Ting Tong.... Ting Tong....
Suara bel pintu rumah Rana terdengar di pagi hari. Gadis itu bergegas membuka pintu dan menyambut tamunya dengan senyuman lebar.
"Pagi sayang"
"Pagi" jawab Dean lalu masuk kedalam rumah Rana.
Rana sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ia begitu bersemangat hari ini memikirkan apa yang akan keduanya lakukan selama seharian penuh. Selesai makan, Rana dan Dean duduk sambil memainkan ponsel masing-masing. Rana menyalakan televisi dan menonton drama untuk mengisi waktu luang sebelum kencan selanjutnya.
"Sayang, aku sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini. Jadi kamu hanya perlu mengikuti perkataan ku, oke"
"Iya, apa kita akan pergi sampai malam? Hari ini kau terlihat senang sekali"
"Tantu saja, kenapa? Kau mau menginap di rumahku malam ini? Ehem... sayaaang, boleh kok"
"Omong kosong"
Rana tertawa lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur. Ia memeluk leher Dean dan menaruh dagunya di bahu pemuda itu.
"I love you"
"Kau manja sekali hari ini"
"Aku tidak sabar menghabiskan hari bersama... sayang" perkataan Rana melemah kala Dean berdiri sebab ada telepon masuk diponselnya. Ia hanya memperhatikan Dean yang tengah menelpon di balkon, sepertinya ada hal menarik sebab kekasihnya itu terlihat antusias.
"Ran, kencannya ditunda besok ya"
"Mana bisa gitu? Kamu mau kemana? Kan tiketnya sudah dibeli"
"Akan aku ganti, aku ada urusan harus pergi sekarang. Nanti aku chat ya, byee" ucap Dean kemudian pergi begitu saja.
Rana masih terduduk diatas tempat tidurnya, ia menggenggam remot televisi dengan air mata yang menetes. Padahal Dean sudah berjanji dari jauh hari jika mereka akan berkencan hari ini, namun tiba-tiba saja batal karena urusan penting. Urusan apa yang membuat Dean tega membatalkan janjinya.
Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia tak peduli jika ponselnya terus berbunyi. Ada banyak pesan masuk diponsel Rana, hanya untuk sekadar mengucapkan selamat ulang tahun pada gadis itu.
Hari berganti malam, Rana memutuskan untuk pergi berjalan-jalan. Ia begitu suntuk, bahkan Dean tak mengabarinya samasekali.
"Uh, kalian darimana?" Celetuk Rana kala tak sengaja berpapasan dengan Dean dan teman-temannya.
"Eh Nona Rana, kamu baru saja selesai menonton pertandingan game. Seharian ini banyak sekali pertandingan di pusat kota, seru sekali" jelas Gerald.
Rana menatap ke arah Dean yang jugaa tersenyum menikmati waktu bersama teman-temannya. Gadis itu mengepalkan tangannya mencoba tersenyum. Inikah urusan penting itu hingga Dean tega membatalkan janjinya.
"Eh eh eh, Tuan Putriii selamat ulang tahun. Gimana harinya? Waah pasti seru ya seharian sama pacar sampai tega gak ngabarin kami. Sekarang gantian dong, rayain ulang tahun bareng kami, go go" ucap Freya.
"Kalian masuklah, gue akan beli makanan" sahut Rana lalu pergi menjauh dari teman-temannya.
"Hari ini Rana ulang tahun?" Celetuk Dean.
"Loh, bukannya kalian kencan seharian? Kalian kencan kan? Rana sudah mempersiapkan semuanya" jelas Bela.
"Ta..tapi Dean seharian bersama kami" sela Suho.
Teman-teman Rana saling berpandangan dan berlari menyusul gadis itu. Ratu mengepalkan tangannya hendak memukul Dean saat itu juga.
"Brengsek loe, gue tau loe gak suka Rana. Tapi apa harus sampai seperti ini? Loe ah.. bangsat" umpat Ratu kemudian ikut berlari menghampiri Rana.
Dean menghela napasnya panjang, harusnya ia sadar jika ini adalah hari spesial sebab Rana terlihat sangat bahagia. Ia menatap teman-temannya yang hendak pergi menghindari masalah ini. Namun pemuda itu menahan mereka semua, Dean pikir ini masih ada waktu sebelum ulang tahun Rana berakhir. Ia juga meminta Suho menelepon teman Rana untuk meminta bantuan.
Begitu Alin, Bela serta Diva datang, mereka semua masuk kedalam rumah Rana untuk menghias rumah gadis itu. Meski kecewa, para gadis itu mengakui usaha Dean untuk merayakan ulang tahun Rana.
"Kado ... Gue harus beli apa?" Tanya Dean meminta saran.
"Hey hey, hahahha, gimana kalau..." perkataan Bela terhenti dan membisikkan sesuatu pada Dean. Ini akan jadi hadiah yang tak bisa Rana lupakan seumur hidupnya.
"Benarkah?"
"Meski Rana sesuka itu sama loe, tapi dia adalah gadis polos yang bodoh hahahaha" ucap Bela dengan tawanya.
Usai menghias rumah Rana dan mempersiapkan kue, mereka menelepon gadis itu juga yang lainnya. Mungkin ini tidak akan terlalu mengejutkan, namun mereka berharap Rana akan senang.
Ttakk.....
"Selamat ulang tahun, Rana" ucap semua orang kala lampunya dinyalakan.
"Ranaa yang lahir untuk dicintai"
"HBD Nona Ranaa"
Rana terpaku melihat rumahnya yang dihias dengan indah, ia lebih terkejut lagi saat Dean mendekat membawa kue ditangannya. Pemuda itu tampak merona dengan langkah malu-malu. Ditiupnya lilin yang menyala, sebelum itu Rana memejamkan mata dan berharap sesuatu. Setelah acara kejutan kecil, mereka semua makan malam bersama.
Tak pernah sekalipun Rana melepaskan genggaman tangan Dean. Meski rencana kencannya hancur, ia cukup bahagia bisa bermanja dengan Dean malam ini.
"Kau mengantuk?" Tanya Dean pada Rana yang hampir kehilangan kesadaran. Ia menggendong tubuh kekasihnya dan menidurkan Rana diatas tempat tidur.
Semua orang memutuskan untuk pulang usai melihat Rana yang tertidur begitu pulas.
"Dean, mau kemana?" Rengek Rana kala Dean menyelimuti dirinya. Ia meraih tangan kekasihnya dan menggenggam erat tangan pemuda itu.
"Aku mau pulang, sudah malam tidurlah lagi"
"Haruskah? Tidak bisakah kita menghabiskan waktu hingga hari berganti?"
Dean meminta yang lainnya untuk pergi lebih dulu, sedangkan dirinya kembali duduk di samping tempat tidur kekasihnya. Dilihatnya mata Rana yang masih terpejam rapat, namun genggaman tangan Rana begitu erat Dean rasakan. Beberapa menit berlalu, Rana bergerak dalam tidurnya dan membuka mata. Jam sudah menunjukkan pukul 23:30.
"Uwaah Deaan" teriak Rana tiba-tiba. Ia mengedarkan pandangannya dan terkejut melihat Dean tertidur sambil duduk dilantai.
"Dia masih disini? Aaah pacarku tampan sekali, kenapa bisa setampan ini? Dean, apa kau lelah terlihat tampan setiap saat?" cecar Rana yang memperhatikan wajah kekasihnya. Ia begitu senang memperhatikan setiap inci wajah Dean yang begitu dekat dengannya.
"Kau bangun?" Gumam Dean yang terbangun dari tidurnya. Ia menatap jam dan mengucek matanya sebelum meregangkan tubuh.
"Maaf membuatmu lelah" ucap Rana begitu tiba-tiba.
"Ah, aku boleh pulang sekarang? Kau menahan ku sejak tadi"
Rana berdehem dan mengangguk, ah entah hal bodoh apa yang ia katakan saat tidur tadi. Ini sudah sangat malam, pasti orang tua Dean mencarinya, semoga saja pemuda itu tak terkena masalah karena permintaan konyol Rana. Usai mencuci muka, Dean kembali menghampiri Rana yang duduk ditepi ranjangnya.
"Selamat ulang tahun ya Rana, maaf aku membuat rencanamu gagal" ujar Dean seraya mengelus rambut kekasihnya.
"Iya tidak apa-apa, tapi tahun depan kau tidak boleh mengacaukannya lagi ya"
"Iya"
Dean yang hendak pergi berbalik menghampiri Rana sekali lagi. Ia membungkuk dan memegangi pipi kanan Rana.
Cupp...
Sebuah kecupan singkat di pipi kiri gadis itu, sukses membuat Rana merona malu karenanya. Dean kembali berpamitan dan pergi pulang kerumahnya.
"ARRGGHHH.... Apa itu tadi? Apa? Apa gue mimpi? Aaahhh hadiah terbaik, Deaaaaannnn ihhhh sukaaaa aaaahhhhhh" teriak Rana begitu histeris karena kado terindah datang dari seseorang yang paling ia cintai.
Triiinggggg .....
Ponsel Rana berdering, ada panggilan masuk dari Ratu.
Ratu : "Ada apa? Ada masalah? Kenapa teriak-teriak?"
Rana : "A..ah tidak, gue hanya senang saja hehehe. Maaf ya, selamat malam"
Rana pun kembali merebahkan tubuhnya dengan senyuman lebar menatap langit-langit kamarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
icak. icak. nih polosnya...
iya kan Ran???? 😘🥰😍🤣
2023-10-12
0