Siang ini Zayn membawa Zahra kerumah orang tuanya. Ya, ia memang masih tinggal dengan orang tuanya. Zahra tampak berat berpisah dari keluarganya. Lama ia memeluk Ummu Khadijah, bahkan ia tak melepaskan pelukannya dari Ummu Khadijah. Abah Hanan sampai geleng-geleng kepala melihat sikap manja sang putri.
"Dek, kamu ya sudah nikah masih saja manja sama Ummi. Malu sama suami mu itu."
Lagi-lagi Ashraf menggoda adiknya itu. Mungkin setelah Zahra di bawa suaminya. Ia tidak bisa lagi bercanda dan bahkan saling menggoda satu sama lain. Sedangkan Zayn hanya diam saja sedari tadi. Ia juga baru tahu jika istrinya itu sangat manja dengan keluarganya, terutama dengan Ummu Khadijah. Tentu saja begitu, sudah jelas karena Zahra anak bungsu di keluarga Abah Hanan.
"Biarin,"
Zahra hanya menjawab singkat. Ia tidak perduli jika kakaknya tengah menggoda nya. Yang jelas ini pertama kalinya ia jauh dari keluarganya. Selama ini Zahra tidak pernah pergi jauh walaupun hanya sekedar liburan bersama teman. Apalagi kini ia ikut suaminya pindah kerumah mertuanya.
"Nak Zayn, beginilah sifat istrimu. Ingat pesan Abah. Zahra ini putri satu-satunya Abah, jadi jangan pernah menyakiti putri Abah atau pun membuat air matanya terjatuh. Jika nak Zayn tidak sanggup mendidik putri Abah, maka pulangkan lah Zahra secara baik-baik. Seperti pertama kali kamu meminta Zahra untuk menjadi istrimu secara baik-baik pula. Ia akan sangat manja kalau sama keluarganya, seperti yang nak Zayn lihat sekarang. Dan ia akan lebih banyak diam jika ia tak terlalu nyaman dengan lingkungan nya."
Abah memberikan nasehat kepada menantunya itu. Bukannya tidak percaya kepada Zayn dalam mengemban amanah sebagai kepala rumah tangga untuk putrinya, hanya saja yang namanya ayah sudah pasti ada sisi khawatir jika putrinya akan dibawa oleh menantunya, khawatir jika putrinya kekurangan kasih sayang, khawatir jika putrinya sering terabaikan, khawatir jika putrinya akan disakiti dan masih banyak lagi.
"Insya Allah bah. Zayn akan ingat pesan Abah. Doa kan juga rumah tangga Zayn dan Zahra bah, Ummi, Gus."
Ia menatap satu persatu wajah yang ada di hadapannya. Entah kenapa sewaktu Abah Hanan memberikan tanggung jawab itu sepenuhnya terhadap dirinya, ia merasa benar-benar memiliki tanggung jawab itu. Padahal biasanya ia tidak terlalu perduli dengan orang-orang disekitarnya. Semoga saja Zayn benar-benar memegang tanggung jawab sebagai suami Zahra.
Zahra sendiri sampai meneteskan air mata disaat Abah nya memberikan amanah kepada suaminya itu. Dan entah kenapa jawaban sang suami membuat dirinya sedikit tenang. Semoga ia dan suaminya selalu dilindungi dimana pun mereka berada. Begitu pikirnya.
"Insyaa Allah nak, Abah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
Kini supir yang menjemput mereka sudah tiba. Zayn menaikkan barang-barang milik istrinya ke dalam bagasi mobil. Memang tidak terlalu banyak barang bawaan Zahra. Hanya baju-baju dan buku-buku untuk kuliahnya.
"Sayang, ingat pesan Ummi, kamu harus selalu mendengarkan perkataan suamimu. Apapun yang mau kamu lakukan, semuanya harus sesuai izin suami kamu. Karena sekarang ridhomu ada pada ridho suami kamu. Dan jaga selalu aib rumah tangga kalian rapat-rapat. permasalahan apapun yang ada dalam rumah tangga kalian, hanya kamu dan suamimu saja yang berhak mengatasinya."
Sebelum melepas Zahra, Ummu Khadijah menasehati putri satu-satunya itu dengan penuh kasih sayang. Walaupun sebelumnya sudah pernah di ingatkan oleh Ummu Khadijah, namun tidak ada salahnya jika ia mengingatkan sekali lagi.
"Insyaa Allah Ummi, Zahra akan selalu ingat pesan Ummi. Nanti kalau Zahra telfon, Ummi harus selalu angkat ya."
"Iya sayang."
Kini giliran Ashraf yang menatap adik bungsunya itu. Masih ada rasa berat melepas adiknya pergi jauh. Karena selama ini Zahra tidak pernah pergi jauh dari rumah. Andaikan Zahra ada keperluan, pastilah kakaknya itu yang menemani kemanapun Zahra pergi.
"Dek, jaga kesehatan ya disana. Ingat selalu pesan kakak, kamu harus bisa menjaga marwah kamu sebagai seorang istri. Dan jangan mengecewakan suamimu."
"Insyaa Allah, siap laksanakan."
Zahra memberikan isyarat seperti orang tengah hormat. sampai membuat Ummu Khadijah dan Ashraf terkekeh. Saking gemasnya dengan sang adik, Ashraf sampai mengacak-acak kepala adiknya yang tertutup hijab.
"Kusut hijab Zahra kak. Nyebelin deh."
"Ashraf, kamu ini benar-benar ya. Adeknya mau pergi masih saja di usili."
Abah Hanan sampai menegur putra sulungnya itu. Mungkin baik Abah Hanan dan Ummu Khadijah akan merindukan kerandoman putra dan putrinya yang selalu meramaikan suasana dirumah.
"Abah, Ummi, Gus, kalau begitu saya dan Zahra pamit ya."
"Iya nak, hati-hati di perjalanan."
Zahra dan Zayn menyalami kedua paruh baya itu serta Gus Ashraf dengan takzim. Mereka memasuki kendaraan roda empat itu setelah berpamitan. Zahra melambaikan tangannya saat kendaraan roda empat itu akan jalan.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam,"
Mereka membalas lambaian tangan Zahra, Ummi Khadijah meneteskan airmata saat kendaraan roda empat itu tidak lagi tampak di pandangan mata.
"Ayo Ummi kita masuk. Anak mu sudah dewasa, dan sekarang sudah menjadi istri seseorang. Jangan tangisi putri kita. Cukup kita do'akan selalu untuk kebaikan nya serta kebaikan rumah tangga nya."
Abah Hanan membawa istrinya kedalam dekapan, ia paham Zahra adalah satu-satunya anak perempuan mereka sekaligus teman ngobrol sang istri jika dirumah, andaikan Abah dan Ashraf sibuk di pesantren.
Di sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan antara pasutri baru itu. Zahra bingung ingin mengatakan apa, dan Zayn juga tidak tahu mau berucap apa. Jadilah mereka hanya diam saja. Kurang lebih satu jam setengah mereka tiba di kediaman orang tua Zayn. Ternyata Aisyahrani dan Azzam sudah menunggu anak dan menantu mereka di depan rumah.
"Assalamu'alaikum,"
Zahra mengucapkan salam saat ia melihat kedua mertuanya, ia juga segera menyalami kedua paruh baya itu dengan takzim. Aisyahrani dan Azzam menyambut kedatangan menantunya itu dengan baik.
"Masyaa Allah mama kangen banget sama kalian. Bagaimana perjalanan kalian nak?"
"Alhamdulillah lancar ma, hanya sedikit macet."
Ya benar adanya seperti yang dikatakan Zayn, jika mereka terkena macet, makanya sampai satu jam setengah mereka habiskan di perjalanan, yang seharusnya hanya memakan waktu satu jam perjalanan saja.
"Mama dan Papa sehat?" Tanya Zahra lembut.
"Alhamdulillah mama dan papa sehat sayang. Ayo kita masuk."
Aisyahrani segera menggandeng menantunya itu untuk memasuki kediaman mereka. Zahra merasa tersanjung karena disambut sedemikian oleh kedua mertuanya.
"Tapi tas Zahra dan barang-barang Zahra masih di mobil ma."
Zahra teringat jika di bagasi mobil ada barang-barang nya yang lumayan banyak, walaupun isinya hanya baju-baju kuliah serta baju harian dan juga buku-buku kuliahnya. Namun lumayan banyak, untuk buku saja ada tiga dus, dan untuk baju ada dua koper.
"Biarkan suami mu yang membawa nya."
Tanpa membiarkan Zahra berbicara lagi, Aisyahrani langsung menggandeng menantunya itu masuk kedalam rumah.
"Benar-benar mama ini ya. Aku baru sampai sudah disuruh bawa barang-barang Zahra.
Zayn mengomel saat mamanya sudah pergi bersama Zahra. Andaikan itu bukan punya istrinya dan tidak disuruh mamanya untuk membawa barang-barang itu. Rasanya ingin di biarkan saja oleh Zayn.
"Itu juga punya istri kamu kan Zayn. Jadi jangan mengeluh, bawa semuanya kekamar kamu."
Kalau papanya sudah mengatakan hal demikian. Ia tidak bisa lagi membantah. Dengan langkah gontai ia berjalan menggeret dua koper berukuran besar itu kelantai dua tepatnya kamar nya dan yang kini juga jadi kamar sang istri. Setelah itu ia kembali lagi membawa tiga dus berisi buku-buku sang istri.
"Apa aja sih ini yang dibawa Zahra. Berat banget."
Ia mendumel sembari membawa sekaligus tiga dus buku-buku Zahra. Tanpa ia sadari Zahra mengekorinya dari belakang menaiki anak tangga.
"Maaf ya mas, berat ya. Ya sudah sini sebagian Zahra yang bawa."
Zayn hampir saja menjatuhkan barang bawaannya itu saking terkejutnya. Ternyata di saat ia mendumel ada istrinya yang mendengar.
"Eh, sejak kapan kamu dibelakang saya. Bikin kaget saja. Kamu duduk saja sama mama, nanti yang ada mama malah marah sama saya karena membiarkan kamu mengangkat barang-barang ini."
Zayn dengan nada nada datar dan tanpa ekspresi mengatakan hal demikian kepada dirinya, lalu melangkah kelantai atas meninggalkan Zahra. Zahra sampai speechless dengan suaminya itu. Kok ada ya seorang suami dingin banget sama istrinya. Begitu kini yang ada di pikiran Zahra.
"Hay.. Kamu Istri Zayn kan?"
Tiba-tiba saja suara seseorang mengagetkan Zahra. Pasalnya tadi ia hanya berdua dengan sang suami. Kenapa tiba-tiba ada orang lain dibelakang nya. Ia mengelus dadanya saking ia terkejut.
...----------------...
...To Be Continued ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
YLR
Di temani atuh zahra nya kekamar, kan baru pertama kali Zahra tinggal bersama keluarga zayn. dasar gengsi, padahal sudah ada tanda-tanda cinta, tapi masih belum sadar. Thor jangan lama-lama buat zayn jatuh cinta sama zahra ya. kasian juga zahra kalau di dinginin terus sama suami tampannya😌😌😌
2023-10-14
3
Ainun Humaira
Wah hati-hati sama ipar lelaki, walaupun aku yakin zahra bisa menjaga marwahnya sebagai istri.
2023-10-14
4
Wawa Sese
Makanya jangan gengsi zayn, kalau cinta bilang aja, toh zahra istri kami. kalau di embat sama yang lain baru tahu rasa, padahal abanngnya hanya ingin kenala saja.🤭🤭🤭
2023-10-14
6