Dari balik dinding kaca, Arion bisa melihat kelap-kelip lampu kota pada malam hari dari dalam hotel bintang lima. Jemarinya mengapit sebatang rokok yang menyala dengan sebuah ponsel di tangan satunya yang mengarah ke telinga.
“Bagaimana anak teman Mama itu, A? Cantikan. Apa kamu suka?”
Alih-alih menjawab Arion menghembuskan asap lewat mulut ketika ia baru saja meng_hisap rokoknya. Pertanyaan itu terlontar dari Mamanya– Allea. Wanita yang ia hormati dan sayangi. Arion sedang melakukan panggilan telepon
“Cantik. Tapi di mata aku biasa aja, kaya wanita-wanita yang sering aku temui, Mom. Nggak ada yang spesial,” jawab Arion jujur apa adanya.
Allea tertawa. “Gitu, ya? Padahal Mama suka sama Marinka. Dia wanita yang sopan, bertutur lembut, baik, pinter lagi. Mama dengar dia baru aja diwisuda menjadi seorang Dokter. Tapi nggak apa deh kalo kamu nggak suka. Kamu tenang aja, Mama punya banyak stok teman yang anaknya perempuan. Mama akan kenalkan kamu dengan anak teman Mama yang lain, kalo kamu nggak suka sama Marinka.”
Arion berdecak mulai tidak suka dengan argumen Mamanya. “Udahlah Mom, jangan diterusin kekonyolan yang Mama buat. Aku nggak suka. Jadi, kesannya kaya aku nggak laku. Aku mau datang kesana, karena Mama udah terlanjur janji. Aku cuma menyelamatkan muka Mama aja dari teman Mama itu. Jadi aku mohon cukup sampai disini Mama carikan jodoh buat aku.” Tolak Arion dengan kasar.
Allea menghela napas panjang ketika mendengar pernyataan itu. “Kalo apa yang Mama lakukan di mata kamu terlihat konyol, ya udah kalo gitu, Mama minta maaf.”
Sambungan telepon langsung terputus begitu saja dari seberang sana. Arion mend_esah kasar dengan manik mata memandang layar ponsel yang sudah padam. Pasti Mamanya sedang ngambek padanya. Kembali Arion menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Lalu mengambil gelas kristal yang berisi wine.
Suara bel berbunyi nyaring yang membuat Arion mengurungkan niatnya untuk meneguk wine, lalu ia menaruh kembali gelas kristal itu di atas meja. Lantas, melangkahkan tungkai kaki panjangnya menuju dimana pintu berada.
Tanpa melihat lubang intip pintu kamar hotel, Arion membuka pintu itu. Sedetik setelah pintu terbuka Arion mematung untuk beberapa saat, cukup kaget dengan orang yang ada di depannya saat ini. Mereka sama-sama terdiam dengan kedua mata saling bersitatap. Wanita itu menelan salivanya dengan susah seakan tenggorokannya ada bongkahan batu besar yang mengganjal.
Arion menyunggingkan senyum cemoohan. "Waw, sebuah kejutan. Ini yang namanya Jessica?” tanyanya dengan wajah kaget yang dibuat-buat.
Valen bungkam. Wajahnya tertunduk dengan kedua mata memejam untuk sesaat.
“Apa ini juga kerja sampingan lo selain di Indomaret dan pelayanan bar? Lo juga jadi open bo. Gue jadi penasaran seberapa besar biaya hidup lo sampai-sampai satu kerjaan aja nggak cukup buat lo?"
Lagi dan lagi Arion memberikan pertanyaan yang begitu mencemooh dirinya.
Valen masih menutup rapat mulutnya seakan enggan untuk membalas perkataan dari lawan bicaranya.
Arion terkekeh kecil atas diamnya Valen sambil kedua manik matanya menelisik penampilan Valen dari ujung kaki sampai ujung kepala. "6,5. Itu nilai gue buat lo. Lumayan lah hampir mendekati angka 7. Angka yang cukup bagus buat wanita penghibur seperti lo." Setelah mengatakan itu ia mengangguk kepalanya tanda setuju dengan penilaian yang ia berikan terhadap penampilan Valen malam ini.
Gaun ketat merah dengan belahan dada yang rendah sampai perut dan belahan paha yang sangat tinggi. Gaun merah itu disempurnakan oleh butiran batu swarovski menampilkan kesan seksi, mewah dan elegan. Yang memperlihatkan kulit putih dan mulus milik wanita itu. Gaun yang belum lama perusahaannya luncurkan.
Sedangkan orang yang diberi penilaian hanya bisa diam dengan tangan yang mere_mas kuat clutch bag yang sedang ia pegang, meredam amarah yang saat ini meluap-luap.
Dunia ternyata sempit, ya!
Dari sekian banyak laki-laki di muka bumi ini kenapa harus Arion kalendra Damian yang ada di hadapannya saat ini. Dan bukan orang lain.
Arion melebarkan bingkai pintu hotel sambil menatap wanita yang masih berdiam berdiri di depan pintu. "Lo nggak mau masuk," katanya kemudian.
Valen memejamkan matanya untuk sesaat sambil menarik napasnya dan membuangnya secara perlahan. Dirinya berpikir untuk sesaat, apakah ia harus masuk atau tidak? Melanjutkan apa yang sudah ia mulai. Pada akhirnya ia melangkahkan kakinya mengikuti Arion yang masuk terlebih dulu ke dalam kamar hotel tanpa kata. Valen sadar dirinya sudah tertangkap basah. Biarpun ia mundur, dirinya sudah terlanjur basah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Muzaata Alenmiyu
lanjut lagi thor yg panjaaanng 😁💪
2023-11-11
0
Aqila
crazy up thor 😁
2023-11-11
0