Rana terlihat gelisah sepanjang hari, karena itulah ia mendapatkan hukuman berlari mengelilingi lapangan saat jam pelajaran olahraga. Beberapa murid yang kelasnya dapat melihat lapangan, mereka menontonnya dengan penuh tanda tanya. Bahkan sampai jam istirahat makan siang, Rana masih terus menjalankan hukumannya.
"Eh Den, loe udah tau alasan Rana dihukum?" Tanya salah seorang teman Aiden.
"Katanya dia gak fokus seharian ini, kenapa ya? Apa sakit? Seandainya bisa, gue mau gantiin dia dihukum" jelas Aiden. Matanya tak sengaja berpapasan dengan Dean yang baru saja keluar dari toko makanan ringan.
"Bukannya dia pacar Rana?"
"Gue harap mereka putus"
Dean tak peduli pada apa yang murid lain katakan, ia masih saja sibuk memainkan game diponselnya seolah tak ada yang terjadi. Suho menjadi geram sendiri saat mendengar para murid berbicara tentang Rana. Baru saja satu rumor lepas, rumor lain mulai datang menyebar.
Ratu, Bela, Alin, Diva dan Freya menunggu Rana di tepi lapangan dengan makanan dan minuman. Mereka bahkan menawarkan diri untuk menggantikan hukuman Rana. Tapi gadis keras kepala itu tak mau mendengarkan siapapun, ia terus berlari meski napasnya terengah-engah. Hingga putaran terakhir dari hukumannya, Rana berjalan mendekati teman-temannya. Mereka mulai mengomel tak karuan karena sikap bodoh Rana.
"Lupain Dean, cari yang lain sana!!" Sentak Alin kesal.
"Tau loe, kayak cowok cuma dia, sama anak kelas satu tuh yang suka nyapa loe. Dia kan ganteng, peringkat dua pula seangkatan kita" imbuh Freya.
"Seandainya bisa, tapi gue sesuka itu sama Dean. Hehehe" jawab Rana dengan senyum cerianya.
Ratu berdiri dan menepuk pundak Rana, "Benar, menyerahlah karena kemuan loe sendiri agar tak menyesal nantinya. Itu baru Rana yang kita kenal"
Alin dan Bela menghela napasnya panjang, selalu saja Ratu ada dipihak Rana. Padahal jelas gadis itu akan terluka karena sikap keras kepala dan pantang menyerahnya. Diva dan Freya yang baru mengenal Rana merasa salut serta memberikannya tepuk tangan.
Mereka semua bangun dari tempat duduk dan bergegas menuju kelas sebab bel sudah berbunyi. Rana berjalan perlahan menaiki tangga, kakinya masih terasa pegal karena berlari.
"Aahhh" teriak Rana yang terpeleset.
Happ....
Semua orang yang ada disekitar gadis itu terdiam, seolah waktu menghentikan aktivitas mereka semua. Bahkan Rana hanya bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdebar kencang. Entah ini karena baru saja selesai lari atau karena hal lain. Dean menahan tangannya seraya memandangi dirinya. Namun sayangnya tubuh Rana juga tertahan oleh Aiden yang kebetulan ada didekatnya.
"Ehem... Cinta segitiga nih" celetuk Suho menyadarkan mereka semua.
Dean melepas genggamannya dan membiarkan Rana terjatuh dalam dekapan Aiden.
"Loe gak apa-apa Ran? Ada yang sakit?" Tanya Aiden seraya membantu posisi Rana berdiri kembali.
"Makanya fokus" ketus Dean lalu pergi bersama teman-temannya.
"Ahahah makasih ya, maaf selalu merepotkan" ujar Rana lalu pergi menghampiri teman-temannya.
Teman-teman Rana terlihat begitu antusias tentang kedekatan Rana dan Aiden. Pemuda itu lebih baik dilihat dari sisi manapun dibandingkan Dean. Namun sayangnya hati Rana sudah menentukan pilihan, rasanya sulit bila harus berpaling saat masih ada kesempatan. Celah yang ia buat sendiri dalam pikirannya.
\==================================
Teng Tong Teng....
Panggilan untuk Rana dari kelas 1-3, Yuda dari kelas 2-5 dan Viola dari kelas 1-1 harap menuju ruang guru sekarang...
Beberapa guru melihat ke arah pintu usai mendengar panggilan tersebut. Rupanya perlombaan cerdas cermat sudah akan dimulai. Pak Jo berjalan ke arah pintu, untuk menemui Rana yang hendak pergi keruang guru. Sebenarnya semua guru sedikit khawatir sebab Rana selalu menolak ikut lomba cerdas cermat sejak gadis itu duduk dibangku kelas 6 SD. Padahal Rana sangat pandai, ini adalah sebuah misteri.
"Rana" panggil Pak Jo.
"Halo Pak"
"Kaki kamu kenapa?"
"Habis dihukum tadi, ada apa Pak?"
"Pak Jo, kenapa menghentikan Rana. Sudah urus saja murid kelas Bapak, ayo Rana kita keruang guru" sela Pak Cipto yang tiba-tiba muncul dari pintu kelas 1-1.
Rana pun pergi bersama Pak Cipto menuju ruang guru. Sedangkan Pak Jo tampak murung kala masuk ke kelasnya. Seluruh murid kelasnya mulai menggoda sebab mereka melihat dan mendengar jika Pak Jo kalah telak oleh Pak Cipto.
"Kalian benar, seandainya Rana ada dikelas ini Bapak bahkan tidak akan melihat absen kalian"
"Uuuhhh kejaaammm"
"Baperr nih Yee"
"Sensi banget sih Bapak"
\==========================
Diruang guru...
Para murid yang dipanggil sudah berkumpul, ini bukan pertama kalinya untuk Viola dan Yuda. Tetapi ini adalah kesempatan pertama bagi Rana.
"Rana, sebagai peringkat terbaik diantara kelas sepuluh, sekolah menunjuk kamu untuk menjadi perwakilan dalam lomba cerdas cermat bersama dua senior kamu ini" jelas Pak Wakepsek.
"Saya menolak, saya harus kembali ke kelas karena saya tidak akan merubah pernyataan saya apapun alasannya. Saya permisi Pak" ucap Rana lalu pergi meninggalkan ruang guru.
Para guru tak ada yang menahannya, sebab seolah ada aura canggung kala mereka semua berkumpul menjadi satu. Rana menghela napasnya perlahan, ia kembali ke kelasnya secepat yang ia bisa.
"Rana tunggu" panggil seseorang menahan tangan Rana.
Gadis itu tak menoleh, ia menarik tangannya dan kembali berjalan.
"Rana, bukannya kamu suka ikut lomba cerdas cermat sejak kecil?"
"Itu dulu"
"Tapi kenapa? Padahal kamu sesuka itu, kenapa tiba-tiba kamu menolak? Apa karena aku?"
Langkah Rana terhenti dengan wajah memerah, ia berbalik memandangi gadis cantik berambut panjang di hadapannya. Wajah yang sudah lama tak Rana lihat sejak ia lulus SD.
"Iya, gara-gara Kak Viola gue benci semua perlombaan yang berhubungan dengan kecerdasan"
"Aku minta maaf, aku ... waktu itu aku sangat marah dan..."
"Gue harus pergi ke kelas" tutur Rana lalu pergi masuk kedalam kelasnya.
Beberapa murid kelas Rana masih memandangi ke arah Viola, begitu juga dengan para murid kelas 1-2 yang langsung tak fokus kala mihat Viola melintasi kelas mereka. Gedung untuk kelas sepuluh, sebelas dan dua belas memang berbeda. Mereka bahkan memiliki kantin sendiri di masing-masing gedung sehingga jarang bertemu. Mungkin saat ada acara besar barulah mereka bisa melihat satu sama lain.
Kini fokus hanya tertuju pada kecantikan Viola. Gadis itu melihat kelas disamping kelas Rana, lalu menatap setiap murid yang ada di kelas tersebut. Tatapannya tertuju pada Dean yang tengah fokus mencatat.
"Weh Weh, Kak Viola lihatin Dean tuh" celetuk salah seorang murid.
"Anjir si Dean udah punya gebetan baru nih"
"Kasihan banget Rana, patas hati ini mah. Mana bisa dia dibandingkan dengan Dewi SHS broo"
Para siswa mulai mengoceh yang tidak-tidak, Pak Jo harus memukul satu persatu agar mereka semua diam dan kembali fokus. Sedangkan Dean masih saja tak peduli dengan sekitarnya, ia hanya terus mencatat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments