Hingga tengah malam, Erlan tidak henti sibuk di ER. Pasien malam itu sangat banyak. Rupanya ada kecelakaan beruntun berjarak sekitar 1 km dari RSPK ( Rumah Sakit Persahabatan Kita). Maka dari itu pasien malam ini lumayan banyak. Sekitar 35 orang. Tapi beruntung, lebih banyak yang luka ringan dari pada yang luka parah.
Erlan meregangkan tubuhnya. Ia juga menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia berkali-kali menyipitkan matanya dan menggeleng pelan. Rasa kantuk mulai menyerang pria itu.
" Butuh kopi nih. Huft ... ."
Erlan meminta izin kepada salah satu temannya yang juga jaga malam untuk pergi ke kantin. Ia harus minum kopi agar rasa kantuknya berkurang. Biasanya jika shift malam begini, siang ia akan tidur meski hanya sebentar. Tapi siang tadi jelas dia tidak bisa tidur.
" Hay Er, mau ngopi?"
" Aah, iya dok. Dokter jaga malam juga?"
Erlan bertemu dnegan Maya di kantin. Wanita itu menyapa Erlan dengan akrab. Hal tersebut sedikit membuat Erlan lega, ia mengambil kesimpulan bahwa Maya sepertinya sudah tidak lagi membencinya.
" Mau kopi apa, malam ini aku yang traktir?"
" Apa saja dokter, malah jadi ngerepotin. Terimakasih sebelumnya."
" It's oke. Santai saja. Duduklah di sana. Aku akan membelikannya untuk kamu."
Erlan menurut, ia menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Ia kembali menguap dan menaruh kepalanya di meja. Rasa kantuk tampaknya benar-benar membuat nya ingin sekali tidur.
" Ini kopi untukmu. Semoga bisa terus melek ya."
" Terimakasih dokter."
Maya melenggang pergi meninggalkan Erlan yang terlihat mulai menikmati kopinya. Sebuah lengkungan terbentuk di bibir Maya membuat sebuah lengkungan.
" Rasakan!" ucap Maya tajam.
Beberapa saat yang lalu
Maya melihat sosok Erlan berjalan ke kantin. Ia dengan langkah seribu pun menyusul dna masuk dari pintu lain. Sesaat kemudian Maya sudah berdiri di depan kasir dan memesan. Ia yang melihat Erlan seolah-olah mereka tidak sengaja bertemu. Padahal Maya memang sudah menunggu Erlan di sana.
Maya sengaja menyapa Erlan dengan ramah dan berniat membelikan minum, tapi ternyata dia ada maksud tersembunyi. Saat minuman yang ia pesankan untuk Erlan sudah jadi, diam-diam Maya menaruh obat di sana.
Dan saat ini Maya tersenyum puas saat rencananya berhasil. " Hah, pria bodoh. Mudah sekali ditipu," cibir Maya sambil berlalu menuju ruangannya.
Di meja kantin, Erlan segera menenggak kopi yang dibelikan oleh Maya. Ia tidak menaruh curiga apapun. Karena ingin segera bisa membuka matanya tanpa ada kantuk lagi, Erlan pun menenggak habis kopi miliknya.
" Okeeh, sudah. Waktunya kerja lagi."
Erlan bangkit dari duduknya. Tapi saat berdiri tiba-tiba matanya sangat lelah. Ia menggeleng pelan, kepalanya terasa seperti berkunang.
" Kenapa ini. Kok malah kayak ngantuk banget sih."
Tidak ingin tiba-tiba terjatuh dna membuat orang terkejut, Erlan memilih kembali duduk. Dan dalam hitungan detik, kepalanya sudah jatuh di meja. Suami dari Yasmin itu tertidur di meja kantin.
🍀🍀🍀
Ponsel Erlan terus berdering. Jelas saja si empunya tidak bisa menjawab panggilan. Obat tidur yang diberikan maya lumayan memiliki dosis tinggi sehingga membuat Erlan benar-benar tertidur dan tidak terusik sedikitpun dengan ponselnya.
" Erlan mana ini. Siapa yang tahu dimana Erlan berada. Bukankah ini jadwal dia jaga malam! Kenapa ada panggilan dari pasien dia tidak datang juga!"
Dokter Willy, kepala ER itu terlihat sedikit marah. Ia paling tidak suka dengan orang yang tidak tanggung jawab dengan pekerjaannya.
" Maaf dok, tadi Erlan izin sama saya untuk ke kantin. Tapi hingga sekarang belum juga kembali. Sudah hampir 2 jam lamanya."
Seorang rekan perawat Erlan yang bernama Sinta menjelaskan apa yang ia ketahui kepada Dokter Willy.
Di sudut lain, Yanto tersenyum. Ia yakin bahwa kali ini Erlan pasti akan habis. Erlan pasti akan kena marah oleh Dokter Willy. Bukan hanya itu, bisa juga dia akan kena sanksi oleh kepala perawat.
" Habis kau kali ini, biar tahu rasa. Sok cari muka ya begitu," gumam Yanto lirih.
Yanto pun menghampiri dokter Willy. Dia berinisiatif untuk menawarkan diri memanggil Erlan. Tapi Dokter Willy menggeleng cepat.
Kepala ruang ER itu malah menginginkan Yanto memenuhi keinginan pasien yang dari tadi memanggil. Yanto jelas sedikit kesal, tapi kemudian ia tersenyum. Ia menyimpulkan sendiri bahwa mungkin saja Dokter Willy sangat marah dan tidak ingin melihat Erlan.
Di kantin, Erlan benar-benar masih terlelap. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun. Sebenarnya petugas kantin sedikit menaruh curiga kepada Erlan yang sudah berada di situ lumayan lama.
" Itu Mas Erlan nya apa tidur kali ya?" ucap salah seorang pegawai kantin.
" Iya kali,coba gih bangunin. Udah lama dia di situ," jawab yang lainnya.
Salah seorang petugas kantin itu mulai bejalan menghampiri Erlan. Dia memberanikan diri untuk membangunkan pria itu.
Beberapa kali dipanggil, Erlan tidak juga merespon. Alhasil pegawai kantin itu menggoyangkan tubuh Erlan.
" Mas ... bagun mas. Mas Erlan ... bangun."
" Eugh ... jam berapa ini," tanya Erlan sambil mengerjapkan matanya. ia berusaha untuk membuka matanya yang sungguh terasa susah untuk dibuka.
" Jam 3 pagi mas."
Erlan seketika langsung mendongakkan kepala. ia melihat jam yang ada di ponselnya. meskipun pandangan matanya masih kabur, dia bisa melihat angka yang ada di benda pipih miliknya itu. Erlkan dengan langkah terhuyung berjalan dengan begitu cepat untuk kembali ke ruang ER.
Bruuk ... bruk ...
beberapa kali Erlan menabrak kursi dan meja kantin. Ia acuh akan hal itu, sedikit sakit memang tapi lumayan membuat matanya bisa kembali terbuka. Sudah 3 jam lumayan dia berada di kantin, hal ini pasti tidak akan berakhir bagus.
" Sial ... kenapa sih, kok bisa-bisanya tidur di kantin selama itu?"
Sepanjang jalan dari kantin menuju ke ruang ER, Erlan menggerutu dan merutuki dirinya sendiri. Berkali-kali dia mengacak rambut dan mengusap wajahnya kasar. Sebuah omelan panjang sudah siap di depan mata.
" Erlan! dari mana saja kamu! Mengapa kamu bisa meninggalkan tanggung jawabmu hah!"
Baru saja kakinya menginjak ruang ER sebuah tatapan tajam dan ucapan keras ia dapat dari sang kepala ruang terebut. Erlan tidak bisa berkata banyak. Jelas ini adalah sebuah kesalahan yang fatal.
" Maaf dok, saya salah."
" Er, aku tidak melarang kamu untuk beristirahat. Tapi jika kamu ingin tidur sejenak, maka beritahu rekanmu dan kalian bisa saling bergantian. Kalau kamu tidak ada omongan maka itu membuat yang lainnya kebingungan juga."
" Maaf dokter, sekali lagi maaf. Saya salah."
" Sudah. sekarang kemabli ke pos mu. lain kali jangan diulangi lagi."
Erlan bernafas lega. Ternyata apa yang terjadi tidak semenakutkan bayangannya. Tapi meski bagaimanapun dia tetap salah, Erlan pun meminta maaf kepada rekannya yang lain.
" Sialan, kenapa Dokter Willy tidak marah? Kenapa hanya begitu saja? aku harap di mendapatkan skors." Yanto mengepalkan tangannya dengan erat. Jelas dia tidak senang dengan perlakuan Dokter Willy kepada Elan.
Pun dengan Maya. Maya sengaja datang ke ER untuk melihat apa yang terjadi dengan Erlan, dan semua tidak sesuai dengan ekspektasinya.
" Shiit, dia lolos kali ini. Oke, kamu aman sekarang, tapi tidak dengan lain kali."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Wijiyanti Solo
hayo kak thor yg bikin NT ini yg baca ada dri golongan dokter yg sesungguh nya dan bilang merusak citra para dokter lho lain kali klau bikin NT lgi jgn Kya senetron y biar para dokter gk demo soalnya citra dokter tercemarkan
2025-02-22
0
Asnidar
ada ya dokter kyak gt... aku jg seorang bidan tp ga ada tu nemu dokter kyak gt, merusak citra dokter aja
2025-02-13
0
Rosita Tumbelaka
kok aneh yaa dokter gk punya harga diri..
2025-01-30
0