“Aaa!”Jeritan yang sangat keras, membuat Yusuf terkejut dan sedikit melotot. Ya, teriakan dari siapa lagi kalau bukan dari Silvia–istrinya.
Gadis bungsu itu tiba-tiba masuk kamar, saat Yusuf baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk untuk menutup bagian sensitifnya.
Seketika itu Silvia menjerit sembari berlari keluar, hingga terjatuh karena kakinya terpeleset keset yang ada di depan pintu kamarnya.
“Sayang!”Yusuf segera memakai jubah yang sudah ia siapkan di gantungan depan pintu toilet kamar, lalu berlari untuk menolong Silvia.
“Mana yang sakit?”tanya Yusuf.
“Ya kaki, lah! masa kepalaku yang sakit. Bodoh banget, sih. Aduh ...,”rintihnya seraya memijat kakinya yang nyeri karena terkilir.
Tanpa berkata apapun, lelaki bergelar suami, tiba-tiba menggendongnya dan mendudukkannya di tempat tidur.
“Mau ngapain kamu? Jangan kurang ajar kamu, Suf! Aku gak cinta sama kamu! Minggir!”
Kedua tangan kecil Silvia berusaha sekuat tenaga, mendorong tubuh Yusuf yang tentu saja lebih besar darinya. Tapi dia tidak berhasil.
“Bisa tidak, sehari saja husnudzon sama suami sendiri? saya mau obati kakimu, biar tidak sakit lagi. Lagian kalaupun saya mau sama kamu juga halal, 'kan?”Yusuf sengaja menggodanya agar semakin marah. Baginya, kemarahan Silvia adalah hiburan yang membuat harinya berwarna.
Setelah mengambil obat dan memijat kaki Silvia, dia mengambil parfum dan menyemprotkannya ke seluruh tubuh. Silvia beberapa kali sempat melirik Yusuf yang sedang sibuk berdandan.
“Kenapa ya, kok aku jadi agak deg degan gini kalau dekat sama dia. Apa aku jatuh cinta sama dia? Ah, gak mungkin,”tutur batin Silvia.
Rupanya tidak cukup hanya memakai parfum saja, tetapi juga memakai peci bulat berwarna putih favoritnya, sembari sesekali melirik Silvia dari kaca cermin.
“Mau kemana emangnya? Rapi banget. Wangi, lagi. Mau ketemu cewek?”tanya Silvia.
Teguran Silvia membuat Yusuf tersenyum senang. Dia berpikir, istri cerewetnya sudah mulai memiliki rasa cemburu kepadanya.
“Orang Islam kok pertanyaannya tidak masuk akal,”jawab Yusuf, lalu mendekati Silvia.
“Maksudnya? Bisa gak sih, sekali aja gak usah bawa-bawa agama? Sok suci banget. Makin kesini aku makin ilfeel. Lama-lama bisa mati muda, kalau kayak gini ceritanya,”gerutu Silvia dengan wajah yang semakin murung.
Cup. Kecupan mesra kembali mendarat di pipi Silvia. Gadis itu tercengang, namun ia memilih diam saja, meskipun dia sangat sadar kalau Yusuf sedang menciumnya.
“Ini sudah waktunya Salat Ashar, Sayang. Kalau saya berpakaian rapi dan wangi begini ya berarti mau jamaah ke masjid,”ucap Yusuf.
Sunyi. Tidak ada lagi suara dari Yusuf dan Silvia. Yusuf pergi ke masjid dan Silvia berangkat membersihkan dirinya, sebelum Salat Ashar.
Di dalam kamar mandi, ia sempat memikirkan Yusuf yang sudah sangat sabar menghadapi tingkah menyebalkan darinya. Bahkan Yusuf selalu memperlakukannya dengan baik dan penuh kelembutan.
“Cuma lelaki titisan malaikat yang bisa menerima perlakuan buruk istrinya dengan tetap bersikap baik. Meskipun istrinya gak pernah mau memberinya kepuasan batin, layaknya suami istri pada umumnya,”tutur batinnya.
“Harusnya aku bersyukur, bisa punya suami kayak Yusuf. Sesuai namanya, dia ganteng dan mempesona. Sikap dan tutur katanya baik dan pandai melantunkan ayat suci. Idaman semua wanita. Tapi kenapa aku malah menyia-nyiakannya?”ucap batinnya lagi.
Tidak terasa, hampir satu jam dirinya berada di dalam kamar mandi dan tidak kunjung selesai juga. Hingga Yusuf sudah kembali dan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, karena khawatir terjadi apa-apa di dalam.
Cklek. Keluar dengan rambut tegerai indah, yang masih basah dan pakaian sedikit pendek. Silvia berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Yusuf yang sedang berdiri di depan pintu toilet.
“Astaghfirullah ...,”Terdengar lirih di telinga Silvia. Seketika itu Yusuf segera keluar dari kamar Silvia dan memilih membaca Al-Qur'an di dalam mushola pribadi mereka, di lantai bawah.
“Yaelah ... Katanya udah suami istri, bebas mau ngapain aja. Cuma lihat aku pakai daster mini aja udah istighfar. Dikiranya aku ini setan, kali ya,”gerutu Silvia dengan suara lirih.
Namun tak lama dari omelannya, dia tertawa sendiri, menertawakan sikap suaminya yang langka. Pada umumnya, lelaki sangat senang melihat perempuan berpakaian seksi. Bahkan ada yang bilang kalau itu adalah rezeki.
Tetapi Yusuf berbeda. Meski sudah sah menjadi suami istri, realitanya Yusuf masih sangat menjaga pandangannya. Setelah kejadian itu, Silvia bertekad mencari Yusuf dan meminta maaf padanya karena belum bisa memberikan hak nya sebagai suami.
“Kalau cuma pemanasan aja, gak apa-apa kali ya. Yang penting 'kan gak bikin anak.”
Bisikan-bisikan nafsu mulai menggelitik hatinya. Terlintas berbagai rencana yang indah di dalam otaknya, sampai dia bisa menemukan Yusuf.
“Lah, kok malah ngaji, sih. Orang mau diajak seneng-seneng, malah ngaji,”tutur batinnya.
“Yusuf! Ssst ..!”Dia enggan masuk ke mushola.
Pemuda itu menoleh,“Ada apa? Masuk lah!”
Kala itu Silvia masih mematung di luar mushola sembari menundukkan kepalanya–bermain kuku tangan. Lalu Yusuf mendatanginya dan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Kamu kenapa istighfar dan malah lari kesini? Aku ada salah sama kamu?”tanya Silvia.
“Emm .. A–Anu ..”
“Anu anu kenapa? jangan bikin aku takut, dong.
Aku paling gak bisa kalau punya salah sama orang. Cepet ngomong!”teriak Silvia.
“Sayang, kamu masih ingat dengan ucapanmu beberapa hari yang lalu tidak? Kamu bilang ke saya kalau kamu tidak mau melayani saya sedikit pun, karena kamu tidak cinta sama saya,”ucap Yusuf sembari memegang kedua pipi Silvia.
“Ingat, kok. Terus apa hubungannya?”
“Tolong jangan berpakaian minim seperti ini di depan saya. Saya tidak mau apa yang tidak kamu inginkan itu terjadi kepadamu.”
Yusuf kembali masuk ke mushola dan mengambil buku baru selain Al-Qur'an. Oleh sebab ucapan terakhirnya, mata indah Silvia menjadi berkaca-kaca dan perlahan mengeluarkan air mata.
Terharu. Hanya itu yang ia rasakan, saat melihat pengorbanan dan kesabaran hati Yusuf terhadapnya. Kini langkah kakinya mengantarkan dirinya mendekati Yusuf. Namun tidak sedikit pun Yusuf mau melihatnya lagi, meski ia tahu kalau Silvia sedang duduk di sampingnya.
“Kamu jangan egois, Silvia. Mau gimanapun alasanmu, kalian udah nikah dan itu artinya kamu punya tanggung jawab gak hanya ke suamimu aja, tapi juga ke Tuhan. Nyatanya sampai sekarang Andrew gak kasih kabar apapun ke kamu,”tutur batin Silvia.
“Suf.” tangan mungilnya menyentuh bahu Yusuf. Tetapi Yusuf tidak menolehnya.
“Kamu marah ya?”tanya Silvia.
“Tidak, Silvia. Saya tidak pernah marah sama kamu. Saya baca ini dulu ya, Albi sayang. Nanti lanjut lagi ngobrolnya, karena besok sa—”
Tiba-tiba sunyi. Ucapan Yusuf pun terhenti, akibat kedua tangan Silvia yang tiba-tiba saja melingkar di dadanya sembari menangis sesegukan.
“Aku mau belajar mencintaimu.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Afnan ningsih
ada gak yusuf ini di dunia nyata?
2024-02-26
0