Kelas sore...
Para murid tengah belajar mandiri di kelas sesuai penilaian level yang mereka dapatkan. Di kelas 1-1 terlihat begitu sepi sebab para murid disana sangat serius belajar. Namun tidak dengan satu orang yang sedari tadi menatap ke luar jendela. Duduk di kursi belakang seorang diri membuat Rana tampak lebih nyaman daripada harus duduk diantara para murid yang serius belajar.
"Ahh, lapar sekali ingin makan" gumam Rana berjalan keluar kelas. Ia berjalan-jalan mencari udara segar menghilangkan kesuntukan nya. Gadis itu tak mengerti kenapa mereka masih harus belajar lagi padahal sudah setengah hari waktu mereka dihabiskan untuk belajar.
"Ratuuu, lapeeerrr, kantin yuk" ucap Rana yang bergelayut dipintu kelas level 4.
"Waah nih anak, balik sana, ntar dimarahin guru loh" sahut Ratu.
"Ah dikelas gue gak asik, hening banget kayak kuburan baru. Anak-anak kelas level delapan lagi main bola tuh dilapangan, gak dimarahin"
Ddukkkk....
"Ah, minggir dong bangsat!!" umpat seseorang yang dengan sengaja menabrak Rana. Ia tersenyum miring ke arah Rana yang tengah terpaku menatapnya.
Rana menjulurkan lidahnya tak peduli dengan umpatan kasar itu.
"Wah ngapain sih anak kelas lain disini, bikin suasana gak enak aja!!" Imbuh siswi kurang ajar itu.
Sayangnya Rana masih tak peduli dan malah menatap siswi itu dengan tatapan merendahkan.
"Sialan loe bangsat, ngajak ribut ha?" Sentak siswi itu kehilangan kesabaran.
"Apa loe bangsat ha? Loe pikir gue takut, waaah mulut loe itu gak disekolahin. Bangsat bangsat gue punya nama bangsat" balas Rana seperti kerasukan setan umpat. Ia begitu marah hingga wajahnya memerah.
Para murid kelas level 4 mencoba menahan tawa melihat perdebatkan penuh makian ini. Bahkan Ratu sudah kehilangan akal sebab tak bisa menghentikan tawanya. Dean menarik Rana untuk pergi dan memulangkan gadis itu kembali ke kelas level satu. Selama perjalanan Rana terus menggerutu kesal karenanya.
"Aku gak salah, dia yang seenaknya panggil bangsat bangsat, aku kan punya nama"
"Ssstt sudah, jangan bicara lagi"
"Mana bisa sabar Dean? Dia yang bangsat, wajahnya bangsat, kelakuannya bangsat, semua yang ada padanya bangsat"
Ttakkk.....
"Bicara yang bagus" ujar Pak Jo yang tiba-tiba muncul entah darimana. Baliau meminta Dean untuk segera kembali ke kelasnya.
\=====
Kelas sore selesai....
Rana berjalan keluar kelas bersama dengan Aiden. Keduanya tampak saling berbincang kecil mengenai pelajaran yang baru saja disampaikan.
"Sayang.." panggil Rana dengan semangat. Ia meninggalkan Aiden dan menghampiri Dean serta Ratu yang baru saja keluar kelas.
"Dean, sampai jumpa" sapa seorang siswi yang bertengkar dengan Rana sore tadi. Ia menatap sinis ke arah Rana lalu pergi begitu saja.
"Ran, gue duluan ya, hati-hati pulangnya" pamit Aiden seraya mengacak rambut Rana.
"Iya, loe juga hati-hati ya" jawab Rana dengan ramah.
Ratu tak bisa menahan tawanya dan berjalan pergi lebih dulu. Ini tontonan yang menyebalkan untuk dilihat, terlepas dari itu, malam ini rasanya begitu gelap dan dingin. Ia tak mengerti kenapa harus ada kelas sore padahal mereka sudah belajar seharian.
"Hihihihi dorr" teriak Suho mengagetkan Dean, Rana dan Ratu.
Ratu yang kesal langsung menghajar Suho dengan bogeman. Sedangkan Rana tak peduli dan Dean mematung karena terkejut. Rana yang tak bisa berjalan sebab Dean terdiam ditempat pun memperhatikan dengan seksama.
"Sayang, kamu kenapa? Deaan hei" ujar Rana mencoba menggerakkan tubuh kekasihnya.
"Ahahaha, Dean kan penakut, nyalinya ciut kalau horror gini hahahaha" ejek Suho lalu memukul kepala Dean hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Benarkah? Pfft hahahha sisi lain Dean yang tak terduga" goda Rana dengan tawanya.
Dean berlari secepat yang ia bisa meninggalkan sekolah yang hampir sepi itu. Rana, Ratu dan Suho berjalan sambil menertawakan pemuda penakut itu. Sebelum pulang, mereka mampir untuk makan di salah satu kafe. Suho terlihat tengah berbincang dengan salah satu pegawai kafe, sepertinya pembicaraan mereka cukup serius.
"Ngobrolin apa?" Tanya Rana pada Suho yang baru kembali.
"Part time, loe gimana Yan? Katanya mau cari part time juga, udah ada?" Sahut Suho seraya memandangi Dean.
Dean menggeleng dan kembali memainkan ponselnya. Usai makan mereka pun berpisah, meninggalkan Dean dan Rana yang pulang berdua.
"Sayang mau cari kerja paruh waktu?"
"Hm.. iya, tapi gak tau mau kerja apa"
"Kalau sayang kerja, nanti jadi sibuk terus gak ada waktu buat aku gimana? Aku pingin cari part time juga biar bisa kerja sama kamu, tapi... Jadwal lesku padat hiksss.."
Dean menutup mulutnya karena tak bisa menahan tawa, entah kenapa Rana terlihat begitu lucu dimatanya hari ini. Rana yang mengetahui Dean menertawakannya merasa kesal dan memasang wajah cemberut.
"Kenapa?"
"Males gak mau ngomong sama kamu, udah ah aku masuk, kamu nyebelin. Sana pergi!!" Usir Rana kesal.
"Hm.. Aku boleh mampir?"
"Boleh dong, ayo masuk heheh. Tumben kamu, kita mau apa? Nonton? Ngerjakan PR? Atau bahas materi di kelas sore tadi?" Ocehan Rana yang berubah 180° kelewat senang. Ia begitu bersemangat menarik tangan Dean masuk kedalam rumahnya.
Sebenarnya Dean memang bermaksud membahas materi kelas sore dengan Rana. Ia sedikit bingung sebab guru menjelaskan terlalu cepat baginya. Rana tentu bersemangat belajar bersama sang kekasih, walau sedikit bosan sebab seharian penuh harus terus belajar. Namun waktu berdua bersama Dean lah yang ia harapkan.
Merekapun membuka buku dan saling bertukar pendapat. Semakin Dean mencoba memahami penjelasan Rana, ia semakin tertarik pada kekasihnya yang begitu mudah menjelaskan persoalan. Cara penyampaian Rana seolah masuk dengan lancar dalam kepala Dean, terlebih dengan senyum ceria itu.
"Kalau lagi serius belajar gini, kamu kelihatan berkarisma, keren" puji Dean sambil tertawa kecil.
"Eh, sayang kalau ketawa punya lesung Pipit? Ganteng bangettt, sering-sering dong senyum dan ketawanya, tapi waktu sama aku aja jangan sama cewek lain"
"Begitukah? Bukannya kita harus membagi hal yang baik dengan banyak orang? Itu yang kau katakan"
"Aaakkkhh sebel, tapi kan kamu punyaku, gak boleh dibagi-bagi tauu"
Dean kembali tertawa dan menunjukkan lesung pipitnya, wajah Rana memerah padam tak bisa menyembunyikan detak jantungnya yang berdebar amat sangat kencang. Ia mendekati Dean dan langsung memeluknya erat.
"Eh kenapa?"
"Kamu nyebelin, jantungku rasanya mau copot tau. Dasar"
"Hahaha, kamu...." ucapan Dean terhenti kala mendengar suara langkah kaki.
Tap.. tap.. tap.. krieekkk....
Dean yang terkejut memeluk Rana dengan sangat erat, hingga membuat gadis itu semakin senang dibuatnya.
Ttok.... Ttok...
Suara ketukan pintu sukses membuat Dean keringat dingin. Rana yang mendengar pun beranjak pergi dari dekapan Dean. Ia menoleh sejenak ke arah kekasihnya yang sudah pucat. Namun Rana tetap berjalan dan membuka pintu, nihil, tak ada siapapun disana. Gadis itu kembali menghampiri Dean yang terpaku karenanya.
"Sayang, kenapa?"
"Itu gak ada orang ya?"
"Hm... Iya sepi, mungkin hantuuu hihihi hahaha"
"A...aku telepon Suho dulu minta jemput, kamu jangan kemana-mana disini aja ya"
"Kamu beneran takut? Waah gak nyangka... Kamu...." ejekan Rana terhenti kala melihat Dean yang gelagapan. Ia pun menggenggam tangan Dean dan meyakinkan pemuda itu jika semuanya akan baik-baik saja.
Sembari menunggu Suho, keduanya hanya diam menonton televisi yang menyala. Sayangnya pikiran Dean sedang tak ada ditempatnya, ia sudah ketakutan dan tak bisa berpikir dengan jernih. Sambil terus menelepon Suho yang tak kunjung datang.
"Aku anterin aja gimana?"
"Tidak, ini sudah malam, aku tidak mau kamu pulang sendiri nanti"
"Tapi jarak rumah kita tidak sampai 5 menit sayang"
"Tidak... Tidak.. aku..."
"Deaan, Ranaaa oeee, Suho datang nih" teriak Suho sembari mengetuk pintu.
Secepat kilat Dean mengambil tas dan beranjak keluar rumah Rana. Ia berpamitan pada Rana lalu pergi bersama dengan Suho. Rana menatap ke sekitar, tak ada siapapun dan terlihat sepi.
"Loe ngapain Ran?" Celetuk Ratu yang baru saja turun dari lantai atas.
"Hm ... Loe ya yang ketok-ketok tadi?"
"Hehehehe, gue kira udah tidur, nih baju loe gue ambil sekalian. Besok gue anterin, gue suruh Bibi setrika dulu"
"Okay, thank you"
Tanpa kedua gadis itu ketahui, Suho tengah menjadi tawanan dirumah Dean sebab pemuda itu takut tidur sendirian di kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
😁😆🤣🤣
Dean penakut...
2023-10-12
0