"Alhamdulilah, akhirnya ketemu juga."
Tidak hanya isakan tangis Silvia saja yang ia dengar. Kini suara para tetangga yang meneriaki nama mereka berdua juga ia dengar.
Yusuf segera berlari turun dapat terkejut melihat Silvia–wanita yang ia cintai sedang menangis sesegukan di bawah tangga.
"Sayang, cepat pakai dulu hijabnya," ucap Yusuf sembari membantunya.
"Ayo kita keluar dari sini," ucap Yusuf sembari memeluk Silvia dan bersama-sama keluar dari rumah megah tersebut.
Baru sampai di depan pintu, sebagian atap ambrug dan hampir saja menimpa Yusuf dan Silvia. Jeritan Silvia semakin menggelegar.
Mereka berdua tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Hingga akhirnya bisa keluar dari rumah megah itu dan berkumpul bersama para tetangga di pengungsian.
Dini hari, udara sangat dingin mencekam. Tidak sedikit pun Yusuf melepas dekapannya untuk Silvia. Begitu juga dengan Silvia. Rasa takut dan dinginnya hilang, bersama Yusuf.
"Tuhan, apakah emang dia jodoh yang Kau ciptakan buat aku? tapi 'kan, jodoh itu cerminan. Mana mungkin, aku yang se bar bar ini berjodoh dengan orang sebaik dan sesabar Yusuf?"
Dalam pelukan Yusuf, Silvia masih sempat bertanya-tanya di hatinya, bahkan masih meragukan Yusuf. Tapi disisi lain rasa nyamannya membuat dia ingin memberikan cintanya untuk Yusuf. Dilema, lebih tepatnya.
***
Subuh telah tiba dan semua orang yang berada di pengungsian sedang sibuk beraktifitas melakukan pengecekan ke rumah mereka masing-masing. Ya, benar. Guncangan gempa sudah berakhir.
Sepasang pengantin baru berjalan bersama menuju ke Masjid terdekat di kampungnya. Betapa semua orang terkejut, karena bangunan Masjid tua tersebut masih berdiri kokoh tanpa ada kerusakan sedikit pun.
"Masyaallah .. Maha besar Allah. Sungguh kuasa Allah itu nyata," ucap Silvia lirih.
"Tidak ada yang sulit bagiNya," sahut Yusuf.
Silvia mengangguk. Yusuf tersenyum, melirik istrinya yang sedang berdiri di sampingnya. Ya, mereka kala itu memang sedang berhenti sejenak, bersama orang-orang kampung yang sama takjubnya dengan keajaiban yang terjadi.
"Sama seperti saya dan kamu, Bi," celetuk Yusuf.
"Maksud nya?" Gadis bungsu memandangnya.
"Dulu saya berpikir, orang seperti saya pasti sulit mendapatkanmu, Albi. Tapi tidak sulit bagi Allah menyatukan saya dan kamu dalam pernikahan yang halal. Meskipun kamu belum bisa mencintai saya, tapi saya yakin bisa mendapatkan cintamu pada waktu yang tepat. Selagi saya memintanya kepada pemilik hatimu," terang Yusuf.
Perempuan mana yang tidak meleleh hatinya, mendengar rangkaian kata yang manis. Terlebih, sudah menjadi takdir seorang wanita memiliki kelemahan pada telinganya. Tidak heran jika banyak wanita yang mudah tertipu oleh bujuk rayu laki-laki yang ternyata buka laki-laki baik.
Dengan segala rasa herannya, Silvia kembali mempertanyakan kepada Yusuf tentang cintanya. Namun lagi-lagi Yusuf hanya mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah takdir yang sudah Tuhan tulis untuk mereka.
***
Usai jamaah Subuh, Yusuf menghubungi abinya dan meminta izin menginap di rumah orang tuanya bersama sang istri untuk sementara waku.
"Masyaallah ... Kenapa kamu minta izin begini, Suf? Abi ini orang tuamu kandung. Gak perlu lah, minta izin seperti ke orang lain begitu," ucap Haji Udin pagi itu.
"Pulang lah, Suf. Rumah abi dan umi selalu terbuka untukmu dan Silvia kapan pun kalian mau kesini," sambungnya.
"Terima kasih, Abi. Insyaallah nanti sore Yusuf berangkat ke rumah Abi."
Telepon berakhir. Gadis bungsu tidak sengaja mendengar obrolan Yusuf dan abinya. Dia mendekati Yusuf di teras rumah dan duduk di sampingnya.
"Suf. Kamu yakin, mau ngungsi ke rumah orang tua kamu?" tanya Silvia.
"Yakin. Kenapa?"
"Kalau mereka tahu, kita belum pernah melakukan apapun dan hubungan kita lagi gak baik-baik aja, gimana?"
Keduanya saling menatap kembali. Tersirat rasa takut di wajah Silvia. Dia belum siap jika nantinya di rumah Yusuf, dia dipaksa melayani Yusuf di ranjang layaknya suami istri yang normal.
"Kita 'kan sudah pernah melakukannya," ujar Yusuf.
"Ha? Kapan? Gak pernah, kok. Aku gak merasa pernah melakukan apa-apa sama kamu," gerutu Silvia dengan alis yang berkerut.
"Kamu 'kan sudah berani peluk saya, cium saya, seperti waktu itu." Cengengesan menjadi cara terbaik yang Yusuf pilih untuk menanggapi kegelisahan Silvia.
Bibir tipis Silvia kala itu menjadi maju, dan membuat Yusuf semakin tertawa.
"Kenapa sih, kamu tuh betah banget sama aku? padahal aku tuh nyebelin, jahat sama kamu. Terus, aku kasih tahu ya, Suf. Jodoh itu cerminan diri kita. Jadi gak mungkin kalau kita berjodoh, Suf. Palingan juga habis ini cerai."
"Aku sama kamu itu kayak langit dan bumi. Kamu baik banget, sabar, religius. Sedangkan aku bandel, bar bar, susah diatur. Gak usah menghalu jodoh sama aku, karena aku bukan cerminanmu," ucap Silvia lagi.
Bukan pertama kalinya kata cerai Silvia ucapkan di hadapan Yusuf. Melainkan entah, sudah berapa kali dia mengecewakan Yusuf.
Kali ini Yusuf tidak bisa bersabar lagi. Tanpa sadar dirinya membentak Silvia dan marah besar dengannya. Dia berdiri dengan penuh emosi.
"Saya tidak mau kehilanganmu! Tolong hargai saya, sebagai suamimu. Apa pernah, saya memaksa kamu melayani saya? Tidak 'kan? Saya hanya ingin kamu menghargai saya, itu saja. Apa itu susah untuk kamu?!"
Tertunduk lemas. Gadis bungsu itu sama sekali tidak berani memandang wajah Yusuf, walau hanya sekejab. Baru pertama kali ini dia melihat Yusuf marah dan betapa seramnya suara bentakan Yusuf kala itu.
Anak Haji Udin itu sesekali memandang Silvia yang masih duduk dan menundukkan kepala. Ada rasa iba di hatinya. Getaran di hatinya menuntunnya untuk mengucap istighfar seperti biasa. Lalu dia berjongkok, bersimpuh di kaki Silvia dan meminta maaf.
"Sayang, maafkan saya sudah emosi denganmu dan membuatmu sedih," ucapnya.
"Saya mohon, jangan minta saya untuk meninggalkanmu. Saya mencintaimu sepenuh hati, bahkan kamu adalah separuh jiwa saya."
Pemuda penyabar, meraih kedua tangan Silvia dan menciumnya, lalu mengelus lembut pipi Silvia. Dia mengusap air mata Silvia yang hendak menetes dan kembali memberikan penjelasan.
"Albi. Memang benar, jodoh itu cerminan diri kita. Tapi pada kenyataannya, tidak selalu begitu. Contohnya Fir'aun dan Asiyah. Fir'aun terkenal sangat kejam sekali, tetapi Allah menjodohkan dia dengan Asiyah yang sangat baik dan penyabar," ucap Yusuf sembari terus mengelus pipi istri tercintanya.
"Tidak ada yang mustahil dalam hidup ini, Sayang. Mungkin menurut kita mustahil, tapi sangat mudah untuk Allah jika Dia berkehendak. Dan saya bisa mencintaimu, menikahimu, juga bukan semata-mata karena keinginan saya, melainkan karena Allah yang menitipkan cinta itu di hati saya dan Dia juga yang memudahkan jalan saya untuk menghalalkanmu," ucapnya lagi.
Silvia mengangkat wajahnya–memandang mata sayu Yusuf yang masih duduk dibawah nya.
"Apa kamu terbebani dengan aku?" tanya Silvia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments