Saat tiba dikamar, Zahra bingung harus melakukan apa. Apa Zayn akan meminta haknya? Begitu pikir Zahra. Ia sebenarnya belum siap, namun jika Zayn meminta haknya malam ini, ia tidak mungkin menolaknya. Ia takut Allah akan marah kepadanya.
Ehem...
Zayn berdeham. Ia juga bingung harus memulai obrolan dari mana. Ia masih belum sadar juga dengan perasaannya dengan Zahra, yang pasti ia selalu merasa cemburu jika ada lelaki yang memuji Zahra.
"Kamu kalau mau pakai kamar mandi, silahkan duluan, saya setelah kamu saja."
Sangat kaku dan datar sekali. Zahra juga bingung dengan sikap suaminya. Tadi saja mode posesif dihadapan semua ipar dan kedua mertuanya. sekarang bicara saja pakai saya kamu. Sangat formal sekali. Kapan suaminya itu bisa berbicara santai dengan dirinya. begitu pikir Zahra.
"Baik mas, kalau begitu Zahra yang pakai kamar mandi duluan."
Zahra langsung menuju kamar mandi, Zayn melihat punggung Zahra hingga hilang dibalik pintu kamar mandi. Setelah Zahra memasuki kamar mandi, Zayn mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa sih aku kalau berhadapan dengan dia selalu tidak bisa berkutik. Aku bingung harus mulai semuanya dari mana. Tapi kan dia istri aku sekarang, jadi kalau aku minta hak ku boleh kan? Ah tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi, apa yang ada dipikiran Zahra jika aku meminta hak ku sebagai suami. Sedangkan aku saja masih canggung jika berdua dengannya, aku yakin Zahra juga begitu."
Zayn kini berperang dengan pikirannya sendiri, ia mondar-mandir memikirkan apa selanjutnya yang harus ia lakukan. Dan sampai kapan ia akan selalu canggung dengan istrinya. Mana Zahra cantik banget, bagaimana caranya ia bisa menahan dirinya sendiri disaat menatap yang halal baginya itu.
Ceklek
Zahra keluar dari kamar mandi, ia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama. Namun Zahra melihat Zayn yang mondar-mandir seperti memikirkan sesuatu, Zahra memberanikan diri menegur Zayn. Mungkin saja suaminya itu lagi memikirkan masalah, begitu pikir Zahra.
"Mas kenapa? apa ada masalah?"
Zahra bertanya dengan lembut, Zayn spontan terkejut karena Zahra sudah ada di depannya. Saking ia galau sendiri, ia sampai tidak menyadari sang istri sudah keluar dari kamar mandi.
"Oh tidak, bukan apa-apa, kalau begitu saya juga mau bersih-bersih dulu."
Zayn langsung gegas masuk kekamar mandi, bisa gila dia kalau lama-lama berdua dengan istrinya itu. Apalagi Zahra terlihat semakin cantik disaat rambut panjang nan hitam itu tergerai lurus. Sampai-sampai Zayn sulit sekali mengalihkan pandangannya dari sang istri. Zahra bingung dengan Zayn yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu, namun ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Mungkin suaminya perlu waktu untuk berbagi cerita.
Saat Zahra tengah memakai serangkaian skincare rutinnya, Zayn baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya. Terlihatlah roti sobek Zayn yang terlihat seksi itu dimata Zahra saat ia menoleh ke arah suaminya.
"Maaf, saya lupa membawa baju ganti,"
Zayn semakin canggung saat Zahra menundukkan kepalanya saat ia melihat Zayn keluar dari kamar mandi. Padahal yang dipandang Zahra sudah halal baginya, namun ia masih belum terbiasa melihat suaminya tanpa menggunakan pakaian lengkap.
Setelah Zahra selesai memakai rangkaian skincare rutinnya, Zayn juga sudah mengganti pakaiannya dengan piyama. Mereka sama-sama menaiki ranjang dengan canggung. Zahra bingung harus menghadap tidur ke arah mana, sedangkan ia tahu tidak baik tidur memunggungi suaminya, jadilah ia hanya menatap langit-langit, begitupun dengan Zayn.
"Oh iya, besok saya ada jadwal kekampus, kalau kamu juga ada Jadwal, besok pergi bareng saya."
Zayn mencoba memulai pembicaraan dengan Zahra, walupun hanya membahas seputar keberangkatan kuliah, namun itu sudah lumayan, karena ia ingin membiasakan diri untuk berbicara dengan istrinya.
"Baik mas, Zahra juga ada kelas pagi besok sampai siang."
Zahra juga sama canggung nya dengan Zayn. Mungkin begini kali ya jika menikah tanpa adanya cinta, apalagi dadakan. Bagaimana besok di kampus? Apakah mereka akan tetap seperti ini? Atau tidak saling mengenal. Entahlah, hanya Zayn dan Zahra yang tahu mereka ingin menjalankan pernikahan yang bagaimana.
"Ya sudah, sekarang kamu tidur, saya juga mau tidur."
Zayn tidak tahu lagi membahas obrolan apa, jadilah ia akhiri obrolannya dengan Zahra malam itu.
"Mas,"
"Kenapa? Apa ada yang mau kamu katakan?"
Zayn yang tadi ingin menutup mata urung karena Zahra menyebut namanya. Ia juga penasaran apa yang akan disampaikan oleh Zahra. Namun ia juga tidak berani menatap sang istri, takut-takut tergoda jika menatap yang sudah halal baginya itu, sedangkan mereka masih saja canggung hingga saat ini.
"Zahra belum sempat mengatakan ini kepada mas, terimakasih sudah mau menikahi Zahra dan menyelamatkan Zahra serta keluarga dari gunjingan orang-orang jika pernikahan Zahra batal, walaupun pasti akan tetap ada yang ghibah karena suami Zahra bukan ustadz Azlan. Namun Zahra bersyukur yang menikahi Zahra adalah mas, bukan ustadz Azlan."
Entah kenapa sepertinya Zahra sudah tahu alasan ustadz Azlan memutuskan pernikahan mereka. Jelas disaat Zahra mengatakan ia bersyukur jika yang menikahinya melainkan Zayn, bukanlah Azlan. Namun sepertinya ia belum siap menceritakan kepada keluarganya.
"Kenapa begitu? Bukankah kak Ashraf bilang kamu sudah lama mengagumi ustadz Azlan, namun kenapa kamu malah bersyukur saya yang menikahi kamu dan bukan ustadz Azlan. Bukan kah seharusnya kamu marah atau kecewa?"
Zayn tak habis pikir dengan perkataan Zahra. Namun ia tidak ingin terlalu berpikiran berlebihan tentang wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
"Emm.. Maksud Zahra, berarti ustadz Azlan bukan jodoh yang terbaik untuk Zahra. Allah tahu siapa jodoh yang terbaik untuk Zahra."
"Apa itu berarti saya jodoh yang terbaik untuk kamu?"
Lagi-lagi Zahra bingung menjawab pertanyaan suaminya. Ia merutuki dirinya sendiri, ternyata perkataannya menjadi senjata makan tuan. Niat ingin mengalihkan pembicaraan, malah ia yang terpojokkan. Sungguh Zahra sepertinya ingin menghilang dari permukaan bumi.
"Lupakan mas, kalau begitu Zahra tidur duluan. Takut besok bangun terlambat, mas juga segera tidur. Assalamu'alaikum,"
Zahra memunggungi suaminya. Ia teramat malu setelah mengucapkan perkataan yang ia ucapkan barusan kepada suaminya. Pipinya kini juga merah seperti tomat, karena saking malunya. Ternyata Zayn tersenyum melihat tingkah Zahra yang malu-malu seperti itu.
"Wa'alaikumsalam, selamat tidur Zahraku."
Blush
Kini jantung Zahra kian berdebar, namun ia sama sekali tidak berani menatap suaminya ataupun bergerak sedikitpun. Ia pura-pura tidak mendengar perkataan suaminya yang mengatakan Zahraku. Bagi Zahra itu panggilan yang begitu romantis. Sedangkan Zayn setelah mengucapkan kata tersebut, ia juga segera menutup matanya. Tak lama pasutri baru itu menuju alam mimpi bersamaan. Sungguh mereka sangat lucu, hihi.
...----------------...
...To Be Continued ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ainun Humaira
Gemesnya dengan zahra dan zayn
2023-10-21
7
Uswatul Khasana
lanjutt
2023-10-17
7