Lampu menyala terang, monitor mulai berbunyi. Dokter Anestesi mengawasi monitor pasien dan selalu memberitahukan mengenai status pasien selama operasi.
Erlan dengan dibantu oleh salah seorang dokter residen akan melakukan operasi pembedahan perut untuk menghentikan pendarahan dan juga menjahit luka yang ada di lambung.
" Pernah masuk ruang operasi sebelumnya?" tanya Erlan kepada dokter residen tersebut.
" Ini tahun ke tiga saya jadi residen dokter. Dan saya baru ini masuk ke dalam ruang operasi," jawab pemuda itu sedikit gugup.
" Tidak masalah. Santai saja tapi tetap fokus. Ikuti setiap apa yang jadi perintahku. Tenang dan jangan gugup. Kamu akan jadi asistenku kali ini, perhatikan ini dengan baik. Siapa namamu?"
" Ardit. Nama saya Ardit dok."
" Baiklah Ardit, kita mulai."
Dokter residen yang bernama Ardit itu mengangguk. Saat ini akan jadi pengalaman pertamanya untuk menjadi asisten di ruang operasi.
Mata Ardit berbinar ketika melihat ketrampilan Erlan dalam melakukan pembedahan.
" Section! Irigation! Ardit apa kamu lihat bagian yang robek?"
Ardit melongok ke dalam. Dia langsung mengangguk saat melihat lambung yang ada di sana terluka dan masih mengeluarkan darah.
" Bagus, kita akan menjahitnya untuk menghentikan luka."
" Baik dokter."
Erlan dari balik maskernya tersenyum. Ia bisa tahu bahwa pemuda yang ada di depannya ini cepat sekali memahami akan suatu hal. Dan Erlan juga yakin bahwa Ardit akan jadi dokter hebat suatu saat nanti.
" Jarum, benang.Cut ... cut ... ."
Erlan menarik tangannya. Ia melihat dulu ke dalam, apakah pendarahannya sudah berhenti atau belum.
" Apakah sudah tidak mengeluarkan darah?" tanya Erlan kepada Ardit.
" Sudah dokter. Sudah berhenti."
Erlan lalu menyelesaikan sisanya. Awalnya ia akan menyuruh Ardit, tapi karena ini adalah hari pertama Ardit ikut operasi, maka ia urung. Ia akan menunjukkan kepada Ardit terlebih dahulu agar dia belajar.
" Dok, ada panggilan dari dokter Willy. Dokter diminta ke ruang oeprasi nomor 5."
Erlan mengangguk. Semuanya sudah selesai dan tinggal merapikan saja. Ucapan terimakasih dikatakan oleh semua yang ada di sana. " Terimakasih dokter sudah bekerja keras dr. Erlan."
Erlan langsung bergegas menuju ke ruangan Willy. Tapi sbelumnya dia sudah membuang sarung tangan, jubah, dan juga maskernya.
" Ada apa Will?"
" Sopir ini mengalami benturan di kepala. Dan setelah di tes ada pendarahan di bagian otaknya."
" Oke, mari buka bagian kepalanya segera dan hentikan pendarahan itu."
Willy jelas harus memanggil Erlan karena sahabatnya itu memiliki lisensi sebagai dokter spesialis bedah saraf juga. Ya kriniatomi hanya bisa dilakukan oleh dokter spesialis bedah saraf. Kriniatomi adalah tindakan pengambilan sebagian tulang tengkorak kepala untuk menghentikan pendarahan yang ada di otak.
Sebenarnya Willy juga bisa, karena kemarin saat Erlan kecelakaan, dia lah yang melakukan tindakan. Akan tetapi jika ada Erlan maka lebih baik Erlan yang melakukannya.
Willy dan Erlan selalu kompak saat melakukan operasi. Tangan lincah nan terampil mereka terkadang menjadi pertunjukan khusus bagi tim medis lainnya yang ada di ruangan tersebut.
" Bor!"
Seorang perawat memberikan bor medis untuk membuka kepala dari si supir bus. Erlan juga bertanya kepada Willy untuk memastikan bahwa sang supir tidak memiliki riwayat penyakit lainnya dan juga alergi terhadap obat.
" Aman Lan, tadi kita sudah melakukan tes."
" Baik, cek Will. Dan mari selesaikan."
Willy mengangguk ia tentu paham arti kalimat yang Erlan katakan. Mereka harus segera menghentikan pendarahan tersebut.
Setelah berkutat selama 6 jam, akhirnya pendarahan yang ada di otak bisa diselesaikan dengan baik dan tanpa hambatan sedikitpun.
Erlan meminta Willy untuk mengembalikan bagian kepala yang tadi diambil lalu menjahitnya kembali. Ia keluar dari ruang oeprasi dan meregangkan kepalanya dengan menggerakkan ke kiri dan ke kanan.
Plok ... plok ... plok ... .
" Baru masuk sudah begitu sibuk! Sungguh hebat. Memang betul adalah anak Jonathan Brown."
Erlan memutar bola matanya dengan mendengar ucapan orang yang ada di depannya. Tapi tak lama kemudian ia menyunggingkan sebuah senyuman.
" Woaah pamanku tersayang. Apakah terlalu takut hingga harus muncul sendiri di sini. Bukannya kau biasanya bersembunyi dan haya menggerakkan para wayangmu?"
" Sialan kau Erlan ka~"
" Dokter ada pasien yang datang."
Seorang perawat pria menghampiri Erlan. Awalnya ia takut-takut saat melihat Sakti Sasmita. Tapi jika tidak memanggil Erlan maka tentu akan ada hal buruk bagi pasien yang sedang dalam kondisi tidak baik.
" Mari kita kesana. Dan untuk Anda Tuan Sasmita yang terhormat, maaf saya tidak ada banyak waktu untuk menangani urusan yang tidak penting."
Bagi Erlan saat ini, pasien adalah urusan nomor satu. Ia akan mengesampingkan Sakti. Pamannya itu adalah urusan yang bisa ia lakukan nanti lagi.
" Bangsaat, dia mengacuhkan aku. Kenapa dulu tidak ku matikan saja dia agar tidak bisa kembali untuk mengacau. Arghhh!"
🍀🍀🍀
Yasmin yang ada di rumah Erlan saat ini begitu senang melakukan banyak kegiatan. Setelah tadi pagi berkebun dengan menanam beberapa tanaman bunga, kini di adi dapur bersama Bude Sapto.
" Nduk Yasmin mau memasak?"
" Iya bude, Yasmin mau masakin makan siang untuk mas Erlan."
Bude Sapto langsung menyuruh pergi orang yang ada di dapur. Ia akan membiarkan Yasmin memasak untuk suaminya sendiri.
Satu hal yang tidak dimengerti oleh wanita paruh baya itu, bagaimana seorang anak yang cantik, baik dan manis ini bisa memiliki orang tua semacam Haryo dan Sonya?
" Mungkin hati orang tua Si Genduk memang memiliki hati yang buruk. Semoga den ayu dan den bagus selalu hidup dalam kebahagiaan."
Doa Bude Sapto begitu tulus. Ia tiba-tiba teringat kepada kedua tuannya yang sudah tiada. Jika Jonathan dan Sri masih ada, pastilah mereka senang memiliki menantu seperti Yasmin. Apalagi Sri yang selalu ingin punya anak lagi tapi ternyata Tuhan hanya memberikan Erlan untuk nya.
" Tenanglah di peristirahatan tuan dan nyonya besar. Putra Anda mendapatkan wanita yang begitu baik."
Setelah sejam berkutat di dapur, akhirnya Yasmin menyelesaikan acara memasaknya. Ia tersenyum puas melihat hasil masakannya yang sudah dimasukan ke dalam box nasi.
" Bude, saya mau mengantarkan makan siang ini untuk Mas Erlan."
" Yo nduk, Tian akan menemanimu dan Han akan mengantarkan."
Yasmin mengangguk patuh, oleh Erlan sebelum berangkat kerja tadi pagi, ia sudah diberitahu bahwa Tian akan selalu menemaninya jika akan pergi kemanapun. Tentu saja Yasmin senang, dia akan punya teman dan tidak merasa bosan.
" Mari Nyonya, silahkan masuk."
" Mbak Tian, bisakah tidak memanggilku nyonya."
Tian bingung, harus memanggil apa kepada istri tuannya itu jika tidak memanggil Nyonya. Tapi ia langsung mengangguk, ia akan memikirkan nanti selama di perjalanan menuju ke rumah sakit.
TBC
Manteman, doakan ya retensi Erlan lolos hahhah. Yang kemarin sudah gagal. Tapi kalau pun gagal aku tetap akan lanjutkan kok. Terimakasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
doslint
erlan kaya kim sabu di romantic doctor
2024-12-09
0
Dedy
mangat thorrr/Good/
2025-01-17
0
Margono M. Amir
Kraniotomi, bukan kriniatomi
2025-01-06
0