Setelah itu hening. Pandangan Valen menatap bahu jalan dari balik jendela mobil, tatapannya kosong. Perasaannya saat ini gelisah tak menentu, karena tinggal hitungan jam saja ia harus merelakan keperawanannya kepada laki-laki hidung belakang yang Valen sendiri tidak tau siapa dia.
Ada ruang dalam dirinya yang mengatakan bahwa seharusnya ia tidak melakukan hal itu. Tapi Valen tidak tau dengan cara apa lagi ia bisa dengan cepat mendapatkan uang sebanyak itu dengan waktu singkat. Valen bisa saja merelakan rumah itu kepada pihak Bank tanpa harus bersusah payah ia mencari uang untuk melunasinya. Tapi apakah setelah itu perasaannya akan jauh lebih tenang daripada pada saat ini?
Valen menghela napas terus menyemangati diri sendiri dengan berpikir bahwa setidaknya ia jauh lebih pintar daripada gadis-gadis di luar sana yang merelakan keperawanannya secara gratis hanya karena cinta.
Benar, setidaknya ia bukan wanita bodoh yang merelakan keperawanannya dengan cara cuma-cuma kepada laki-laki. Karena ada harga yang sepadan untuk melepas kegadisannya.
Tapi setelah itu Valen menipiskan bibir, merasa lucu dengan dirinya. Bukankah itu sama saja dengan pelacur. Apa bedanya ia dengan wanita yang suka menjajakan diri kepada laki-laki mata keranjang itu.
"Kamu mau makan apa?"
Suara dari Mami Irene membuyarkan pikiran Valen yang berseliweran di dalam kepalanya sejak tadi. Valen pun menolehkan wajahnya.
"Terserah Mami aja. Aku sih, apa aja suka, asal itu makanan halal dan layak dimakan."
Irene mengangguk dengan diikuti bibir yang menipis. "Well, ternyata kamu orang yang nggak neko-neko. Kamu juga wanita dengan berpenampilan simpel tapi tetap terlihat cantik dan menarik. Apa kamu mau jadi anak asuh Mami? Pasti kamu akan menjadi favorit klien-klien Mami. Kamu juga nggak usah kerja capek-capek sampai 2 tempat gitu. Bagaimana? Kamu mau."
Valen menahan napas untuk sepersekian detik ketika Irene berbicara hal yang tak terduga. Dirinya cukup kaget saat mendengarnya. Ia pun hanya bisa diam untuk sesaat. "Aku akan pikir-pikir dulu tentang tawaran Mami itu," ucap Valen pada akhirnya tidak ingin membuat orang yang telah membantunya merasa kecewa untuk saat ini.
Irene menarik sudut-sudut bibirnya tinggi. Ia tersenyum saat mendengar penuturan dari Valen. "Mami harap kamu mau jadi anak asuh Mami."
Valen hanya tersenyum sebagai respon.
Setelah menempuh beberapa menit akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Valen dan Irene sampai di sebuah lobi mall. Mobil pun berhenti dan mereka berdua turun dari dalam mobil.
Valen menarik nafas panjang begitu memasuki gedung mall. Valen diam mematung dengan mengedarkan manik mata menjelajah seisi gedung. Dirinya cukup takjub dengan pemandangan yang ada di sekitarnya. Karena ia sudah disambut oleh deretan toko toko barang fashion branded kelas dunia, yang harganya hanya bisa dijangkau oleh kalangan sultan. Seperti Alexander McQueen, Dior, Chanel, LV, Rolex, Tiffany and Co, Gucci, Burbery, Fendi dan lain-lain.
Tapi, rasanya sayang menghambur uang puluhan atau ratusan juta hanya untuk sebuah barang fashion.
Irene terkekeh kecil ketika melihat Valen yang tampak kaget dengan apa yang baru saja ia lihat. Irene pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Kamu mau makanan dari dalam negeri apa luar negeri?"
"Dalam negeri."
"Oke, kalo begitu kita naik ke lantai atas. Setelah makan kita akan bersenang-senang, Valen," ucap Irene dengan bersama kedua kakinya melangkah maju menuju dimana eskalator berada, dengan diikuti Valen yang berjalan di sisi Irene.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments