Hari mulai sore, Erlan sudah siap untuk berangkat kerja. Ia mendapatkan jatah jaga malam. Maka dari itu, ia sudah mengatakan kepada sang istri untuk tidak perlu menunggunya.
" Terus mas ke rumah sakitnya bagaimana? bukannya motor masih di rumah ya? Aah di rumah ada mobilku. Mas pakai aja ya?"
" Nggak dek, mas pakai motor saja. Mas akan pulang dulu sebentar buat ambil motor. Makanya ini berangkat lebih awal agar tidak terlambat nanti."
Yasmin lalu meraih tangan Erlan dan mencium nya dengan hikmad. Erlan tersenyum, ia juga mencium kening sang istri.
Erlan dan Yasmin berjalan beriringan keluar rumah. Tatapan tidak suka kembali di terima oleh Erlan. Kali ini dari Rendra. Erlan tahu siapa itu Rendra.
" Cih, dasar miskin. Numpang makan, numpang tidur di rumah istri," ejek Rendra.
" Diam kamu Ren! Kamu tidak berhak mencaci suamiku. Apa bedanya dengan kamu, bukankah kamu juga numpang disini?"
Rendra sangat kesal. Ingin rasanya ia menjawab perkataan Yasmin, tapi oleh Astuti dicegah. Ibu dari Renda itu langsung menarik putranya untuk masuk ke dalam rumah.
"Jangan mencari masalah untuk saat ini. Kita harus bisa menahannya," ucap Astuti tajam.
Yasmin sungguh tidak suka dengan sepupunya yang selalu ikut campur tersebut. Ia merasa Rendra akan sering mengganggu Erlan. Ia tahu suaminya bisa saja melawan, tapi kelembutan hati Erlan pasti tidak menginginkan hal itu.
" Sudah sayang, tidak perlu berdebat dengan saudaramu hanya karena aku. Aku tidak akan mati hanya karena diejek begitu."
Yasmin membuang nafasnya kasar. Selalu seperti itu, Erlan selalu mengatakan bahwa lebih baik diam dan tidak mengambil hati setiap perkataan yang menjelekkannya.
Sebenarnya bukan karena dia tidak bisa membalas. Erlan cukup sadar diri posisinya. Dia sama sekali tidak punya power apapun untuk menghadapi keluarga istrinya yang sangat kaya dan terpandang.
Ceklek ... ngeeeek
Erlan membuka pintu rumahnya. Sebenarnya ia pergantian shift di pukul 19.00, tapi pukul 16.00 tadi dia sudah berangkat dari rumah sang istri. Erlan melemparkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan matanya sejenak.
" Haaah, apakah aku selamanya akan hidup tertekan di kediaman itu?"
Seperti ada sebuah batu yang menghimpit dadanya, Erlan berusaha untuk mengatur nafasnya. Rasanya sungguh begitu sesak. Ia tahu saat ini pasti akan datang. Satu hal yang terlintas dalam benak Erlan, apakah dia akan berpisah dari sang istri?
Erlan mengeluarkan motonya. Jam menunjukkan pukul 18.15 menit. Dia harus bersiap ke rumah sakit. Ya, Erlan bekerja disebuah rumah sakit swasta. Rumah Sakit Persahabatan Kita, adalah tempat Erlan bekerja. Di sana dia ditempatkan pada bagian ER atau Emergency Room atau ruang gawat darurat. Konon katanya ER adalah divisi paling sibuk di antara semua divisi rumah sakit.
Dan benar saja, baru saja Erlan menaruh tas nya di loker dan menempelkan tanda pengenalnya di saku baju, ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari ruang gawat darurat. Pria berusia 27 tahun seketika langsung berlari.
" Ada pasien kecelakaan, Erlan segera siapkan semuanya!"
" Siap dok!"
Erlan bergegas menjalankan perintah dari seorang dokter. Erlan memang terkenal sebagai perawat yang rajin dan cepat tanggap. Namun, ternyata pekerjaan baik Erlan tidak selalu disambut baik oleh orang lain.
" Lihat tuh, cih! Sok sekali. Pintar sekali cari muka. Biar dapat penghargaan pegawai teladan pasti tuh!" seloroh salah seorang karyawan lain yang seprofesi dengan Erlan.
" Udahlah Yan, percuma kita ngeggrundel dibelakang. Toh dia tidak akan dengar, dan dia tetap akan jadi andalan para dokter. Baiknya kita buat rencana aja buat mengerjai tuh orang."
" Kau benar To."
Yanto dan Tanto adalah dua perawat yang berada di ER juga. Mereka kebetulan termasuk dalam satu angkatan dengan Erlan saat masuk ke RS Persahabatan Kita. Tapi, mereka tidak menyukai Erlan. Yanto dan Tanto menganggap Erlan selalu cari perhatian dan cari muka sehingga selalu jadi perawat yang dibutuhkan oleh para dokter. Padahal Erlan hanya bekerja secara profesional dan rajin.
" Yan, sini mari bantu membersihkan darah milik pasien," panggil Erlan ke pada Yanto yang hanya berdiri sambil melihat yang lain berlalu lalang.
" Kerjakan saja sendiri, kau kan yang di suruh. Kenapa harus aku ikutan bantu," ucap Yanto sambil berlalu.
Erlan hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ia merasa serba salah, dia tahu banyak yang tidak menyukai dirinya di ruang ER tersebut. Tapi saat ia ingin melibatkan orang-orang itu, mereka pun tidak mau.
" Sudahlah, terserah. Aku hanya bekerja dengan baik. Kalau semua itu menganggu kalian, ya itu bukan salahku," ucap Erlan dalam hati sambil terus membersihkan darah milik korban.
Saat ini, ia sedang membantu menangani korban kecelakaan yang mengalami luka parah di kakinya. Erlan yang begitu cekatan memang selalu membuat para dokter puas dengan hasil kerjanya. Tapi hal tersebut malah menjadikan dirinya sedikit kesulitan.
Tadi baru Yanto dan Tanto, masih ada rekan kerja lainnya yang tidak menyukai Erlan.
Bukan hanya rekan perawat saja, Erlan juga tidak disukai oleh beberapa dokter yang ada di sana. Ternyata tidak semua dokter menyukainya. Ada seorang dokter perempuan yang begitu membenci Erlan. Semua berawal dari Maya, nama dokter tersebut mengungkapkan cinta kepada Erlan tetapi oleh Erlan di tolak.
Dokter Maya menyatakan rasa sukanya kepada Erlan sekitar 4 bulan yang lalu. Terang saja Erlan menolak, dia sudah berstatus sebagai suami dari Yasmin. Dan semenjak itu, Dokter Maya yang awalanya menyukai nya berubah menjadi membencinya.
Pernah suatu ketika, Erlan dibuat tidak bisa istirahat sama sekali oleh Dokter Maya. Bahkan Erlan sampai tidak sempat untuk makan siang. Sungguh kasihan bukan? Tapi, lagi-lagi Erlan hanya bisa pasrah menerima perlakuan tersebut. Dia tidak punya kuasa untuk melawan.
" Ini sudah dok," ucap Erlan setelah menyelesaikan apa yang ia kerjakan.
" Ok, kamu move ke pasien sebelah. bantu yang ada di sana juga ya. lalu tanyakan kepada perawat lain apakah sudah mencari identitas pasien dan menghubungi keluarga mereka?"
" Baik dokter?"
Erlan secepat kilat menuju ke brankar sebelah. Tapi ternyata di sana sudah ada rekannya yang lain. Erlan seketika tersenyum. Ia mengucapkan syukur bahwa semua pasien bisa ditangani dengan baik. meskipun keadaan begitu ramai karena banyaknya korban kecelakaan yang datang.
Sejenak Erlan melihat ke arah para dokter yang sedang melakukan pertolongan. Matanya berair, ia sungguh merasa haru. Sebuah gumaman kecil keluar dari mulutnya, " Andaikan dulu aku punya uang lebih. aku pun ingin bisa menjadi salah satu dari mereka. Dokter, itu sungguh mentereng dan mungkin aku tidak akan dihinakan oleh ibu mertuaku."
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Istiqomah Al mahdi
iri tanda tak mampu bos...😝😝😝
2024-12-09
1
Katherina Ajawaila
sabar Erlsn, org sabar pasti akan menuai berkat.
2024-07-23
1
Jizah Nst
tenang erlan roda terus berputar dan terus semangat
2024-06-14
2