"Ih, bukan gitu maksudku, Suf. Aku pengen kamu sendiri yang bilang ke Andrew, biar dia gak ngremehin aku. Aku pengen dia tahu kalau kamu sayang sama aku. Tapi kamu malah ... Ya udah lah, gak usah dibahas."
Membuang muka dan cemberut adalah andalan Silvia. Sementara Yusuf hanya bisa tersenyum tipis karena sudah hafal dengan tabiat Silvia, meskipun baru beberapa minggu tinggal bersamanya.
"Tadi kenapa kamu ngajakin anak-anak beli makanan? Kan sudah saya kasih uang," celetuk Yusuf.
"Kalau mau nolongin orang jangan setengah-setengah. Bukannya sedekah itu mendatangkan pahala berlipat dan keberkahan, ya?" Silvia masih enggan mengalihkan pandangannya dari jalanan.
"Iya, benar. Saya tidak menyangka saja, cewek segalak dan semenyebalkan kamu begini, ternyata punya rasa kasihan juga sama orang."
Yusuf tertawa meledek Silvia, hingga Silvia semakin marah dan bungkam. Kemarahannya bahkan masih berlanjut, meski sudah sampai di rumah orang tua Yusuf.
***
"Alhamdulilah ..., anak-anak kita akhirnya sampai juga ya, Bi!" ucap Umi Siti dengan suara sedikit keras, dari teras rumah. Kala itu abinya segera berdiri dari duduk santainya untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Saling berjabat tangan dan melempar senyuman. Sambutan hangat mereka membuat Silvia terpaksa bersandiwara agar terlihat baik-baik saja. Tetapi saat dia dan Yusuf memasuki kamar mereka untuk meletakkan barang-barangnya, wajah kusam dan kesal kembali menghiasi wajah ayunya.
"Yah, cemberut lagi. Maafin saya ya, please .. Jangan marah-marah terus. Maaf kalau candaan saya keterlaluan," rengek Yusuf.
"Oke, aku mau maafin. Tapi ada syaratnya."
Keusilan Silvia mulai tercium. Dia menyimpan rencana terselubung untuk Yusuf agar dia bisa mendapat keuntungan selama dirinya tinggal di rumah mertua.
"Apa itu? Seperti mau minjem uang di bank saja, pakai syarat."
"Mau gak? Kalau gak mau ya gak papa. Tapi jangan ha—"
"Iya, apa dulu syaratnya, Cantik?"
"Selama tinggal disini, aku gak mau masak dan ingat ya .. Aku gak mau bikin anak sama kamu."
Silvia memang dari kecil sangat malas belajar memasak. Dia hanya suka membuat kue, tidak suka membuat lauk pauk. Melelahkan dan membuat tangannya sakit adalah alasan utamanya tidak mau memasak.
"Emm .. Oke, siap. Gampang kalau urusan itu, biar saya yang masak," ucap Yusuf.
"Serius gak nih? Nanti ngadu ke emak bapak, biar aku dimarahi."
"Astaghfirullah, insyaallah saya bukan orang tukang ngadu, Albi sayang .."
***
Jelang Maghrib, Silvia mencari Yusuf yang tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Rumah pun sepi, tidak berpenghuni.
"Ini rumah, kenapa jadi mendadak sepi gini, sih. Aku ini sebenarnya mimpi, atau gimana?" Dia melihat ke seluruh lingkungan rumah. Benar-benar tidak ada seorang pun disana.
Hingga dia bertemu dengan salah satu santriwati yang melintas di jalan depan rumahnya.
"Mbak!" teriak Silvia, menghentikan santriwati.
"Maaf, mau nanya. Penghuni rumah ini pada kemana ya? Kok tiba-tiba kosong?"
"Oh, keluarga Kyai maksudnya mbak? Mereka kalau jam segini kumpul di yayasan untuk kegiatan taklim, sambil menunggu Adzan Maghrib dikumandangkan, Mbak. Mbak istrinya Gus Yusuf?" tanya gadis polos dan anggun.
Silvia mengangguk dan tersenyum tipis. Dia kagum melihat wajah kalem santriwati itu. Kekagumannya bertambah, saat sang santri menawarkan diri untuk mengantarnya bertemu dengan Yusuf.
"Saya bisa antarkan Mbak Silvia, kalau mau ketemu Gus Yusuf atau Bu Nyai," ucapnya.
"Ah, gak usah. Aku nunggu di rumah aja, gak apa-apa. Kamu mau kemana?" tanya Silvia–berusaha akrab dengan santriwati.
"Saya mau ke toko bahan kue, Mbak. Besok ulang tahun Gus Yusuf. Teman-teman mau bikin kejutan untuk beliau, selaku guru kami disini."
"Aku ikut, dong. Boleh, 'kan?"
"Boleh, Mbak .. monggo ..."
Gadis bungsu mengunci pintu rumah dan pergi bersama Santi–santriwati yang menjadi tangan kanan pesantren putri milik Haji Udin.
