kedua orang tuanya.
"Tapi Mami punya solusi untuk kamu, jika kamu benar-benar terdesak dan membutuhkan uang dalam waktu singkat."
Valen langsung mengangkat wajahnya kembali lantas menoleh menatap Mami Irene dengan penuh harapan.
Irene tersenyum sambil memperhatikan wajah dan tubuh Valen dengan seksama.
"Apa kamu masih virgin?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments