Tamu tak terduga B

Laki-laki itu tersenyum. "Perkenalkan, saya adalah Edi Hidayat dari Bank makmur jaya, ingin menyampaikan perihal kelanjutan pembayaran pinjaman kredit milik Pak celvin yang macet."

...****...

Penuturan dari pria yang ada di hadapannya seperti bom atom yang meluluh lantakkan negara Jepang. Valen memejamkan mata untuk sesaat lantas menarik napas panjang. Menetralisir keterkejutannya. Kepalanya tiba-tiba saja berdenyut pusing. Kabar buruk apa lagi yang datang menghampirinya. Belum juga kering tanah makam sang kakak berbaring untuk selama-lamanya, masalah sudah datang dengan atas namanya menimpa ia. 

"Sebaiknya kita bicarakan masalah ini di dalam biar lebih enak," kata wanita yang berambut sebahu saat melihat raut wajah Valen berubah menjadi tegang.

Saat mendengar itu Valen langsung membuka pintu dengan lebar, mempersilahkan orang yang tidak diundang untuk masuk ke dalam rumahnya.

"Jadi, apakah Pak celvin ada di rumah?" tanya Edi ketika melihat orang yang ada di depannya hanya terdiam.

Valen menggeleng, mulutnya masih bungkam seakan berat untuk berucap. Sebab, ia masih syok akan apa yang baru saja ia dengar.

Edi membenarkan kacamatanya yang sempat turun. "Kira-kira kapan ya, saya bisa bertemu dengan Pak Calvin? Biar masalah ini cepat terselesaikan dan tidak ada penyitaan aset yang pak celvin jadikan jaminan." 

"Jaminan."

"Ia, rumah ini sudah dijadikan jaminan oleh pak celvin atas pinjaman kredit nya." 

Valen menelan salivanya dengan susah kerongkongannya seperti ada batu kerikil yang mengganjal. Jantungnya seketika berdegup tak menentu. Kemarin Valen begitu menangisi kepergian kakaknya dengan begitu pilu, sekarang seakan di jungkir balik oleh keadaan membuat ia begitu menyesal karena pernah menangis akan kepergian Kakaknya. Kenapa kakaknya pergi dengan begitu mendadak dan meninggalkan banyak beban yang begitu berat untuk dirinya?

Dan, pada akhirnya Valen berkata apa adanya. "Bapak nggak akan pernah bisa bertemu dengan kakak saya. Dia sudah meninggal beberapa waktu yang lalu. Jadi, apakah masalah ini dianggap selesai karena orangnya sudah tidak ada?"

"Menurut, Pasal 1100 KUHPerdata mengatur bahwa utang pewaris harus ditanggung oleh para ahli waris yang menerima warisan," tutur wanita berambut sebahu seakan hafal dengan perundang-undangan.

Valen mendadak menjadi orang yang bodoh. Sebab, mengulangi setiap kata yang ia cerna di otaknya.

"Ahli waris? Berarti saya yang menanggung tunggakan cicilan kredit yang macet, kalo saya nggak bayar rumah ini akan di sita oleh pihak Bank. Begitu?"

Edi mengangguk. "Ia benar. Mbak selaku ahli waris Pak Calvin, harus melunasi tagihan kredit beliau, jika tidak ingin rumah ini disita oleh pihak Bank."

"Berapa yang harus saya bayar?" tanya Valen harap-harap cemas.

Petugas pun menyodorkan dokumen yang ia bawa ke hadapan Valen. Valen membacanya. Kedua bola mata Valen membulat sempurna bahkan hampir keluar saat membaca setiap kalimat yang tertera didalam kertas. Valen benar-benar kaget dengan apa yang baru saja ia lihat. Valen menaruh kembali dokumen tersebut di atas meja. 

Pandangan Valen berganti menatap dua orang yang sedang duduk di hadapannya saat ini. "Saya mana ada uang 600 juta, Pak." keluh Valen lemas.

para karyawan Bank itu mengangguk paham. "Kalo begitu petugas BUPLN ( Badan urusan piutang dan lelang negara) akan datang untuk menyita rumah ini," tutur Edi dengan lembut.

Jantung Valen akan berpacu cepat ketika mendengar kata 'sita' di lontarkan oleh orang-orang yang ada di hadapannya seakan kata itu adalah momok yang menakutkan untuk ia dengar. 

"Jangan dong, Pak. Saya sama kakak ipar saya yang sedang hamil besar mau tinggal dimana kalo rumah ini disita? Bapak nggak kasihan sama bayi yang ada di dalam kandungan kakak iparnya saya, sama anaknya yang masih kecil? Kakak saya baru aja meninggal loh." Valen mengiba berharap ada keringanan untuk dirinya.

"Saya turun prihatin atas berpulangnya kakak kandung, Mbak. Tapi disini saya hanya menjalani tugas saya sebagai karyawan Bank. Dan mohon maaf jika Mbak Valen tidak bisa membayar hutang hingga akhir bulan ini, maka tanah dan bangunan rumah ini akan menjadi milik Bank Makmur Jaya." Edi mengingatkan lagi konsekuensi yang akan di tanggung Valen bila pembayaran tidak dilakukan.

Valen bergeming dirinya bingung setengah mati. Isi kepalanya seperti labirin. Penuh dengan cabang-cabang pertanyaan. Bagaimana cara membayar semua hutang-hutang itu? Uang dari mana? Valen harus mencari uang sebanyak itu ke mana?

"Kalo begitu saya pamit undur diri," ucap pegawai Bank itu sebelum meninggalkan rumah Valen. Valen mengangguk dalam diam. Dirinya tak mampu untuk sekedar membalas ucapan dari orang yang baru saja meninggalkan ia seorang diri.

Valen menatap sudut kosong rumahnya dalam diam. Air mata yang jatuh sudah menjelaskan semuanya bahwa ia benar-benar merasa kecewa kepada sang Kakak.

Bagaimana dia bisa menggadaikan pemberian orang tuanya begitu mudah tanpa memberitahu kepada dirinya. Apa kakak iparnya mengetahui masalah ini atau tidak?

Pada akhirnya Valen hanya bisa menarik napas dalam-dalam, berusaha mengurai kesesakan dihatinya.

"Kenapa hidup gue berat banget? Gue pikir menjadi dewasa semuanya akan lancar. Tapi nyatanya, nggak sama sekali. Kakak gue meninggal. Gue harus menggantikan peran Kakak gue, belum lagi hutang yang kakak gue tinggalin. Sial bener hidup lo Valen. Setelah ini apa lagi? Jual diri." Valen terkekeh pada kalimat terakhir yang ia ucapkan. Ia tidak menyangka akan keluar kalimat seperti itu dari dirinya. Ciuman saja ia tidak pernah. Apalagi sampai yang begituan.

