Begitu bel pulang sekolah, seluruh murid berhamburan keluar. Ada beberapa yang masih tinggal untuk mengobrol tentunya. Begitu juga dengan kelas 1-2 yang masih ramai. Tak hanya di dalam kelas, namun diluar kelas mereka juga sangat ramai sebab ada seseorang yang datang ke dalam kelas 1-2, empat Dewi SHS yang berkumpul disana.
"Kak Viola sekolah disini? Waah baru lihat gue" celetuk Ratu.
"Ratu juga disini, Rana mana? Udah pulang?"
"Iya, dijemput Mamanya, pasti dimarahin lagi karena nolak ikutan lomba"
Viola mengangguk mengerti, ia mengambil salah satu kursi kosong dan menariknya di dekat meja Dean. Gadis itu duduk sambil melipat tangannya menatap Dean yang hendak beranjak pergi.
"Gue gak mau basa-basi, katakan apa yang buat Rana suka sama loe?" Tembak Viola secara langsung.
Tentu saja teman-teman Dean diam membisu tak mengerti. Tapi tidak dengan Ratu yang tertawa mendengar hal itu. Alin dan Bela menarik Ratu menjauh, mereka ingin tau kenapa Viola menanyakan tentang Rana.
"Gue gak tau" jawab Dean lalu pergi dari bangkunya.
Viola ikut berdiri dan menghadang jalan Dean, para murid yang ada diluar kelas heboh tanpa sebab. Sayangnya hal itu tak membuat kedua muda mudi ini merasa risih, seolah mereka sudah terbiasa.
"Katakan!!!"
"Gue gak tau!!"
"Ash sial, apa yang ada dalam diri loe dan gak ada dalam diri gue? Kenapa Rana sesuka itu sama loe? Kenapa?" Gusar Viola frustasi. Ia menghela napasnya kasar dan berpaling pergi ke arah pintu keluar.
"Kak gue tau" teriak Ratu.
Viola langsung berhenti dan menatap ke arah Ratu dengan penuh harapan.
"Apa ? Katakan!!"
"Karena Dean cowok, Kak Viola kan cewek makanya Rana gak suka Kakak hehehe" canda Ratu.
Sayangnya candaan itu membuat raut wajah Viola berubah, ia tak bisa menerima kenyataan jika kini Rana tak menyukainya. Viola akhirnya memutuskan untuk pergi keluar kelas bersama teman-temannya. Padahal teman-teman Viola sudah mengatakan jika Rana pasti akan suka Viola apa adanya, hanya butuh sedikit usaha agar hubungan mereka kembali seperti dulu.
\=======================
Dean dan teman-temannya tak terlalu penasaran dengan hubungan kedua gadis itu. Kini mereka tengah berjalan menuju rumah Dean sebelum pergi ke warnet bersama. Dari kejauhan mereka melihat Rana yang tengah membungkuk ke sebuah mobil di hadapannya.
"Waaah, si Rana anak orang tajir ya" celetuk Felix.
"Gue masih merasa bersalah, gue harus minta maaf" sahut Gerald.
Mereka segera berlari menghampiri Rana dan memanggilnya sebelum gadis itu masuk kedalam rumah.
"Kalian mau kemana?" Tanya Rana.
"Warnet, mau nge-game, ikut? Go go!!" Ajak Suho.
"Go" balas Rana lalu ikut berjalan bersama mereka usai menutup pintu gerbang.
Entah ini kesalahan atau apa, tapi rasanya begitu canggung sebab tak ada topik obrolan yang dibahas. Mereka semua hanya diam begitu juga dengan Rana yang berjalan lebih dulu di depan mereka. Dean memperhatikan punggung Rana yang tampak menyedihkan, ia rasa ini pertama kalinya ia melihat gadis itu dari belakang dalam waktu yang lama.
"Dean" panggil Rana tiba-tiba.
"Hm...."
"Apa tidak bisa jika kita tidak putus? Kenapa harus putus?"
Tak ada jawaban dari Dean, Gerald mengikuti lengan Dean agar berbicara, namun pemuda itu tetap diam membisu.
"Uwaahhh" ketiga pemuda itu terkejut kala Rana tiba-tiba berbalik ke arah mereka.
"Tapi Rana masih suka Dean, gimana dong? Susah buat berhenti, karena sesuka itu. Iya karena sesuka itu, kenapa harus berhenti menyukai tanpa alasan? Apa hanya karena pernah dikecewakan? Apa rasa sakit itu sebanding dengan kebahagiaan yang akan didapatkan saat rasa suka itu terus berlanjut?"
Para pemuda itu tak mengerti apa yang sedang Rana bicarakan, namun gadis itu terlihat sedih. Sayangnya itu hanya sesaat sebab detik kemudian ia kembali ceria. Mereka sudah sampai di depan warnet, namun Dean menahan Rana yang hendak masuk, ia ingin mereka berbincang berdua.
"Apa kamu tidak ikut lomba karena aku?"
"Tidak, bukan karena kamu. Aku memang tidak suka Dean"
"Tapi kenapa? Bukankah itu bagus jika dapat juara, piagam, sertifikasi. Itu memudahkan untuk masuk Universitas, kenapa kamu menolak?"
"Hehehe, kamu selalu berbicara panjang saat sedang marah ya. Itu bukan urusan kamu, aku baik-baik saja, kita main game saja"
Dean tak langsung masuk kedalam warnet, ia berjalan ke arah sebaliknya memasuki apartemen rumahnya. Kini giliran Rana yang berlari menghentikan Dean.
"Maaf, maaf jika aku berbicara kasar ataupun menyakitimu. Maaf jika aku berusaha menyentuh hp mu, maaf Dean"
"Aku juga minta maaf sudah berbicara kasar"
"Tentu, apa kita baikan? Apakah hubungan kita terjalin lagi?"
"Hm... Jika kau tidak keberatan..."
"Tentu saja tidak hahaha, kalau gitu aku ke warnet dulu ya, bye sayang" pamit Rana lalu berlari dengan riang masuk kedalam warnet.
Dean memandangi kekasihnya itu dengan aneh. Ia pun masuk kedalam rumahnya lebih dulu sebelum menyusul teman-temannya dan Rana.
\=============
Beberapa jam berlalu, hari sudah petang. Mereka semua memutuskan untuk memesan makan malam sebelum pulang. Rana terlihat masih bermain game di PC nya, tangannya begitu sibuk dan lihai disana.
"Hm... Ada apa?" Tanya Rana pada penelepon. Ia diam sesaat mendengarkan lawan bicaranya, sambil fokus pada permainan juga tentunya.
"Baiklah" jawab Rana lesuh lalu menutup teleponnya.
"Ada masalah?" Celetuk Dean seraya memberikan pesanan Rana.
"Tidak, terimakasih" ucap Rana. Ia membuka laman lain di PC dan menampilkan video belajar. Gadis itu memakan makan malamnya sambil mendengarkan pelajaran.
Para pemuda yang ada disana tersenyum kecut, mungkin memang benar jika Rana terlihat suka bermain-main dengan semua orang. Namun disaat orang lain memilih beristirahat setelah selesai bermain, gadis itu memilih untuk belajar mengasah otaknya. Karena itulah, ia sangat pandai dalam pelajaran.
Setelah makan malam, mereka berpisah di depan warnet dan pergi kerumah masing-masing. Rana dan Dean berjalan bersama menuju rumah gadis itu dengan tangan yang saling bergandengan.
"Apa kamu impian?" Tanya Dean membuka pembicaraan.
"Tentu saja, aku mau punya perusahaan game. Aku ingin menciptakan banyak game yang seru"
"Kau sangat suka bermain game ya"
Langkah Rana terhenti dan mengeratkan genggaman tangannya pada Dean. Ia menatap Dean dengan datar dan tatapan yang sulit diartikan oleh pemuda itu.
"Aku tidak akan membiarkan perempuan manapun mendekatimu, apalagi memelukmu, no no" celetuk Rana tiba-tiba.
"Hm....? Kenapa tiba-tiba?"
"Tentu saja aku cemburu, setelah melihatmu berpelukan dengan perempuan lain. Itu sangat... Ah tidak, tidak, aku tidak bermaksud, maaf Dean"
"Haha baiklah, ayo pulang sudah malam"
Rana menatap Dean dengan terkejut, ini pertama kalinya mendengar suara tawa pemuda itu. Momen langka ini membuat Rana begitu antusias dan menggenggam tangan Dean semakin erat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments