Mendengar perkataan Silvia, Yusuf merasa dirinya sedang bermimpi. Dia termenung dan tidak membalas perkataan Silvia sedikit pun.
“Aku mau belajar mencintaimu!”
Hingga Silvia mengulang perkataannya untuk yang kedua kalinya dengan suara yang sengaja ia keraskan. Yusuf tertawa, mendengar teriakan istri kecilnya.
“Kamu kenapa? habis makan apa, kok tiba-tiba begini banget bercandanya,”ujar Yusuf.
Mendorong tubuh Yusuf cukup keras seraya berdiri tegap dengan wajah murung. Lebih tepatnya ngambek.
“Jadi gitu, reaksi buat istrinya yang udah mau berusaha berubah? Gak percaya? Gak ngehargai banget, sih. Benci aku lama-lama sama kamu. Dah, lah!”Silvia pergi meninggalkan Yusuf dan kembali ke kamarnya.
Yusuf tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “Cewek masih ngambekan gitu kok kamu jadikan istri, Suf. Dia belum layak jadi ibu. Tapi dia menggemaskan.”
Beberapa detik kemudian, dirinya mendengar suara pintu yang dibanting. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Silvia. Tetapi Yusuf hanya istighfar dan kembali melanjutkan bacaan bukunya.
Sementara Silvia menunggunya di dalam kamar. Dia berpikir, Yusuf pasti akan menyusul dan membujuknya layaknya di film-film romantis. Tetapi ternyata ...
“Dia kok gak nyusulin, sih. Nyebelin banget jadi cowok,” gerutu Silvia.
Di dunia ini gak ada cowok yang lebih baik. Gak ada cowok yang lebih sayang. Gak ada cowok yang bisa gantikan sosok ayah.
Sebuah story sindiran ia tuliskan di aplikasi hijau. Banyak sekali yang berkomentar, namun sengaja ia abaikan karena ia berharap Yusuf lah yang berkomentar dan meminta maaf padanya.
“Dia ngapain aja sih, di mushola. Lama banget gak baca story ku, duh!”
Rasa kesal lagi-lagi menyapanya hanya karena masalah sepele. Kekanak-kanakan memang sudah menjadi tabiat Silvia dari dulu. Meskipun dalam hal lain, dia sangat mandiri dan berpengertian.
Kring! Kring!
“Halo, ada apa?”tanya Silvia kepada ayahnya.
Pak Sunarto, namanya. Dia menelepon putrinya karena rindu. Sejak Silvia menikah dengan Yusuf, semua keluarga bersepakat agar mereka hanya tinggal berdua saja, tanpa campur tangan orang tua. Sudah hampir seminggu, Pak Sunarto memikirkan keadaan Silvia–anak bungsunya.
“Kamu apa kabar disana, Nak?”
“Sehat, Pah. Tapi—”
“Tapi kenapa? Apa Yusuf jahat padamu? Bilang ke papah, kamu diapakan sama dia?”
Suara berat dan panik Pak Sunarto terdengar sangat jelas. Ingin sekali Silvia menceritakan masalahnya dengan Yusuf. Tetapi dia teringat pada sebuah surat di Al-Qur'annya yang menjelaskan bahwa suami adalah ibarat pakaian untuk istrinya. Dia tidak mau mempermalukan dan mencarikan suaminya masalah dengan papahnya yang bertabiat keras.
“Gak, Pah. Dia sangat baik sama aku, bahkan saat aku sengaja ngerjain dia dengan kerewelan dan kecerewetanku. Papah sendiri sehat?” tanya Silvia.
“Ya, Nak. Papah dan mamah sehat semuanya. Sejak kamu meninggalkan rumah, papah nggak ada henti-hentinya kepikiran kamu, Nak. Papah takut Yusuf nggak sabar dengan kelakuan kekanak-kanakan kamu, lalu dia main kasar sama kamu,”ujar Pak Sunarto.
“Dia gak pernah kasar sama aku, Pah. Tapi dia menyebalkan. Selalu gak peka sama maksud keinginanku dan sering ceramah ..., terus. Telingaku panas dengarnya,”ucap Silvia sembari membuka laci meja kerjanya.
Dia terkejut, saat melihat ada buku kecil dan tebal, berwarna hitam di laci mejanya. Sejenak alisnya berkerut. Karena besarnya rasa penasaran yang ada di hatinya, maka Silvia ambil buku itu dan sengaja ia buka.
“Yaelah, pakai ada gemboknya segala. Ini buku apaan, sih,”tutur batinnya.
“Ya sudah, Nak .. Kalau kamu sehat-sehat. Jaga nama baik suamimu, jangan suka membantah nasehatnya. Kurangi kekanakanmu itu, karena kamu sudah menjadi istri orang dan sebentar lagi juga jadi ibu,”tukas Pak Sunarto.
Telepon berakhir dan Silvia melanjutkan aksinya. Dia mencari-cari kunci dari buku diary hitam itu, hingga menemukannya. Pada halaman pertama terselip satu foto dirinya sedang memakai hijab berwarna putih.
“Ini 'kan fotoku. Kok Yusuf bisa punya.”
Kala itu rasa penasarannya semakin tinggi. Dia melanjutkan pada halaman berikutnya dan terus begitu, sampai ia menemukan tulisan yang cukup panjang, penuh satu halaman di halaman terakhir.
Oktober, 2020. Gadis itu telah mencuri separuh hatiku dan membawanya pergi, hingga kini belum kembali. Dia seperti bidadari yang memiliki senyuman sangat manis. Kepeduliannya terhadap orang-orang kecil sangat lah besar, itu yang membuat hatiku bergetar dan ingin sekali mengenalnya.
Tapi aku malu, karena aku belum menjadi apa-apa. Aku hanya seorang santri yang belum bekerja. Sementara banyak lelaki intelektual, bertitel dan mapan yang mendekatinya.
Maret 2021. Ya Rabb, hari ini aku sangat bahagia dan tidak lupa kuucapkan rasa terima kasihku kepadaMu, atas segala kemurahan hatiMu. Terima kasih, Engkau kembali pertemukanku dengannya, gadis spek bidadari yang selalu ku khayalkan disetiap jelang tidurku. Kiranya Engkau bisa membuatku pantas untuk bersanding dengannya.
Sayang sekali, tulisan-tulisan Yusuf itu tidak bisa Silvia baca sampai selesai, karena suara ketukan pintu kamar telah ia dengar.
Gadis bungsu menyembunyikan buku diary beserta kunci dan gemboknya di dalam lemari pakaian miliknya–disebuah laci kecil, tempat ia menyimpan perhiasan dan aksesoris.
“Albi sayang, buka pintunya! saya mau persiapan Salat Isyak! Ada jadwal mengimami, malam ini!”teriak Yusuf sembari terus mengulang ketukan pintunya. Silvia tidak menjawabnya, namun segera membukakan pintu.
“Jangan ngambekan gitu, tidak baik,”ujar Yusuf sembari mengacak rambut istrinya.
“Ih ..! Biasa aja kali, gak usah ngacak-ngacak rambut juga. Berantakan lagi, 'kan! Ish.”
Yusuf terkekeh, lalu mengurungkan niatnya untuk mandi. Dia lebih dulu mendekati Silvia hanya untuk menyisir rambut Silvia, agar kembali rapi. Bibir Silvia seketika tersenyum tipis.
“Masyaallah, manis banget sih, sikapnya. Gak cuma ganteng, tapi juga baik,”tutur batinnya.
“Apaan sih, Sil. Dia mau sama kamu tuh karena kamu sekarang udah mapan. Coba aja kalau belum. Pasti dia gak mau nikahin kamu, Sil. Beda sama Andrew yang nemenin kamu dari zaman kamu susah sampai kamu bisa jadi kayak gini.”
Tetapi hati kecilnya tiba-tiba berubah. Setan seolah tidak ikhlas, melihat Silvia berubah dan mencintai Yusuf. Mereka seolah ingin menyatukan Andrew dengan Silvia lagi, agar rumah tangga Yusuf hancur berantakan.
“Tuh, sudah rapi lagi,”ucap Yusuf.
“Makasih,”jawab Silvia–ketus.
“Hanya makasih saja?”ucap Yusuf sembari tersenyum meledek Silvia yang ke sekiankali.
Seolah tidak pernah bosan, meledek Silvia yang selalu suka marah-marah dengannya. Baginya kemarahan Silvia adalah hiburan di dalam rumah tangga mereka. Kemarahan Silvia yang ia yakini tidak sungguh-sungguh marah itu, selalu membuatnya tertawa.
“Terus maunya gimana? Banyak maunya, kamu tuh jadi cowok,”ucap Silvia.
“Ya ... dicium kek, atau apa gitu. Masa makasih doang, sih. Pelit amat sama suami. Katanya mau belajar mencintai saya?”tanya Yusuf.
“Kamu 'kan gak percaya sama omonganku? Ngapain sekarang nagih?”Kedua matanya menatap sinis Yusuf yang sedang berdiri disampingnya.
“Gimana bisa percaya, kalau tidak ada buktinya. Makanya buktikan, dong,”ucap Yusuf lagi.
“Ogah! Gak ada kesempatan ke dua buat orang sombong kayak kamu!”ucap Silvia dengan suara keras.
“Minggir. Aku ngantuk, mau tidur.”
Merebahkan tubuhnya diatas kasur sembari memeluk guling. Sedangkan Yusuf lagi-lagi hanya tersenyum kecil, melihat tingkah laku istri tercintanya.
“Ya sudah deh, kalau saya dicuekin terus, disalahin terus, tidak apa-apa. Dosa dengan suami itu ditanggung sendiri ya, tidak ditanggung suami,”sindirnya sembari masuk ke toilet.
“Apaan sih, selalu bawa-bawa urusan akhirat?! Egois banget! Agrkh!”
Di dalam toilet, Yusuf meringis karena dia sudah tahu bahwa kelemahan gadis manja dan menyebalkan itu adalah takut dengan dosa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments