Setelah sarapan bersama, Zayn dan Zahra pamit kepada Aisyahrani dan Azzam untuk pergi ke kampus. Begitu juga dengan ketiga Abang Zayn. Emyr dan Fathir berangkat ke perusahaan milik Azzam, sedangkan Fathian juga berangkat ke kampus yang sama dengan Zahra dan Zyan. Bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai dosen.
Ya, walaupun Fathir dan Fathian saudara kembar, namun sifat dan hobi mereka sangat jauh berbeda. Jika Fathir sangat cerewet, namun Fathian lebih pendiam. Jika Fathir lebih senang menjalankan sebuah bisnis, maka Fathian lebih senang di dunia pendidikan. Namun ikatan antara saudara kembar itu tidak bisa di ragukan. Mereka memiliki ikatan yang begitu kuat antara satu sama lain.
Biasanya Zayn akan membawa unggas besi kesayangan nya, namun karena kini ia ke kampus bersama Zahra, Zayn memutuskan untuk membawa kendaraan roda empat miliknya. Kini pasutri itu sedang berada di perjalanan. Antara mereka tidak ada yang memulai percakapan hingga tiba di parkiran fakultas design. Ya, Zahra dan Zayn kuliah di kampus yang sama, namun jurusan yang berbeda, jika Zahra jurusan designer, Zayn jurusan bisnis.
"Mas terimakasih sudah antar Zahra sampai kesini. Kalau begitu Zahra pamit ya mas, Assalamu'alaikum."
Zahra meraih tangan Zayn untuk ia cium. Zayn terkejut dengan apa yang dilakukan Zahra. Tanpa berkata ia membiarkan Zahra mencium tangannya dengan takzim. Setelah bersalaman, Zahra turun dari mobil, ternyata Zayn mengikuti Zahra untuk turun juga dari mobil.
"Loh, mas kenapa ikut turun? Bukankah fakultas mas disana?"
Fakultas mereka jaraknya tidak terlalu jauh, hanya terpisah satu fakultas. Zayn juga tidak paham kenapa ia ikut turun, yang pasti ia ingin mengantarkan Zahra sampai kedepan kelas istrinya. Disaat Zayn ingin menjawab pertanyaan Zahra, seorang gadis menghampiri Zayn.
"Saya.."
"Halo, ternyata benar kakak, dari kejauhan aku melihat kakak, aku fikir aku salah mengenali orang."
Gadis itu tanpa permisi muncul diantara dua orang pasutri baru ini. Zahra pun memperhatikan antara suaminya dengan gadis yang sepertinya lebih muda darinya tiba-tiba muncul dengan memanggil Zayn kakak. Zayn sendiri merasa tidak mengenal gadis tersebut. Namun gadis itu tidak menyerah untuk mendekati Zayn. Bukan karena apa-apa. tapi berkat Zayn dia selamat malam itu dari para preman, dan karena dia Zayn jadi sasaran amukan warga. (Masih ingatkan reader's di bab awal Zayn di amuk warga karena sebuah kesalahpahaman?).
"Maaf saya tidak mengenal kamu."
Zayn merasa risih wanita yang berdiri di antara ia dan Zahra masih juga tak kunjung pergi. Sedangkan ia merasa tidak mengenal wanita itu.
"Kalau begitu perkenalkan, aku Adiva, mahasiswa baru jurusan designer, apa kakak juga jurusan designer? Oh iya, kakak pasti ingat, aku wanita yang malam itu kakak tolong dari para preman. Dan karena itu para warga jadi salah paham dan mengira kakak mencoba melecehkan ku, hingga kakak di amuk warga, aku merasa sangat bersalah dengan kejadian malam itu. Dan sekarang mumpung kita ketemu, selain meminta maaf, aku juga mau mengucapkan terimakasih, terimakasih karena sudah menolong ku, berkat kakak aku baik-baik saja."
Akhirnya baik Zayn maupun Zahra paham, jika gadis itu adalah korban yang hampir dilecehkan. Dan jika bukan karena Zayn, mungkin nasib gadis itu tidak tahu bagaimana sekarang. Dan karena gadis itu juga pertemuan antara Zayn dan keluarga Kiai Hanan membuat Zayn dan Zahra kini ada sebuah ikatan, yaitu ikatan suci pernikahan.
"Oh saya ingat, tidak masalah, itu musibah. Sudah tidak ada yang perlu kamu bicarakan lagi, kalau begitu saya permisi."
Zayn segera menyudahi obrolannya dengan gadis tersebut. Namun ternyata sepertinya gadis yang bernama Adiva ini tidak paham sikon. Ia masih saja betah di sana, sampai membuat Zayn risih, Sedangkan Zahra masih mengamati antara suaminya dengan gadis tersebut. Disaat Zayn beranjak dan mendekati Zahra, Adiva meraih pergelangan tangan Zayn, Zayn pun refleks menepis tangan Adiva.
"Jangan sentuh saya."
"Maaf, aku tidak bermaksud. Kakak kenapa cuek sekali, aku kesini hanya mengucapkan terimakasih. Bagaimana sebagai ucapan terimakasih ku, kakak ku traktir makan."
Adiva berinisiatif untuk mentraktir Zayn makan. Sontak saja ada sedikit rasa cemburu di hati Zahra saat Adiva mengatakan ingin mengajak suaminya makan, apalagi tadi ia melihat gadis itu memegang pergelangan tangan suaminya, untung saja Zayn menepisnya. Walaupun cinta itu belum tumbuh dihatinya, namun bagaimanapun Zayn adalah suaminya. Adiva sendiri masih belum menyadari jika ada Zahra tengah memperhatikan mereka, karena ia hanya fokus kepada Zayn. Sebenarnya bukan hanya untuk mengucapkan terimakasih, tetapi juga ada niat lain, apalagi kalau bukan ingin lebih mengenal Zayn.
Ya, sejak pertemuan nya dengan Zayn yang tidak terduga itu, ia merasa mulai jatuh cinta kepada sosok seorang Zayn. Hanya saja ia tidak tahu kapan akan bertemu lagi dengan Zayn. Dan akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali, di universitas yang sama.
"Maaf saya tidak bisa, saya ikhlas sudah membantu kamu."
Tanpa menghiraukan lagi, Zayn mendekati Zahra yang masih terpaku. Zayn sendiri tidak tahu apakah istrinya akan cemburu atau tidak, karena ia tidak bisa membaca ekspresi Zahra yang tertutup cadar, namun ia bisa melihat dari sorotan Zahra jika istrinya itu sejak tadi memperhatikan dirinya dan Adiva tanpa berkedip. Sedangkan Adiva beralih menatap Zayn yang kini menghampiri wanita bercadar yang menurutnya pasti cantik. Siapa wanita itu, begitu pikir Adiva.
"Kamu mau ke kelas sekarang?"
"Iya mas..."
Belum sempat Zahra menyelesaikan perkataannya, sahabat Zahra menghampiri mereka, siapa lagi kalau bukan Hawa. Ia berlari menghampiri pasutri itu saat dari kejauhan ia melihat Zahra dan Zayn.
"Assalamu'alaikum Ning, mas Zayn." ucap Hawa ramah.
"Wa'alaikumsalam,"
Zayn dan Zahra menjawab bersamaan. Adiva yang masih belum beranjak memperhatikan ketiga orang yang ada di hadapannya. Siapa lagi wanita satu lagi, begitu pikir Adiva. Ia sedikit merasa kesal karena ajakannya ditolak oleh Zayn, dan sekarang muncul satu orang wanita lagi.
"Maaf aku ganggu kalian ya?"
"Tidak sama sekali Wa, mas Zayn juga mau ke fakultasnya, iyakan mas?"
Zahra beralih menatap Zayn. Zayn yang tadi berniat ingin mengetahui kelas Zahra dan ingin mengantarkannya urung karena Hawa datang menghampiri. Jadilah ia mengiyakan perkataan Zahra. Setelah mengobrol sebentar, Zayn pamit kepada Zahra dan Hawa, ia pun segera menuju fakultas nya, karena Zayn kini berada di semester akhir, jadi tugasnya tidak terlalu banyak, ia hanya menemui pembimbingnya saja.
"Ya sudah, kalau begitu saya pamit. Nanti saya jemput kamu kesini. Kabari saya kalau kamu sudah selesai kelas. Assalamu'alaikum."
"Iya mas, Wa'alaikumsalam."
Zayn pun meninggalkan Zahra dan Hawa di parkiran fakultas designer, Adiva yang merasa kecewa dengan penolakan Zayn pun pergi dari sana. Ia juga berpikir keras, ada hubungan apa antara Zayn dengan wanita bercadar itu, kenapa juga harus pamit dan ingin menjemput dia nanti, begitu pikir Adiva.
"Cieee, perhatian banget suami kamu Ra. Aku jadi baper deh."
Hawa menggoda sahabatnya itu. Zahra sebenarnya juga tidak menyangka jika Zayn akan mengatakan hal demikian di depan sahabatnya. Walupun ia masih sangat kaku, namun dengan perlakukan manis suaminya, bisalah ia apresiasi jika Zayn ada niat agar mereka lebih dekat.
"Apasih, yaudah kita kelas yuk. Nanti keburu dosen datang."
Akhirnya Zahra dan Hawa menuju kelas mereka. Mereka duduk disalah satu bangku kosong yang ada di depan. Tidak ada yang berubah setelah Zahra mengambil cuti pernikahannya. Teman-teman Zahra juga tahu, Zahra izin karena menikah, karena mereka juga datang di pesta pernikahan Zahra. Namun tidak ada yang berani menanyakan perihal suami Zahra, karena mereka juga menghargai Zahra, pasti ada sebab kenapa yang menikahi Zahra bukan ustadz Azlan seperti yang tertulis di undangan, melainkan orang lain. Namun mereka merasa itu bukan ranah mereka. Mereka juga tahu Zahra adalah seorang Ning putri dari seorang Kiai yang tersohor di Jawa Timur. Jadi teman-teman sekelas Zahra sangat menyegani Zahra, walaupun Zahra berusaha biasa saja.
...----------------...
...To Be Continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Uswatul Khasana
lanjut
2023-10-19
1
𝐈𝐬𝐭𝐲
adiva udah di cuekin juga masih gak tau diri...
up yg banyak thor...
2023-10-19
3