Episodes
1 prolog
2 tolong
3 klub Moonlight
4 hari pertama kerja
5 Sebuah patah hati
6 Di kala senja
7 Tamu tak terduga A
8 Tamu tak terduga B
9 Tidak ada harapan
10 Sebuah kenangan
11 Tamu tak diundang
12 Hadiah pertemuan
13 Sebuah tawaran
14 Satu mobil
15 Obrolan di dalam mobil
16 Sarapan pagi yang kacau
17 Pertemuan yang disengaja A
18 Pertemuan yang disengaja B
19 Semua karena terpaksa
20 Dunia ternyata sempit, ya!
21 Buka matanya!
22 Berdebar-debar
23 Sebuah penyatuan A
24 Sebuah penyatuan B
25 Sebuah rasa
26 Pulang
27 Di jenguk
28 Melihat
29 ungkapan perasaan
30 Marinka A
31 Marinka B
32 Tidak sesuai harapan
33 kesibukan Arion 1
34 kesibukan Arion 2
35 moonlight 1
36 moonlight 2
37 moonlight 3
38 Arion berhenti
39 Perkelahian 1
40 perkelahian 2
41 sebuah tawaran
42 Kebersamaan Valen dan Daniel 1
43 kebersamaan Valen dan Daniel 2
44 kebersamaan Valen dan Daniel 3
45 kambing hitam
46 Minta di traktir
47 perbincangan di dalam mobil 1
48 perbincangan di dalam mobil 2
49 perbincangan di dalam mobil 3
50 Di rumah Valen 1
51 Di rumah Valen 2
52 pemotretan 1
53 pemotretan 2
54 Obrolan dimeja makan.
55 Ditraktir
56 Calon suami 1
57 Calon suami 2
58 kebersamaan Valen dan Bianca 1
59 kebersamaan Valen dan Bianca 2
60 Valen dibuat salting 1
61 Valen dibuat salting 2
62 Menunggu jawaban
63 Valen memberi jawaban
64 Berjalan beriringan
65 Percakapan ayah dan anak
66 Patah hatinya Daniel
67 sebuah informasi
68 Obrolan malam 1
69 Obrolan malam 2
70 Aku sayang kamu
71 Kebohongan yang lainnya
72 Tawaran
73 persiapan tahun baru
74 perdebatan pertama
75 Tamu yang tidak diharapkan
76 Menjadi tidak nyaman
77 Harapan tahun baru
78 pelukan dari belakang
79 Pindah rumah
80 Hari yang panjang
Episodes

Updated 80 Episodes

1
prolog
2
tolong
3
klub Moonlight
4
hari pertama kerja
5
Sebuah patah hati
6
Di kala senja
7
Tamu tak terduga A
8
Tamu tak terduga B
9
Tidak ada harapan
10
Sebuah kenangan
11
Tamu tak diundang
12
Hadiah pertemuan
13
Sebuah tawaran
14
Satu mobil
15
Obrolan di dalam mobil
16
Sarapan pagi yang kacau
17
Pertemuan yang disengaja A
18
Pertemuan yang disengaja B
19
Semua karena terpaksa
20
Dunia ternyata sempit, ya!
21
Buka matanya!
22
Berdebar-debar
23
Sebuah penyatuan A
24
Sebuah penyatuan B
25
Sebuah rasa
26
Pulang
27
Di jenguk
28
Melihat
29
ungkapan perasaan
30
Marinka A
31
Marinka B
32
Tidak sesuai harapan
33
kesibukan Arion 1
34
kesibukan Arion 2
35
moonlight 1
36
moonlight 2
37
moonlight 3
38
Arion berhenti
39
Perkelahian 1
40
perkelahian 2
41
sebuah tawaran
42
Kebersamaan Valen dan Daniel 1
43
kebersamaan Valen dan Daniel 2
44
kebersamaan Valen dan Daniel 3
45
kambing hitam
46
Minta di traktir
47
perbincangan di dalam mobil 1
48
perbincangan di dalam mobil 2
49
perbincangan di dalam mobil 3
50
Di rumah Valen 1
51
Di rumah Valen 2
52
pemotretan 1
53
pemotretan 2
54
Obrolan dimeja makan.
55
Ditraktir
56
Calon suami 1
57
Calon suami 2
58
kebersamaan Valen dan Bianca 1
59
kebersamaan Valen dan Bianca 2
60
Valen dibuat salting 1
61
Valen dibuat salting 2
62
Menunggu jawaban
63
Valen memberi jawaban
64
Berjalan beriringan
65
Percakapan ayah dan anak
66
Patah hatinya Daniel
67
sebuah informasi
68
Obrolan malam 1
69
Obrolan malam 2
70
Aku sayang kamu
71
Kebohongan yang lainnya
72
Tawaran
73
persiapan tahun baru
74
perdebatan pertama
75
Tamu yang tidak diharapkan
76
Menjadi tidak nyaman
77
Harapan tahun baru
78
pelukan dari belakang
79
Pindah rumah
80
Hari yang panjang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!