Kriiiingggg....
Suara alarm membuat Rana langsung terbangun pagi ini. Ia menatap jam lalu masuk kedalam kamar mandi. Ratu selalu sibuk dengan latihannya, Rana lebih sering berangkat seorang diri. Begitu juga dengan hari ini, hari tampak begitu cerah diluar.
Suara langkah ringan itu terdengar menuruni tangga.
"Eh, Dean, selamat pagi, tumben gak telat hehehe" sapa Rana yang tak sengaja berpapasan dengan Dean.
"Pagi" jawab pemuda itu singkat.
Mereka berdua berjalan bersama menuju halte bus. Sembari menunggu bus, Rana memberikan sekotak susu coklat almond pada Dean. Dengan senyuman termanis yang selalu ia terus tunjukkan pada semua orang.
"Makasih" ucap Dean menerima pemberian itu.
Rana terdiam, rona merah begitu jelas diwajahnya. Ini pertama kalinya Dean menerima pemberian Rana begitu saja. Terlebih pemuda itupun juga mengungkapkan terimakasih.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jam istirahat......
Seperti biasa Rana mengunjungi kelas Dean, tapi kali ini ia tengah duduk sambil bermain game dengan para anak kelas 1-2.
"Ran, loe main kesini Mulu, sana main sama teman sekelas loe" celetuk salah seorang murid kelas 1-2.
"Huft, gue dikucilkan disana, makanya cari tempat lain" jawab Rana begitu santai.
Semua murid kelas 1-2 tampak terdiam memandangi Rana yang fokus pada game diponselnya. Mereka mulai bertanya-tanya dalam pikiran apa yang sebenarnya terjadi di kelas itu. Kelas yang terkenal dengan banyak murid pandainya.
"Dikucilkan kenapa? Waah kan ada Ratu" sahut Alin.
"Mungkin karena gue terlalu cantik hahahaha" canda Rana.
"Bercanda loe gak lucu babiiii" sela Diva seraya menaruh dagunya di kepala Rana.
"Eh tapi beneran loe, tadi gue ke kelas 1-2, mereka lagi ngomongin Rana yang nggak-nggak. Massa loe di bilang cewek murahan anjir, berapa harga loe? Hahah bangsat" sahut Freya.
Semua orang iku tertawa termasuk Rana, entah sejak kapan gosip aneh itu tersebar. Namun Rana sudah terbiasa dengan perilaku tak menyenangkan sejak ia masih kecil. Mengingat kejadian masalalu membuat Rana terdiam ditempat, sebab itulah ia tak lagi memikirkan apapun. Menurutnya, pertemanan adalah kala dirinya merasa tak pernah takut dalam berucap maupun berperilaku didekat seseorang. Itu adalah pertemanan yang sesungguhnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pulang sekolah...
Lagi-lagi takdir membuat Rana dan Dean berjalan bersama. Keduanya tampak begitu tenang tanpa ada pembicaraan. Meski sesekali Rana mencoba melirik ke arah Dean yang fokus hanya pada jalanan.
"Dean" panggil Rana lirih kala dirinya sampai di depan rumah.
"Hm .." dehem Dean yang ikut berhenti.
"Dean mau gak jadi pacar Rana?"
Hening......
Tak ada kata atau kalimat apapun setelah itu. Rana yang diam menunggu jawaban Dean, sedangkan pemuda itu hanya diam dengan wajah datarnya.
Tttiiiinnnn.....
Suara klakson sepeda motor membuyarkan lamunan mereka berdua. Dean menghela napasnya dan berpamitan pergi. Sedangkan Rana tertunduk lesuh masuk kedalam rumahnya. Gadis itu merebahkan tubuhnya diatas kasur, wajahnya masih memerah dengan detak jantung yang berdebar kencang. Ia teringat kembali pembicaraannya dengan Dean kemarin.
Flashback on...
Setelah Rana yang begitu terang-terangan mengutarakan rasa sukanya pada Dean.
"Ran, gue baru aja putus sebelum masuk sekolah. Dan gue mau fokus belajar untuk masuk Universitas. Kalau kita pacaran, itu hanya akan buat loe kecewa dan gue gak nyaman" jelas Dean.
Ran tersenyum kecil sebab ini pertama kalinya Dean mengatakan kalimat yang panjang. Bahkan perkataan itu sama sekali tak menyentuh telinga Rana sebab gadis itu terlalu sibuk bahagia.
"Loe dengar gue gak?" Imbuh Dean yang curiga dengan gerak-gerik gadis dihadapannya.
"Nggak dengar, loe ngomong apa? Ulangi lagi dong hehehe" jawab Rana yang ingin mengobrol lebih lama bersama Dean.
"Intinya kita itu gak mungkin"
Rana kembali tersenyum.
"Mungkin Dean, kita bisa belajar bersama untuk masuk Universitas. Gue juga mau kuliah, dapat beasiswa dan jadi lulusan terbaik. Itu semua harapan yang mungkin bica kita capai jika kita berusaha bukan?"
Dean terdiam tak bisa berkata-kata mendengar perkataan Rana. Ia berdehem lalu berpamitan pergi pulang kerumahnya.
Flashback off....
Rana membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah langit kamar. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dan pergi mandi lalu keluar untuk mencari makan malam. Usai menikmatinya makan malamnya, Rana berjalan seorang diri melewati malam menuju rumahnya.
"Sial, kenapa gelap banget" gerutu gadis itu lalu berbalik kembali ke arah keramaian. Ia mencoba mendial nomor Ratu, tapi sepertinya Ratu sangat sibuk.
Setelah termenung cukup lama, Ran memberanikan diri untuk melintasi jalanan yang sepi itu. Jika tidak segera pulang, hari akan semakin malam dan lebih berbahaya.
"Haiiii kaliaaannn Deaaan, Suhoo" teriak Rana begitu heboh kala melihat para pemuda keluar dari warnet yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Para pemuda itu menatap Rana dengan aneh, sebab gadis itu terlihat sangat bahagia. Mereka menunggu Rana yang berlari mendekat dengan ngos-ngosan.
"Kenapa loe Ran?" Tanya Suho.
"Anterin gue pulang, please ya ya" mohon Rana dengan pasrah.
Para pemuda itu menoleh ke arah jalanan sepi, lalu berpandangan sebelum tertawa terbahak-bahak.
"Diantar pacar loe nih, udah sana" canda Suho seraya mendorong Dean ke arah Rana.
"Ap..apa? Pa..pacar? Jadi gue diterima?" Cecar Rana antusias.
Dean memegangi tengkuk lehernya tak tau harus berkata apa. Suho dan yang lainnya masih tertawa, mereka juga meminta Dean segera mengantar Rana sebelum hari semakin larut.
Keputusan terakhir membuat Rana dan Dean berjalan bersama di malam hari. Gang yang sepi tentu membuat Rana sedikit khawatir, namun ada Dean di sampingnya. Rasa khawatir sedikit teralihkan oleh rasa senangnya. Untungnya rumah kos Rana tak berjarak begitu jauh, mereka sampai dalam waktu beberapa menit saja.
"Gue pulang dulu" ucap Dean. Langkahnya terhenti kala merasakan Rana memegangi tangannya.
"Jadi kita apa?"
"Hm..?"
"Iih nyebelin deh, gue diterima apa gak?"
"Iya"
Senyuman lebar terlihat sangat jelas diwajah Rana. Gadis itu menghentakkan kakinya kegirangan dan langsung mengeluarkan ponsel miliknya. Jujur saja, keduanya belum pernah bertukar kontak sebelumnya. Meski banyak yang menawari Rana nomor ponsel Dean, tapi gadis itu bertekad hanya akan menerimanya dari Dean langsung.
"Hm? Loe ?" Kata Dean keheranan lalu mengambil ponsel Rana dan mengetik nomornya.
"Iih kok masih loe gue, aku kamu sayang. Kan udah pacaran hehehe"
"Iya" jawab Dean cuek lalu memberikan ponsel Rana. Ia langsung meminta Rana untuk masuk sebab udara terasa dingin.
Hanya dengan satu kata saja Rana langsung menuruti permintaan Dean dan masuk kedalam kamar kosnya. Gadis itu terus tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Dean.
Setelah memastikan Rana masuk kedalam, Dean pun berjalan pergi menjauh. Ia melangkah perlahan sambil memikirkan apakah keputusannya ini benar. Tangannya mulai mengotak-atik ponsel sambil melihat sosmed seorang wanita, mantan pacar Dean yang sudah memiliki kekasih lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
Ayo, Boy!
Move on........
2023-10-12
0