"Ini kue siapa?" Bu Siti membaca tulisan di kue tersebut, lalu tersenyum bahagia.
"Ini pasti ulah Silvia. Dia memang menyayangi putraku. Ternyata dugaanku salah," tutur batinnya. Dia kembali menutup kulkas dan bersiap-siap jamaah subuh.
Hari itu Silvia sengaja tidak mau berjamaah subuh dan Yusuf beserta kedua orang tuanya tidak pernah mau memaksanya, sebab memang perempuan tidak wajib berjamaah.
Selesai berdoa, gadis bungsu menjalankan aksinya. Dia menunggu Yusuf di dalam kamar dengan pintu yang sengaja ia tutup. Hingga suara salam dari Yusuf dia dengar, namun dia tidak keluar dari kamarnya.
"Waalaikumussalam!" teriak Silvia dari dalam kamarnya.
"Astaghfirullah .. Kamu ngapain masih di kamar, Bi? keluar, Bi .. Kita masak bareng," ujar Yusuf.
Tetapi Silvia tidak bersuara, sehingga Yusuf menjadi penasaran. Pemuda santri itu membuka pintu kamar perlahan, lalu Silvia tiba-tiba muncul dari samping pintu dengan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.
Kala itu Yusuf terkejut. Dia terkekeh dan terharu dengan kejutan yang Silvia buat. Tidak mau jaim, setelah meniup lilin dan meletakkan kue buatan Silvia, Yusuf segera memeluk erat istrinya sembari sesekali mencium kening dan pipinya.
"Terima kasih, Albi sayang. Btw, kamu kapan pesannya?" tanya Yusuf.
"Enak aja, pesen. Bikin sendiri dari semalem, dibilang pesen."
"Masa sih? Wah .. Istri saya jago bikin kue."
"Diincipin dulu, dong. Masa makasih doang, sih."
"Emm ..., nanti saja ya, Bi. Tadi di masjid, sudah makan tumpeng sama roti buatan santri. Nanti pasti saya makan, kok."
Meski Yusuf berekspresi dengan senyuman yang tulus dan penuh bahagia, tetapi Silvia tetap kecewa dan merasa sedih karena usahanya tidak dihargai. Wajah yang semula berseri, kini menjadi layu.
"Oh, gitu. Ya udah, gak apa-apa," ucap Silvia.
Dihadapan banyak orang, dia berpura-pura baik-baik saja dan tidak mempermasalahkan hal sepele itu. Silvia membantu ibu mertuanya memasak dan mencuci piring di dapur.
"Albi, ngapain masak? Biar saya saja yang masak. Kamu santai saja, ya .. Biar tidak kelelahan." Tetapi Yusuf melarangnya karena dia tidak mau ingkar janji kepada Silvia untuk tidak menyuruh Silvia mengerjakan apapun.
Tentu saja Silvia sangat senang mendengarnya dan segera pergi, duduk-duduk di teras rumah sembari video call dengan Yunika–sahabatnya.
Tidak lama, dua orang santriwati datang dan mengkritiknya dengan ucapan yang tidak sopan. Siapa lagi kalau bukan Wati. Dia datang bersama Susan untuk menemui Yusuf.
"Duh, ratu kota jam segini udah santai aja. Apa nggak sungkan sama mertuanya yang jam segini masih masak? Kalau aku jadi menantunya sih, pasti sungkan," ucapnya.
"Maaf, kalian mau nyari siapa?" tanya Silvia dengan berusaha tetap sopan.
Namun tiba-tiba sang ayah datang. Dia hendak keluar untuk mencari angin dan merokok.
"Ada apa, kalian kesini?" tanya sang ayah.
"Saya mau ketemu Gus Yusuf dan Bu Nyai, Kyai. Ada?" Sesekali mata sinisnya melirik Silvia.
Istri Yusuf itu kemudian mengakhiri video callnya dengan Yunika untuk sementara waktu, sampai urusan santriwati dengan suaminya selesai.
"Ada. Suf! Umi! Keluar lah sebentar, dicari Wati sama Susan!" teriak sang ayah.
Tidak butuh waktu lama, Yusuf dan uminya tiba. Rupanya kedua santriwati itu mengumpulkan tugas ke Yusuf yang sempat ketinggalan dan menyampaikan undangan dari salah satu Ustadzah untuk uminya Yusuf.
Tapi rupanya, tidak hanya 2 keperluan itu saja yang ingin disampaikan oleh Wati. Ternyata dia juga sengaja membicarakan tentang perayaan ulang tahun Yusuf di masjid, beberapa jam yang lalu.
"Gus Yusuf, afwan ya jika saya lancang. Kue ulang tahun buatan saya tadi gimana rasanya? enak nggak?" tanya Wati.
"Oh, jadi kue tadi yang bikin kamu to? Enak kok, Wat. Seriusan enak, berbakat kamu," ucap Yusuf.
Hati Silvia bergemuruh, sangat kesal. Tetapi ia tidak mungkin marah meledak-ledak seperti saat berada di rumahnya sendiri karena ada kedua mertua yang harus tetap dia hargai.
"Oh, jadi gitu ceritanya!" ucapnya dengan nada sedikit tinggi, lalu masuk ke rumah, begitu saja.
Dia masuk ke dalam kamarnya dan menangis disana. Meski dia tidak tahu pasti, apakah tangisannya juga disebabkan oleh rasa cemburu ataukah hanya karena kecewa, usahanya membahagiakan Yusuf tidak dihargai oleh Yusuf.
Melihat sikap istrinya yang mendadak aneh, Yusuf segera menyusulnya. Mengetuk-ngetuk pintu kamar cukup lama, sembari memanggil nama sang istri tercintanya, tetapi tidak ada jawaban. Sementara pintunya sengaja Silvia tutup.
"Kenapa, Suf?" tanya sang ibu.
"Tidak tahu, Umi. Tidak biasanya dia begini."
"Alah, paling juga karena cemburu sama Wati. Tabiat perempuan 'kan begitu. Sama seperti umimu dulu, Suf," sahut ayahnya.
Bu Siti terkekeh mendengar pernyataan suaminya, begitu juga dengan Yusuf. Tetapi tawanya tidak berlangsung lama, sebab ia mendengar suara isak tangis istrinya.
"Bi, kamu nangis ya? Albi buka pintunya, Sayang." Tetap tidak ada suara apapun.
Wanita setengah tua, mencolek bahu Yusuf dan mengisyaratkan agar dia diam dan tenang. Wanita itu mengambil kunci duplikat, lalu memberikannya ke Yusuf. Putranya tersenyum dan segera membuka pintu kamar.
Betapa terkejutnya mereka bertiga, karena melihat Silvia duduk dengan kedua kaki dilipat, kedua tangan memeluk kakinya dan kepalanya bersandar, menunduk diatas kedua tangannya sembari menangis sesegukan.
Kue buatannya yang Yusuf taruh di meja, telah jatuh di lantai, berserakan. Lebih tepatnya sengaja Silvia buang.
"Ya Allah, Silvia! Kenapa kuenya di buang, Nak?!" teriak Bu Siti. Yusuf menoleh, lalu turut duduk di lantai–mendekati Silvia.
Dia berusaha memeluk Silvia, namun berulang kali gadis manja itu mengibaskan tangannya.
"Kamu marah ya, karena saya makan kue dari santriwati, bukan kue darimu?" tanya Yusuf.
"Saya minta maaf ya, Bi. Tidak ada maksud mengecewakanmu. Tapi—"
"Nak, kalau kamu ada masalah, curhat lah ke umi, Nak. Jangan memendamnya sendiri, lalu marah-marah dan membuang makanan yang nggak salah apa-apa. Sayang, Nak."
Dengan sengaja Bu Siti memutus ucapan putranya yang ia nilai masih salah dalam mengucapkan kata maaf. Meski Silvia tidak menjawab apapun, tetapi abi dan uminya Yusuf yakin kalau Silvia pasti bisa menerima permintaan maaf dari putranya. Mereka berdua lalu pergi, meninggalkan Yusuf dan Silvia.
"Kamu cemburu?" tanya Yusuf sekali lagi.
"Gak. GR banget, jadi cowok. Ngapain juga aku cemburu sama kamu? Cinta aja, gak."
Yusuf tersenyum tipis, "Tidak cinta, tapi cemburu. Sudah terbukti sangat jelas, kok masih ngeles."
"Aku gak cemburu! Aku cuma kecewa karena dari kecil, gak ada yang mau hargai usahaku. Aku cuma pengen nyenengin kamu, aku belain gak tidur semalem cuma buat bikin kue ini doang," ucap Silvia.
"Tapi sedikit pun gak kamu makan. Emang di dunia ini gak ada yang sayang sama aku! Gak ada yang bisa ngerti perasaanku!" teriaknya.
Tangisnya kembali pecah, karena teringat dengan masa lalunya, masa kecilnya yang sangat pahit. Sejak kecil, Silvia tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya.
Dia diasuh oleh om dan tantenya dengan aturan hidup kemiliteran yang cukup keras dan disiplin. Wajar, jika pada akhirnya Silvia menjadi seorang gadis yang manja karena kurangnya kasih sayang dan perhatian. Dan Yusuf terkejut mendengar omelan istrinya, sebab dia belum tahu banyak hal tentang Silvia di masa lalu.
Yusuf memeluknya erat, "Maafkan saya, ya. Saya memang salah. Saya tidak pernah peka. Sudah, jangan menangis seperti ini lagi."
"Apa saya boleh tahu, maksud dari ceritamu barusan? Kenapa dengan masa lalumu?" tanya Yusuf dengan penuh hati-hati.
"Bunda gak pernah mengharapkan aku ada di dunia ini. Sejak aku berusia satu bulan, aku sudah diberikan ke om dan tanteku sebagai anak asuh mereka. Saat aku duduk di bangku putih biru, mereka memulangkan aku ke rumah orang tuaku untuk tinggal bersama orang tuaku, tapi biaya hidup masih ditanggung oleh mamah dan papah." Silvia mengusap air matanya.
"Saat ada masalah kecil, bunda pernah bilang terus terang padaku bahwa dia gak pernah mau punya anak aku. Orang tuaku udah cerai cukup lama, lalu mereka rujuk kembali dan menghasilkan anak aku. Selama aku hidup dengan mereka, aku gak pernah didengar, aku gak pernah diberi kesempatan buat berpendapat, bahkan seolah selalu menuntut aku buat jadi sempurna."
Hening sejenak. Yusuf melepas pelukannya dan memilih menghapus air mata yang masih terus mengalir di pipi Silvia. Anak kyai itu tidak menyangka, istrinya yang selama ini dia kenal sebagai gadis periang, ternyata memiliki masa lalu yang begitu pahit.
Meski hatinya turut pilu, mendengar kisah menyedihkan istrinya, tetapi sebagai lelaki dia tetap berusaha tegar dihadapan Silvia.
"Oke, terima kasih sudah mau berbagi cerita. Seperti apapun masa lalumu, sepahit apapun itu .. Semua itu hanya masa lalu yang layak untuk dikubur dan diganti dengan masa depan yang lebih baik. Sekarang Silvia sudah gede, sudah jadi istrinya Yusuf yang ganteng ini, jadi tidak boleh sedih-sedih lagi. Setuju?"
"Gimana mau gak sedih, orang kamu kayak gitu. Sama aja kayak mereka, gak bisa hargai usahaku. Emang sih, kuenya cuma gitu doang. Pasti enakan bikinan me—"
"Ssstt. Saya tidak mau dengar omelanmu lagi. Kue sudah kamu buang begini, bagaimana mau makannya, Sayang? eh, tapi yang sebelah sini tidak kena lantai, kok. Masih bisa saya makan." Pemuda itu mengambil kuenya dibagian yang masih hygenis, lalu memakannya.
Silvia tidak tega, tetapi amarahnya membuat dirinya bersikap tidak peduli dengan suaminya yang memakan kue yang sudah jatuh di lantai.
"Hmm .. Enak, kok. Lebih enak dari buatan Wati. Besok bikin lagi untuk saya, mau 'kan?"
"Ogah." Silvia membuang muka.
Satu coretan dari krim, tiba-tiba menghiasi pipi tembemnya. Ya, sengaja Yusuf melakukan itu supaya Silvia bisa sedikit tertawa. Awalnya gadis manja itu menggerutu, tapi kemudian berakhir menjadi canda tawa.
"Albi. Saya boleh katakan sesuatu ke kamu?" tanya Yusuf, usai candaannya dengan Silvia.
"Apa?
"Kamu pernah bertadabbur, tidak?"
"Tadabbur itu apa?" tanya Silvia, sembari membenarkan posisi duduknya–menghadap Yusuf.
"Tadabbur itu suatu tindakan memahami, merenungi sesuatu hal. Saya ingin sekali mengajakmu mentadabburi cinta. Merenungi dan memahami cintanya Allah kepada kita, juga cinta saya kepadamu."
Silvia masih tidak paham dengan perkataan Yusuf. Baginya, tidak ada hubungannya dengan kemarahannya yang terjadi beberapa menit yang lalu. Tapi demi menghargai, dia berusaha mendengarkan semua perkataan Yusuf.
"Kamu boleh kecewa dan marah dengan masa lalumu. Tapi, coba kamu renungkan kembali. Andai saja, Allah tidak memberikanmu kisah sepahit itu, apa masih mungkin .. Kamu bisa menjadi gadis dewasa yang sehebat ini?"
"Kalau saja Allah tidak mencintaimu, apa mungkin kamu bisa tetap kuat, tegar, sampai sekarang? bisa saja, kamu depresi dan gila atau bunuh diri karena besarnya ujianmu. Betul, tidak?" Yusuf menggenggam erat kedua tangan istri manjanya sembari mengelus-ngelusnya dengan ibu jari, sangat lembut.
"Nyatanya kamu kuat dan sehat jasmani, rohani sampai sekarang. Semua itu bukti bahwa, Allah sangat mencintaimu, Albi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments