Erlan kembali ke rumah dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia sedikit merasa heran, mengapa dirinya bisa tertidur begitu lama di kantin? Biasanya dia begitu juga saat jaga malam, tapi paling hanya sekitar 10-15 menit dia akan memejamkan mata. Dan pasti kalau ada panggilan telepon, dia akan segera bangun.
" Apa aku saking lelah dan mengantuk hingga tidak mendengar panggilan ponsel yang berkali-kali itu?"
Entahlah, Erlan tidak mau ambil pusing untuk hal tersebut. Dia memilih untuk melanjutkan tidurnya.Tapi sesaat kemudian Erlan merasa dan yang aneh dengan rumahnya. Ia tidak melihat sang istri, padahal ini adalah hari minggu. Seharusnya istrinya berada di rumah karena kantor jelas libur.
Drtzzzz
" Hallo mas, kok tumben mas belum pulang?"
Rupanya itu adalah penggilan telepon dari Yasmin. Erlan diam sebentar, ia lalu berpikir kira-kira hal apa yang ia lewatkan.
" Astaga, iya dek. Bentar ya, aku udah pulang kok ini. Bentar lagi sampai."
" Oke mas, aku tunggu ya."
Erlan mengacak rambutnya sendiri. Bisa-bisa nya ia lupa kalau dia dan sang istri sudah pindah ke rumah mertua.
" Ya Tuha ERlaaaan, apa yang kamu pikirkan hah! Kok ya lupa kalau udah pindah."
Erlan langsung bergegas untuk segera kembali ke Lemah Joglo. Sungguh rasanya begitu berat saat mengendarai motor untuk ke sana. Ia tidak bisa memprediksi apa yang akan ia alami nanti.
Di depan gerbang, Yasmin sudah berdiri menunggu Erlan. Wajah cantik istrinya itu merupakan pelipur hatinya yang saat ini sedang tidak karuan.
" Sudah lama menunggu di sini?"
" Nggak kok mas, baru aja aku keluar. Tumben sampe sedikit siang gini."
" He he he, maaf tadi aku sempet pulang ke rumah. Aku lupa kalau kita sudah pindah ke sini."
Pluk
Yasmin menepuk lengan sang suami pelan. Keduanya kemudian tertawa bersama. Erlan turun dari motornya dan mendorong motornya masuk ke dalam halaman Lemah Joglo dengan dibantu Yasmin dari belakang. Sungguh pemandangan yang manis.
Tapi tidak untuk Sonya. Ia jelas tidak suka melihat interaksi Erlan dan Yasmin. Lagi-lagi ia menilai bahwa Erlan bukanlah pria yang pantas untuk sang putri.
" Sebentar lagi, ya sebentar lagi aku akan membuatmu pergi dari sini. Sekarang nikmati saja waktumu. Aku akan menyingkirkan kuman sepertimu itu."
Sonya membalikkan badan. Ia mengambil ponsel dan mulai berbicara melalui benda pipih itu. Sepertinya ia sedang membuat sebuah rencana. Terlihat seringai terbit dari bibirnya yang bergincu merah.
" Pastikan semua datang. Aku ingin semua menghadiri jamuan makan malam itu."
" Tenang saja nyonya. Jika ada yang membuat acara, saya pastikan semua akan hadir. Seorang Sonya Ningrum, siapa yang tidak ingin beramah taman dengan Anda."
" Bagus, kamu selalu bisa andalkan."
Sonya kembali masuk ke dalam rumah. Dilihatnya sang suami masih sibuk dengan laptopnya. Ia pun duduk di sebelah suaminya. Sepintas ia melirik ke arah laptop, ia tidak melihat apapun di sana kecuali barisan angka yang ia tidak mengerti apa maksudnya.
" Ada apa hmm?" Tanya Haryo kepada Sonya lalu menghentikan kegiatannya.
" Mas, apa sebaiknya tidak minta Yasmin untuk kembali ke perusahaan. Dari pada dia bekerja di kantor kecil begitu. Apa kata orang mas, putri tunggal Haryo Suryoprojo bekerja di sebuah perusahaan kecil padahal ia adalah pewaris SJ Grup."
Haryo sebelumnya tidak pernah berpikir soal itu. Saat Yasmin memutuskan untuk menikah dengan Erlan, maka dia tidak lagi peduli dengan sang putri dan juga apa yang dikerjakan.
Tapi kini, sepertinya ia harus memikirkan hal itu. Yasmin sudah kembali ke rumah. Maka dari itu sudah sepantasnya sang putri mulia belajar untuk mengelola perusahaan.
" Iya juga ya. Coba panggil dia kemari."
Sonya meminta salah satu art nya untuk memanggil Yasmin. Ia kelas tidak mau memanggilnya sendiri. Sonya Enggan melihat wajah dari Erlan. Tampaknya rasa benci Sonya kepada menantunya itu sudah sampai ke ubun-ubun.
Tok to tok
"Non Yas ... dipanggil nyonya besar."
" Oh ya terimakasih ya."
Yasmin melihat ke arah tempat tidur, di sana ada Erlan yang tertidur pulas. Sepertinya pekerjaan sang suami saat shift malam begitu banyak. Erlan bahkan langsung tertidur saat tubuhnya menyentuh ranjang.
" Tidurlah mas. Kamu pasti sangat lelah."
Yasmin keluar dari kamar dna menutup pintu dengan pelan. Ia tidak ingin mengganggu istirahat sang suami. Ia berjalan menuju tempat dimana mami dan papi nya berada. Berkali-kali ia membuang nafasnya kasar. Entah apa yang ia rasakan, tapi setipa berbicara dengan kedua orang tuanya pasti tidka berakhir dengan baik.
" Ada apa mi, pi?"
" Duduklah dulu. Ada hal yang mau papi mu katakan."
Yasmi duduk tepat di depan kedua orang tuanya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari ritme detak normal.
" Kenapa jadi tegang gitu Yas? Papa tidak akan mengusik mu dengan suami mu itu."
Bohong, jelas kata-kata yang keluar dari mulut Haryo adalah sebuah kebohongan. Jelas sekali, dengan keinginan Haryo dan Sonya meminta Yasmin dan Erlan kembali pasti ada tujuan tertentu. Yasmin tidka serta merta percaya dengan ucapan sang ayah.
" Lalu ada apa papi memanggil Yasmin kemari?"
" Kembalilah ke perusahaan. SJ Group membutuhkan kamu."
Satu sudut bibir Yasmi terangkat, yang benar saja. Ia seperti ingin tertawa mendengar ucapan ayahnya. Bagaimana tidak, kemarin-kemarin secara terang-terangan Haryo mengatakan bahwa dia tidak lagi membutuhkan putri seperti dirinya. Dan sekarang, Haryo meminta Yasmin kembali ke perusahaan.
" Apa benar perusahan membutuhkan aku? Atau, hanya nama baik papi dan mami yang membutuhkan aku? Haish, sungguh ironi."
" Yasmin! Jaga bicaramu! Apa ini yang kamu dapatkan setelah menikah dengan pria miskin itu? Minim attitude!"
Yasmin membuang nafasnya kasar. Ia selalu tidak suka jika suaminya dihina begitu. Bagaimanapun juga Erlan adalah suaminya, dan ia tidak ingin jika sang suami selalu direndahkan oleh orang bahkan jika itu adalah kedua orang tuanya sekalipun.
" Please mi, tidak usah membawa nama Mas Erlan untuk urusan kita. Apa mami lupa, waktu itu papi secara tegas mengatakan kalau tidka butuh Yasmin lagi?"
" Itu karena kamu lebih memilih pria miskin, kampungan, buruh, dan tidak bisa berbuat apapun. Pria yang jelas tidak jelas asal usulnya pria yang tidak memiliki masa depan yang cerah."
Yasmi sungguh tidak taha dengan semua cacian dan hinaan yang ibu nya keluarkan untuk sang suami. Ia langsung berdiri dan memilih untuk pergi.
" Maaf, sepertinya pembicaraan ini hanya akan sia-sia. Yasmin permisi."
" Yasmin, tunggu. Kurang ajar kamu ya. Tidak sopan kepada kedua orang tua!"
Sonya berteriak marah. Ia sungguh geram dengan ulah anak perempuan satu-satunya itu.
" Sudahlah Sonya, biarkan saja dulu. Kita tunggu waktu itu datang," ucap Haryo menenangkan sang istri. Ia menarik tangan Sonya dan meminta wanita paruh baya itu untuk kembali duduk.
" Ya, kamu bener mas. Lihat nanti."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Firman Firman
lnjut
2024-09-24
1
ardika jalla
namanya juga cerita orang tolol
2024-07-15
0
Muhammad Fauzi
kata orang buah itu jatuh gak jauh dari pohonnya tapi ne kok beda ya
mungkin nanam nya di pinggir sungai kali ya.
jadi gitu jatuh langsung ke bawa arus
/Tongue//Tongue//Tongue//Tongue//Tongue/
2024-05-06
1