Hay, sobat Phio ada yang menanti cerita ini nggak? Kalo ada mana komennya.
Dukungan kalian berarti buat aku loh, jadi jangan lupa dukungannya, ya.
...selamat membaca....
Dua buah kelopak mata terbuka secara perlahan ketika suara ketukan terdengar dari balik pintu yang disusul pintu di buka sedikit dari luar. Dwi menyembul kepalanya dari celah-celah pintu yang terbuka.
Valen menegakkan tubuhnya sedikit ketika melihat keberadaan kakak iparnya.
Dwi tersenyum ketika melihat rambut Valen yang terlihat acak-acakan. "Kakak mau periksa kandungan dulu ke Bidan sama Canva. Kakak udah masak. Lauknya ada di lemari, nanti dimakan, ya."
Valen menurunkan kakinya dari atas kasur saat mendengar perkataan itu. "Tunggu aku Kak! Aku mau ikut."
Dwi membuka pintu kamar lebar. "Nggak usah, biar Kakak aja sama Canva. Nanti kamu telat berangkat kerjanya." tolak Dwi secara halus.
"Aku libur hari ini." Valen berkata sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dimana Dwi sedang berdiri.
Dwi menarik napas. "Ya udah, istirahat. Kamu pasti capek, lagi pula Kakak nggak lama periksanya."
Valen terdiam karena apa yang Kakak iparnya itu katakan benar adanya. Dirinya benar-benar lelah. Sudah hampir 3 Minggu valen melakukan rutinitas yang sama. Siang hari ia menjadi pelayan kasir di Indomaret dan pada malamnya ia menjadi pelayan pengantar minum di sebuah klub. Waktunya hanya ia pakai untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Tapi setidaknya Valen bersyukur, karena semua kebutuhan sehari-hari di rumah dapat ia penuhi.
Jika ada waktu luang ia habiskan untuk beristirahat dan tidur. Meski tidak memenuhi standar jam tidur orang dewasa. Sebab hanya 4 sampai 5 jam saja ia dapat tidur. Mengistirahatkan raga dan fisiknya yang lelah. Dan, pada akhirnya Valen mengangguk kecil.
"Kakak kesana naik apa?" tanya Valen kemudian.
"Kakak udah pesan ojek online," balas Dwi cepat.
"Jangan naik ojek, naik mobil aja," kata Valen.
Valen pun memutar tumitnya, berbalik kearah tas selempang yang ia sangkutkan pada paku, lantas mengambil dompet yang berada di dalam tas. Setelahnya, Valen mengambil 2 lembar uang berwarna merah dari dalam sana lalu mengulurkannya kepada Dwi.
Dwi menggelengkan kepala. "Nggak usah, sayang uangnya, lagi pula deket ini tempatnya," terang Dwi menolak pemberian Valen.
Valen memaksa. Uang tersebut ia langsung serahkan ke tangan Dwi. "Nggak pa-pa Kak, sekali-kali ajak Canva naik mobil dia pasti senang," ucap Valen sambil tersenyum lantas mengelus lembut perut yang membuncit itu dengan sayang.
Dwi pasrah. Akhirnya mengangguk. "Ya udah, Kak tinggal ya. Hati-hati di rumah." Dwi pun berjalan keluar kamar ketika melihat anggukan kecil dari Valen.
Setelah kepergian Kakak iparnya, Valen kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, memandang langit-langit dalam diam. Napas Valen terhela begitu saja.
Semuanya terasa sunyi bahkan ia bisa mendengar suara napasnya sendiri. Rasanya Valen ingin hidup di hari kemarin, dimana orang-orang yang ia sayangi masih hidup dan berkumpul bersama. Membiarkan waktu berhenti di momen-momen itu dan tidak bergerak lagi.
Tapi pada kenyataannya semua itu mustahil. Dan hanya rumah ini lah menjadi kenangan-kenangan yang ia miliki dari orang-orang yang ia sayangi. Benda mati yang menyimpan begitu banyak kenangan yang terjadi selama orang-orang yang ia sayangi masih hidup.
Karena tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, akhirnya Valen beranjak dari atas kasur, lantas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Semoga air dapat menyegarkan badan dan pikirannya yang sedang carut-marut.
Ketika tangan Valen memanjang untuk membuka gagang pintu kamar mandi dengan handuk yang ia taruh di atas pundak, sebuah salam dari luar rumah mengurungkan niatnya.
Pada akhirnya Valen berjalan menuju pintu depan rumah dengan menerka-nerka siapa gerangan yang datang. Sebab, Valen tidak mempunyai janji apapun dengan orang lain.
Ketika Valen membuka pintu yang pertama ia lihat adalah dua orang asing yang Valen tidak kenal. Satu diantaranya seorang laki-laki dan seorang perempuan. Yang laki-laki pakai kacamata dan yang perempuan berambut sebahu.
"Selamat siang apa benar ini rumah Bapak celvin Aditya?" tanya si laki-laki yang berdiri dihadapan Valen.
Valen mengangguk. "Iya benar. Ada apa ya cari kakak saya?" tanya Valen kemudian.
Laki-laki itu tersenyum. "Perkenalkan, saya adalah Edi Hidayat dari Bank makmur jaya, ingin menyampaikan perihal kelanjutan pembayaran pinjaman kredit milik Pak celvin yang macet."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Muzaata Alenmiyu
aku thor,, masih setia menanti lanjutan ceritanya 😊 semangatt 💪
2023-10-18
1