Setelah mengambil suara terbanyak, terpilihlah Dean dari kelas 1-2 dan Yesa dari kelas 1-8. Rana dan Aiden ikut bergabung kedepan sesuai permintaan MC.
Yesa tiba-tiba berpindah posisi ke sebelah kiri Dean kala Rana hendak mendekat. Akhirnya Rana berjalan sedikit lagi untuk berdiri disisi kanan Dean. Rana menatap Dean dengan senyuman lebar, begitu juga dengan Aiden yang mengikuti Rana berdiri disamping kanannya.
"Aku tau ini akan terjadi" gumam Rana sembari menghela napas.
"Hm... Sekarang kau mulai meramal seperti Gerald?" Sahut Dean.
"Bukan seperti itu, tapi kamu memang sangat tampan. I love you" bisik Rana dengan tawa lebarnya.
Dean hanya diam memandangi gadisnya tertawa lebar, Rana memang sangat mudah tersenyum riang.
MC memperkenalkan keempat murid dihadapan semua orang sebagai wajah baru sekolah. Setelah itu barulah mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.
\======================
Istirahat makan siang....
Rana dan Dean tak pergi ke kantin, sebab hari ini gadis itu mengemas makan siang untuk keduanya. Mereka makan bersama di kelas Dean.
"Kamu masak sendiri?"
"Iya dong, kan aku juga tinggal sendiri. Aku jago masak tau, kamu coba aja" jawab Rana dengan percaya diri.
"Hm.. enak" puji Dean setelah mencoba masakan Rana. Ia menikmati makan siang buatan kekasihnya itu.
Ditengah makan siang mereka, Viola datang seorang diri menghampiri Rana. Ia membawakan banyak kotak susu berbagai rasa untuk diberikan pada Rana. Meski Rana menolak, Viola tetap memaksa dan pergi sebelum mendengar penolakan lagi. Rana menatap ke arah pintu masuk yang ramai oleh para murid. Rupanya Viola memang secantik itu, bahkan kehadiran sesaatnya mampu menarik banyak perhatian dari para murid.
"Sayang.."
"Hm..." dehem Dean seraya memandangi Rana. Ia menyeka sisa nasi yang ada di dekat bibir gadisnya.
"Menurut kamu, Kak Viola gimana? Cantik?"
Dean menghela napasnya, ia menutup mulut Rana dengan tangannya. Sebagai tanda jika dirinya tak ingin mendengarkan pertanyaan apapun. Usai makan siang, mereka berdua berjalan-jalan mengelilingi sekolah bersama.
Satu lagi rumor yang membuat Rana menjadi perbincangan banyak murid. Ia tak mengerti kenapa selalu saja ada konsekuensi di setiap tindakan yang dilakukannya. Bahkan mengikuti perlombaan pun membuatnya jadi cemooh sebab para murid angkatannya tak yakin apakah Rana benar-benar sepandai itu. Mereka terus saja mengusik gadis malang itu.
Keduanya duduk disalah satu bangku yang menghadap ke lapangan. Rana duduk di samping Dean menghadap arah berlawanan. Menidurkan kepalanya pada senderan bangku panjang itu.
"Sayang... Apa kau sudah menyiapkan rencana pendidikan mu?"
"Begitulah, aku harus masuk Universitas kedokteran sesuai permintaan kedua orangtua ku"
"Apa kau senang? Apakah itu impian sayang juga?"
"Hm... Aku ingin menjadi pilot, dan bukannya dokter. Tapi... yasudahlah, keduanya sama-sama berguna untuk masa depanku bukan"
Rana berdehem dan menarik tangan Dean agar merentangkan tangannya. Ia memainkan jemari Dean seraya menggoyangkan kakinya merasa bosan.
"Aku tidak ingin memiliki perusahaan game lagi"
"Kenapa?"
"Gimana dong? Sepertinya aku sangat suka Dean, aku mau menikah saja dengan Dean" jawab Rana dengan wajah lesuh.
Dean menatap kekasihnya lalu menghela napasnya berat. Apalagi drama yang sedang Rana mainkan, selalu saja ada topik terbaru di sekitar gadis itu. Rana memalingkan pandangannya menatap Dean, mata mereka bertemu dan saling memandang selama beberapa detik.
Detak jantung Rana berdebar sangat kencang, hingga membuatnya sedikit sesak napas. Dean menyadarkan Rana yang melamun sebab bel masuk sudah berbunyi. Mereka pun berlari menuju kelas sebelum guru masuk kedalam kelas masing-masing.
\=================
Semenjak kejadian hari itu, Rana tak bisa mengendalikan perasaannya. Jantungnya terus saja berdebar kencang saat berada di dekat Dean. Bahkan beberapa kali ia pergi ke UKS untuk mengeluhkan penyakitnya.
"Bu, saya sakit apa? Kenapa jantung saya rasanya seperti mau lepas, ini mengkhawatirkan" keluh Rana untuk kesekian kalinya.
Sang perawat UKS menghela napasnya panjang dan meminta Rana untuk berdiri.
Plakkkk....
Suara pukulan penggaris dipantat gadis itu membuat Rana meringis kesakitan.
"Berhenti bermain-main, cepat kembali ke kelas kamu!!!" Perintah perawat UKS pada Rana.
Gadis itu keluar ruangan UKS dengan wajah sedihnya. Ia tak bisa terus begini, bahkan saat berjalan bersama Dean, Rana selalu mengambil jarak yang jauh agar mereka tak berdekatan.
Disisi lain, Dean tengah memandangi ponselnya yang tergeletak diatas meja. Ia tak mengerti kenapa tak ada satupun pesan dari Rana. Padahal gadis itu selalu mengirimi pesan setiap waktu meski Dean tak membalasnya. Namun hari ini, bahkan beberapa hari terakhir sikap Rana sangat aneh.
"Ngapain loe disana? Masuk sini!!" Teriak Alin pada Rana yang mengintip dari jendela.
Bukannya masuk, gadis itu malah berlari pergi menjauh.
"Kalian berantem?" Tanya Alin tak mengerti situasinya.
"Gak" sahut Dean singkat.
"Terus dia kenapa lari? Biasanya kan Dean Dean, sayang sayang. Manja manja kayak anak kucing yang baru lahir" timpal Diva.
Dean menatap ke arah lorong kelas yang sepi, sikap Rana benar-benar aneh. Seolah gadis itu terus menghindar tanpa alasan yang jelas.
Istirahat makan siang.....
Drakkk.....
Pintu kelas 1-3 terbuka lebar, Dean terlihat celingak-celinguk mencari seseorang.
"Dean, tumben loe kesini? Nyari Rana?" Celetuk Ratu yang tengah berdiri di lokernya.
"Iya, dia kemana?"
"Itu... Eh kemana tuh anak? Gue Gak tau, tadi masih duduk di kursinya"
Dean menutup pintu dan pergi meninggalkan kelas Rana. Ia kembali ke kelasnya, barangkali Rana datang menemuinya. Namun tak ada gadis itu, bahkan teman-teman nya juga tak melihat Rana datang. Ponsel Rana juga tak menjawab kala Dean menghubungi nya, padahal panggilan itu tersambung.
"Makan yok laper gue, kenapa loe? Wajah loe kelihatan khawatir" celetuk Suho pada Dean.
"Gue mau cari Rana, kalau kalian ketemu hubungi gue ya" ucap Dean lalu pergi meninggalkan temannya. Ia mendatangi tempat-tempat yang mungkin didatangi Rana saat ini.
Suho, Felix dan Gerald saling berpandangan kala melihat Dean yang berlari menjauh. Sepandai apapun Dean menyembunyikan perasaannya, tapi mereka sudah berteman sangat lama. Mereka sangat yakin jika ada rasa yang mulai tumbuh dalam hati Dean untuk Rana.
"Gue yakin seratus persen Dean mulai suka Rana" ucap Gerald kembali memulai ramalannya.
"Dean? Mana mungkin, ngaco loe udah yok ke kantin laper gue" sahut Suho tak percaya.
"Gue juga yakin seribu persen Dean suka Rana. Dahlah biarin aja yok ke kantin, go go" sela Felix. Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin untuk makan siang.
Sayangnya hingga jam makan siang usai dan bel kembali berbunyi, Dean tak menemukan Rana dimanapun. Setelah beberapa menit bel berbunyi, barulah Rana keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kelasnya. Pantas saja Dean tak menemukannya, mana mungkin pemuda itu masuk kedalam kamar mandi wanita.
"Ranaaa" panggil seseorang yang membuat Dean pun ikut menoleh ke arah lorong kelas.
Aiden menghampiri Rana dan memberikan buku catatan serta coklat untuk gadis itu. Mereka tampak berbincang sejenak sebelum saling berpamitan pergi ke kelas masing-masing.
Dean beranjak dari duduknya, ia hendak pergi menemui Rana.
"Dean, mau kemana?" Tanya Pak Cipto yang tengah mengajar di kelas Dean. Beliau memang selalu tepat waktu saat mengajar.
"Ah, tidak Pak, kaki saya hanya kram saja" jawab Dean lalu duduk kembali ke kursinya.
Suho langsung menginjak kaki Dean bermaksud membantu temannya yang tengah kesulitan itu dengan senyuman jahilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
😁🤣🤣🤣
Rana lg Di toilet, Dean...
tumben dikau risau.....
2023-10-12
0