Setelah shalat zhuhur, sesuai kabar yang disampaikan oleh pihak dari ustadz Azlan. Mereka kini tiba di kediaman Kiai Hanan. Keluarga Abah Hanan pun sudah menanti kedatangan mereka, termasuk Zayn juga ikut bergabung dalam pertemuan dua keluarga itu. Sedangkan Hawa menemani Zahra dikamar, ia tidak di izinkan Ummu Khadijah untuk keluar dari kamarnya.
Pihak dari ustadz Azlan hanya ada Ibunda dan Ayahnya saja termasuk ustadz Azlan sendiri. Memang keluarga dari ustadz Azlan bukan dari kalangan Kiai. Namun karena melihat kebaikan serta keseriusan Ustadz Azlan, makannya Kiai Hanan menerima pinangan dari calon besannya itu, toh sang putri juga mengiyakan.
Keadaan saat ini cukup tegang. Tampak raut dari wajah calon besan Kiai Hanan dan Ummu Khadijah tampak tidak baik-baik saja. Namun tidak mungkin Abah Hanan atau Ummu Khadijah langsung menanyakan perihal kedatangan mereka, karena mereka belum mengatakan sama sekali maksud tujuan dari kedatangan mereka.
"Ayo pak, Bu, nak Azlan, diminum dulu minumannya."
"Terimakasih Ummi."
Khem...
Sebelum memulai berbicara, Azlan berdeham untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ia tatap satu-satu calon mertuanya, ada rasa takut dan bersalah dalam dirinya.
"Mohon maaf sebelumnya, apa ada masalah nak Azlan? Kenapa berat sekali menyampaikan maksud tujuan nak Azlan dan keluarga kemari."
Abah Hanan melihat keraguan dari calon menantunya untuk mengatakan maksud tujuan mereka tiba-tiba datang sehari sebelum hari H pernikahan, karena melihat keluarga dari calon menantunya tidak kunjung berbicara.
"Sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya Abah, Ummi, Gus. Saya tidak bermaksud untuk membuat kekacauan, walaupun apa yang akan saya sampaikan akan membuat Abah, Ummi dan Gus Ashraf akan sangat kecewa nantinya kepada saya, terlebih Ning Zahra sendiri. Tapi ini harus saya sampaikan demi kebaikan bersama."
Bibirnya bergetar saat memulai pembicaraan yang akan membuat pihak calonnya kecewa kepada nya. Namun harus bagaimana, ini semua harus disampaikan kepada keluarga calon istrinya, walupun nanti dari pihak Abah Hanan akan sangat marah dengan apa yang akan ia sampai kan.
Mendengar penuturan permintaan maaf dari Azlan. Perasaan Ummu Khadijah semakin kalut, namun berbeda dengan Abah Hanan, ia menyikapi nya dengan sangat tenang. Mereka masih menunggu kelanjutan perihal yang akan di sampaikan oleh Azlan.
"Apa yang akan ustadz sampaikan? jangan bertele-tele."
Gus Ashraf mencela perkataan ustadz Azlan, karena ia tidak sabar mendengar kelanjutan nya. Ia merasa bahwa bukan kabar baik yang dibawa calon adik iparnya, melainkan sebaliknya.
"Tolong utamakan Adab nak."
Abah Hanan menasehati putranya. Walau bagaimanapun nantinya hasil pembicaraan mereka. Abah Hanan akan mengemukakan adab terlebih dahulu. Baik itu menyakitkan atau sebaliknya. Semoga saja bukan hal yang buruk, begitu pikir Kiai Hanan.
"Maaf Abah, lanjutkan ustadz."
Gus Ashraf memang sedikit tersulut emosi, namun karena ada Abah dan Ummi nya, ia berusaha meredamnya. Semoga saja calon adik iparnya tidak akan membuat mereka kecewa.
"Saya mohon maaf karena tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan Ning Zahra."
Ia memejamkan matanya saat mengatakan hal yang sulit untuk ia sampaikan. Namun itu semua harus ia utarakan, Walaupun akan membuat sakit hati dan kecewa calon mertuanya.
Deg!
Mendengar penuturan ustadz Azlan. Membuat Wajah Ummu Khadijah dan Gus Ashraf memerah. Namun Kiai Hanan masih bersikap tenang, seolah-olah ia tahu semua ini akan terjadi. Ia masih menantikan kelanjutan apa alasan calon menantunya membatalkan pernikahannya dengan putrinya Ning Zahra.
"Apa maksud kamu ustadz, jangan main-main kamu. Besok adalah pernikahan mu dengan adik ku. Semua undangan juga sudah disebar, persiapan juga sudah matang. Apa-apaan kamu membatalkan sepihak pernikahan mu dengan Ning Zahra."
sontak Gus Ashraf berang dengan penuturan ustadz Azlan. Ia tidak terima adik satu-satunya di permainkan, karena ia sangat menyayangi adiknya itu.
"Sabar nak, biarkan ustadz Azlan menyampaikan alasannya terlebih dahulu."
Abah Hanan menahan tangan sang putra yang sudah mengepal kuat. Bagaimanapun ustadz Azlan belum menyampaikan alasan nya ingin membatalkan pernikahan nya dengan putri satu-satunya itu.
"Maaf kan saya Abah, Ummi, saya tidak bermaksud untuk membuat keluarga Abah malu. Saya punya alasan yang kuat, maafkan saya."