Sudah ada gambaran, akan membuat kue apa untuk Yusuf. Semua itu Silvia lakukan bukan semata-mata karena suka membuat kue, tapi karena dia ingin sedikit membahagiakan hati Yusuf yang sudah baik dengannya.
***
Tiba di toko bahan kue, banyak mata yang memandangnya. Utamanya para perempuan yang sama sekali belum dia kenali.
"Sama siapa kamu, San?" tanya salah satu gadis gendut berkaca mata.
"Oh, ini. Kenalin teman-teman semuanya, ini Mbak Silvia, istrinya Gus Yusuf. Mereka semua santri disini, Mbak," ucap Santi.
"Halo, semuanya! Salam kenal, ya!" Silvia melambaikan tangannya perlahan sembari tersenyum lebar untuk mereka.
"Masyaallah, cantik ya! Gus Yusuf pinter milih," celetuk gadis gendut.
"Iya, iya, lah. Gus Yusuf juga ganteng, jadinya serasi. Ganteng dan cantik," sahut yang lain.
Tetapi ada satu gadis yang memasang wajah sinis–kode tidak suka dengan Silvia. Dia menatap Silvia dari ujung kepala hingga kaki, lalu pergi begitu saja dari toko tersebut dengan sedikit menabrak bahu Silvia.
"Astaghfirullahaladzim, hati-hati dong kalau jalan!" teriak Santi.
"Maaf ya, Mbak. Wati memang orangnya agak gila. Oh iya, nama saya Santi, Mbak."
Wati adalah santriwati senior yang sudah mengabdi dan menuntut ilmu selama 5 tahun di pesantren milik Haji Udin. Tepat sejak Yusuf masih kuliah S1 dibidang dakwah.
Dia termasuk santriwati yang unggul dan memiliki segudang prestasi. Hal itu membuatnya selalu percaya diri, bisa mendapatkan Yusuf dan menjadi menantu Haji Udin. Namun ekspektasi rupanya tidak sejalan dengan realita yang terjadi.
Meski sudah saling kenal cukup lama dan dia merupakan santriwati unggul di pesantrennya, tetapi Yusuf tidak pernah ada hati dengannya begitupun dengan santriwati yang lain.
Di dapur pesantren putri, Wati menggerutu. Alisnya berkerut dan hatinya dipenuhi rasa kesal.
"Kok bisa sih, Yusuf milih cewek kota modelan kayak gitu jadi istrinya? nggak salah? seorang anak kyai yang sangat paham agama, tapi istrinya model bar bar. Nggak cocok banget, gitu loh. Cocokan juga sama aku," gerutunya.
"Nggak. Ini nggak bisa dibiarin, nih. Pasti cewek itu pakai pelet biar Yusuf cinta mati sama dia. Nggak mungkin lah, selera Yusuf serendah itu."
Kecemburuan yang tinggi, menjadikannya berprasangka buruk kepada Silvia. Dia mulai menyusun macam-macam rencana untuk membuat Silvia dan Yusuf bercerai sesegera mungkin. Agar dia bisa menikah dengan Yusuf.
Di lain tempat, Yusuf kebingungan mencari Silvia yang tiba-tiba hilang dari rumah. Dia mencarinya di sekeliling rumah, bahkan di yayasan, tetapi tidak ia temukan.
"Kemana, Silvia? Apa mungkin dia kabur? Astaghfirullah .. Ini cewek kekanak-kanakan banget, sih. Tidak bisa sehari saja, tidak menyusahkan orang," gerutunya.
Yusuf mencoba menghubungi Silvia, tetapi tidak ada jawaban. Dia mengirim pesan pun tidak kunjung dibaca. Karena adzan sudah berkumandang, Yusuf terpaksa menghentikan pencariannya dan lekas berjamaah di masjid bersama para santri yang lain.
“Ya Rabb. Tolong jangan Kau biarkan rumah tangga hamba dan Silvia hancur berantakan. Jangan biarkan hamba hidup seorang diri. Dan hanya kepadaMu lah hamba serahkan hidup dan matiku. Hamba percaya takdirMu adalah yang terbaik dari semua yang hamba inginkan. Beri hamba kekuatan untuk bisa memahami ini semua sebagai anugerah dariMu. Sesungguhnya Engkau mengetahui semua yang tersembunyi dan yang kunyatakan.”
Sekuat dan sesabar apapun seseorang, pasti akan tiba masanya seseorang itu merasa lelah dan ingin menyerah. Sama seperti yang Yusuf rasakan saat ini. Menghadapi kerandoman tabiat Silvia, tidak lah mudah baginya. Tetapi menyerah dan berpisah dengan Silvia pun tidak mungkin dia lakukan.
"Sabar, Suf. Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Dan dibalik kesukaran, pasti ada kemudahan," tutur batin Yusuf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Anak emak
moga silvia cepet sadar kalok yusuf sangat sayang sama dia
2023-10-24
0