Bel pulang berbunyi, Dean bergegas keluar kelasnya dan menunggu di depan kelas Rana.
"Rana.." panggil Dean.
"Eh, ah, ka..kamu disini?"
"Kita harus...."
"Nanti chat ya, aku harus pergi, byee" sela Rana lalu berlari secepat yang ia bisa.
Dean ikut berlari mengejarnya, pemuda itu menarik tas Rana yang sedang menuju keluar sekolah.
"Berhenti atau kita putus" ancam Dean.
Hal itu sukses membuat langkah Rana terdiam mematung. Beberapa teman mereka mengejek sebab Rana sangat mudah diatur rupanya. Dean menarik tas gadis itu dan mengajaknya pergi untuk makan sesuatu.
Di kafe....
"Apa kau sedang menghindari ku?" Tembak Dean tanpa basa-basi.
Rana hanya diam dan menunduk tak bisa menjawab kebenaran itu.
"Hm... Baiklah, jika begini lebih baik kita putus saja. Toh kamu tidak mau berbicara denganku, terimakasih, aku pergi"
"Deaan, baiklah baiklah jangan seperti itu"
Mendengar perkataan Rana, Dean kembali duduk di kursinya dan duduk dengan posisi santai. Ia melipat kedua tangannya dan menunggu apa yang ingin kekasihnya katakan.
Rana tampak ragu, ia berusaha keras menyiapkan hatinya. Setelah cukup lama keheningan melanda mereka berdua, akhirnya gadis itu pun mulai angkat bicara.
"Begini, aku hanya, aku tidak mengerti Dean. Tapi jantungku terus berdetak kencang saat di dekatmu, aku pergi ke perawat sekolah dan beliau berkata aku hanya mencari alasan. Aku bahkan pergi ke dokter dan mereka memberiku vitamin. Tapi aku sungguh merasakannya, aku tidak bercanda"
Dean menghela napasnya panjang, ia menggelengkan kepala tak menyangka jika akan mendengar alasan konyol ini seumur hidupnya. Pemuda itu mulai menyantap makanannya, ia juga meminta Rana agar makan juga sebelum mereka pulang. Sesekali Dean melirik ke arah kekasihnya yang masih saja terlihat murung.
Gadis konyol, batin Dean.
Usai makan, Rana dan Dean pulang kerumah. Dean mengantarkan Rana pulang seperti biasanya. Sambil bergandengan tangan selama perjalanan menuju rumah kekasihnya.
"Apa jantungmu masih berdetak kencang?" Tanya Dean seraya memperhatikan wajah Rana dengan seksama.
"Hm... Dean, aku..." belum selesai Rana menyelesaikan ucapannya, Dean memeluknya erat. Pemuda itu menepuk-nepuk kepala Rana dan menjewer telinganya.
"Berhenti bersikap konyol seperti ini!! Bersikaplah seperti biasanya, kau ini, ya sudah aku pergi dulu" nasihat Dean lalu melepaskan pelukannya. Namun kali ini Rana yang memeluknya dengan lebih erat. Gadis itu bisa merasakan detak jantungnya yang berdebar semakin kencang, namun ada rasa nyaman dan bahagia yang baru saja Rana sadari. Ia menyukai detak jantung ini, membuatnya merasa jika Dean adalah seseorang yang spesial.
"Aku cinta kamu Dean, aku sangat menyukaimu" ucap Rana dengan senyumannya.
\====================
Esok harinya....
Dean sudah menunggu Rana di depan rumah gadis itu seperti biasanya.
"Hahaha, oe bro" sapa Ratu yang baru saja keluar rumahnya.
"Hm..."
"Pagiii semuanyaaa" teriak Rana yang hadir diantara keduanya. Ia menggandeng tangan Dean dan berjalan beriringan bersama dengan Ratu. Hari ini wajah ceria Rana sudah kembali, hal itu membuat Ratu maupun Dean merasa lega melihatnya.
Rana mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah gelang bertuliskan namanya dan nama Dean. Ia meminta Dean mengulurkan tangannya lalu memakaikan gelang bertuliskan nama Rana pada tangan pemuda itu. Sedangkan Rana memakai gelang bertuliskan nama Dean.
"Haruskah?" Tanya Dean.
"Hm... Iya pokoknya gak boleh di lepas titik, wajib dipakai" jawab Rana tegas.
Dean mengangguk dan kembali berjalan masuk kedalam sekolah bersama Rana serta Ratu.
Jam istirahat......
"Sayang" panggil Rana seraya memeluk Dean dari belakang.
Dean yang tengah bermain game bersama teman-temannya tak mempedulikan kekasihnya yang tengah manja saat itu. Meski Rana terus mengganggu, namun Dean sudah terbiasa dan masih terus memainkan game diponselnya.
"Yah yah, hot news, hot news" teriak salah seorang siswi yang baru saja memasuki kelas. Spontan seluruh para siswi lainnya berkerumun untuk mendengarkan berita terbaru tersebut. Rana yang merasa diacuhkan oleh Dean pun ikut nimbrung diantara mereka.
Rupanya hot news yang tengah dibicarakan adalah mengenai perundungan yang terjadi dikelas 1-8. Sebenarnya beberapa dari mereka juga tau akan hal tersebut, namun mereka semua memilih diam karena tak ingin ikut campur. Terlebih perundung itu merupakan anak yang berasal dari keluarga kaya. Kini perundungan itu sudah terdengar oleh pihak sekolah dan tengah dilakukan penyelidikan. Namun untuk sementara, entah bagaimana kisahnya dibuat, namun korban perundungan itu malah menjadi pelaku kekerasan.
"Kok bisa gitu? Itu gak adil" celetuk Rana kesal.
"Mana gue tau, gue dengar para murid kelas delapan gak ada yang mau jadi saksi. Mereka bungkam seolah diancam" jelas siswi pembawa berita itu dengan mendramatisir suasananya.
Rana tampak berpikir sejenak, ia sepertinya ingat pernah melihat perundungan itu secara langsung saat bersembunyi dari Dean. Ah tidak, dia hanya mendengarnya saja tak melihat sepenuhnya. Namun sejauh apa yang ia dengar, ini adalah salah, memutarbalikkan fakta itu tidak benar.
"Mau kemana? Nih gue beliin es krim" ujar Ratu menahan tangan Rana yang hendak keluar kelas.
"Ke ruang guru" jawab Rana begitu lugas.
"Gila loe, mau ngapain ha? Gak perlu ikut campur, jangan coba-coba ya" teriak Bela kesal.
"Tapi gue mau jadi saksi, gue dengar mereka berkata kasar dikamar mandi"
"Cukup!!! Gak, loe gak perlu ikut campur. Gak akan gue biarin loe kesana, Rana!!" Bentak Alin seraya mencengkram tangan sahabatnya itu.
Rana tampak meringis kesakitan karena cengkraman Alin, Ratu berusaha memahami situasinya. Ia melerai perdebatan ini, bahkan para murid kini tengah memperhatikan mereka.
"Ada apa? Kenapa kalian bertengkar?" Tanya Suho yang kehilangan fokus.
Para siswi tak ada yang mau berbicara, mereka memilih diam dan kembali memperingatkan Rana agar tak mencari masalah. Namun gadis keras kepala itu masih berusaha mencari alasan untuk membenarkan tindakannya.
"Bagaimana jika kalian ada diposisi dia?"
Satu pertanyaan dari Rana yang membuat semua orang bungkam seribu bahasa. Meski tak diterima, Rana akan mencoba membantu sebisanya. Ia tak suka melihat hal seperti ini, disaat ia bisa membantu namun keadaan memintanya bungkam hanya karena takut.
"Tidak Rana" celetuk Ratu mencegah Rana pergi.
"Loe juga? Kenapa? Ini tidak benar"
"Apapun yang loe katakan hanya akan memperburuk suasana. Harus ada bukti dulu agar tak jadi fitnah, jangan gegabah"
Alin dan Bela menggaruk kepala mereka yang tak gatal. Jika sudah begini, ambisi Rana akan semakin besar. Mau tidak mau mereka pasti ikut terlibat karena tak ingin mihat Rana terluka.
"Waah ada apa sih? Kenapa suasana mencekam gini?" Sela Suho kembali mencari tahu. Untungnya bel masuk membuyarkan perdebatan ini dan membuat mereka kembali ke kelas masing-masing. Meski begitu, Rana masih tak bisa tenang karena hatinya yang memaksa untuk pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments