Rana dan Dean tengah berjalan bersama menuju kantin untuk makan siang. Dean berjalan perlahan seraya memandangi Rana yang terus berbicara sambil menghadap ke arah Dean. Berulangkali Dean mengatakan jika itu berbahaya, tapi Rana memang jarang sekali menunjukkan punggungnya pada Dean.
Bbukkk....
"Auh, maaf maaf ya" ucap Rana kala menabrak seseorang.
"Tidak apa-apa Ran, tumben baru datang?"
"Oh, hai Aiden. Iya nih ada urusan sedikit hehe"
"Ran, hm... Akhir pekan mau pergi nonton dengan gue?"
Rana menatap Aiden dengan dahi berkerut, ia menoleh ke arah Dean yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Aiden mengikuti arah pandang Rana dan tertawa canggung karenanya. Ia meminta Rana untuk melupakan ajakannya, sebab ia tak tau jika ada Dean di dekat Rana.
"Hm.. makanya lihat depan kalau jalan" celetuk Dean tiba-tiba.
"Tapi kan depanku kamu" jawab Rana dengan polosnya.
Dean menghela napasnya, ia memutar tubuh Rana agar segera mengambil makanan sebab ia sudah lapar. Usai mengambil makanan, keduanya duduk di kursi dekat teman-teman sekelas Dean. Teman-teman sekelas Rana memandangi ke arah mereka dengan tatapan aneh. Meski Rana mencoba mengabaikannya, rasanya masih tak nyaman. Ia juga tak mau Dean ikut merasa tak nyaman.
Braakkkk....
Suho menggebrak meja dan berdiri, ia membawa piringnya lalu berdiri di dekat Rana.
"Ngapain kalian lihatin Rana? Kalian gak tau yang sebenarnya tapi nuduh orang seenaknya. Coba aja kalau kalian diposisi dia, belum tentu kalian baik-baik aja" bentak Suho dengan amarahnya.
"Suho.." panggil Rana dan Dean bersamaan. Mereka berdua tak mau ada masalah lagi setelah ini.
"Kami hanya mau minta maaf, maaf sudah menuduh Rana" ucap salah seorang teman Rana. Mereka semua berdiri dari duduknya dan memberikan jatah minuman milik mereka. Satu persatu kata maaf mereka ucapkan pada Rana sebelum mereka meninggalkan kantin.
Dean, Rana dan Suho yang tau kejadian sebenarnya berpandangan tak mengerti. Mungkin Pak Cipto sudah membersihkan nama baik Rana seperti janjinya. Namun entah cara seperti apa yang beliau gunakan. Rana dan Dean juga kembali ke kelas dengan membawa banyak minuman yang ditempeli sticky note sebagai permintaan maaf.
"Hm .. Rana" panggil Aiden berlari menghampiri.
"Iya, ada apa?"
"Buat loe, byeee" pamitnya usai memberikan minuman dengan sticky note.
Rana memandangi Dean yang tengah menatapnya. Tak ada tanda-tanda jika Dean ingin bertanya siapakah pria yang memberikan minuman itu pada Rana.
Gue percaya loe gak salah, loe terlihat sangat cantik saat tersenyum..
Mata Rana terbelalak lebar membaca tulisan itu, ini bukanlah surat permintaan maaf. Ia menunjukkannya pada Dean, takut bila kekasihnya salah mengartikan.
"Sepertinya dia suka kamu"
"Ah kok gitu sih, jangan ngomong gitu"
"Bukankah lebih baik kau berkencan dengan seseorang yang menyukaimu?"
Rana menutup mulutnya dan menghentakkan kaki dengan senang. Dean menatap aneh ke arah gadis dihadapannya ini. Sekarang ia menunggu bagaimana Rana menanggapinya dengan artian yang konyol lainnya.
"Karena itu ya kamu mau pacaran sama aku? Kan aku suka kamu, hehehe"
Dean sudah menduganya, ia berjalan lebih dulu meninggalkan Rana yang tengah merasa senang tanpa alasan. Selalu saja gadisnya mengartikan dengan cara yang lain setiap kalimat yang Dean ucapkan dengan tujuan buruk. Seolah ada seribu satu cara bagi Rana untuk membuat hal negatif menjadi positif buatnya. Gadis unik yang tak bisa Dean mengerti jalan pikirannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selama pelajaran di kelas, sudah tak adalagi hinaan atau cemooh untuk Rana. Seolah semua sudah kembali seperti dahulu kala. Meski beberapa anak masih tak begitu menyukai Rana. Padahal Rana sudah mengundurkan diri untuk ikut andil dalam perebutan kuota ke seminar. Meski begitu, tak jadi masalah untuk Rana yang sudah terbiasa dengan banyak cemooh.
Ding Dong Dengg......
Bel pulang sekolah berbunyi, seluruh murid sudah bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Satu, dua, tiga.. Deaaan pulang yuukkk" ujar Gerald persis seperti apa yang Rana katakan saat gadis itu memasuki kelas 1-2.
"Anjir, kemampuan melihat masa depan loe oke juga, lain kali prediksi jawaban ujian dong" sahut Felix.
"Sorry, gue cuma bisa meramal masa depan Rana"
"Sungguh? Katakan, kapan hubunganku dan Dean akan semakin intim?" Sela Ranaa bersemangat.
Plakkk... plakk... Plakk....
Rana mendapatkan beberapa pukulan dari temannya sebab pertanyaan aneh itu. Padahal ia hanya bermaksud mengatakan hubungan yang semakin dekat, namun pemilihan katanya terlalu vulgar untuk di dengar.
"Hm... Tiga..." ujar Gerald berpura-pura menerawang.
"Tiga apa? Tiga dekade? Tiga windu?"
"Tiga hari lagi kalian putus"
"Sialan loe" umpat Rana kesal. Ia langsung menutup mulutnya dan pergi meninggalkan Gerald. Rana yakin jika semua yang Gerald katakan tentu hanya omong kosong semata. Sebab hari ini pun tak ada pertengkaran dengan Dean, hubungan mereka sangat baik-baik saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari setelah ramalan Gerald..
Setiap kali Rana bertemu Gerald, ia terus memandangi pemuda itu dengan kesal. Meski tak percaya, namun Rana juga memiliki kekhawatiran. Hingga hari ketiga setelah ramalan itu, hubungan Rana dan Dean masih baik-baik saja seperti biasanya.
"Aah lucu banget sayang" ujar seorang siswi.
"Iya lucu kayak kamu" balas kekasihnya.
Rana menghentikan langkahnya tepat di depan pasangan kekasih itu. Mereka yang menyadari kehadiran Rana langsung menunjukkan layar ponsel couple foto mereka. Hal itu membuat Rana bersemangat dan langsung bergegas menuju kelas Dean. Sayangnya pemuda itu tak ada disana, Rana duduk dikursi Dean dan memeriksa lokernya.
Seperti sebuah keajaiban, ponsel Dean berada disana. Rana mengambilnya dan mencoba membuka ponsel pemuda itu. Ia menebak sandi angka yang harus dimasukkan, namun semuanya salah dan membuat ponsel pemuda itu terkunci.
"Ngapain pegang hpku?" Sentak Dean merebut ponselnya.
"Oh itu aku mau, Maaf, hm.. kenapa kamu marah?"
"Gimana gak marah kalau ada orang lain pegang barang orang seenaknya. Mau apa?"
"Orang lain? Aku kan pacar kamu, aku hanya..."
"Terus kalau pacar boleh gitu pegang-pegang barang orang lain ha?"
Rana terdiam, ia memandangi wajah amarah Dean yang menggebu-gebu. Ia tak mengerti kenapa Dean sampai semarah ini, seolah ada kesalahan besar yang Rana lakukan terhadapnya. Bahkan Dean berbicara dengan membentak dan kalimat yang panjang.
"Kenapa kamu semarah ini? Apa ada sesuatu yang tidak boleh aku lihat?"
"Iya, itu privasi"
"Tapi kan kita pacaran Dean, kenapa sampai semarah itu, lagi pula aku sudah minta maaf kan"
"Kalau begitu putus saja"
"Apa? Ini hanya masalah kecil, kenapa sampai harus putus ? Apakah privasimu itu sangat penting hingga aku tak boleh melihatnya? Kenapa kau terus memarahiku seolah melakukan kesalahan yang amat sangat besar"
"Kita tidak cocok, putus saja"
Ding dong Deng......
Bel pelajaran selanjutnya berbunyi, Rana berjalan keluar kelas Dean dengan lesuh. Seluruh murid kelas 1-2 memandang iba gadis itu, yah mereka juga tidak menyalahkan Dean sepenuhnya. Lagipula itu urusan mereka berdua, tak ada hak untuk ikut campur.
"Waah gila, ramalan si Gerald bener" celetuk Suho tak percaya.
"Ini ramalan atau kutukan anjir, ibu loe dukun ya" sela Felix curiga.
Gerald bahkan tak bisa percaya dengan kebetulan ini, ia masih tak mempercayai apa yang terjadi. Hatinya jadi gelisah dan merasa bersalah, padahal tiga hari terakhir ia masih suka menggoda Rana yang kesal karena candaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Mukmini Salasiyanti
wahh kasar bgt dah...
baguslah kl putus...
Ayo. move on, Ranaaaaa
2023-10-12
0