Satu bulan berlalu sudah, hubungan Rana dan Dean berjalan dengan lancar. Tak ada lagi pertengkaran atau masalah apapun. Gerald juga sudah mendapatkan maaf dari Rana karena ramalan konyolnya.
Hari ini, seluruh murid tengah berkumpul di aula indoor. Mereka duduk dibarisan berdasarkan kelas masing-masing, barisan belakang adalah barisan untuk para anak baru.
Rana duduk di dekat Dean dan teman-temannya yang lain. Mereka mengambil barisan tengah agar tak terlalu mencolok jika berbuat sesuatu. Barisan paling belakang adalah yang paling berbahaya karena akan menjadi tempat pengawasan yang sempurna.
"Sayang, menurut kamu kenapa kita dipanggil kesini?" Tanya Rana yang sudah bergelayut manja dilengan Dean.
"Hm... Festival sekolah?"
"Waah benar, Minggu depan ya? Sayangku pintar hehehehe"
"Kamu belum minum obat ya?"
"Aaahhhhh sayang nyebeliiin" rengek Rana dengan bibir manyun.
Dean mulai berbincang dengan teman-temannya, begitu juga dengan Rana. Para murid sibuk sendiri sebab memiliki topik pembicaraan lain. Hingga beberapa menit berlalu, pintu akhirnya ditutup. Beberapa guru masuk dan berbaris diatas panggung, sisanya berjaga-jaga di sekitar murid memastikan jika para murid mendengarkan dengan baik.
Plakkk....
"Adduuh Pak Jo, sakit tauu" ucap Rana kesal.
"Geser ke barisan kursinya, ini batas untuk jalan, masuk barisan kelas kamu sana!!" Perintah Pak Jo pada Rana yang seenak jidatnya memindahkan tempat duduk.
Belum sempat gadis itu mengeluh, Pak Cipto datang dan menarik paksa kursi Rana ke barisan kelasnya. Teman-teman sekelas Rana hanya bisa tertawa kecil tanpa membantu apapun. Mereka tak mau berurusan dengan sang wali kelas.
Pak Wakil Kepala Sekolah memulai acara dengan pidato pembukaan. Beberapa hal beliau sampaikan namun banyak yang tak mendengarkan. Ini adalah waktu yang penting untuk para anak kelas dua belas sebab sebentar lagi akan melaksanakan ujian kelulusan.
Sekali lagi ketiga nama murid terbaik di setiap angkatan dipanggil untuk maju kedepan bersama wali kelas masing-masing. Pak Cipto sudah berdiri di samping Rana bahkan selama pidato pembukaan. Sepertinya Pak Cipto begitu antusias akan hal ini. Bahkan sikapnya membuat dirinya menjadi topik perbincangan beberapa murid.
"Bapak terlihat gugup" celetuk Rana selama perjalanan ke panggung.
"Ini pertama kalinya murid terbaik seangkatan berada di kelas Bapak" jelas Pak Cipto.
Rana tersenyum kecil, ia tak mengira Pak Cipto yang terkenal galak karena merupakan guru mapel matematika rupanya bisa gugup karena prestasi murid kelasnya. Langkah Rana tiba-tiba saja terhenti tepat di depan tangga sebelum menaiki panggung.
"Pak, apa Pak Cipto akan senang jika saya ikut lomba?"
"Tantu saja. Meski kalian semua adalah murid Bapak, namun Bapak akan lebih bahagia jika murid terbaik dari kelas Bapak ikut berpatisipasi juga. Impian setiap wali kelas, ingin muridnya selalu dikenang akan prestasinya agar menjadi contoh teladan yang baik, Rana"
Gadis itu tampak berpikir sejenak, ia menatap ke arah Pak Cipto yang tersenyum ramah untuk pertama kalinya. Para guru sudah meminta keduanya untuk segera naik sebab Pak Wakepsek sudah menunggu diatas panggung. Begitu ketiga murid terbaik berjejer beserta wali kelas mereka, kalimat selamat kembali terdengar dengan penyerahan piagam murid terbaik.
"Ketiga murid terbaik seangkatan ini akan kami latih dan asah lagi kemampuan mereka untuk diikut sertakan dalam lomba cerdas cermat. Selama lima tahun terakhir sekolah kita terus menduduki peringkat kedua, Bapak harap tahun ini kita bisa merebut kembali peringkat pertama tersebut" jelas Pak Wakepsek dengan harapan besar. Beliau melirik ke arah Rana yang sibuk memainkan piagamnya.
