Akhir Pekan...
Di tempat Karaoke...
Lagi dan lagi Rana harus menerima kenyataan pahit tak bisa berkencan dengan Dean di akhir pekan. Niat hati ingin menghabiskan waktu berdua, namun teman-teman mereka memilih ikut bergabung merayakan bebasnya dari ujian yang berjalan sepekan terakhir.
Mereka memilih pergi ke pusat kota untuk berkaraoke. Sebab tempat itu sudah begitu terkenal dan mereka ingin mendatanginya bersama.
"Mau kemana Ran?" Tanya Ratu pada Rana yang beranjak dari sofa.
"Kamar mandi" jawab gadis itu tergesa-gesa. Ia segera keluar secepat kilat karena sudah tak tahan lagi.
Dean, Suho dan Alin sedang berada diluar ruangan untuk membeli camilan. Mereka membawa banyak makanan dan minuman ditangan masing-masing.
Bbukkkk....
"Sorry" ucap seorang wanita yang tak sengaja menabrak Dean. Wanita itu menahan tangan Dean yang hendak pergi, ia memperhatikan wajah pemuda itu dengan seksama.
Dean menarik tangannya dengan kasar lalu menatap gadis itu tajam.
"Dean, ini aku Artha, teman TK kamu. Wah kamu gak berubah ya, aku langsung bisa ngenalin kamu loh" kelas Arta kegirangan. Ia begitu ceria hingga tanpa sadar kembali menggenggam pakaian Dean erat.
Reaksi berbeda yang ditunjukkan oleh Dean, ia mencoba mengingat seperti apa Artha dahulu. Perlahan bayangan gadis kecil yang gemuk terlintas, gadis kecil yang selalu menangis sendirian.
"Oh, sorry gak ngenalin. Apa kabar? Kita hilang kontak setelah gue pindah rumah ya"
"Iya, aku coba hubungin kamu tau gak, sedih banget kamu gak hubungin aku lagi. Selama gak ada kamu, aku jadi kesusahan buat dekat sama anak lain. Aku kangen banget sama kamu" jelas Artha dengan air mata menetes. Ia mencoba meraih Dean untuk mendekat lalu memeluknya.
Suho dan Alin menghentikan langkah mereka melihat Dean berpelukan dengan wanita lain. Keduanya saling berpandangan dengan keringat menetes. Ini adegan berbahaya jika Rana melihat semuanya.
"Kalian lagi apa?" Tanya seseorang yang sukses membuat raut wajah Suho maupun Alin pucat. Rana mengedarkan pandangannya mencari sosok Dean, ia ikut terdiam melihat Dean yang membalas pelukan Artha.
Entah apa yang ada dalam pikiran Rana, ia menghampiri Dean dan Artha dengan raut wajah seperti biasanya.
"Kenapa kalian pelukan?" Celetuk Rana yang membuat Artha tersentak dan melepaskan pelukannya pada Dean.
"Dia teman lamaku, kami baru bertemu kembali" jelas Dean dengan santai.
"Eh, maaf, gue gak tau kalau Dean udah punya pacar. Sorry-sorry, kalau gitu aku pergi dulu ya Dean, byee" pamita Artha berlalu pergi.
"Kalau lama gak ketemu emang boleh pelukan?" Seru Rana lagi.
Dean menatap wajah Rana dengan dahi mengkerut, ia tak tau kemana Rana menggiring opini ini. Namun dengan santai Dean mengiyakan pertanyaan Rana. Gadis itu masih tak puas, ia menanyakan sedekat apa hubungan Dean dan Artha. Hingga akhirnya Dean merasa kesal dengan semua pertanyaan Rana.
"Kamu juga punya teman cowok kan? Aku gak pernah larang kamu dekat mereka kan? Kenapa kamu sampai kayak gini, gak percaya sama aku?"
"Hm... Apa? Kok jadi bahas teman cowok aku?"
"Kalau gak percaya putus aja" sentak Dean kemudian pergi masuk kedalam ruangan.
Suho mengambil belanjaan ditangan Alin, lalu menggerakkan dagunya agar gadis itu menghampiri Rana. Sepertinya Rana terpukul karena perkataan Dean, sebab ia hanya diam mematung ditempat. Alin mencoba menenangkan Rana, memintanya untuk berpikir dengan seksama sebelum bertindak.
Beberapa menit keduanya berdiri di depan ruangan, mereka akhirnya memutuskan untuk masuk dan melanjutkan acara. Para teman mereka yang lain tak mengerti situasinya, mereka masih asik melepas penat. Namun tingkah Rana jelas terlihat jika ada sesuatu yang mengusik dirinya.
Usai dari tempat karaoke, mereka berpisah dan melanjutkan kegiatan masing-masing. Para pemuda sudah janjian akan pergi ke warnet untuk bermain game bersama.
"Dean, loe mending anterin Rana aja deh. Gak usah ikut kita" saran Suho.
"Apa'an? Pacaran mulu, sekali-kali waktunya buat teman lah. Boleh kan Nona Rana?" Sahut Felix.
"Gue duluan ya, gue bisa pulang sendiri kok" jawab Rana lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Beberapa teman mereka berpikir jika Rana memiliki urusan mendesak. Namun tidak dengan Suho dan Alin yang tau kejadian tak menyenangkan tersebut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di warnet....
Dean dan teman-temannya tengah bermain game seperti biasa. Mereka begitu berisik saat bermain game di PC.
"Cewek tadi siapa?" Celetuk Suho membuka pembicaraan.
"Cewek mana anjing, sial" sahut Gerald.
"Mana yang mana cewek? Arggh bangsaat maju maju lindungi gue" timpal Felix.
"Woy Dean, cewek yang loe peluk di tempat karaoke tadi siapa bangsat" teriak Suho.
Tiba-tiba saja suasana menjadi hening sesaat sebelum mereka tersadar musuh kembali menyerang. Seperti biasa Dean menjelaskan dengan sangat santai dan terkesan tak peduli pada apa yang terjadi. Meski Dean menganggap semuanya biasa, namun kini pemuda itu sudah berkencan dengan Rana dan pasti hal itu jelas akan menyakiti perasaan Rana.
Terlebih tak ada penjelasan lebih lanjut dan malah adanya kata putus. Suho meminta Dean untuk menghubungi Rana dan memperbaiki hubungan mereka secepat mungkin.
"Gue setuju pacaran kan niatnya emang mau putus. Biarin lah gue gak peduli" kata Dean cuek. Ia kembali fokus pada permainannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Esok hari tiba....
Rana tak lagi berangkat bersama Dean, ia berangkat berdua dengan Ratu seperti sebelumnya. Bahkan sejak saat di tempat karaoke, Rana tak lagi mengirim pesan pada Dean. Meski hal itu sebenarnya sedikit mengusik pikiran Dean. Sebab biasanya Rana terus mengirim pesan bahkan untuk hal yang tak penting sekalipun.
Sikap Rana kembali menjadi aneh, meski ia tak mengatakan apapun. Teman-teman nya juga mulai merasa ada kejanggalan. Rana tak lagi menghampiri Dean dan bahkan terus menghindari pemuda itu. Hal ini tidak berlangsung selama satu dua hari, namun sudah dua pekan lamanya. Teman-teman Rana mencoba mencari tahu, tapi gadis itu memilih menghindar dengan mengalihkan setiap topik pembicaraan.
Dua pekan kemudian.....
Hari ini Rana tak bisa berangkat bersama dengan Ratu sebab gadis itu harus pergi ke tempat latihan lebih dulu. Rana menunggu bus di halte sambil memainkan ponselnya. Ia bahkan tak menyadari jika Dean melintas dihadapannya.
Begitu bus tiba, Rana langsung masuk kedalam dan duduk di tempat yang kosong. Ia terus memandangi ke arah jalanan yang ramai dengan kendaraan bermotor. Seperti biasa bus berhenti di beberapa halte sebelum berhenti dihalte sekolah Rana.
"Nenek duduk sini" tawar Rana lalu berdiri dari duduknya. Ia berdiri di samping sang nenek dan berpegangan pada kursi.
Beberapa penumpang tampak kesal sebab bus terasa begitu sesak. Mereka harus berdempetan dan mengomel meminta supir agar tak lagi memasukkan penumpang sebab bus sudah sangat penuh.
Rana merasa tak nyaman jika terus berdesakan seperti ini, ia tak suka berdempetan dengan banyak orang apalagi harus bersentuhan seluruh tubuh.
"Selamat pagi Nona Rana" sapa seseorang dengan ceria dari belakang Rana.
"Hm .. si..siapa ya?" Gumam Rana merasa asing dengan wajah yang begitu dekat dengannya. Ia melihat tangan pemuda itu yang mengunci dirinya, seolah menjadi benteng agar Rana tak berdesakan dengan banyak orang. Tangan pemuda itu berpegang pada tiang didalam bus, dan yang satu lagi berpegangan pada handle diatas.
"Aiden dari kelas 1-1" jawab pemuda itu dengan ceria.
"Oohh, selamat pagi. Ramai ya pagi ini, jadi berdesakan begini"
Aiden berdehem dan kembali tersenyum lebar. Matanya tak bisa lepas dari sosok wanita dihadapannya ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
syokorinnnn
dean, sainganmu muncul..
ayo semangat Aiden!!!!!
2023-10-12
0