Pertengkarannya dengan Yusuf membuatnya lupa berkabar kepada mamanya, hingga larut malam. Begitupun dengan mamanya yang tidak lagi menghubungi Silvia dan tidak datang.
Pintu kamar tertutup rapat. Gadis keras kepala ada di dalam sana, sedang menikmati kesedihan, tangisan dan penyesalannya. Bahkan lampu kamar sengaja tidak Silvia nyalakan.
Sementara Yusuf, menyibukkan dirinya dengan tilawah qur'an agar hatinya bisa kembali tenang dan amarahnya hilang.
"Ya Rabb, jika Engkau jadikan orang yang hamba cintai sebagai ujian keimanan hamba, tolong lapangkan hati hamba dan berikanlah hamba pertolonganMu, sebagaimana Engkau menolong Yusuf Alaihisalam dan Yaqub Alaihisalam dari ujian beratnya di dunia," ucap Yusuf dalam doa.
Selesai berdoa, dia kembali menutup Al-Qur'annya dan pergi ke kamar Silvia untuk memastikan bahwa istri tercintanya baik-baik saja. Sampai di depan pintu, ia terkejut.
"Dari tadi lampunya kok mati, ya. Apa jangan-jangan ..." Karena kekhawatirannya, Yusuf terpaksa mengetuk pintu kamar tersebut dan memanggil-manggil nama Silvia, hingga berulang kali. Tetapi tidak ada jawaban.
Yusuf : Albi sayang, kamu baik-baik saja? Lampunya kok tidak nyala?
Satu pesan ia kirimkan ke nomor pribadi Silvia, tetapi hanya Silvia baca. Yusuf menghela nafas berat dan tidak henti-hentinya beristighfar.
Dia duduk di kursi depan kamar Silvia, lalu menata bantal dan merebahkan tubuhnya. Sejenak memejamkan mata, tepat pukul 23.00. Tetapi matanya sulit untuk diajak tidur.
Ada rasa gelisah dan perasaan tidak nyaman dengan kemarahan Silvia yang belum reda. Hingga dia memutuskan bersholawat tengah malam. Kemerduan suaranya terdengar sampai di dalam kamar Silvia.
Sedikit tenang. Perlahan hati gadis keras kepala itu luluh dan sedikit merasa kasihan dengan Yusuf yang saat ini masih berada di luar kamar.
"Kenapa ya, setiapkali denger suaranya ngaji, sholawatan, hatiku rasanya adem ..., banget. Seolah semua beban pikiran dan sesak nya hati ini hilang seketika," tutur batin Silvia.
Dia turun dari tempat tidurnya lalu berjalan mendekati pintu. Untuk apalagi kalau bukan agar suara merdu Yusuf bisa dia dengarkan lebih jelas lagi. Tiba-tiba dia tersenyum, teringat saat dia tidur dalam dekapan Yusuf, satu hari yang lalu.
"Kok ada ya, cowok sesabar Yusuf. Kalau aku pikir-pikir, bener juga omongan Yunika. Aku beruntung bisa dapat suami sebaik dia. Bahkan cintanya ke aku pun sangat hebat," tutur batinnya.
"Eh, tapi bisa aja 'kan, dia kayak gini cuma acting. Kali aja dia cuma mau morotin aku doang atau ngarepin warisan keluarga besar eyangku. Jadi dia nguat-nguatin hati hadapi aku. Gak kayak Andrew yang udah jelas-jelas mau nerima aku dari bawah, dari nol sampai aku bisa punya segalanya," tutur batinnya lagi.
Setan seolah benci dan tidak mau melihat Silvia hidup bahagia bersama Yusuf. Sehingga hati Silvia mudah goyah dan pikirannya pun mudah berganti.
Prank! Suara benda jatuh, mengagetkan Silvia yang sedang berdiri di balik pintu. Suara itu kembali muncul dan lebih keras lagi. Dia sedikit ketakutan, lalu menyalakan lampu kamarnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Yusuf dari luar kamar sembari mengetuk-ngetuk pintu.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Silvia. Tetapi kepanikan Yusuf sedikit mereda, kala matanya melihat sorot lampu kamarnya menyala.
"Mungkin dia lagi ngamuk," ujarnya lirih.
Tidak lama kemudian, suara benda keras itu muncul lagi bersama suara jeritan Silvia yang mengiringi. Mata Yusuf membulat, lalu kembali mengetuk pintu kamar dengan ketukan yang lebih keras lagi. Ya, lebih tepatnya menggedor pintu kamar.
Silvia berlari keluar dari kamar dan memeluk Yusuf secara tiba-tiba. Wajahnya memerah karena takut.
"Suf, di kamar ada setannya! Aku gak mau tidur di kamar!" teriak Silvia.
Yusuf tertawa keras, "Mana ada setan, disini?"
"Ih! Beneran, Suf. Lampunya goyang-goyang sendiri. Pokoknya aku gak mau tidur di kamar."
"Terus mau tidur dimana? tidur di kamar, saya temani, ayo." Dia menggandeng Silvia menuju kembali ke kamarnya. Tetapi Silvia berontak dan lari, turun ke lantai dasar.
Baru sampai di tangga, tiba-tiba dia terjatuh dengan posisi duduk.
"Innalillahi, Silvia! Ini gempa!" teriak Yusuf sembari berlari menolong Silvia.
Guncangan gempa kembali datang dan saat itu dirasakan oleh mereka berdua secara bersamaan. Guncangan yang cukup besar.
"Ambil ponsel dan dompetmu, setelah itu kita keluar dari sini, ya." Silvia mengangguk.
Bersama-sama, mereka mengambil barang lalu keluar dan berkumpul dengan para tetangga yang sudah lebih dulu keluar dari rumah mereka masing-masing.
"Silvia, kamu tidak berhijab!" Yusuf baru menyadarinya, saat hendak duduk di kursi taman dekat dengan pos ronda.
"Ayo kita balik ke rumah sebentar, pakai hijab. Ini di tempat terbuka, Sayang. Dosa, tidak pakai hijab," bisiknya kepada Silvia.
"Haduh, dosa bisa ditebus nanti, Suf. Lagi darurat kayak gini kok masih sempat ribet, sih. Kalau kita balik terus gempa lagi lebih dahsyat, terus kita mati di dalam gimana? jangan konyol, deh," gerutu Silvia.
Yusuf kebingungan. Dia tidak ingin aurat istrinya dilihat oleh banyak orang laki-laki, meskipun Silvia tidak ada unsur sengaja membuka hijabnya. Namun disisi lain, apa yang dikatakan Silvia ada benarnya.
Sesekali dia melirik Silvia yang masih murung. Mengoreksi penampilan istrinya dari atas hingga ujung kaki. Daster panjang dengan lengan panjang yang menutup sempurna dan tidak ketat. Hanya hijab yang menjadi kekurangannya.
Tuhan seolah mengingatkan Yusuf dan memberikannya jalan keluar, atas niat baiknya menjaga kehormatan istrinya. Yusuf ingat kalau dirinya saat ini sedang memakai jaket yang ada tudung penutup kepalanya. Jaket itu segera ia lepas dari tubuhnya dan ia berikan ke Silvia.
"Pakai jaket saya dulu. Pakai tudungnya, biar rambut dan lehermu tidak terlihat. Saya akan masuk untuk mengambil hijabmu," ucapnya.
"Apaan, sih. Lebay banget, deh. Gak usah, Suf .., aku gak mau kamu mati konyol gara-gara masa sepele doang," ujar Silvia.
"Ini bukan masalah sepele, Silvia. Ini masalah larangan Allah. Saya tidak bisa membiarkanmu mengumbar aurat seperti ini." Yusuf tetap pergi meninggalkan Silvia di depan pos ronda yang berjarak kurang lebih 9 meter dari rumahnya.
Berulangkali Silvia meneriakinya, tetapi Yusuf tidak memedulikannya. Dia tetap berlari menuju rumah besar Silvia untuk mengambil hijab.
Baru saja ia masuk, gempa kembali mengguncang dan membuat sebagian tembok rumah Silvia retak. Kala itu hati Silvia tentu saja ketar ketir, khawatir. Dia berlari menyusul Yusuf ke rumah dan memanggil namanya.
"Silvia, kamu ngapain nyusul? Keluar lah, Silvia! disini bahaya!" teriak Yusuf dari lantai atas, tepat di depan kamar Silvia.
"Kamu juga harus keluar dari sini, Suf! Aku gak mau kamu mati konyol cuma demi ambilkan aku hijab! Ayo turun, kita keluar dari sini sama-sama! Kamu jangan keras kepala, Suf!" teriak Silvia.
Keduanya semakin panik, saat melihat semakin banyak benda-benda berjatuhan. Pigora foto, lukisan di dinding, hingga lampu hias di ruang tamu yang menjadi lampu kesayangan Silvia, turut jatuh dan pecah.
Silvia hanya bisa berteriak–menyuruh Yusuf untuk segera turun. Namun Yusuf enggan dan masih sibuk mencari hijab Silvia yang tidak dia ketahui disimpan dimana.
"Suf, ayo turun! Kita keluar dari sini, Suf! Keadaan udah semakin genting!" teriakan terakhir Silvia diiringi sedikit suara tangis.
"Kamu saja yang keluar dari sini! jangan memikirkan saya, Silvia! lebih baik saya mati disini demi kamu, daripada saya melihatmu disiksa di akhirat nanti. Pergilah, Sayang!"
Teriakan terakhir Yusuf membuat Silvia tercengang dan isak tangisnya semakin kencang, hingga Yusuf mendengarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments