“Saya berangkat ke Masjid dulu, Bi.”
Mata sayu itu melihat Silvia sudah tidur dengan pulas. Yusuf menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya dan mendekati Silvia.
Dia duduk di samping Silvia, memandangi wajah ayu istrinya itu sembari mengelus lembut pipi Silvia, lalu mengecup keningnya seperti biasa.
“Andai saja kamu tahu, cinta saya sangat besar dan tulus sama kamu. Hati saya sakit, setiap kali kamu membicarakan Andrew dan mengingatkan saya kalau kamu tidak mencintai saya,”lirihnya.
Kemudian Yusuf pergi ke Masjid dan tidak lupa mengunci pintu rumahnya. Tidak lama dari kepergian Yusuf, Silvia bangun dari tidurnya.
Rupanya saat itu dia hanya pura-pura tidur saja, agar bisa tahu apa saja yang akan dilakukan Yusuf saat melihatnya sudah tidur.
Diatas kasurnya, ia duduk bersila sembari merenung. Perlahan air matanya menetes dan semakin lama menjadi deras membasahi pipinya.
“Ya Tuhan .., aku tahu aku salah. Aku udah nyakitin hatinya Yusuf. Tapi aku bingung, harus bagaimana lagi? Andai saja waktu bisa diulang lagi, aku gak akan mau menerima khitbah siapapun selain Andrew. Sekalipun orang tuaku menyuruhku untuk meninggalkan Andrew.”
Berulang-ulang Silvia menyeka air matanya. Tetapi air mata itu semakin deras. Lalu tiba-tiba saja seolah ada yang berbisik di telinganya, menyuruhnya untuk menghubungi Andrew.
Silvia mengambil Hp nya dan menelepon Andrew dengan penuh harapan nomornya bisa dihubungi. Silvia menunggu cukup lama, hingga akhirnya teleponnya diangkat oleh Andrew.
Kala itu senyumnya mengembang dan hatinya sangat bahagia, karena akhirnya bisa bicara dengan Andrew lagi setelah hampir satu tahun hilang komunikasi.
“Halo, Andrew .. Kamu kemana aja sih, Sayang? Aku nyari kamu, nunggu kamu lama banget, tanpa kabar. Kamu gak apa-apa, 'kan? Kamu sekarang dimana?”tanya Silvia.
“Aku nggak papa, kok. Maaf ya, Sayangku, aku menghilang begitu saja. Aku baru pulang dari Fakfak untuk mengurus perusahaan papahku disana. Banyak sekali masalah disini, sampai aku lupa sama kamu. Maaf ya,”ujar Andrew.
“Oh, gitu. Oke, gak apa-apa. Sayang, ada yang mau aku omongin sama kamu, penting. Tapi kamu jangan marah ya ...”Silvia ragu-ragu saat akan mengatakan yang sejujurnya kepada Andrew kalau dirinya sudah menikah dengan Yusuf. Tapi disisi lain, Silvia tidak bisa membohongi Andrew.
“Aku minta maaf ya, karena sebenarnya aku udah nikah, sekarang. Orang tuaku memaksaku untuk segera menikah, sedangkan kamu aku hubungi gak bisa,”ucap Silvia.
“Kamu serius? Kok bisa, sih? Kenapa kamu nggak nunggu kabar dari aku dulu, atau cari informasi tentang aku ke teman-temanku?”
Nada keras yang Silvia dapatkan dari Andrew. Wajar saja, karena semua orang pasti akan sangat kecewa dan marah, jika kekasih yang dia cintai dan harapkan bisa setia, ternyata ingkar janji dan menikah begitu saja dengan orang lain tanpa memutuskan hubungannya.
“A–aku bingung, waktu itu. Mamah sakit keras dan koma, gak sadarkan diri. Dia ingin lihat aku menikah, sebelum nafas terakhirnya.”
“Tapi aku bikin perjanjian sama suamiku, kalau dia gak bakalan ngapa-ngapain aku sampai kapan pun karena aku cuma cinta sama kamu, Ndrew,”ucap Silvia lagi.
“Alah ... Bulsyit! tetap saja kamu nikah sama orang lain, Silvia! Sudah lah, lupakan aku. Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi, Sil. Jadi kamu nggak perlu hubungi aku lagi. Lagian aku juga sudah dekat lagi sama Renata.”
Pernyataan terakhir Andrew sebelum teleponnya dia akhiri, membuat Silvia tercengang.
“Kurang ajar. Tadi marah-marah karena aku tinggal nikah. Sekarang dia bilang balikan sama Renata. Dasar cowok gampangan. Agrkh!”
Kedua tangannya mengepal dan memukuli guling yang berada disampingnya, sembari berulangkali menarik nafas panjang.
Terlepas dari amarahnya, dia teringat dengan buku diary milik Yusuf yang dia simpan dan belum selesai dia baca.
Silvia turun dari tempat tidurnya, lalu mengambil buku diary hitam milik Yusuf dan melanjutkan bacaannya, sebelum Yusuf pulang.
Mei 2021. Ya Raab, kulihat di beranda sosial medianya, saat ini dia sedang bersedih karena kekasihnya. Tentu kesedihannya menjadi kesedihanku juga. Aku tidak terbiasa melihat wajah sedihnya di sosial media dan aku tidak menginginkannya.
Aku ingin melihatnya bahagia selalu, meskipun suatu saat nanti ternyata bukan aku yang Engkau perkenankan memilikinya. Bahagiakan dia, angkatlah kesedihannya ya Raab.
Januari 2022. Silvia Monic, gadis ayu yang selalu muncul dalam mimpiku. Bahkan hampir setiap hari wajahnya menari-menari di pelupuk mataku. Hari ini dia kembali bersedih atas kepergian kekasihnya yang menghilang tanpa kabar begitu saja. Ya Raab .. kiranya Engkau mengizinkanku untuk sekedar menjadi pelipur laranya, maka tolong pertemukanlah aku dengannya.
Aku ingin menjadi kawannya, menjadi pelipur laranya yang akan selalu siap menghapus air mata dukanya setiap saat. Aku rela, Ya Allah .. meski mungkin aku hanya pantas menjadi badutnya saja. Aku ingin senyum cantiknya kembali lagi seperti dulu.
“Ya Tuhan, sehebat ini dia mencintaiku? Bahkan aku belum pernah tahu, ada cinta yang sehebat ini. Apalagi itu untukku, aku belum pernah merasakannya,”ujarnya–lirih.
Air matanya kembali mengalir, kini semakin deras hingga bersuara cukup keras. Isak tangisnya tak lagi bisa ia bendung.
Bagai disambar geledek di siang hari. Hatinya tertampar sangat keras. Sesak di dada, bahkan berulangkali menyalahkan dirinya sendiri.
“Astaghfirullah, aku lupa belum Salat Isyak.”
Silvia beranjak dari kursi riasnya dan mengambil air wudhu. Salatnya tidak bisa fokus, karena masih ada rasa sesak di dadanya dan tangisan itu pun belum bisa dia hentikan.
Berulangkali juga Silvia beristighfar dan berusaha keras menghentikan tangisnya, menenangkan hatinya, sampai ia berhasil dan bisa salat dengan khusyuk.
“Ya Tuhan, Engkau yang Maha Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Membolak-balikkan hati manusia. Aku memohon padamu dalam salatku malam ini, tolong lah aku, Tuhan,”ucap Silvia.
“Tolong berikan aku jawaban, haruskah aku meninggalkan Andrew dan mencintai Yusuf sepenuh hatiku? Jika memang dia adalah jodoh yang terbaik buat aku menurutMu .. Maka tolong bantulah aku buat bisa mencintainya sepenuh hati dan nyaman dengannya,”ucapnya lagi.
Cukup lama, doa-doa itu ia panjatkan. Hingga Yusuf pulang dan memasukin kamarnya dengan mengucap salam. Mendengar salamnya, Silvia segera mengakhiri doanya dan menghapus air matanya.
“Untung, aja .., bukunya udah aku masukin lemari lagi. Kalau belum, dia pasti marah,”tutur batinnya.
“Masyaallah ..., saya kira tidak mau salat karena sudah tidur pulas,”sindir Yusuf kepada Silvia.
“Gak usah kumat ngomelnya. Aku paling benci denger suara ngomelmu, apalagi pas lagi cramah. Panas kupingku,” ucap Silvia.
“Astaghfirullah .., orangnya salat setiap hari, tapi hatinya tidak pernah dingin. Panas mulu, Teh Geulis. Harusnya dimasukin kulkas tuh, biar adem. Paginya dimasak, dikasih bumbu sate sama cabe yang banyak. Hmm ... lezat!”
“Apaan sih, Suf? dasar orang gila!”teriak Silvia seraya kembali merebahkan tubuhnya dan tidur.
***
Susah tidur. Lagi-lagi bayangan tulisan Yusuf yang ia baca beberapa waktu lalu, mengundang air matanya. Kamar tidur yang sudah gelap, membuatnya tidak ragu-ragu untuk menangis.
Lalu ia berbalik badan. Melihat ke bawah tempat tidur. Di lantai beralaskan karpet bulu yang tidak terlalu tebal, ada Yusuf–lelaki yang sangat mencintainya, sedang tidur pulas dengan kedua tangan yang dilipat diatas dada.
Tanpa selimut. Hanya beralas karpet dan bantal. Posisi tangannya saat tidur, mengingatkan gadis bungsu itu dengan kematian.
“Kalau tiba-tiba Yusuf mati, sebelum dia bisa mendapatkan cintaku, bagaimana? Aku gak mau melukai hati orang berlebihan. Aku juga gak mau terlambat mencintai,”tutur batinnya.
Tangannya menarik selimut lebar dan tebal yang ia pakai dan menyelimutkannya ke tubuh Yusuf. Lelaki itu bisa merasakannya, tetapi dia pura-pura tidak tahu.
Perlahan-lahan Silvia ikut tidur disamping Yusuf dengan satu selimut untuk berdua. Dengan penuh hati-hati, ia memberanikan diri memeluk Yusuf dalam tidurnya. Yusuf tersenyum tipis. Rasa bahagia menyelimuti hatinya, malam ini.
“Pertanda apa ini? Ya Allah, apapun alasannya, terima kasih sudah membuat hati istri saya sedikit luluh. Meskipun saya belum bisa mendapatkan seluruh cintanya, apalagi menggaulinya, tapi saya bersyukur sekali .., dia bisa bersikap manis layaknya orang yang saling mencintai,” tutur batin Yusuf.
Hampir 5 menit, lelaki berusia 24 tahun itu diam dalam kepura-puraan. Hingga dia mendengar isak tangis lirih Silvia, yang membuatnya terpaksa membuka mata.
“Albi sayang, kamu nangis?” tanya Yusuf.
Silvia tercengang dan segera bangun dari tidurnya sembari mengusap air matanya.
“Ma–maaf, aku gak bermaksud lancang, tidur di sam—”
Yusuf memeluk erat tubuhnya, hingga dia tidak melanjutkan perkataannya. Mengelus kepala Silvia, sudah menjadi kebiasaan Yusuf sejak menjadi suaminya.
“Ssst ... Jangan kebanyakan minta maaf. Saya senang, kamu sudah bisa bersikap hangat dan semanis ini ke saya. Meskipun saya tahu, kamu baru belajar mencintai saya, 'kan?” tanya Yusuf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments