Yasmin terperangah. Dia tidak berhenti terkejut saat Erlan bercerita bergantian dengan Willy. Tapi yang membuat dia sungguh heran adalah mengapa ada orang yang begitu tega dan jahat melakukan itu kepada sang suami.
" Syukurlah jika memang seperti itu. Yang penting mas sudah baik-baik saja. Jadi apakah besok sudah tidak bekerja di RSPK?"
" Tidak sayang, kami akan kembali ke Awal Brown. Jika dibiarkan maka Awal Brown bisa semakin tidak sesuai dengan tujuan awal didirikan."
Walaupun Yasmin tidak mengerti maksud Erlan, tapi ia paham bahwa memang sang suami harus memperjuangkan hak nya kembali. Erlan juga meminta Yasmin untuk tinggal di situ. Tentu saja Yasmin mau. Kemanapun sang suami pergi dia akan ikut.
Bukan karena rumah yang mewah atau kekayaan yang dipunya oleh Erlan. Akan tetapi apa yang dilakukannya adalah wujud bakti seorang istri terhadap suaminya. Dan kini dia tahu mengapa suaminya itu tidak menginginkan ia bekerja lagi.
" Baiklah, mari bersihkan diri lalu tidur."
" Tapi, aku kan nggak bawa baju mas."
Erlan hanya tersenyum, ia lalu membawa Yasmin ke kamar. Erlan langsung menunjukkan sebuah lemari tempat dimana semua pakaian milik Yasmin yang sudah berpindah dari kamarnya di Lemah Joglo ke kamarnya yang sekarang.
" Ini ... kenapa bisa?"
Erlan tidak menjawab apapun. Ia memilih membawa sang istri untuk segera mandi dan beristirahat. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, Yasmin sudah dibuat heran sekaligus terkejut yang tiada habisnya.
Bagaimana baju-baju milik mereka bisa berpindah tempat? Rupanya Erlan meminta Han untuk memerintahkan anak buahnya mengambil semua barang milik Yasmin saat mereka menghadiri pesta anniversary Haryo dan Sonya. Saat mereka naik mobil, anak buah Han langsung masuk dan membereskan semua pakaian tersebut.
Yasmin begitu cepat tertidur. Secara perlahan Erlan turun dari ranjang dan pergi ke luar kamar. Ia sedikit merasa bersalah kepada sang istri yang merasa bingung serta takut untuk beberapa waktu tadi. Tapi melihat Yasmin bisa tidur dengan nyenyak, membuat Erlan sedikit tenang.
" Apakah sudah tidur?" tanya Willy disela-sela dirinya menyeruput kopi. Setelah mengajukan resign dari RSPK, dokter yang pernah mengepalai ER itu terlihat sangat santai. Sepertinya dia benar-benar menikmati waktu menganggurnya.
" Hmm, sudah. Aish, agak kasihan aku lihat dia bingung gitu. Tapi tidak masalah. Oh iya, besok siapkan tubuhmu. Kita mulai perang di ER. Bukan hanya itu, kau yakin si tua itu akan muncul. Oh iya Han, panggilkan Tian."
Erlan memperingati Willy sekaligus memerintahkan Han untuk memanggil seseorang. Mereka benar akan kembali bekerja mulai besok. Sebagai dokter Erlan tidak hanya akan menghadapi intrik di dalam rumah sakit. Nalurinya untuk menyelamatkan setiap pasien yang masuk ke ER selalu menggebu.
" Siap tuan, Tian di sini." Seorang wanita dengan tinggi tubuh sekitar 170 cm dan memiliki kulit berwarna tan itu berdiri tegap menghadap Erlan. Dia sangat siap menerima tugas dari sang atasan.
" Tugasmu mulai sekarang menjaga istriku. Pastikan dia aman dan jangan sampai lecet barang sedikitpun!"
" Siap tuan, laksanakan."
Tian sudah tahu bahwa tugas itu yang akan dia dapatkan. Saat tadi sebelumnya ia yang diminta untuk membereskan pakaian milik nyonyanya, maka tugas selanjutnya pasti untuk melindungi. Tentu saja Tian sangat senang dengan tugas barunya itu.
🍀🍀🍀
RS Awal Brown pagi hari dikejutkan saat Erlan dan Willy masuk ke ruang ER dengan menggunakan pakaian jas dokter. Sebuah stetoskop sudah mengalung di leher.
Erlan tidak mengenakan wig lagi dia memilih mengenakan penutup kepala yang biasa dipakai oleh dokter. Semua orang memberi hormat tapi Erlan tidak mau mereka melakukan hal tersebut.
" Fokus dnegan pekerjaan kalian. Aku disini bukan untuk kalian sembah. Layani dan obati setiap pasien yang datang TANPA TERKECUALI."
Erlan menekankan kata-katanya yang terakhir. Beberapa orang langsung mengangguk cepat tapi beberapa yang lain tampak kebingungan.
Bagaimana tidak, perintah sebelumnya yakni jika tidak bisa membayar maka harus ditolak dan dialihkan ke RSUD.
" Ini adalah rumah sakit swasta, ya jelas mereka harus bayar saat berobat ke sini!"
Begitulah ucapan tegas dari perintah sebelumya. Tapi agaknya mereka harus menuruti perintah Erlan. Jelas Erlan lah pemilik sah Awal Brown dna mereka semua tahu itu.
Kringggg
" Ya hallo, ya baik. Kami mengerti. Silakan bawa kemari. Dokter Erlan, ada kecelakaan, sebuah bis yang mengangkut anak-anak SMP. Sebagian luka ringan dan sebagian lagi lumayan parah."
" Semua bersiap! Tim, lakukan yang terbaik. Ingat ini anak-anak, jangan buat merek takut."
" Siap!"
Erlan dan Willy sudah berdiri di depan pintu ruangan ER. Mereka bersiap menerima para pasien tersebut. Pun dengan tim medis lainnya. Mereka seketika merasakan vibes yang berbeda saat Erlan mengomando mereka.
" Ini akan lebih terasa kerja nyata ketimbang hari-hari sebelumya," bisik salah seorang perawat kepada rekannya.
" Ya kau benar dan aku malah suka yang begini," jawab perawat lainnya setuju.
Wiuuu wiuuu wiuuu
Suara mobil ambulans saling bersahutan. Jelas bukan hanya ada satu saja yang akan datang ke ER.
" Status!"
" Darah keluar lewat mulut dokter. Sepertinya ada luka di organ dalamnya."
Erlan langsung menyibakkan baju salah seorang anak yang jadi korban tersebut. Ia melihat ada memar di bagian perut. Ia meraba sejenak menggunakan tangan lalu memeriksanya dengan stetoskop.
" Ada robekan di lambung. Siapkan USG segera!"
Salah seorang perawat dengan cekatan mendorong sebuah USG untuk memeriksa bagian perut dari anak itu. Dan benar saja, lambung si anak terluka bahkan robek. Itulah yang membuat mulut anak itu mengeluarkan darah.
" Siapkan ruang operasi segera!"
" Apakah harus denganku!"
" Tidak Will, kau tangani yang lainnya. Anak yang disebelah itu, dia kesusahan bernafas, segera periksa. Bisa jadi ada memar di dada dan paru anak itu terluka."
Beberapa petugas medis yang ada di sana jelas takjub dengan kemampuan analisa dan diagnosa dari Erlan. Bagaimana bisa, hanya dengan menyentuh saja diagnosa yang dilakukan begitu tepat.
Tapi saat ini bukan waktunya untuk mengagumi. Lagi pun mereka tahu bahwa dr. Erlan tidak suka pujian yang berlebih. Mereka harus fokus dengan pasien yang terus berdatangan.
Tim ER Awal Brown juga membagi pos antara anak-anak yang terluka ringan dengan yang terluka parah sehingga semua terorganisir dengan baik dan tidak ada yang terlewati.
Dr. Sumiyati sangat senang saat melihat Erlan mulai ada di ER. Tapi ia tidak habis pikir, mengapa sang adik-- Asih bisa-bisanya begitu menguasai rumah sakit saat Erlan tidak ada. Terlebih lagi menjadikan Sadewa sebagai dirut. Padahal Sri Wedari dulu begitu menyayangi adik bungsu mereka itu.
" Aju yakin ini semua adalah ulah Sakti. Jika bukan dia, lalu siapa lagi. Asih adalah gadis yang polos dulunya, tapi sekarang jadi wanita ambisius dan gila kekuasaan."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Memyr 67
adik bungsu ibunya erlan, bukan hanya polos, tapi bodoh. jadi bisa dikendalikan cowok yg katanya cinta, tapi nggak tulus, cuma modus
2024-12-20
0
Maria Fransisca
critanya misterius
2024-07-19
0
🇮🇩 Satria SUNAN 🇮🇩(✿ ♥‿♥
vibes ??? ( getaran ) 👍👍
2024-03-04
2