Di tengah-tengah suara piring yang beradu sendok dan garpu. Suara Mama– Arion terdengar begitu lantang, memecahkan keheningan di ruang makan. "A, apa kamu masih berhubungan dengan Jessica?" Tanya Mama– Arion yang biasa disapa teman-teman arisannya Jeng Allea.
Arion masih bungkam. Dia seakan menikmati sarapan paginya tanpa ingin di ganggu.
Allea menatap anak laki-lakinya yang berada di seberang meja makan dengan sinis sebab ucapannya di acuhkan. "Teman Mama nggak sengaja liat kamu yang lagi nganter Jessica. Lebih parahnya lagi teman Mama liat Jessica sedang mabuk. Kamu nggak bisa menyangkalnya lagi karena Mama dikirimin fotonya juga," tutur Allea sambil menghela napas panjang lalu terdiam untuk sesaat sebelum melanjutkannya lagi.
"Apa kamu segampang itu melupakan kesalahannya? Apa perlu Mama ingatkan lagi biar kamu nggak lupa?"
Allea yang melihat Arion masih diam seakan tidak terpancing oleh perkataannya, akhirnya bersuara lagi.
"Pernikahan kamu harus batal karena dia hamil anak orang lain yang artinya dia menyelingkuhi kamu, Arion. Untung aja Mama berinisiatif untuk mengecek kondisi kesehatan Jessica di rumah sakit sebelum pernikahan dilaksanakan. Dan mendesaknya untuk berkata jujur saat mengetahui itu. Kalo nggak, Mama nggak tau apa yang terjadi setelahnya." Allea terdiam melihat reaksi anaknya itu yang mulai mengeraskan rahangnya. Allea seakan masa bodo dengan reaksi itu. "Mungkin kamu akan menutupinya dan menerima anak yang ada di perut Jessica itu dengan lapang dada meski itu bukan anak kamu." Lanjutnya lagi seakan belum cukup ia memojokkan anaknya.
"Mama nggak sangka cinta membuat orang pintar berubah jadi bodoh. Sejak awal Mama emang kurang setuju jika dia jadi pasangan kamu. Ternyata feeling seorang ibu itu kaya cenayang. Lagi pula mana ada perempuan mau dinikahi persyaratannya minta saham. Mama dulu nggak kaya gitu." cibir Allea merendahkan.
Allea terus mengoceh mengeluarkan semua unek-unek dan pendapat yang ia punya.
Arion menghentikan kegiatan makannya. Perut yang tadinya lapar tiba-tiba saja mendadak kenyang. Kupingnya terasa panas bukan main lantas ia menaruh sendok dan garpu dengan hentakan yang keras, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Sekuat tenaga ia menahan kesal yang teramat sangat.
"Aku cuma anter pulang dia aja, Mom. Bisanya Daniel yang nganter, tapi dia lagi nggak bisa. Jadi aku yang anter. Apa itu disebut punya hubungan?" Terang Arion menjelaskan.
Allea berdecak seakan tidak menyukai akan jawaban sang anak. "Alasan kamu aja itu. Apa kamu pengen balikan lagi sama dia setelah mendengar bahwa dia keguguran?"
"Mom-" Saat Arion ingin melakukan pembelaan, perkataannya harus terhenti oleh sang Papa.
"Sudah cukup jangan diteruskan." Aksa memperingati. Suaranya dingin, sebuah perintah yang tidak ingin dibantah.
Aksa yang sejak tadi memilih diam dengan iPad di tangannya akhirnya bersuara juga yang membuat ibu dan anak itu akhirnya terdiam.
Aksa menghela napas panjang lantas mengambil cangkir kopi yang sudah tersedia di atas meja lalu menyesapnya. Terdiam untuk beberapa saat.
"Sayang, bukannya kita udah sepakat nggak akan membahas kejadian yang sudah lewat. Lagi pula Arion pasti butuh waktu untuk melupakan orang yang dulu pernah ada di hatinya. Dan itu tentu saja nggak mudah."
Saat Aksa selesai mengatakan itu Allea menoleh pada Aksa– suaminya. Mereka saling pandang. Mengunci tatapan satu sama lain untuk beberapa saat sampai akhirnya Allea mengangguk mengerti.
Arion menarik napas panjang mengisi rongga-rongga dada yang teramat sesak. Arion akui perkataan sang Papa memang benar adanya dan dia tidak ingin menyangkalnya.
Arion berdiri lantas memundurkan kursi makan hingga menimbulkan suara decitan. "Pah, aku berangkat duluan," ujarnya yang langsung melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya dalam kegamangan. Melupakan sopan santun yang selalu Allea ajarkan
Arion tidak tau kenapa dia tidak bisa membenci Jessica yang jelas-jelas telah menoreh luka yang teramat sangat dalam. Memberikan lebam-lebam pada sekujur tubuhnya dan meninggalkan lubang besar di hatinya yang entah kapan bisa sembuh. Arion sadar hidup harus tetap berjalan dan kenyataan memang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dalam patah hati ini Arion sadar ternyata membuka lembaran baru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh effort yang besar untuk melupakan kenangan-kenangan indah yang telah lama bersarang di dalam kepala maupun hatinya. Sekarang ia paham terkadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan untuk pendamping hidup tapi sebagai pengalaman hidup.
Entah berapa lama orang bisa sembuh dari luka patah hati? 1 minggu, 2 minggu atau 1 bulan. Nyatanya, waktu saja tidak tahu akan jawaban dari pernyataan itu. Karena waktu tidak bisa menyembuhkan luka patah hati kalau buka orang itu sendiri yang berjuang dan berdamai dengan diri sendiri.
Pada akhirnya Arion melampiaskan rasa marah, kecewa, sakit hati yang teramat dalam pada hal-hal yang negatif. Merelakan komitmen yang ia bangun untuk dirinya ketika melihat para sahabatnya melakukan se_ks bebas. Pada saat itu Arion memegang teguh bahwa dia harus perjaka untuk istri yang ia nikahi nantinya dan menjaga wanita yang ia sayangi untuk tidak ia rusak kesuciannya.
Dan pada akhirnya ia menertawakan komitmen itu sendiri. Karena baginya saat ini tidak ada wanita yang masih menjaga keperawanannya di tengah-tengah kota besar seperti ini. Kalau ada dia rela membayar harga sangat mahal untuk sebuah keperawanan. Tapi nyatanya sampai detik ini apa yang ia minta tak dapat dipenuhi oleh mucikari langganannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Muzaata Alenmiyu
😔 aku udah tau thor penyebabnya 🤭 lanjutt 💪
2023-10-12
0