Pengambilan foto untuk wajah baru SHS..
"Oke, kita ambil foto sendiri-sendiri dulu ya, setelah itu foto grup" ujar seseorang yang bertanggung jawab.
Semua orang sudah berkumpul dan merias para model dengan cantik dan tampan. Satu persatu model mulai mengambil foto secara bergantian. Karena mereka bukan model yang berpengalaman, gaya mereka terlihat kaku dan membuat fotografer serta beberapa orang menghela napas.
"Ah, kita membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengambil foto tiga orang. Berikutnya.." ucap fotografer yang kembali bersiap usai istirahat singkatnya.
"Baikk, saya harus bergaya seperti apa ya? Ceria? Dingin? Imut? Atau seksi? Hehehe" canda Rana mencoba mencairkan suasana.
"Aura ceriamu sangat bagus, lakukan seperti biasa kau bersikap di sekolah ya" sahut fotografer.
Rana mengangguk dan tersenyum lebar diantara perlengkapan sekolah di sekitarnya. Setelah mendnegar hitungan, ia mulai berpose layaknya model sungguhan. Sikap ceria dan luwesnya membuat fotografer tersenyum riang. Rana tak mengecewakan sama sekali, ia tampak nyaman saat difoto dan sangat percaya diri.
"Cantiknya.." gumam Aiden yang melihat bersama yang lainnya.
Alis Dean berkerut mendengar gumaman Aiden, rasanya sangat tak menyukai komentar pemuda itu. Sedangkan Yesa memandangi Rana dengan kesal, ia begitu marah sebab Rana sekali lagi mendapatkan perhatian. Yesa tak mengerti apa hal menarik yang ada dalam diri Rana hingga membuat semua orang kagum padanya.
Selesai mengambil foto grup, mereka semua berkumpul sejenak untuk makan malam bersama. Para staf memuji Rana yang begitu lihai dan percaya diri dalam berpose. Gadis itu tersenyum ramah seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pak, bolehkah mengambil foto kami berdua saja? Saya menginginkannya, boleh ya pak" mohon Rana pada gurunya.
Sang guru tampak berpikir lalu berdiskusi dengan sang fotografer, setelah mendapat ijin Rana akhirnya bisa mengambil foto lagi bersama Dean. Hari ini pun mereka menggunakan pakaian couple yang memperlihatkan keduanya seperti pasangan.
"Ran, tapi aku tidak.."
"Apa? Kamu kelihatan ganteng dan keren kok, bayangkan saja kamu tidak sedang berada di depan kamera dan hanya bersikap biasa seperti saat bersamaku. Oke?"
Dean menatap ke arah lain, meski Rana mengatakannya dengan mudah, tapi rasanya ini begitu sulit buatnya. Tiba-tiba ia merasakan genggaman tangan Rana yang hangat, hal itu membuat Dean tertegun sesaat merasakan sesuatu yang nyaman mendorong dirinya. Begitu fotografer memberi aba-aba, pasangan itu mulai berpose sesuai arahan sang fotografer. Hal ini benar-benar tak terduga, para staf menyukai hasil foto pasangan ini.
Setelah acara makan malam usai, para murid berpisah karena arah rumah mereka berbeda. Rana tampak begitu bahagia melihat hasil fotonya dengan Dean di ponsel, mereka terlihat begitu serasi baginya.
"Tunggu.. Rana, Dean" panggil seseorang.
Rana dan Dean berhenti lalu menoleh, menatap salah seorang staf yang berlari menghampiri mereka di halte bus.
"Maaf mengganggu kalian, begini saya ingin menawarkan jika Dean mau menjadi model baju di brand milik bos saya. Ini kartu namanya, kami bisa membahasnya sebagai part time jika Dean bersedia datang. Saya juga ingin Rana ikut, namun ini baju untuk pria" jelasnya dengan napas yang masih terengah-engah.
"Waw benarkah? Tentu saja, terimakasih ya Kak, Dean akan segera menghubungi. Lagipula, jika itu saya, orang tua saya akan marah eheheh" jawab Rana bersemangat.
"Baiklah, hati-hati pulangnya, sampai bertemu lagi"
Dean menatap ke arah Rana yang amat sangat antusias, padahal tawaran ini untuk Dean dan bukannya Rana. Namun bisa Dean lihat kebahagiaan diwajah kekasihnya itu. Mereka berdua bergegas naik bus begitu bus yang mereka tunggu tiba. Selama perjalanan, Rana terus memainkan ponselnya melihat sosmed yang tertera pada kartu nama tersebut. Ia ingin memastikan jika ini bukanlah penipuan dan tidak boleh merugikan Dean tentunya.
"Aku gak bisa Ran" celetuk Dean di tengah perjalanan pulang.
"Bisa kok, aku yakin kamu bisa. Lagi pula kamu kan ganteng, kamu hanya perlu lebih percaya diri. Ini kerja part time yang bagus, gak akan ganggu pelajaran kamu dan tidak terlalu melelahkan. Daripada kamu habis kan waktu di warnet dan merokok, itu buang-buang uang sayang"
"Hm.. udah pinter nasihatin orang lain ya sekarang"
Rana menghela napasnya kesal, ia melepaskan genggaman tangannya pada Dean dan berjalan meninggalkan pemuda itu. Dean tertawa kecil dan merangkul pundak kekasihnya, mungkin memang benar jika perasaan itu belum tumbuh. Namun entah kenapa dekat dengan Rana serasa memiliki dorongan untuk lebih percaya diri, terlebih kekasihnya itu selalu terlihat cerah dan penuh semangat setiap harinya.
"Marah?" Tanya Dean sembari mengeratkan pelukannya.
"Mana bisa marah kalau kamu semanis ini, kita bukan orang lain Dean. Kamu pacar aku tau, nyebelin" cecar Rana seraya memeluk pinggang Dean dengan kedua tangannya.
"Masuk sana!!" ujar Dean kala mereka sudah berada di depan rumah Rana.
Rana menarik tangan Dean dan memperhatikan kekasihnya dengan seksama. Bibir yang mengatup rapat menandakan ia tengah ragu hendak mengungkapkan sesuatu. Dean bisa melihat sikap manja Rana walau sedikit, ia memandangi kekasihnya dengan alis yang naik turun.
Cupp...
Satu ciuman di pipi Dean berhasil Rana berikan. Gadis itu merona malu dan menatap ke arah lain.
"Kamu yang cium kamu yang malu, masuk sana!!"
"Hm... Byee" ucap Rana lalu berbalik. Ia tak mau pulang, sungguh masih ingin menghabiskan waktu bersama Dean. Kenapa rasanya hari begitu cepat berlalu, padahal baru sebentar mereka berduaan.
"Masih jam delapan malam, mau jalan ke taman?" Celetuk Dean tiba-tiba.
"Maauuu" jawab Rana kembali ceria.
Sangat mudah ditebak, Dean menggandeng tangan kekasihnya berjalan ke arah taman dekat rumah mereka. Rana yang selalu jujur mengekspresikan diri, membuat Dean langsung sadar jika gadis itu sedih. Mungkin tanpa Dean sadar pintu hatinya berhasil dibuka oleh Rana, sayangnya Dean hanya tak mau mengakui hal itu. Mana mungkin tidak ada rasa selama beberapa bulan mereka menjalani hubungan dengan tawa bahagia.
Keduanya duduk di salah satu kursi taman yang menghadap laut. Terlihat jembatan yang penuh cahaya begitu indah, tak hanya mereka yang berkencan disana. Ada banyak orang, entah berkencan, curhat atau hanya untuk menghabiskan waktu dari hari yang lelah ini.
"Dean, boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Apa masih tidak ada perasaan untukku? Walau hanya satu persen saja aku akan bahagia mendengarnya"
"Hm..."
"Susah ya jawabnya? Tak apa, aku senang ada didekat Dean. Aaah, sudah berapa lama ya kita berkencan? Lima bulan? Itu waktu yang lama ya hehehe"
Dean memalingkan wajahnya, ia merasakan panas dipipinya. Detak jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, rasanya begitu kikuk berduaan bersama Rana saat ini.
"Ran.."
"Iya?"
"Ji...jika aku bilang aku suka kamu bagaimana?"
"Apa? Benarkah? Tentu aku akan sangat sangat sangat senaaang"
Rana berdiri dari duduknya, ia berjalan kesisi lain ingin melihat raut wajah kekasihnya yang tersipu malu.
"Jadi, kau suka aku?"
"Hm .. begini, bukannya aku tak suka, aku... Ahhh" gumam Dean merasakan hal yang aneh. Ini bukan pertama kalinya ia berkencan tapi rasanya sangat gugup, terlebih jantungnya yang tak bisa melembut.
"Dean, aku suka kamu"
"A..aku juga suka kamu"
Rana tersenyum senang dan memeluk Dean dengan amat sangat erat. Ini adalah hari yang bersejarah, gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Cup...
Satu ciuman di pipi Dean mengakhiri rasa saling tersipu malu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments