"Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam! Udah pulang, to," ucap Silvia bernada jutek.
"Habis darimana kamu? Pergi dari rumah tidak pamitan. Dicari kemana-mana tidak ketemu, bikin orang saja." Yusuf melepas peci dan menaruhnya di kamar.
"Oh .. Jadi cuma nyari gitu doang udah merasa susah, nih? Kan aku udah bilang dari dulu kalau kamu itu gak cocok sama aku. Tapi kamu malah nyamain sama Asiyah dan Fir'aun."
Pemuda berjubah datang mendekati Silvia. Pikiran Silvia mulai negatif. Dia perlahan melangkah mundur untuk menjauh dari Yusuf dengan wajah yang mulai semburat.
"Dia mau ngapain ya? Duh, jangan-jangan dia mau KDRT nih, karena kesel sama kelakuanku," tutur batinnya.
Tiba-tiba kedua tangan Yusuf menarik pinggangnya, menjadi sedikit memeluknya.
"Albi sayang, kemana-mana itu pamit. Biar orang rumah tahu. Nanti kalau ada apa-apa di jalan bagaimana? Ada bidadari cantik lagi jalan sendirian," bisik Yusuf di telinga Silvia.
Silvia terkekeh, mendengarnya. Antara terharu, bahagia dan bercampur kesal.
"Percuma juga aku pamitan, toh kamu sibuk ngaji sama yang lain," ujarnya sembari melepas pelukan Yusuf.
"Tapi pasti saya usahakan untuk mengantarmu, Sayang. Saya hanya ngisi taklim biasa."
"Itu namanya gak profesional, Suf. Mereka disekolahin disini biar jadi anak yang gak cuma pinter tapi juga soleh dan soliha. Kalau gurunya model kayak kamu gini, gleca glece .. Mana bisa anak-anak jadi soliha? yang ada niru gurunya, tukang pacaran."
Masuk ke ruang khusus mereka dan menutup pintu. Ruang sederhana tetapi sangat nyaman dengan nuansa biru muda. Foto Yusuf bersama teman-teman pesantrennya terpasang disitu.
Tempat tidur empuk dan lebar, membuat gerak tidur sangat nyaman dan bebas. Semua barang tertata sangat rapi, tidak seperti ruang istirahat anak laki-laki pada umumnya.
"Ya tidak masalah, to. Saya 'kan pacarannya sudah halal, bebas mau ngapain saja," ucap Yusuf.
"Btw .. kenapa sih, kamu dulu milih langsung nikah? Toh setelah nikah juga gak dapat jatah. Ngapain buru-buru? Sekarang jadi nyesel 'kan, pas tahu kelakuanku nyebelin. Coba aja dulu pacaran dulu atau kenal lama gitu, pasti gak kecewa."
Duduk berdampingan dan saling pandang. Ada getaran di dada yang datang tiba-tiba dan sangat mendebarkan, saat ia menatap mata Yusuf.
"Islam tidak pernah mengajarkan yang namanya pacaran. Belum tentu juga, saya bisa dapat jatah kalau pacaran dulu. Selama hatimu masih untuk orang lain. Tapi setidaknya, apapun yang saya upayakan untukmu, tidak akan sia-sia dan saya tidak pernah kecewa dengan pilihan saya, kok. Hanya saja ..."
"Apa? Hanya saja kenapa?"
"Hanya saja saya heran. Kok ada ya, cewek sedewasa kamu, tapi masih seperti bocil. Padahal kamu sama saya tuaan kamu, loh."
Canda tawa kembali terdengar dari dalam kamar Yusuf. Kala itu, Bu Siti hendak mengetuk pintu karena ada perlu dengan Silvia. Tapi saat mendengar tawa mereka, Bu Siti mengurungkan niatnya dan kembali ke dapur.
"Nanti saja, deh. Biarin mereka bercinta dulu. Maklum, pengantin baru," tutur batinnya sembari tersenyum.
***
Pukul sembilan malam, sang ibu mertua memanggil Silvia ke ruang keluarga. Mereka duduk hanya berdua saja, sebab Yusuf dan abinya sedang mengisi istighosah rutin di yayasan.
"Nduk, maaf ya, umi hanya mau tahu saja. Tapi tolong kamu jawab yang jujur, ya."
"Insyaallah, Umi. Nanya apa?"
"Umi lihat-lihat, hubunganmu dengan Yusuf kurang harmonis. Dari cara bicara dan sikap kalian berdua hanya seperti teman dekat. Apa kamu sudah jalani kewajibanmu sebagai istri?"
"Ma–maksud umi, kewajiban yang mana?"
"Apa kamu sudah bikin cucu buat umi dan abi?"
Wajah Silvia seketika itu semburat merah. Tentu saja dia kebingungan harus berkata apa kepada mertuanya. Selama hampir satu bulan menikah, dia dan Yusuf belum pernah melakukannya sama sekali. Bahkan Yusuf seringkali tidur di kasur lantai, meskipun dalam satu kamar.
"Em .. a–anu, Umi. Emm ..."
"Kenapa, Silvia? Apa ada masalah? kamu menerima Yusuf juga karena cinta, 'kan? Coba katakan yang sejujurnya ke umi, supaya umi tahu, Nak. Yusuf anak umi satu-satunya. Umi nggak mau dia kenapa-kenapa, begitu pun dengan kamu."
Saling menatap. Silvia semakin ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Pasalnya, tatapan mata sang ibu mertua sangat dalam. Seolah ada harapan besar kepada putra dan menantunya yang belum dia ceritakan.
"Sebenarnya ... Silvia dan Yusuf ..."
"Umi, kenapa umi tanya seperti itu? Itu 'kan rahasia pasutri, Um. Tidak baik, seorang muslim menceritakan bubungan ranjangnya ke orang lain, meskipun itu orang tuanya sendiri."
Beruntungnya, Yusuf datang tepat waktu dan menjawab pertanyaan uminya dengan tegas. Sehingga Silvia merasa terselamatkan.
"Albi, masuk kamar, sudah waktunya istirahat. Nanti saya menyusul," ucap Yusuf.
Silvia mengangguk dan dengan senang hati, segera melaksanakan perintah Yusuf tanpa banyak drama.
"Umi, Yusuf minta tolong lain kali jangan tanya hal seperti itu ke Silvia, ya. Selain tabu, juga membuat kedudukan istri Yusuf buruk di hadapan Allah," tutur Yusuf.
"Umi 'kan hanya nanya sudah atau belum, Suf. Umi nggak nanya yang neko-neko, kok."
"Iya, awalnya hanya begitu. Tapi nanti kalau sudah Silvia jawab, umi pasti nanya yang lain. Berapa kali, dan lain-lain."
Sang ibu tertawa, menertawakan reaksi anak tunggalnya yang baru mengarungi rumah tangga. Anak yang dulu selalu dia anggap sepele dan bocah cilik, kini sudah benar-benar dewasa.
"Malah ketawa, lagi," gerutu Yusuf.
"Alhamdulilah, umi senang lihat anak umi sekarang sudah dewasa sungguhan, sudah bisa tanggung jawab. Semoga Allah cepat kasih momongan ya, Suf."
Sang ibu kemudian pergi meninggalkan Yusuf dan masuk ke kamarnya. Sementara Yusuf masih menunggu abinya pulang.
Dia menengok Silvia yang sudah tidur. Dia tersenyum, lalu masuk ke kamar hanya untuk mengecup kening Silvia.
"Selamat tidur, Cantik," ucapnya lirih.
Setelah Yusuf kembali keluar, Silvia membuka matanya. Dia hanya pura-pura tidur, supaya nanti tengah malam bisa membuat kue ulang tahun pertama kalinya untuk Yusuf.
"Kok aku jadi baper, ya. Apa aku jatuh cinta sama dia?" Silvia bertanya-tanya dalam hati.
Sampai pukul setengah dua belas malam, Yusuf belum juga masuk ke kamarnya. Rasa penasaran bertumpuk di hatinya, sehingga ia memutuskan untuk mengendap-ngendap keluar dari kamar dan mencari keberadaan Yusuf beserta orang tuanya.
"Astaga ... ternyata dia tidur disini, to. Moga aja, dia gak denger kalau aku lagi masak," tutur batinnya.
Dengan sengaja, Yusuf tidur meringkuk di sova. Lampu dimatikan dan hanya ada sedikit cahaya dari lampu tumblir, hiasan ruang tamu.
Dengan sangat hati-hati, Silvia membuat blackforest spesial untuk Yusuf. Butuh waktu hampir 2 jam untuk melakukannya hingga finishing. Tanpa sadar, dia menghiasi kue itu dengan tulisan ‘Barakallahu Fii Umrik, lelaki terbaikku’ yang ia letakkan diatas coklat batangan.
"Akhirnya, selesai juga. Simpan di kulkas dulu, lah. Biar adem dan makin enak rasanya."
Dia merasa sangat puas. Tetapi kini dia tidak bisa tidur nyenyak, karena takut rahasianya terbongkar. Pada akhirnya Silvia hanya berpura-pura tidur, sampai subuh berkumandang.
Kala itu, umi keluar dari kamar dan membuka kulkas untuk mengambil air minum. Wanita itu terkejut, melihat ada kue berbentuk hati di dalam kulkasnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments