Semenjak kejadian itu, Rana tak lagi terlihat menghampiri Dean. Selama beberapa hari ia sibuk mondar-mandir ke ruang guru. Bahkan ia hanya bertemu teman-temannya saat makan siang. Para murid kelas 1-2 mengira jika Rana sudah menyerah dan memutuskan untuk melupakan Dean. Sebab sudah sekitar lebih dari dua Minggu gadis itu tak lagi terlihat di dekat Dean.
Ttaakkk....
Satu botol susu coklat mendarat tepat di meja Dean. Pemuda itu mendongakkan kepala, menatap seseorang yang tengah memandangi nya dengan senyuman.
"Kok loe balik lagi?" Tanya pemuda itu seraya melepas headset di telinganya.
"Eh, kok Dean tau kalau gue gak kesini beberapa hari terakhir? Nungguin ya??"
Dean kembali memasang headset nya, teman-teman sekelas Dean juga menghela napas mendengar candaan garing gadis itu.
"Hehehe, susu coklat kesukaan Dean. Diminum ya biar semangat belajarnya" ucap Rana lalu duduk di hadapan pemuda itu. Ia memutar kursi di barisan depan Dean lalu menduduki nya.
"Siapa bilang?"
"Um... Jelas gue tau dong, kan kita adalah takdir yang saling melengkapi" jelas Rana seraya menggerakkan alisnya naik turun.
Pemuda itu menoleh ke arah teman-temannya, hanya satu orang yang tampak salah, Suho.
Dean berterimakasih dan kembali menolak, tapi kali ini Rana tetap memaksan. Gadis itu kemudian pergi usai mendengar bel berbunyi. Begitu Rana menghilang, Dean menawarkan pemberian Rana pada temannya. Mereka saling berebut untuk meminum susu gratis itu. Alin dan Bela saling berpandangan dan menghardikkan bahu mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari berganti...
Masih sama seperti kemarin, Rana memasuki kelas Dean lalu memberikan susu coklat setiap jam istirahat. Hal itu terus terjadi selama beberapa hari terakhir, tanpa Rana ketahui jika Dean bahkan tak meminumnya sama sekali. Meski Alin dan Bela sudah berusaha untuk menjelaskan, tetapi Rana yakin jika Dean pasti akan meminumnya lain kali.
Sebulan berlalu....
Seperti biasa gadis itu masuk kedalam kelas Dean saat jam istirahat. Tapi kali ini dia tak membawa sekotak susu, melainkan satu dus penuh susu coklat.
"Dean, ini buat loe dan teman-teman. Diminum ya" ucap Rana dengan ceria.
"Waah curang banget sih Rana, kelas kita kenapa gak dikasih?" Oceh Fian teman sekelas Rana.
"Bawa aja ke kelas kalian" sela Dean lalu berdiri menuju lokernya.
"Eh, nggak kok, dia cuma bercanda Dean" sahut Rana seraya menatap kesal ke arah Fian. Ia mencoba menghalangi Rana yang membawa satu kotak susu coklat untuk dirinya. Sambil memaksa agar Dean menerima pemberiannya kali ini.
Brakkk....
Dean membanting pintu lokernya kemudian menatap Rana yang terdiam karena terkejut.
"Gue gak suka sama loe" kata pemuda itu dengan dingin.
"Tapi gue suka banget sama Dean, diminum ya"
"Aah, brengsek. Loe dengar gak sih gue ngomong apa? Jangan ganggu gue lagi"
Rana memandangi Dean dengan mata bergetar, langkahnya perlahan mundur kebelakang.
"Tap..tapi bukankah kita setuju untuk berteman? Waktu itu juga loe bayarin bus buat gue"
"Karena loe terlihat menyedihkan, saat itu bahkan sekarang loe terlihat menyedihkan" jelas Dean dengan wajah datarnya.
Dada Rana terasa begitu sesak, ia mengatupkan bibirnya rapat berusaha menahan tangisnya. Sekotak susu yang ia pegang di berikannya pada Suho yang ada di sampingnya. Bel sudah berbunyi, semua murid sudah kembali ke kelasnya. Namun Rana masih terdiam, Ratu menarik tangan gadis itu untuk segera masuk kekelas mereka.
Saat di kelas, Rana kembali tak fokus pada pelajaran. Ia terus menatap keluar jendela memandangi para murid yang tengah berolahraga. Beberapa kali guru menegurnya namun pikiran Rana masih saja tak fokus.
Ttakkk....
Suara tongkat kayu Pak Cipto memukul keras meja Rana. Beliau meminta Rana ikut bersamaku menuju ruang guru. Kelas tak pernah ribut kala Pak Cipto mengajar, sebab beliau tak segan-segan menghukum muridnya yang berisik. Bahkan terkadang beliau memberikan pukulan penuh kasih sayang di pantat para murid laki-laki.
Di ruang guru...
Pak Cipto memberikan sebuah formulir untuk Rana, itu adalah formulir pendaftaran untuk mengikuti seminar di salah satu sekolah. Setiap kelas mengirimkan satu perwakilan dari kelas satu hingga tiga.
"Kamu yang mewakili kelas kita ya" ucap Pak Cipto.
"Kenapa Bapak pilih saya? Apa karena saya terlihat menyedihkan?" Tanya Rana dengan lirih.
Beberapa guru yang ada disana menoleh memperhatikan Rana yang tampak tak seperti biasanya.
"Jangan bicara omong kosong, jangan melamun lagi selama dikelas. Cepat pergi dan isi lalu berikan pada saya di jam istirahat kedua. Mengerti?!!"
Rana mengangguk lalu berpamitan pergi, ia melangkah dengan lemas menuju kelasnya. Lorong begitu sepi, tak ada satu muridpun yang Rana temui. Ia berjalan seraya menyenderkan kepalanya di tembok. Beberapa murid menatap ke arah Rana kala gadis itu melintasi kelas mereka. Sikapnya memang terlihat menyedihkan saat itu.
"Rana, dipanggil Pak Jo" teriak seorang murid yang duduk di dekat jendela lorong.
Gadis itu menoleh dan menatap ke arah Pak Jo yang sedang memandangi dirinya dari dalam kelas. Rana mengetuk pintu lalu masuk kedalam kelas. Ia memandangi Pak Jo dengan raut wajah sedih.
"Kamu kenapa?" Tanya Pak Jo.
"Apakah Pak Jo bertanya karena saya terlihat menyedihkan?"
"Iya, ada masalah apa? Kau tidak mau jadi perwakilan tapi Pak Cipto memilihmu begitu?"
"Apakah orang yang menyedihkan seperti saya pantas untuk pergi ke seminar?"
Ttaaakkkk.....
Satu pukulan clipboard mendarat di kepala Rana. Pak Jo memintanya untuk pergi kembali ke kelasnya. Namun sebelum pergi, gadis itu kembali bertanya apakah ia terlihat menyedihkan karena itu Pak Jo memintanya untuk pergi.
Rana terus berada di kursinya, melewatkan makan siang dan hanya termenung menatap ke luar jendela. Ratu, Alin dan Bela mencoba membujuknya, tapi tak berhasil. Bahkan teman-teman Dean merasa kasihan melihat Rana dari luar kelas.
"Dean, mending loe minta maaf ke dia. Kasihan banget tuh anak, biasanya ceria haha hihi sekarang kayak orang depresi" celetuk Suho yang duduk di kursi depan Dean.
Para pemuda itu berkumpul dan mulai menasihati Dean. Meski tak suka harusnya Dean tak bersikap begitu kejam pada Rana. Mengingat jika Rana adalah seorang perempuan baik dan ceria. Kini auranya terlihat begitu menyedihkan bahkan untuk sekedar dilirik.
Dean tampak termenung sesaat, ia sebenarnya tak bermaksud begitu. Tapi Rana tak mau mendengarkan dirinya. Padahal sudah ditolak berkali-kali namun gadis itu masih saja mendekat.
"Enaknya jadi orang ganteng" keluh Gerald.
"Hahaha kemauan keras juga tuh si Rana, dia satu-satunya cewek yang bertahan walau loe berkali-kali bersikap kasar" sahut Felix. Ia membuka kotak susu pemberian Rana lalu meminumnya satu. Hal itu tentu membuat para murid pria berebut untuk meminumnya.
Suho menaruh susu coklat pemberian Rana di meja Dean. Ia tersenyum kepada Dean seraya menggerakkan dagunya agar mengambil susu coklat tersebut.
Dean, semangat belajarnya.. Maaf ya kalau gue ganggu.. Fighting...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Erni Fitriana
ampunnnnn da ach rana kelakuan kamuhhhhh🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2024-06-28
0