Paginya Zahra terbangun agak kesiangan, ternyata ia melewatkan shalat malam. Saat Ia bangun, waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 shubuh. Zahra segera mandi dan mengambil air wudhu, tidak membutuhkan waktu lama, aktivitas nya dikamar mandi selesai, hanya memakan waktu sekitar kurang lebih sepuluh menit. Saat ia keluar dari kamar mandi, ia mendapati Zayn masih tidur nyenyak di ranjang mereka.
"Apa kamu selalu begini mas selama ini? seperti yang dikatakan mama, huft.."
Zahra menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya ia harus banyak bersabar dan lebih sering mengingatkan suaminya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Seharusnya ia yang butuh bimbingan, namun kali ini suaminya yang butuh di bimbing. Zahra perlahan mendekati ranjang itu, berusaha mengusik tidur sang suami. Perlahan ia bangunkan suaminya, namun memang sulit sekali untuk membangunkan Zayn.
"Mas, mas Zayn bangun. Ini sudah shubuh, ayo duduk sebelum waktu shubuh habis."
Zahra masih sabar membangunkan Zayn. Namun Zayn hanya mendengus karena tidurnya terganggu, dan perlahan membuka matanya. Saat ia terbangun ternyata yang ia lihat wajah cantik Zahra yang sudah terbalut mukena.
"Sudah jam berapa?"
Ia masih mengerjap-ngerjapkan matanya, merenggangkan otot-ototnya ke kiri dan ke kanan. Bunyi krek terdengar nyaring. Ia mengusap wajahnya kasar, Zahra masih saja setia berdiri di hadapannya.
"Kenapa kamu melihat saya seperti itu?"
"Mas buruan mandi, terus kita shalat shubuh berjama'ah, Zahra tungguin ya."
Zahra semangat mengatakan akan melaksanakan shalat berjama'ah shubuh itu. Namun ekspektasinya tidak sesuai harapan, Zayn malah berlalu keluar menuju ruang gym.
"Seharusnya saya tidak perlu berpura-pura, saya sudah lama tidak shalat, sewaktu dirumah Abah, saya shalat hanya untuk menghargai keluarga kamu, karena saya segan dan malu kepada keluarga kamu. Disini saya tidak perlu lagi berbohong. Percuma saya shalat kalau tidak dari hati, kalau kamu mau shalat, shalat sendirian saja, tidak usah menunggu saya. Saya mau keruang gym dulu."
Ini pertama kali Zayn berbicara panjang kali lebar dengan Zahra. Namun semua perkataan nya membuat Zahra sangat kecewa. Bagiamana bisa Zayn mengatakan jika selama ini ia terpaksa melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, sedangkan shalat adalah rukun Islam wajib yang harus dilaksanakan setiap hamba-Nya.
Belum sempat Zahra menjawab, Zayn sudah lebih dulu mendahuluinya keluar kamar dan berjalan keruangan gym. Zahra hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Sabar, kata itu yang ia ucapkan pada dirinya.
Akhirnya Zahra melaksanakan shalat shubuh tanpa suaminya. Setelah salam, ia lanjut membaca zikir dan berdo'a, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar suaminya itu diberikan hidayah oleh Allah SWT.
"Ya Allah, Ya Rabb. Ampunilah segala dosa hamba dan juga dosa suami hamba. Hamba tidak tahu sesakit apa yang dirasakan oleh suami hamba sehingga ia berani meninggalkan Engkau, walaupun hamba tau suami hamba sudah sangat berdosa menyalahkan takdir Engkau. Tapi hamba memohon kepada Engkau Ya Rabb, kembalikan mas Zayn kejalan yang Engkau Ridhoi, jangan biarkan mas Zayn berada dijalan yang sesat lebih lama lagi, karena hamba ingin menjalankan pernikahan ini untuk sama-sama menggapai Ridho Engkau Ya Allah, Aamiin."
Lirihnya memohon kepada Yang Maha Kuasa, tanpa Zahra ketahui, Zayn mendengar semua doa nya saat ia ingin masuk kekamar mengambil handphone miliknya, namun hanya sebatas pintu saja, ia urung karena takut Zahra mengetahui jika dirinya mendengar doa-doanya.
Sebenarnya hatinya serasa tercubit karena doa sang istri, namun ia sudah sangat berdosa sekali, merasa malu jika tiba-tiba ia kembali melaksanakan kewajibannya sebagai umat Islam, sedangkan selama ini ia selalu menyalahkan Takdir-Nya.
Setelah sholat, Zahra melipat mukenanya, lalu menuju dapur untuk membuat sarapan pagi itu untuk semua penghuni rumah. Ternyata disana sudah ada bibi asisten rumah tangga mereka, selang lima menit Aisyahrani ibu mertua Zahra juga sudah tiba di dapur.
"Assalamu'alaikum ma,"
Zahra mengucapkan salam saat melihat mama mertuanya itu mendekat ke arahnya. Dengan senyuman lebarnya ia menyambut mama mertuanya.
"Wa'alaikumsalam sayang. Loh kok sudah di dapur saja, kan semalam suami kamu melarang kamu untuk masak."
Aisyahrani mengingat perkataan anak bungsunya itu, jika ia tidak mengizinkan Zahra memasak kecuali hanya untuk dirinya.
"Tidak apa-apa ma, Zahra tidak enak jika tidak membantu apa-apa dirumah ini. Hanya masak saja, nanti Zahra coba izin sama mas Zayn."
Dengan lembut Zahra mengatakan kepada mama mertuanya. Ia memang benar-benar tidak enak hati jika tidak melakukan apapun dirumah mertuanya itu. Apalagi semuanya sudah dikerjakan oleh asisten rumah tangga, sama halnya di rumah orang tuanya, paling tidak ia sadar diri jika ia sedang tidak tinggal dirumahnya dan suaminya.
Akhirnya pagi itu Zahra membantu mama mertuanya membuat sarapan pagi itu. Sesuai perkataan Mama mertuanya, jika Zayn suka sekali dengan makanan yang berhubungan dengan seafood, jadi ia membuat nasi goreng seafood, dan ditambah dengan tempe mendoan kesukaannya juga, ternyata itu juga kesukaan mama mertuanya dan keluarga.
"Alhamdulillah, selesai juga. Kalau begitu Zahra pamit ke kamar ya ma, soalnya Zahra hari ini kembali kuliah, mau siap-siap dulu."
Pamit Zahra kepada mama mertuanya setelah menyelesaikan membuat sarapan pagi itu dan membantu menatanya di meja makan. Aisyahrani masih berkutat di dapur membuat teh jahe untuk anak-anaknya dan dirinya, kopi untuk suaminya, serta segelas susu untuk menantunya, karena Zahra mengatakan ia sangat menyukai susu.
Saat Zahra memasuki kamar, ternyata suaminya sudah berada dikamar. Ia mendapati tatapan yang tak biasa dari suaminya.
"Dari mana?"
"Maaf mas, Zahra habis bantuin mama di dapur membuat sarapan. Mas jangan marah ya, Zahra hanya tidak enak dengan mama jika tidak melakukan apapun dirumah ini."
Zahra menundukkan kepalanya takut-takut jika Zayn marah kepadanya, karena ia juga mengingat jika Zayn melarangnya masak untuk semua penghuni rumah. Zayn yang tidak tega melihat raut wajah Zahra pun tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Hem, lain kali izin dulu sama saya."
"Baik mas, kalau begitu Zahra siap-siap dulu ya mas."
Akhirnya Zahra bersiap-siap, ia menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Karena ia melihat Zayn sudah keluar dari kamar setelah terlihat rapi dengan baju ala anak kampus pagi itu. Sedangkan Zahra memilih memakai gamis berwana cream dengan hijab dan cadar berwarna senada. Ia sama sekali tidak memoles wajahnya dengan make-up, hanya serangkaian skincare rutin saja. Namun tidak bisa dipungkiri tanpa make-up dan tertutup cadar pun, Zahra terlihat anggun dan aura kecantikannya tetap terpancar.
"Oke selesai. Langsung saja deh bawa tas."
Zahra sudah siap dengan perlengkapan kuliahnya. Saat dimeja makan semua mata tertuju padanya.
"MasyaaAllah sungguh pemandangan pagi ini indah sekali."
Celetukan Fathir mendapat tatapan tajam dari Zayn. Lagi-lagi ia merasa cemburu jika abang-abangnya itu memuji istrinya, hanya dia yang boleh memuji Zahra.
"Bisa dijaga matanya bang, jangan sampai aku congkel bola mata Abang."
"Kejam banget kamu Zay, Abang hanya memuji istri kamu. Walupun Zahra tertutup seperti itu, tapi aura kecantikannya tetap terpancar, kok bisa sih kamu dapat istri seperti Zahra. Cariin dong satu."
Lagi-lagi Fathir tidak tahu sikon. Fathir tidak melihat jika wajah adik bungsunya itu sudah merah padam. Merasa kesal karena abangnya itu tidak paham sama sekali dengan ucapannya.
"Duduk disini adik ipar,"
Emyr menarik kursi kosong yang ada disebelahnya, ia sengaja melakukan hal itu untuk melihat reaksi adik bungsunya. Ternyata sesuai dugaannya, jika Zayn langsung menarik tangan Zahra duduk disamping dirinya.
"Zahra istri aku, ngapain Abang nyuruh Zahra duduk disamping Abang. Buruan cari istri, dari pada gangguin istri orang."
Seketika moodnya berubah buruk pagi itu. Zahra juga terlihat canggung dan merasa tidak enak hati dengan semua penghuni rumah, karena dirinya suami dan ipar-iparnya malah berdebat.
"Kok malah ribut, ayo sarapan. Tidak baik ribut di depan makanan. Zahra jangan dengarkan perkataan ipar-ipar kamu ya sayang. Dan kalian jangan mengganggu Zahra. Ingat, jangan membuat Zahra tidak nyaman dirumah ini, jika mama masih melihat kalian sengaja menggoda Zahra untuk melihat reaksi Zayn. Mama yang akan mengusir kalian dari rumah ini."
"Buset dah ma, kejam banget ma. Jadi sekarang mama sudah tidak sayang kita lagi ni."
Emyr kembali dengan dramanya. Ia memang dijuluki king drama di keluarganya. Namun Zayn yang mendengar penuturan sang Abang keduanya hanya memutar bola matanya malas.
Zahra yang sudah sering diingatkan Ummu Khadijah tentang tugas sebagai istri, tanpa di perintah Zahra melayani suaminya itu untuk mengambilkan makanan.
"Ini mas nasi gorengnya, cukup? Atau mau tambah?"
"Cukup, terimakasih."
Aisyahrani dan Azzam tersenyum melihat Zahra yang melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik. perlakukan Zahra pun mencuri atensi ketiga iparnya. betapa beruntungnya Zayn mendapatkan seorang istri sholehah seperti Zahra. Namun mereka tidak ada lagi mengutarakan pikiran mereka. Takut-takut jika sang adik bungsu kembali ke mode galak.
...----------------...
...To Be Continued ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Satri Ani
eh trus yg manggil zayn daddy itu anak siapa dong ?
2023-12-12
2
YLR
Cemburunya sudah mulai tingkat dewa nih Zay, udah kalau cinta bilang, jangan gengsi 😅
2023-10-22
3
Ainun Humaira
Keluarga zayn positif vibe banget, semoga betah zahra di rumah mertuanya.
2023-10-21
4