"Kenapa Yusuf diem aja, ya. Apa mungkin dia cemburu?" tutur batin Silvia, kala itu.
Berulangkali Silvia melirik Yusuf, tetapi Yusuf membuang muka dan justru pergi menjauh dari Silvia. Dia lebih memilih mendekati kedua anak jalanan yang ia bawa, daripada harus terluka hatinya karena melihat keakraban Silvia dan Andrew. Terlebih, wanita pujaannya itu tampak enggan mengakuinya.
"Gak, kok. Gak sendirian. Aku sama suamiku bawa mobil dan aku parkir disana."
"Suami?" Andrew melihat ke sekitar warung, mencari sosok lelaki–suami Silvia.
Silvia menunjuk ke arah dimana Yusuf sedang duduk disana, menunggu penjual selesai membungkus makanan yang ia pesan.
"Itu, yang duduk disana memakai jubah biru itu suamiku," ucap Silvia sembari tersenyum.
"Ha? i–itu suamimu? Cowok jubahan itu suamimu?" Andrew menertawakan Silvia dan Yusuf, kala itu. Tetapi Yusuf diam saja dan kembali berdiri untuk membayar semua pesanannya.
"Sayang, pakai uangku aja ..," ucap Silvia seraya mencoba merebut dompet Yusuf dari tangannya. Tetapi Yusuf menyingkirkan tangan Silvia sedikit kasar yang membuatnya terkejut.
"Selera kamu ternyata berubah drastis ya, Sil? Habis sama cowok keren, CEO perusahaan, terus sekarang sama kaum jubahan? Nggak punya duit, lagi. Udah mas .., biar saya saja yang bayar. Uangmu simpen saja buat makan besok. Kasihan Silvia kalau besok nggak bisa makan."
Melihat Yusuf yang hanya diam saja tanpa melawan, hati Silvia menjadi panas dan emosi. Meskipun cintanya kepada Yusuf belum sepenuhnya tumbuh, tetapi hatinya membenci kesombongan Andrew yang baru pertama kali ia ketahui hari ini.
"Jaga mulut kamu! kamu boleh sakit hati sama aku, marah dan benci sama aku. Tapi jangan pernah rendahin Yusuf. Dia gak salah apa-apa, Ndrew!" Nada sedikit meninggi, membuat para pengunjung memperhatikan mereka.
Karena malu, Yusuf menarik tangan Silvia, lalu menggandengnya keluar dari warung itu bersama kedua anak yang ia bawa.
Mereka kembali ke mobil dan hendak mengantarkan kedua anak jalanan itu ke tempat asalnya. Tetapi mereka menolak dan memilih makan di tempat sekitar warung.
"Terima kasih ya, Mbak dan Mas sudah menolong kami. Semoga Allah membalas kebaikan kalian," ucap salah satu anak.
"Sama-sama, Sayang. Oh iya, nama kalian siapa? Boleh dong, kapan-kapan kita maen bareng!"
"Saya Malik, Mbak. Adik saya ini namanya Fadil."
"Oke, salam kenal ya .. Dari Mbak Silvia dan Mas Yusuf. Kapan-kapan maen bareng boleh 'kan?"
"Boleh dong," sahut si kecil–Fadil.
Yusuf tersenyum memandang Silvia. Ya, dia tertarik dengan Silvia karena rasa cintanya dengan anak-anak dan jiwa sosialnya yang tinggi. Di dalam mobil, mereka hanya saling diam. Silvia yang merasa sungkan dan merasa bersalah dengan Yusuf dan Yusuf yang enggan bicara karena sedikit kecewa.
Tetapi di ujung Jalan Cemara, Silvia memberanikan diri untuk membuka obrolan dengan Yusuf yang saat itu sedang fokus menyetir.
"Suf. Maafin aku, ya. Soal omongan Andrew tadi jangan dimasukin hati ya, Suf. Aku juga gak nyangka, dia sekarang berubah. Padahal dulu dia gak sombong kayak gitu," ucap Silvia dengan suara lirihnya.
"Besarnya cinta melahirkan kecemburuan yang tinggi. Dan tingginya kecemburuan, melahirkan perubahan yang tidak terduga," jawab Yusuf.
Silvia menoleh. Dia tidak begitu memahami maksud dari perkataan Yusuf yang ia dengar.
"Maksud kamu, Andrew cinta banget sama aku dan dia jadi sombong gara-gara cemburu?"
"Yes, betul."
Silvia terdiam meratap Yusuf. Setumpuk rasa heran dan penasarannya dengan Yusuf masih ada dan semakin menumpuk.
"Terus, kamu sendiri gimana? Apa kamu gak cemburu?" Sebuah pertanyaan yang mengejutkan untuk Yusuf. Tetapi dia menanggapinya dengan sangat santai.
"Cemburu, sih. Tapi percuma, karena kecemburuan saya salah waktu. Tidak seharusnya saya cemburu dengan orang yang belum bisa mencintai saya, sekalipun itu istri saya. Bahkan untuk mengakui saya suami saja, butuh waktu untuk mikir."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments