Hampir saja Yusuf membuka pintu kamar Silvia. Tetapi tiba-tiba dia teringat, kalau dirinya belum belanja untuk masak menu makan hari ini.
“Pasti Silvia belum bangun,”tutur batinnya.
Dia kembali turun, menuju dapur lebih dulu untuk memastikan keberadaan istrinya. Benar dugaannya. Tidak ada Silvia di dapur, bahkan di luar rumah. Yusuf menggelengkan kepalanya, lalu mengambil motornya dan mengunci pintu rumah Silvia.
“Sabar, Suf ... Sabar,”gerutunya.
“Wah, si ganteng pagi-pagi sudah rapi banget, mau kemana?”sapa Mang Rojik–salah satu tetangga Silvia yang berprofesi penjual bakso.
“Mau belanja, Mang. Pasarnya disini jauh, tidak?”tanya Yusuf.
“Lumayan, Suf. Kalau pakai motor paling-paling sekitar 15 menitan sudah sampai.”
Sudah lama, Mang Rojik tinggal di kampung Silvia. Dia sangat hafal dengan tingkah gadis bungsu itu. Banyak yang bilang, Silvia adalah gadis yang manja. Namun sebagian lain bilang, dia pekerja keras dan selalu mengerjakan apapun sendiri, tanpa mau merepotkan orang.
“Pasti, Neng Silvi belum bangun ya, Suf?”tanya Mang Rojik, menjurus tanpa basa-basi. Yusuf hanya tersenyum, lalu pamit ke pasar dulu karena takut kesiangan.
Baru saja, Yusuf menghilang. Silvia tiba-tiba muncul dari dalam rumah, menuju taman untuk menyiram bunga. Dia sudah mengintip bahkan menguping pembicaraan Yusuf dan Mang Rojik dari ruang tamu yang tidak terlalu jauh jaraknya dari pintu gerbang rumahnya.
“Tumben sudah bangun, Non? ini masih belum jam sebelas loh!”teriak Mang Rojik–meledeknya.
“Iya, punggungnya udah capek, tidur mulu!”sahut Silvia.
Sudah tersirami semua bunga-bunga yang ia tanam. Kini saatnya Silvia memasak untuk sarapannya bersama suami.
“Cowok bodoh. Stok bahan makanan masih ada di kulkas, gak mau lihat dulu,”gerutunya.
Masak ala kadarnya. Telur dadar, sayur bayam dan sambal. Maklum, pengantin baru yang belum jago masak, karena sejak dulu Silvia tidak pernah belajar memasak.
Satu jam berkreasi di dapur seorang diri. Kini semua makanan telah siap disajikan di meja makan, tepat saat Yusuf pulang. Betapa terkejutnya lelaki muda itu, melihat istrinya sudah cantik dan menyiapkan menu sarapan.
“Masyaallah, kamu sudah bangun, Sayang? Sejak kapan? Kok sudah matang semua, masakannya?”
“Sstt! Ini masih pagi ya, Suf. Tolong gak usah cerewet dan banyak nanya, karena itu bikin aku emosi dan mood ku berantakan. Oke!”ujar Silvi dengan suara cetar membahana.
Sang suami hanya bisa diam seraya tersenyum, melihat istri cantiknya pagi-pagi sudah mengomel. Seluruh belanjaan, ia taruh di meja kosong, dekat dengan wastafel.
Saat hendak duduk di kursi makan, ia melihat Silvia sedang kesulitan mengambil toples yang terletak diatas rak yang cukup tinggi.
Tanpa banyak bicara lagi, Yusuf mengambilkan toples tersebut dan memberikannya ke Silvia.
Cup. Tiba-tiba ciuman jahil Yusuf mendarat ke pipi mulus Silvia dan membuat gadis itu menjadi marah-marah dengannya.
“Ih, apaan, sih! Main nyosor aja!”teriak Silvia.
Yusuf terkekeh sembari mengambil piring dan sendok, lalu duduk di samping Silvia.
“Minta tolong ambilkan dong, Sayang,”ujar Yusuf dengan mata sedikit melirik Silvia.
“Ogah. Kamu 'kan punya tangan sendiri, Suf. Ambil gitu aja minta dilayani,”gerutu Silvia.
“Melayani suami, meskipun itu hal sepele, pahalanya besar loh, Sayang. Apa kamu tidak pengen dapat pahala?”
“Gak!”bentak Silvia.
“Istri durhaka. Tidak takut dosa?”
Yusuf terus menggodanya, sampai akhirnya Silvia mau mengambilkan nasi dan lauk untuk Yusuf. Sesekali Yusuf melirik Silvia, sembari tersenyum tipis. Sedikit merasa bahagia, hari ini.
“Kenapa, masaknya hanya ini?”tanya Yusuf.
“Gak bisa masak. Kalau mau makan enak dan banyak menu, cari istri baru aja. Gampang, 'kan? Aku juga seneng kalau kamu ceraikan aku.”
Hati Yusuf mendadak sakit, saat mendengar ucapan istrinya. Tetapi dia tidak ingin terpancing emosi, sehingga dia memilih diam dan hanya mengambil nafas berat.
“Saya tidak pernah menginginkan perceraian. Apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah menceraikanmu. Semua problematika ada jalan keluarnya, tanpa harus mempermainkan agama dan janji saya saat ijab qabul,”ucapnya. Yusuf lantas pergi begitu saja dari ruang makan dan keluar membawa motornya.
Gadis bungsu hanya terdiam, merenung. Ada rasa bersalah dalam hatinya, karena sudah bicara yang tidak-tidak ke Yusuf.
“Kamu ini gimana sih, Sil. Punya mulut sadis banget kalau ngomong. Gak cinta ya gak apa-apa, tapi gak gitu juga caranya, Silvia! bodoh, kamu,”ujarnya lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
maulana syarofa
kok pas setelah ijab qobul ga da sanak saudara ya?
tau-tau udah serumah, itupun gak ada orang tua.
2023-11-08
1
maulana syarofa
itu udah termasuk bisa masaklah...
tidak semua perempuan itu bs nyambel lhoo..
2023-11-08
0