"Rana, jika kau menolak untuk berpartisipasi, tidak ada pilihan lain selain menjadikan peringkat kedua sebagai anggota lainnya" imbuh Pak Wapeksek.
Suara bisik-bisik kembali terdengar, kini mereka mulai menerka mencari alasan mengapa Rana tidak mau mengikuti lomba. Tentu saja rumor negatif cepat sekali menyebar dikalangan siswa. Rumos tak berdasar yang mengatakan jika Rana tidak secerdas itu dan semua ujiannya hanyalah omong kosong alias mencontek.
"Saya akan ikut berpartisipasi dalam perlombaan" jawaban Rana tentu mengejutkan semua orang termasuk para guru.
Usai Rana menyatakan keputusannya, Pak Wakepsek mengambil foto bersama dengan para murid terbaik beserta wali kelas masing-masing. Setelah itu mereka turun dari panggung dan kembali ke posisi masing-masing.
Acara pun berlanjut, Ketua OSIS mengambil alih untuk membawakan acara tersebut. Agenda berikutnya adalah pemilihan wajah baru untuk promosi sekolah. Biasanya murid yang menjadi wajah baru adalah murid kelas sepuluh dua laki-laki dan dua perempuan. Berdasarkan popularitas akan penampilan dan murid paling cerdas tentunya. Karena Rana dan Aiden sudah pasti menjadi wajah baru, setiap kelas harus mengirimkan dua perwakilan pasangan tercantik dan tertampan di kelas mereka.
Satu persatu peserta kelas sepuluh naik ke atas panggung dengan paksaan teman-teman mereka.
"Ah males banget" gumam Rana kesal.
"Kenapa?" Tanya Dean yang ikut berjalan maju bersamanya.
"Gimana kalau mereka semua tau kamu terus pada suka kamu, terus aku gimana?"
"Kamu kan pacarku"
"Tapi tetap saja Deaaan, ..hm..."
Bukannya berjalan ke panggung, Rana dan Dean malah berdebat dan sukses membuat mereka mendapatkan jeweran telinga dari Pak Jo. Keduanya pun berjalan kembali menuju panggung sebab sang MC sudah memanggil-manggil. Jika saja tidak ada hukuman bagi yang menolak, sepertinya mereka akan maju sesuai keinginan.
Rana dan Aiden mendapatkan tempat duduk di ujung karena sudah menjadi kandidat tetap yang akan menjadi wajah baru. Kini dua anggota lainnya akan dipilih berdasarkan pilihan para murid.
"Selamat ya Ran, loe emang hebat" ujar Aiden membuka pembicaraan.
"Selamat untuk apa?"
"Ikut lomba cerdas cermat, mengagumkan" puji Aiden seraya memandangi Rana dengan seksama.
Keduanya saling bertukar pandangan dan membeku sejenak sebelum saling melemparkan senyuman. Para murid yang salah fokus memperhatikan pasangan itu pasti mengira mereka adalah pasangan sungguhan. Sebab Rana dan Aiden terlihat serasi.
"Waah yang disana malah pacaran tuh" celetuk salah seorang murid yang langsung mengalihkan perhatian Rana dan Aiden yang tengah berbincang. Sepertinya mereka berdua terlalu asik mengobrol hingga tak menyadari tengah diperhatikan.
Senyuman lebar tak bisa disembunyikan oleh Aiden yang memang menyukai suasana ini. Ia terus berbicara sambil memperhatikan Rana dengan senyuman lebarnya. Bahkan keakraban keduanya membuat para wali kelas ikut berseteru di barisan belakang.
"Beraninya anak murid Pak Bono menggoda murid saya" gerutu Pak Cipto.
"Ahahah maaf ya Pak Cipto, Aiden memang suka Rana. Dia selalu saja mencari alasan untuk mengikuti Rana saat gadis itu melewati kelas kami" sahut Pak Bono yang mendengar ucapan Pak Cipto.
"Tak perlu minta maaf Pak Bono, toh Rana kan pacarnya Dean. Memang murid kelas saya berkarisma" sela Pak Jo yang ikut bergabung. Ketiga wali kelas itu sangat kekanakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
😁🤣🤣🤣🤣
si Author ni berjiwa muda..
atau..
mmg msh muda yaaa??? 😘🤩
2023-10-12
1