Meluruh lah buliran bening itu di pipinya. Ustadz Azlan bersimpuh di hadapan Kiai Hanan dan Ummu Khadijah. Ia tidak bermaksud menyakiti hati calon mertuanya itu. Apalagi selama ini Kiai Hanan dan Ummu Khadijah sangat menyayanginya. Ya, Ustadz Azlan adalah salah satu santri kebanggaan Kiai Hanan.
"Saya tidak bisa menikahi putri Abah karena suatu alasan. Namun saya tidak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya, karena alasan ini termasuk aib untuk keluarga saya. Namun ini demi kebaikan bersama saya harus membatalkan pernikahan ini, saya tahu ini akan sangat menyakiti hati Ummi dan Abah, terlebih lagi hati Ning Zahra. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa. Abah, Ummi dan keluarga boleh marah dan membenci saya. Tapi tolong maafkan saya."
Ustadz Azlan terisak di hadapan calon keluarga mertuanya yang bisa dikatakan gagal. Ibu dan ayah Ustadz Azlan pun tak bisa menahan tangis mereka. Mereka juga sangat malu di hadapan keluarga calon besan nya itu. Namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa. Selain meminta maaf.
"Kiai, Ummi, saya mewakili putra saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Jika pernikahan ini tetap dilanjutkan, akan lebih membuat keluarga Kiai malu. Dan kami mengambil keputusan ini demi kebaikan bersama."
Ayahanda ustadz Azlan akhirnya berbicara juga. Sedari tadi ia hanya diam saja, namun ia juga tak ingin hubungan antara dua keluarga sampai rusak, ya walaupun pasti mereka memaafkan, hubungan baik mereka tidak akan sama seperti sebelumnya.
"Baiklah, saya sudah memaafkan nak Azlan dan keluarga. Apapun alasan nak Azlan membatalkan pernikahan dengan putri Abah karena sebuah aib yang tak bisa disampaikan. Maka, simpan lah aib itu rapat-rapat. Bukan kah Allah menutup setiap aib hambanya. Jadi nak Azlan tidak perlu membuka aib itu sendiri."
Abah Hanan menanggapi dengan tenang, walaupun ia kecewa dengan calon menantunya, namun ia hanya bisa ikhlas dan pasrah kali ini. Mungkin ini sudah suratan takdir putrinya, jika keluarga nya kelak harus menanggung malu, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Abah Hanan yakin jika Allah sedang merencanakan sesuatu yang baik untuk putri tercintanya.
"Tidak bisa begitu Abah, dia sudah menyakiti hati adikku. Tidak hanya hati adik ku yang sakit, tetapi juga hati Ummi dan Abah termasuk aku. Bagaimana Abah menerima pembatalan pernikahan begitu saja tanpa ada alasan yang jelas."
Berang Gus Ashraf menatap tajam calon adik iparnya yang tak jadi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati Zahra jika mengetahui calon suaminya ingin membatalkan pernikahan secara tiba-tiba, dengan alasan karena sebuah aib yang tak bisa mereka jelaskan.
"Sabar nak, biarkan apa yang seharusnya terjadi, kita tidak bisa melawan takdir Allah. Ini sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Sebagai hambanya kita hanya bisa berlapang dada menerima takdir ini. InsyaaAllah adik kamu akan menerima semuanya, dan akan di gantikan dengan calon suami yang lebih baik untuk adikmu."
"Terimakasih Abah sudah mau memahami, saya sekali lagi saya minta maaf bah, Ummi, Gus, tolong sampaikan maaf saya kepada Ning Zahra."
Ia bersimpuh di hadapan Abah Hanan, namun Abah Hanan menahan badannya. Sedangkan Ummu Khadijah tak bisa berkata-kata sedari tadi. Ia hanya bisa terdiam menghadapi semua ini. Inilah firasat yang ia rasakan beberapa hari sebelumnya.
Setelah obrolan itu, mereka semua pamit kepada Kiai Hanan, Ummu Khadijah, Gus Ashraf dan Zayn yang juga disana. Zayn sedari tadi hanya diam mengamati, ia jika di posisi keluarga Abah Hanan, pasti akan sangat kecewa, bahkan akan lebih marah di bandingkan dengan Gus Ashraf. Namun karena ia orang luar, ia tak bisa ikut campur begitu saja, biarkan lah mereka menyelesaikan permasalah mereka. Begitu pikir Zayn.
Namun, sikap tenang Abah Hanan patut ia apresiasi. Zayn kagum dengan sosok keluarga Abah Hanan, terutama Abah Hanan sendiri. Walaupun sudah dikecewakan, namun ia tetap menanggapi dengan setenang mungkin. Bahkan memaafkan keluarga dari calon menantunya tanpa mengetahui alasan mereka. Sedangkan Ummu Khadijah hanya diam saja, walaupun Zayn sendiri tahu banyak yang ingin disampaikan oleh Ummu Khadijah kepada calon keluarga besannya yang tak jadi. Dan Gus Ashraf mampu menahan amarahnya saat Abah Hanan menasehati.
...----------------...
...To Be Continued ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
deon agriche's wife
aib apetuuuuu
2023-12-26
1
Surianti
kereeeen utk Abah .... Barakallahu fiikum banyak memberi pelajaran kesabaran. belajar dari Kiayai
2023-10-25
1
Ainun Humaira
Sungguh sakit hati dan kecewa banget jadi Zahra. Tapi gpp, semoga zahra sama Zayn.
2023-10-04
9