Rana menatap tajam ke arah Dean dan Suho yang tengah merokok. Ia menjaga jarak sebab tak bisa terlalu dekat dengan orang yang merokok. Suho mematikan rokoknya dan juga mematikan rokok Dean. Setelah beberapa saat barulah Rana mendekati mereka berdua.
"Rokok itu tidak baik sayang, berhenti merokok ya"
"Buahahahah, mustahil Ran" sela Suho dengan tawa lebarnya.
"Siapa bilang mustahil? Pasti bisa kok, kalian gak laper? Gue belum sarapan nih" ujar Rana memegangi perutnya.
Suho kembali tertawa dan mengajak Rana untuk ikut bersama mereka. Setelah menjenguk dirumah sakit, mereka sudah memiliki tempat tujuan lain untuk makan siang. Rana bergelayut manja di lengan Dean selama perjalanan menuju tempat selanjutnya. Kali ini Dean membiarkan hal tersebut.
"Katanya makan, kok ketempat karaoke?" Gerutu Rana kala mereka berdiri di depan pintu masuk.
Teman-teman wanita Dean menggandeng Rana untuk masuk, mereka juga berpesan agar para pria membelikan makanan yang enak. Mereka memang suka pergi ke tempat karaoke bersama sejak SMP. Lebih menyenangkan makan dan bernyanyi untuk menghibur diri.
Rana memahami situasinya, ia pun ikut menikmati pesta karaoke ini. Salah seorang dari mereka mengeluarkan kartu untuk bermain. Sekali lagi Rana dibuat takjub dengan semuanya, sebab saat SMP Rana jarang ke tempat karaoke. Ia terlalu sibuk belajar karena Mamanya akan mengomel jika Rana bolos les. Hal itu juga menjadi alasan Rana sangat suka bermain game di komputernya, sebab itu tak menghabiskan banyak waktu bila diluar rumah.
Tak berselang lama, para pemuda lainnya datang dengan banyak makanan. Fokus mereka langsung beralih pada makanan dan minuman yang ada. Selepas makan, mereka kembali bernyanyi dan bermain game. Dean juga sibuk bermain game di ponselnya, ia bahkan tak sadar Rana sudah tak lagi ada di dekatnya.
"Jadi gimana Ran?" Celetuk seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Rana.
Gadis itu terkejut dan kembali memilih minuman dari mesin minuman.
"Gimana apanya Ho?" Tanya Rana yang tak mengerti maksud ucapan Suho.
"Tuduhan pencurian, gue dan Dean dengar semuanya. Loe gak salah Ran, kenapa harus menerima semua hinaan itu?"
Rana menghela napasnya dan duduk di kursi yang ada disana. Ia termenung menatap langit-langit seraya memainkan kaleng minuman. Dilihatnya Suho yang juga meminum minumannya seraya memperhatikan Rana dengan seksama.
"Menurut loe, gue harus gimana?"
"Kasih tau aja ke guru dan yang lain, loe gak punya hak buat nanggung konsekuensi dari apa yang tidak loe lakuin"
"Kalian ngapain disini?" Celetuk Dean yang datang menghampiri. Ia duduk di samping Rana yang terlihat gelisah.
Suho yang peka akan situasinya pun memilih pergi masuk kedalam. Rana mulai bergelayut manja dilengan Dean lagi, wajah murungnya jelas terlihat. Akhirnya Dean memutuskan untuk mengajak Rana pulang saat itu, mereka pergi lebih awal daripada yang lainnya.
Selama perjalanan pulang pun Rana masih murung meski terlihat bermanja pada Dean. Tak sekalipun Rana lepaskan genggaman tangan kekasihnya hingga ia pulang ke rumah.
"Ran" panggil Dean kala Rana hendak memasuki rumahnya.
"Iya sayang?"
"Lakukan apa yang menurut kamu benar, dan jangan sampai kamu merasa tak nyaman dengan pilihanmu. Aahhh, aku pergi ya, bye"
"Heheh iya, nanti chat ya, byeee hati-hati sayaaang"
Rana masuk kedalam rumahnya dan berbaring diatas tempat tidur. Ia menatap ponselnya dan kembali merenungi semuanya. Entah pilihan apa yang harus ia ambil, disatu sisi ia tak tega bila harus melaporkan ketua kelas. Tangan Rana seolah bergerak menuruti kata hatinya, membuka mobile banking untuk mengecek saldo ditabungannya. Setelah berpikir cukup lama, ia pun meyakinkan diri dan beranjak pergi keluar rumah.
"Sayang, kamu masih disini?" Ujar Rana kala mendapati Dean berdiri di depan pagar rumah.
"Sangat mudah ditebak, aku temani kamu pergi"
"Begitukah? Hehehe, terimakasih Dean"
"Kau terlalu baik"
Dean sebenarnya sudah pulang kerumah, namun ia hendak pergi lagi untuk membeli sesuatu. Kala melintasi rumah Rana, ia terdiam sesaat sebelum mendengar langkah tergesa kekasihnya menuruni tangga. Saat itu Dean sudah tau apa yang Rana pikirkan mengenai pilihannya.
Setelah dari ATM untuk mengambil uang, Rana dan Dean kembali berkencan. Mereka hanya singgah sesaat di kafe untuk memakan kue dan minum-minuman segar.
"Kau pakai semua uang tabunganmu? Katakan yang sebenarnya pada wali kelasmu"
"Hm... Dia bilang akan diganti jika punya uang, bagaimana bisa aku bilang nanti Pak Cipto, hm... Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku bilang, aku bisa menerima hinaan mereka Dean, namun sepertinya ketua kelas akan terluka jika berada diposisi ku"
Penjelasan Rana membuat Dean tak bisa memahami pemikiran gadis itu. Tentu saja ketua kelas harus terluka sebagai balasan atas apa yang dilakukannya. Tetapi tak seharusnya Rana terluka atas apa yang tak ia lakukan. Satu hal yang Dean tau, kekasihnya terlalu baik dan terlalu memikirkan orang lain. Jika Dean ada diposisi Rana, ia akan langsung melawan tanpa belas kasihan, itu hal wajar dan setimpal.
"Memang kau tidak terluka?"
"Aku? Hm.... Aku sudah terbiasa, dulu aku juga sering dirundung hehehehe, jadi males aja nanggepin hal gak guna"
"Hm... Baiklah"
Rana memang tampak ceria kembali usai mendengar kenyataannya. Ia tak lagi murung dan senyumannya lebih lebar dari biasanya. Entah karena semua masalah sudah ada titik terang, atau karena kencan bersama Dean seharian ini. Hanya Rana yang tau darimana datangnya bahagia itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari berganti....
Dean terlihat berdiri di depan pintu utama kelasnya, sambil melihat ke dalam kelas Rana melalui pintu belakang. Ia mencari sosok kekasihnya yang tak kunjung keluar saat jam makan siang. Setelah lama mencari, tiba-tiba Rana muncul dari balik pintu dan mengagetkan Dean.
"Huaa, ngapain kamu disini sayang?" Tanya Rana sedikit terkejut.
"Aku ikut" ucap Dean sembari melihat amplop tebal di tangan kekasihnya.
Rana menggeleng dan menolak, ia ingin menyerahkannya seorang diri. Namun Dean tak peduli dan masih mengikuti Rana hingga masuk keruang guru. Rupanya Dean lebih keras kepala dari yang Rana pikirkan.
Begitu masuk keruang guru, Rana dan Dean berjalan perlahan menghampiri Pak Cipto yang tengah berbincang dengan ketua kelas. Pak Ciptop tampak marah, ketua kelas juga terlihat menangis.
"Ngapain kalian disini? Sana keluar!!" Usir Pak Jo yang ada di samping Pak Cipto.
"A..anu pak, i..ini uang karyawisata kelas 1-3" ucap Rana dengan hati-hati.
Semua mata menatap ke arahnya, Pak Ciptop bahkan sampai berdiri dari kursinya. Ruang guru dikunci tiba-tiba hingga membuat semua yang ada didalam berkumpul untuk membahas masalah ini. Memang masalah pencurian sudah tersebar ke telinga para guru dan murid-murid kelas lain.
"Ini uang darimana Rana?" Tanya Pak Cipto menyelidik. Beliau mendudukkan Rana dikursi dan mengintrogasi nya bersama dengan Katua kelas. Sedangkan Dean ditarik menjauh oleh Pak Jo.
"Kenapa kau ikut-ikut Dean?" Tanya Pak Jo penasaran.
"Kebetulan saya ada disana pak"
"Hahaha salah satunya pacar kamu ya" goda Pak Jo.
Dean tak peduli dan kembali menatap lurus ke arah meja Pak Cipto.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments