Yasmin pulang ke rumah, ia merasa begitu kecewa terhadap kedua orang tuanya yang sama sekali tidak mengunjungi Erlan. Jangankan membesuk, untuk menanyakan keadaan saja tidak.
Yasmin merasa begitu sedih. Apakah sebegitu buruknya sang suami sehingga hampir meregang nyawa pun mami dan papinya tidak peduli sama sekali.
Tapi Yasmin belajar acuh. Dia tidaklah harus memikirkan hal tersebut. Jika memang Sonya dan Haryo tidak peduli maka dia juga akan diam saja.
Yasmin melenggang masuk ke kamar tanpa melewati pendopo. Dia hari ini harus berangkat ke kantor. Sudah 3 hari dia meminta izin untuk tidak masuk kerja.
Kleeek
Yasmin kembali menutup pintu dan menguncinya saat sudah membawa beberapa baju milik Erlan. Ia akan ke kantor dulu sebelum ke rumah sakit.
" Ooh sudah pulang?"
Yasmin tidak menanggapi omongan Rendra. Dia memilih untuk berjalan terus menuju luar rumah. Rendra jelas kesal karena diacuhkan oleh sepupunya itu.
" Tck, apa sih yang kamu lihat dari pria kere itu. Sudah miskin, nyusahin pula."
Lagi, Yasmin memilih diam. Ia pikir, percuma juga menanggapi mulut lemes Rendra.
" Brengsek!" maki Rendra sambil membalikkan badan dan kembali masuk ke Lemah Joglo Yasmin menghela nafas penuh kelegaan saat sepupu songongnya itu meninggalkan dirinya.
Sesampainya di perusahaan, Yasmin langsung diberitahu oleh rekan kerjanya untuk menemui sang atasan. Yasmin merasa terkejut. Ada apa gerangan tiba-tiba dia dipanggil. Tidak mau banyak berprasangka, wanita itu memilih segera menemui atasannya.
Tok ... tok ... tok ...
" Oh, kamu sudah datang. Silakan masuk Yasmin, duduk dulu."
" Baik pak. Oh iya pak, maaf, ada apa ya pak memanggil saya?"
Atasan Yasmin terlihat sedikit kebingungan. Yasmin bisa melihat itu di wajah pria paruh baya yang duduk di depannya saat ini. Jelas sekali dia ingin berbicara, tapi pria itu seperti sulit untuk membuka mulut.
" Pak, ada apa ya? Katakan saja, jangan membuat saya berprasangka."
" Yas, maaf kamu mulai besok tidak perlu bekerja lagi di sini. Saya akan membayar gajimu bulan ini penuh dan juga uang pesangon."
" Tapi pak, kenapa? Apa salah saya? Apa karena saya tidak masuk beberapa hari kemarin? Kenapa saya di ~."
Yasmin menghentikan kata-katanya saat ia menyadari sesuatu. Wanita berusia 25 tahun itu membuang nafasnya kasar.
" Baik pak, tidak mengapa. Saya sudah tahu. Saya permisi."
" Maafkan saya Yas."
" Bapak tidak perlu minta maaf. Saya yang harusnya minta maaf. Sungguh kedua orang tua saya keterlaluan. Mereka menggunakan Anda untuk membuat saya berhenti bekerja setelah saya menolak dengan keras untuk kembali ke perusahaan."
Tidak perlu lagi dijelaskan, Yasmin sudah tahu bahwa dibalik semua ini pastilah ulah mami dan papinya. Siapa yang bisa melakukan ini kecuali kedua orang tuanya.
Mereka pasti menekan atasan Yasmin untuk memecat Yasmin dari pekerjaan. Jika bukan, mana ada yang mau melepaskan Yasmin. Seorang karyawan yang rajin dan kompeten di bidangnya.
" Kalau begitu, saya permisi pak. Sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan kedua orang tua saya."
Yasmin tertunduk lesu saat berjalan keluar dari ruangan sang bos. Kini mau kemana lagi dia mencari kerja. Ia yakin, kemanapun dia melamar kerja pasti tidak akan diterima. Dan semua itu karena pengaruh kedua orang tuanya.
" Sebesar apa pengaruh Suryoprojo? Mengapa baru kemarin aku menolak dan sekarang mereka sudah bergerak? Apakah aku harus kembali ke SJ Grup?"
Yasmin sungguh dilema. Ia merasa gamang dengan apa yang harus dia lakukan setelah ini.
🍀🍀🍀
Di depan ruang rawat Erlan, Yasmin mencoba untuk merubah ekspresi wajahnya. Ia tidak boleh terlihat murung. Itu pasti akan membuat Erlan berpikir yang tidak-tidak. Yasmin tidak ingin suaminya tahu bahwa dirinya dipecat.
" Hallo mas, aku datang lagi. Sepertinya aku akan sering menemanimu. Bos ku baik banget, mengizinkanku untuk merawat kamu selama sakit," ucap Yasmin dengan penuh senyuman.
Erlan mengerutkan kedua alisnya. Ia jelas tahu kalau istrinya tengah menyembunyikan sesuatu. Selama kurang lebih 2 tahun mengenal, 1.5 tahun pacaran dan setengah tahun menikah, Erlan tentu tahu kapan saat Yasmin berkata bohong dan kapan saat berkata jujur.
" Haaah, sayang, kamu tidak akan bisa membohongiku. Katakan ada apa sebenarnya hmmm?"
Yasmin membuang nafasnya kasar, dia benar-benar tidak ada bakat untuk berbohong. Ia akhirnya menceritakan semuanya kepada Erlan. Bukannya ikut sedih tapi Erlan malah tersenyum.
" Mas kok malah seneng gitu?"
" Iya lah, dengan begitu kamu akan selalu menemaniku. Ya kan?"
Tok ... tok ... tok ...
Pintu ruangan Erlan diketuk. Sebuah senyum devil ia tunjukkan saat melihat siapa yang datang. Ia kemudian meminta Yasmin untuk membelikan makanan ringan. Ya, Erlan sengaja meminta Yasmin keluar dari ruangannya. Ia tidak ingin istrinya melihat sisi lain dari dirinya yang sudah kembali.
" Perawat Yanto, apa kamu mau membantuku membersihkan tubuh. Sepertinya begitu? Kenapa begitu waspada? Sini-sini, bantu kau buat ke kamat mandi."
Yanto menelan saliva nya dengan susah payah. Ia merasa Erlan yang bicara di depannya ini seperti orang lain. Erlan yang saat ini ia hadapi berbeda dari Erlan sebelumnya. Ada aura yang mendominasi di tatapan tajam mata Erlan. Tapi Yanto berusaha untuk tenang.
Tidak mungkin kan dia tahu aku yang menabraknya? Tidak, aku yakin waktu itu dia sudah tak sadarkan diri, batin Yanto.
Dengan langkah penuh percaya diri, Yanto berjalan mendekati Erlan. Ia kemudian memeriksa infus dan juga perban di kepala Erlan. Saat Yanto ingin menyentuh perban itu, tangan Yanto ditangkap oleh Erlan dan dicengkeram dengan erat.
" Jangan harap kau bisa lari dari perbuatan yang sudah kamu lakukan. Memangnya kamu pikir kau tidak tahu, bahwa kamu yang berusaha untuk menghabisi nyawaku."
Deg
Jantung Yanto berdegup kencang, ia merasa seperti jantungnya akan keluar dari tempatnya. Apalagi saat tatapan mata Erlan beradu dengan matanya, terasa seperti belati yang menghujam jantung. Yanto benar-benar tidak bisa bernafas dengan baik.
" K-kau a-apa yang kau katakan! Jangan bicara sembarangan. Jangan menuduh tanpa bukti!" ucap Yanto sambil memundurkan tubuhnya.
" Aku tidak perlu bukti untuk menghukum manusia sepertimu. Bersiap saja, saat itu akan datang."
Yanto langsung lari keluar dari ruangan Erlan. Sedangkan Erlan tertawa sangat puas. Ia bukan hanya sekedar omong besar, setelah keluar dari sini, ia akan melakukan apa yang sudah ada dalam kepalanya. Saat ini dia sedang meminta Willy untuk mengambilkan sebuah formula yang pernah ia buat. Formula itu semacam obat yang bisa memulihkan luka lebih cepat.
" Tunggu saatnya datang, dan kalian akan mendapatkan balasan dari semua perbuatan kalian."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
LENY
GOOD JOB ERLAN HRS DPT HUKUMAN ORANG2 JAHAT ITU
2024-05-14
2
Muhammad Fauzi
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
2024-05-07
0
Kholis Majid
wahh.. membangunkan singa yg tidur. sdh waktunya babat habis manusia² tak bermoral tuh
2024-02-16
0