3 jam Silvia menunggu Yusuf–suaminya. Tetapi tidak ada tanda-tanda kepulangannya. Keluar masuk rumah dengan penuh kecemasan, hingga dia merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri.
“Tuh orang kemana, sih. Udah jam sepuluh, belum balik juga. Bikin orang khawatir aja,”gerutunya dengan suara lirih.
Jari-jari tangannya mulai dingin dan wajah ayunya memerah. Kali ini Silvia merasa sangat bersalah, sudah menyakiti hati Yusuf. Bahkan dia tidak tahu lagi harus melakukan apa lagi, agar Yusuf mau pulang dan memaafkannya.
Berulang kali dirinya menelpon lelaki asing itu, tetapi pesannya tidak dibaca sama sekali.
“Duh! Ini anak kemana, sih! dijapri gak mau baca, giliran di telepon juga gak diang—”
Silvia berhenti dari omelannya dan mendengarkan suara musik seperti dering ponsel dengan penuh kefokusan.
“Jangan-jangan ...”Dia berlari ke atas dan masuk ke kamar tidurnya.
“Hwaa!! Pantesan, susah dihubungi. Hp nya di rumah to! Aduh ... Baru juga serumah 2 hari, udah ada aja kelakuannya!”teriak Silvia.
Duduk seorang diri di depan pintu kamar, sampai Yusuf pulang. Apa yang dia nanti-nantikan kini telah tiba. Terdengar suara Yusuf mengunci pintu rumah, lalu naik ke lantai 2.
Bukannya segera menyusul Yusuf dan meminta maaf, tetapi gadis bungsu itu justru memainkan dramanya. Dia memasang wajah marah dan cuek, seakan tidak peduli dengan Yusuf.
“Ngapain pulang? udah selesai marahnya?”tanya Silvia.
“Siapa juga, yang marah. Sok tahu,”sahut Yusuf sembari mendekati pintu kamar.
“Kamu sendiri ngapain duduk di situ?”tanya Yusuf.
“Suka-suka aku, lah. Rumah juga rumahku sendiri, bukan rumahmu. Terserah aku dong, mau ngapain di rumah ini.”Silvia kembali menancapkan bendera perang dengan Yusuf.
Namun tabiat Yusuf yang sangat santai, sama sekali tidak bisa membuat Silvia kembali mengomel. Padahal, Silvia sangat berharap percekcokan antara dirinya dan Yusuf kembali terjadi, lalu lelaki itu menceraikannya.
“Nih, es krim. Mendingan makan itu saja, daripada ngomel-ngomel tidak jelas.”
Satu tepak es krim coklat vanila, Yusuf sodorkan ke Silvia dengan wajah datar.
“Emang kamu pikir aku anak TK, bisa kamu sogok pakai es krim? Mau kamu ngasih gedung sekalipun, aku gak bakalan bisa cinta sama kamu. Percuma, Suf! Cintaku cuma buat Andrew.”Penegasan itu kembali Silvia tegaskan ke Yusuf untuk yang ke 2 kalinya.
Tanpa bicara apa-apa, Yusuf menaruh es krim yang ia beli di meja kecil–samping kursi yang Silvia tempati. Tetapi dengan amarahnya, hampir saja Silvia membuang es itu dengan melemparnya ke lantai bawah.
“Astaghfirullah! Istighfar, Sayang!”teriak Yusuf sembari merebut es krim dari tangan Silvia.
Mata berembun dan wajah memerah. Emosi gadis keras kepala itu tidak lagi bisa ditahan. Ada amarah dan kesedihan di dalam hatinya yang tidak lagi bisa dia sembunyikan.
Air matanya tumpah dan mengalir sangat deras. Menangis tersedu dan sejadi-jadinya, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya.
Sebagai lelaki yang sangat mencintai Silvia, Yusuf tidak tega melihatnya terus menerus bersedih dan marah-marah. Dia berjongkok di bawah Silvia, sembari mengelus lembut rambutnya.
“Saya tahu, ini tidak mudah untukmu dan tidak nyaman untukmu. Tapi tidak seperti ini caranya, Sayang. Es krim itu makanan halal, jangan dibuang-buang. Dia itu rezeki, bukan musuhmu. Jangan bertingkah kekanak-kanakan,”ujar Yusuf.
Dia berusaha membuka kedua tangan Silvia yang menutupi wajahnya, namun ia kesulitan. Pada akhirnya, sebuah pelukan menjadi cara andalannya untuk menenangkan hati Silvia.
“Kamu boleh marah sama saya, bahkan kalau kamu mau pukul saya pun silakan. Tapi kalau kamu berharap dan minta saya menceraikan kamu, itu tidak akan pernah bisa terjadi. Tidak ada perceraian di dalam kamus hidup saya,”ujar Yusuf kembali.
“Tapi aku gak cinta sama kamu, Suf. Aku gak mau melayanimu. Mau sampai kapan kita terus kayak gini? Apa kamu gak mau punya keturunan, ha?!”Silvia mendorong Yusuf agar melepas pelukannya. Menatap lekat wajah suami yang tidak pernah ia harapkan di dalam hidupnya.
Hanya senyuman tipis yang Yusuf berikan ke Silvia, saat ia menatapnya. Yusuf benar-benar tidak ingin emosi dengan Silvia, karena dia sangat mencintainya. Keyakinan hati yang sangat besar bahwa dia bisa memenangkan hati Silvia adalah penyebabnya tidak ingin mundur.
“Lelaki normal mana yang tidak mau memiliki anak dari cewek yang dia cintai? Saya rasa tidak ada. Tapi, saya tidak ingin memaksamu memberikannya untuk saya sekarang,”ujarnya.
“Lagi pula, saya yakin Allah pasti membantu saya untuk meluluhkan hatimu dan membuatmu mencintai saya. Entah cepat atau lambat, semua itu pasti terjadi,”ujar Yusuf lagi.
***
Di waktu yang sama. Di sebuah gedung bertingkat cukup tinggi, di kota besar. Seorang pemuda mengenakan jas hitam, kemeja putih berdasi, sedang duduk di sebuah ruangan ber Ac. Mengerjakan suatu pekerjaan menggunakan laptop yang ia letakkan di meja kerjanya.
“Selamat siang, Pak. Mohon maaf, ada tamu yang sedang menunggu di ruang tunggu,”ujar seorang sekretaris.
“Ah, iya. Setelah ini saya kesana. Terima kasih, ya.”Pemuda itu segera berdiri, lalu menyeruput sedikit kopi hangatnya yang masih ada.
Kaki panjangnya melangkah, menemui tamu yang dimaksud oleh sekretarisnya.
“Siapa ya, kira-kira. Tumben, ada tamu datang kesini jam segini,”tutur batinnya.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti, ketika ia melihat ada seorang perempuan cantik dengan rambut tergerai sedang duduk seorang diri di sana.
“Renita!”teriaknya.
Matanya berbinar dan senyumnya melebar, tanda bahwa dia sangat bahagia melihat kehadiran perempuan itu. Renita Kumalasari, namanya. Sudah lama mereka berpisah, karena Renita harus melanjutkan study nya ke Singapore, sesuai perintah orang tuanya.
Sementara Andrew, harus melanjutkan karirnya, menggantikan posisi papahnya yang sudah berumur. Ya, pemuda itu adalah Andrew–kekasih Silvia yang sudah tujuh bulan lamanya, menghilang tanpa kabar.
“Kamu apa kabar? sudah lama, pulang ke Indo?”tanya Andrew.
“Baik, kok. Seperti yang kamu lihat. Aku baru sanpai kemarin sore, Ndrew,”ucapnya.
“Ya ampun .., makin cantik kamu, Ren.”
Memandang dari atas sampai ujung kaki dengan penuh rasa takjub. Senyumnya tetap mengembang, hingga tanpa ia sadari, rekan kerja disekelilingnya sedang melihatnya dengan tatapan aneh.
“Oh iya, ayo masuk ke ruanganku saja, Ren. Disini banyak cowok hidung belangnya,”canda Andrew seraya tertawa bersama beberapa rekan kerja laki-lakinya yang sama-sama terpesona melihat kecantikan Renita.
***
“Duduk lah, Ren. Mau aku pesankan minuman apa?”tanya Andrew, seraya menata posisi duduknya di depan Renata.
“Emm .. Apa aja, deh. Yang penting dingin,”ucap Renata.
“Eh iya, Ndrew. Kamu kangen nggak sih sama aku? Maksud aku, selama aku nggak disini, kamu kangen nggak sih?”sambung Renata.
Kala itu alis Andrew tiba-tiba mengerut. Dia merasa aneh dengan pertanyaan yang Renata ajukan kepadanya.
“Kenapa memangnya?”Andrew pun mencoba melempar pertanyaan untuk Renata.
“Ya ... nggak apa-apa, cuma pengen tahu aja, sih. Karena kamu 'kan lagi pacaran sama Silvia. Sementara, kita dulu pernah ada hubungan khusus juga, 'kan? Kali aja kamu pernah ngrasa kangen sama aku”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments