Di dalam ruangan ber AC dengan nuansa biru, 2 pasang mata saling memandang. Dua tubuh yang kini saling berhadapan, tak lagi melakukan pergerakan apa-apa. Tempat peristirahatan yang empuk dan nyaman, meja belajar dan lemari seolah menjadi saksi bisu atas peristiwa di hari itu. Menyaksikan kecemburuan Silvia yang masih samar, serta kesabaran Yusuf yang sangat besar untuk Silvia.
"Iya, kamu benar. Tapi tetep aja, sakit rasanya. Kalau ada peristiwa yang sama, bikin aku ingat lagi sama kejadian yang dulu, Suf," ucap Silvia.
"Hmm ..., begitu. Wajar kalau teringat. Tapi .. jangan marah-marah seperti ini lagi ya, Cantik. Tidak baik membuang-buang makanan seperti itu. Jangan diulang lagi, ya."
Memeluk Silvia, menjadi hobi baru Yusuf dan secara perlahan, Silvia terbiasa dengan pelukan itu. Yang awalnya merasa risih dan selalu marah-marah, kini ia mulai merasa nyaman bahkan meskipun pelukan itu sangat lama.
"Aku minta maaf ya, kamu jadi gak bisa makan kuenya gara-gara aku buang."
Sang suami melepas pelukannya, "Bisa, kok. Tadi 'kan sudah saya makan. Makanya besok tolong kamu buatkan lagi ya. Mau 'kan?"
Silvia hanya mengangguk dengan wajah yang masih sedikit murung. Dia baru bisa tersenyum saat Yusuf mencium pipinya berkali-kali.
Tanpa mereka berdua sadari, Umi Siti dan Abi Udin mengintip mereka dari balik pintu, sudah cukup lama. Mereka tersenyum lega, karena anak dan menantunya baik-baik saja.
***
Aku menerimamu dengan segala kecerewetan yang sudah menjadi kodratmu. Aku menerimamu dengan segala kecemburuan yang sudah menjadi tabiatmu. Aku menerimamu dengan semua tangis yang akan kau tumpahkan padaku.
Aku menerimamu dengan semua perihnya hati yang akan kau ceritakan padaku. Aku menerimamu dengan segala sesak yang akan menyelimuti hatimu. Aku menerimamu, bahkan saat segala luka dan pengalaman pahit enggan untuk kau ceritakan dan kau ingin menelannya sendirian.
Tapi, satu hal yang harus selalu kau ingat. Kamu tidak pernah sendirian. Aku akan selalu ada untukmu, bahkan jika aku harus pergi nanti, aku pasti titipkan kamu pada Tuhanku.
dari sudut ruang biru, Kekasih halalmu.
Diksi itu sengaja Yusuf tulis sesuai dengan kata hatinya untuk Silvia, tepat menjelang jamaah salat dzuhur. Lalu dia letakkan tulisan yang berada di secarik kertas putih itu di meja kamarnya dengan sebatang coklat kesukaan Silvia, sebelum berangkat ke masjid.
Sementara Silvia baru saja keluar dari kamar mandi, ketika Yusuf sudah pergi.
"Enaknya aku ikut jamaah apa gak, ya," tutur batin Silvia.
"Kalau aku gak ikut, nanti nyai pelet itu godain Yusuf lagi tanpa sepengetahuanku. Hmm, ikut aja, deh. Sekalian pengen tahu Yusuf kalau jadi imam gimana," tutur batinnya lagi.
Dia duduk di depan meja yang biasa Yusuf pakai untuk belajar dan mengerjakan tugas kantornya. Betapa terkejutnya gadis itu, saat melihat ada coklat kesukaannya.
"Ini pasti ulah si brondong itu, siapa lagi. Pakai ada suratnya segala, lagi." Silvia tersenyum sembari membaca tulisan Yusuf.
Air matanya berlinang karena terharu dengan cinta Yusuf yang begitu besar dan hebat untuknya.
"Sweet banget, sih. Baru kali ini aku dapat diksi seindah ini. Kamu beruntung, Silvia." Dia kembali hanya berbicara dari dalam hatinya.
Tulisan Yusuf berhasil membuat Silvia semakin mantap hatinya untuk ikut jamaah di masjid yayasan milik mertuanya.
***
Ya Tuhan, jika memang Yusuf adalah lelaki terbaik pilihanMu buat aku, tolong permudah jalanku agar bisa mencintainya seperti aku mencintai Andrew. Ajari aku bagaimana cara memahami semua pemberianMu ini sebagai takdirku. Aku percaya, Engkau gak akan pernah membiarkan hambaMu gak bahagia.
Doa sederhana yang terucap dari lubuk hati Silvia, setelah salat berakhir. Dia melepas mukenanya dan hendak keluar dari masjid. Tetapi Susan menahannya.
"Nggak mau mendengarkan ceramahnya Gus Yusuf dulu, Neng?" tanya Susan dengan ramah.
"Ceramah? kapan?"
"Eh .. Kumaha sih, Neng Silvia. Masa sama agenda suaminya sendiri nggak tahu."
Silvia hanya tersenyum, sembari melanjutkan menata mukena di lemari yang telah disediakan.
"Disini setiap selesai jamaah Subuh, Dzhuhur dan Isya' selalu ada ceramahnya, Neng. Hari ini yang mengisi Gus Yusuf. Ayo, duduk dulu atuh."
Dengan santun, Susan menggandeng tangan Silvia dan mengajaknya duduk bersanding dengannya. Tidak ada Wati disana, kala itu.
Andai saja ada Wati, tidak akan mungkin Susan berani bersikap sebaik itu dengan Silvia. Pasalnya, Susan adalah gadis lugu yang sering merasa takut tidak memiliki teman, jika Wati membencinya.
"Kamu bukannya teman dekatnya Wati, ya?" tanya Silvia.
"I–iya, Neng. Kunaon?"
"Kok kamu baik sih, sama aku? Gak takut dijauhin sama sahabatmu?"
"Emm ..., Wa–Wati nggak ada disini, Neng. Dia lagi PMS," ucap Susan–bernada ragu-ragu.
Silvia manggut-manggut. Sebagai seseorang yang pernah berkecimpung di dunia pendidikan, Silvia bisa memahami keresahan Susan sebagai anak yang rawan menjadi korban perundungan.
Susan adalah santriwati yang cukup pendiam dibandingkan santriwati yang lain. Dia santun, namun Silvia belum bisa memahami mengapa dia hanya punya teman seperti Wati dan kedua temannya yang lain.
Mereka saling diam, hingga ceramah dari Yusuf dimulai dengan doa-doa pembuka majelis yang sama sekali tidak Silvia hafal.
Silvia tinggal mendengarkan dan mengamati sikap orang-orang yang berada disekitarnya.
Terlihat hampir semua orang yang ada di dalam masjid itu, semuanya sangat khusuk mengikuti kajian.
Tidak ada kata pacaran di dalam Islam. Jika diantara kalian ada yang mencintai seseorang, maka langkah utama yang harus kalian lakukan adalah istiqoroh. Meminta petunjuk kepada Allah, tentang baik tidaknya orang yang kalian cintai itu untuk kalian, agama kalian, orang tua kalian.
Jika kalian rasa semakin mantap dengannya setelah berulangkali istiqoroh, maka lamar dia. Minta dia ke orang tuanya dengan cara yang baik. Percayalah, pacaran setelah ijab qobul itu lebih indah, lebih romantis, lebih berkah.
Kalian cemburu dengan suami atau istri kalian pun dapat pahala. Tapi cemburunya yang baik ya, jangan karena cemburu lalu kamu main KDRT. Nanti tidak jadi dapat pahala, malah masuk penjara. Tidak bisa menemukan surga dunia lagi, dong.
Ceramah singkat yang diselipi candaan dari Yusuf, membuat Silvia tersenyum malu. Dia teringat dengan isi buku diary hitam milik Yusuf yang di dalamnya terisi penuh tentang Silvia.
"Apa yang dikatakan Yusuf itu benar. Ada keindahan yang berbeda, yang aku rasakan antara dengan Andrew dan saat dengan Yusuf. Entah apa yang membuatku merasa nyaman dengan lelaki asing itu. Meski sampai sekarang, aku masih ingin bersama Andrew," tutur batin Silvia.
Tidak hanya sekedar ceramah. Rupanya acara siang itu juga disambung dengan tanya jawab oleh beberapa jamaah. Kebanyakan adalah dari santri sendiri. Mungkin karena temanya tentang cinta, sehingga ada banyak sekali pertanyaan yang disampaikan oleh mereka kepada Yusuf.
"Gus, kalau kita sudah mendapatkan jawaban dari istiqoroh kita, dan sudah melamar yang dicinta, tetapi orang tuanya meragukan keseriusan dan niat baik kita, hanya karena profesi kita yang gajinya tidak mumpuni, bagaimana?" tanya salah seorang santri senior.
Yusuf tersenyum. Dia melihat ada istri tercintanya di barisan belakang ibu-ibu yang berada di depannya sedikit jauh. Pertanyaan santri itu mengingatkannya dengan peristiwa saat yang kurang indah, saat melamar Silvia.
"Sebagai seorang lelaki yang dibutuhkan dan dituntut dalam membangun sebuah rumah tangga, hanyalah ada 3. Apa itu? Yang pertama adalah iman, yang ke dua tanggung jawab dan yang ke tiga adalah tegas bijaksana. Kalau kamu sudah yakin dengan wanita pilihanmu, maka tunjukkan kesungguhanmu. Terjang semua badai yang menghalangi niat baikmu dengan doa. Tidak ada yang bisa mengalahkan doa dan tidak ada kemustahilan di dalam doa," terang Yusuf.
"Dulu sewaktu saya melamar bidadari saya, juga sempat diragukan oleh ayahnya. Istri saya memang dari keluarga berpunya, bahkan istri saya sendiri pun seorang entrepreneur yang cukup tersohor di kotanya. Sementara saya hanya seorang Musyrif, Guru PAI dan Munsyid yang jika dilihat dari gajinya, jelas kalah jauh." Yusuf terkekeh bersama jamaah putra yang lain.
Sementara jamaah putri dan sebagian jamaah putra menoleh ke belakang–melihat Silvia yang sedang duduk disamping Susan.
Silvia menunduk karena malu, identitasnya dibongkar oleh suaminya sendiri. Pasalnya, selama ini dia sengaja menyembunyikan profesinya agar tidak ada satu orang pun yang takut bergaul dengannya karena masalah strata sosial.
"Tapi karena saya merasa saya ini lelaki tulen, jadi saya berusaha keras meyakinkan mertua saya bahwa, saya pasti bisa memberikan kehidupan yang layak untuk istri saya. Berkat ridho Allah, nyatanya saya bisa menikahi bidadari secantik dan sebaik Silvia. Tidak ada yang mustahil, selagi kita mau berdoa dan berusaha serta yakin dengan janji-janji Allah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments