“Mama mau ke rumahmu, Sil. Kamu hari ini sudah masuk kerja atau masih cuti?”
Suara perbincangan telepon dari mamanya Silvia. Yusuf tidak sengaja mendengarnya, lalu mendekati Silvia di ruang tamu yang sedang sibuk memakai kaos kaki.
"Hari ini aku udah masuk kerja, Mam. Masa mau cuti terus," ucap Silvia.
"Ya sudah, kalau begitu nanti kabari mamah ya Sil, kalau kamu sudah di rumah," ucap mamanya. Silvia hanya menjawabnya singkat.
Gadis itu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Yusuf. Tetapi Yusuf malah bengong, menatapnya.
"Kita tidak berangkat bareng?" tanya Yusuf.
Silvia menggelengkan kepala, "Kita 'kan gak searah, Suf. Aku juga buru-buru. Dah ya, aku duluan. Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam. Say—"
Terdiam. Yusuf tidak lagi melanjutkan ucapannya karena dia masih ingat kalau Silvia belum bisa mencintainya. Sikap manis dan romantis yang Silvia berikan kepadanya, masih ia rasa hambar.
Yusuf belum bisa merasakan ketulusan Silvia. Dia yakin, istrinya masih dalam proses belajar mencintainya, belum benar-benar cinta.
Dia menghela nafas cukup berat, diiringi dengan istighfar berkali-kali, sebelum pergi ke yayasan tempatnya bekerja.
"Ya Rabb, berikan saya kekuatan dan kesabaran untuk melewati ujian dariMu ini. Saya yakin, ini adalah perjalanan menuju akhir cerita yang indah di bab terakhir kisah saya," tutur batin Yusuf.
***
Tepat pukul 07.00 pagi di sebuah bangunan yang cukup kuno dengan ukuran sangat luas dan bernuansa serba hijau. Yusuf berkutat dengan pena, laptop dan buku kitab nya.
Ya, apalagi kalau bukan sibuk mengajar mata pelajaran agama. Dia adalah seorang guru agama dan guru Bahasa Arab, di salah satu sekolah swasta yaitu Yayasan Pendidikan Islam Al Azhar. Sebuah yayasan yang berdiri cukup lama dengan banyak fasilitas. Tidak hanya sekolah, namun juga pesantren.
Banyak sekali santri yang mengidolakannya. Selain karena tampan rupawan, juga karena keramahan dan kecerdasannya dalam menyampaikan materi, sehingga anti gagal membuat santrinya paham dengan pelajaran yang ia berikan.
"Istirahat nanti, bisa makan bareng Silvia apa tidak, ya." Pikirannya kembali tertuju kepada Silvia, saat ia menunggu para santri selesai mengerjakan tugas yang ia berikan.
"Saya japri dulu saja kali, ya. Biar nanti tidak buang-buang waktu di jalan," tutur batinnya.
Centang 2 abu-abu. Dia menunggunya berubah menjadi biru cukup lama dan berharap mendapatkan jawaban yang baik dari Silvia.
Albi sayang : Gak usah, Suf. Aku mau makan bareng teman-temanku aja. Lagian perjalanan dari kantormu ke tempatku cukup lama, nanti kamu baliknya telat.
Yusuf : Tidak apa-apa, Bi. Ini 'kan yayasan milik orang tua saya sendiri, jadi bebas.
Albi sayang : Eh eh ... Keren sekali prinsip kerjamu, Bro. Kalau orang model kayak kamu digenapkan 100 orang, Indonesia mungkin udah jadi negara yang minim moral dan banyak anak bodoh. Karena pendidik nya aja gak profesional, seenaknya sendiri.
Yusuf membacanya sembari meringis. Dia tidak lagi mau memaksakan kehendaknya, karena tidak ingin bertengkar lagi dengan Silvia hanya karena masalah sepele.
"Cewek kalau lagi ngomel, panjang bener ..., sepanjang kereta gandeng 10," tutur batinnya.
***
Jam 12.00 waktunya istirahat untuk ibadah dan makan siang. Silvia ke kantin dengan sahabat sekaligus partner kerjanya. Yunika, namanya.
Dia adalah sahabat Silvia sejak SMP yang sudah hampir 5 tahun bekerja dengannya sebagai asistennya. Layaknya seorang pengusaha profesional pada umumnya, Silvia tidak hanya memiliki banyak karyawan, tetapi juga asisten yang membantu mengurus semua tugas dan agenda-agendanya saat ada kerjasama dengan orang lain.
"Sil, gimana malam pertamamu?" tanya Yunika, menggodanya.
"Gak gol," ucap Silvia, singkat dan lirih.
"Maksudnya?"
"Ya ... Gak gol. Sampai sekarang pertandingan sepak bola antara Silvia dan Yusuf belum dimulai," jelas Silvia.
Yunika terkejut mendengarnya, "Kok bisa, sih?"
Silvia tersenyum miring, "Bisa, lah. Aku 'kan gak mau, Yun. Mana mungkin dia maksa aku."
Gadis berwajah korea KW 1 kembali terkejut dengan pernyataan sahabatnya. Bagaimana tidak? Umumnya malam pertama adalah malam yang paling ditunggu-tunggu oleh pengantin baru. Bahkan banyak yang melakukannya tanpa pernikahan. Katanya sih, surga dunia. Tetapi Silvia malah tidak mau dan Yusuf setuju saja.
"Kamu nggak waras atau setengah nggak waras, Sil? Kalian udah resmi jadi suami istri, loh. Udah SAH secara hukum agama dan negara. Ada kewajiban yang harus kamu penuhi, Sil."
Mereka saling pandang sejenak, sebelum akhirnya ibu kantin datang dan menaruh nasi pesanan mereka di meja bersama 2 gelas es teh.
"Iya, aku tahu. Tapi aku nggak bisa lakuin itu, Yun. Aku masih cinta sama Andrew. Bahkan sampai sekarang, meskipun aku belajar mencintai Yusuf, tapi hati aku tetap ke Andrew. Jadi aku cuma bisa kasih pelukan dan kecupan aja ke Yusuf, gak lebih dari itu," ucap Silvia.
"Dan Yusuf udah tahu semuanya tentang itu?" tanya Yunika lagi. Silvia menganggukkan kepalanya seraya mengatakan bahwa Yusuf sanggup menerimanya dan rela menunggunya bisa mencintai Yusuf.
"Kayaknya emang kamu tuh cocoknya sama Andrew deh, Sil. Bukan sama Yusuf," ucap Yunika.
"Sama-sama nggak punya hati dan nggak ngotak. Yusuf sebaik dan setulus itu sama kamu, bisa-bisanya kamu masih gagal move on dari Andrew yang ngilang gitu aja. Dimana logikamu, Bestie?" Kekesalan Yunika kali ini sangat besar, pada Silvia. Menurutnya, Silvia terlalu buta dalam mencintai seseorang, hingga dia tidak mampu melihat ketulusan dan keseriusan Yusuf.
Tidak lama kemudian, seorang perempuan datang dan duduk disamping Yunika dan Silvia–sedikit jauh. Dia memesan makanan juga, tentunya.
"Itu kok kayak Renata, ya." Yunika mencolek tangan Silvia yang sedang asyik makan.
"Cuma mirip, kali. Mana mungkin dia disini? Ngapain juga, Yun." Silvia tersenyum miring.
Sekali lagi Yunika meyakinkan hatinya dan Silvia bahwa, perempuan itu benar-benar Renata–
mantan pacar Andrew yang sudah lama tinggal di luar negeri.
"Eh iya, bener. Ngapain ya, dia ada disini?" tanya Silvia sedikit berbisik.
Selesai makan, mereka berdua menghampiri Renata dan menyapanya dengan sangat ramah. Layaknya seorang teman pada umumnya, mereka saling peluk cium dan berbasa-basi melepas rindu.
Namun di tengah perbincangan, Andrew datang menjemput Renata dan membayar makanan yang Renata pesan.
"Andrew," ucap lirih Silvia dengan wajah terkejut.
"Kalian kok bisa barengan disini? Ada apa emangnya?" tanya Silvia.
"Oh, iya, Sil. Aku sama Renata kesini lagi pesan baju pengantin buat nikahan kita. Kamu sendiri ngapain? Nggak di butik?" tanya Andrew.
"Emmh, iya. Selamat ya, semoga lancar sampai hari H nya. Aku disini ada kerjasama dengan designer yang ada di studio ini."
Silvia hanya bisa tersenyum kecil, sembari membohongi Renata dan Andrew tentang studio yang menjadi tempat mereka ngobrol saat ini.
Meski Andrew dan Silvia menjalin hubungan asmara hampir 3 tahun lamanya, tetapi Andrew tidak sepenuhnya tahu tentang pekerjaan bahkan aset yang Silvia miliki. Dia hanya tahu satu butik saja milik Silvia.
***
Pulang ke rumah. Di rumah sudah ada Yusuf yang lebih dulu pulang. Tidak ada salam yang Silvia ucapkan, saat memasuki rumah.
Hanya ada tatapan kosong dan wajah kusut yang menjadi pemandangan sore Yusuf, hari ini.
"Salamnya mana, Albi?" tegur Yusuf dari kejauhan. Tapi tidak ada jawaban dari Silvia.
Gadis itu duduk termenung di sofa ruang keluarga dan tidak kunjung melepas kaos kaki dan hijabnya, bahkan jas nya.
"Albi kenapa?" tanya Yusuf lagi. Tapi hanya ada linangan air mata yang menjadi jawaban untuk pertanyaan Yusuf.
Yusuf tertegun, bingung melihat istrinya yang baru pulang kerja tapi wajahnya kusut dan sedih. Tapi dia memilih untuk tidak banyak bertanya.
Tiba-tiba ia jongkok di bawah Silvia, lalu melepaskan kaos kaki silvia. Dia juga menghapus air mata Silvia dengan lembut.
Tiba-tiba tangan Silvia menepis tangan Yusuf, sembari menamparnya cukup keras, 2 kali.
"Ini semua gara-gara kamu! Kalau kamu gak hadir di kehidupanku, aku gak akan kayak gini! Sekarang lihat! Andrew kembali, tapi dia terpaksa menelan sakit hatinya karena melihat aku nikah sama orang lain. Sekarang dia memilih balikan dan nikah sama Renata. Semua gara-gara kamu, Suf!" teriak Silvia.
"Astaghfirullahaladzim .. Istighfar, Sayang. Semua ini takdir, Silvia. Skenario Allah itu indah, baik, tidak ada yang buruk. Hasil karyaNya selalu terbaik. Kenapa kamu tidak bisa mengambil hikmahnya? kamu bilang Andrew lelaki yang baik, tapi nyatanya dia semudah itu pindah ke lain hati. Dia juga tidak memberimu kabar, bahkan membiarkanmu me—"
Silvia pergi meninggalkan Yusuf begitu saja, menyebabkan ucapan Yusuf terputus. Lelaki penyabar mengusap wajahnya dengan sangat kasar, lalu beristighfar seperti biasa.
Benturan keras tiba-tiba berbunyi. Yusuf mendongak ke atas. Rupanya Silvia mengeluarkan koper miliknya beserta bantal dan melemparkannya ke depan kamar tidur Silvia.
"Ini bukan rumahmu, bukan juga kamarmu. Tidur aja di luar dan segera ceraikan aku! Aku lebih senang jadi janda daripada hidup bersama orang yang gak pernah aku cintai!" teriak Silvia.
"Terserah kamu mau ngapain dan ngomong apa. Selamanya saya tidak akan menceraikanmu, Silvia! saya mencintaimu dan sejak ijab qabul itu, saya sudah bersumpah kepada Allah untuk menjagamu, menyayangimu, apapun yang terjadi!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments