Firasat

Hari ini sudah berdiri tenda pernikahan di depan kediaman Kiai Hanan. Walupun acara pernikahan nya diadakan dirumah, namun acara pernikahan Zahra dan calon nya bisa dikatakan mewah. Bagaimana tidak, halaman yang cukup luas dipenuhi seluruh tenda, hingga ke halaman pesantren. Apalagi Zahra adalah putri satu-satunya, sudah pasti acara pernikahan nya mengundang banyak orang dan tamu penting. Sosok Kiai Hanan pun juga sangat tersohor dan dikenal di beberapa kalangan di kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Orang-orang tengah sibuk dalam persiapan tersebut. Di dapur para ibu-ibu sekitar juga ikut membantu. Sudah menjadi kebiasaan jika ada yang memiliki hajat atau acara besar pasti para ibu-ibu ikut berbondong-bondong memberikan tenaga mereka dan fokus pada kegiatan masak dan menyiapkan segala kebutuhan pangan. Para pekerja yang mendirikan tenda juga sibuk dengan tugas mereka. Sesuai request dari Zahra, ia meminta tema serba putih dengan banyaknya bunga yang menghiasi pelaminan dan dekorasi, sesuai dengan warna kesukaan nya.

Kini Zahra berada di dalam kamarnya, ditemani oleh sahabat dekatnya. Ia tengah luluran dan merawat dirinya untuk persiapan pernikahan nya yang akan di adakan satu hari lagi.

"Ra, bagaimana perasaan kamu yang sebentar lagi akan dinikahi oleh seorang ustadz tampan? Dan akan menjadi seorang istri di usia kamu yang masih muda ini?."

Hawa menanyakan perihal itu karena memang ustadz Azlan calon suaminya Zahra memang banyak yang mengangumi, bahkan jauh sebelum Zahra di lamar oleh ustadz Azlan. Banyak yang patah hati karena sang ustadz memilih Zahra menjadi calon istirnya.

"Aku deg-degan banget Wa, aku tidak pernah membayangkan akan menikah di usia ku yang baru saja menginjak 21 tahun, apalagi lelaki yang akan menikahi ku adalah lelaki yang memang aku kagumi sedari kita duduk dibangku SMA kelas satu."

Ya, memang Zahra tidak pernah memikirkan akan menikah dengan ustadz Azlan. Apalagi usianya masih sangat muda. Namun karena keseriusan ustadz Azlan dan keberanian nya dalam meminta nya langsung kepada Abah Hanan, membuat Zahra kagum dan menerima lamarannya.

"MasyaaAllah, aku jadi membayangkan nanti jika kalian sudah menikah dan punya anak, bagaimana ya anak kalian, pasti cantik-cantik dan tampan-tampan. Apalagi ibunya cantik seperti kamu, dan ayahnya tampan seperti ustadz Azlan."

Hawa sudah membayangkan bagaimana nantinya anak-anak dari Zahra dan ustadz Azlan. Zahra yang mendengar penuturan sang sahabat pun juga ikut membayangkan. Ia pun senyum-senyum sendiri mengingat bagaimana awal nya ustadz Azlan melamar dirinya di hadapan Abah Hanan, Ummu Khadijah dan Kakaknya Gus Ashraf dengan berani.

"Ciiee... Senyum-senyum sendiri, ingat jangan membayangkan lelaki yang bukan mahram. Sabar satu hari lagi kok."

"Astaghfirullah, ampuni hamba Ya Allah."

"Aku maklum kok Ra, aku kalau jadi kamu juga pasti setiap hari senyum-senyum sendiri seperti orang gila, hihi."

"Hus, udah deh kita ganti topik, tidak baik menceritakan lelaki yang bukan mahram, bukan kah kamu mengatakan begitu?"

Memang begitu lah mereka, jika sudah berdua pasti ada saja pembahasan yang mereka bicarakan, apalagi soal ustadz Azlan yang memiliki banyak penggemar wanita, terlebih para santriwati di pesantren Kiai Hanan sendiri.

"Iya deh Ning. Oh iya Ra, setelah kamu menikah nanti, kamu dan suami kamu nantinya akan tinggal di sini atau di rumah Ustadz Azlan?" Tanya Hawa penasaran.

"Belum tahu Wa, mungkin nanti kita bicarakan. Yang pasti kemanapun suami ku kelak membawa ku, sudah pasti aku harus ikut kemanapun ia akan membawa ku."

Zahra dan ustadz Azlan memang belum membahas rencana dimana nantinya mereka akan tinggal, yang pasti jika Allah memang menjodohkan mereka, tentunya sebagai istri Sholehah, Zahra akan ikut kemanapun suaminya akan membawanya.

"Iya deh Ning Zahra, kamu benar-benar calon istri sholehah untuk ustadz Azlan."

Zahra memang gadis yang sholehah, terutama ia selalu menuruti perkataan kedua orang tuanya, sama sekali tidak pernah membantah. Zahra juga anak kebanggaan Abah Hanan dan Ummu Khadijah, plus adik kesayangan Gus Ashraf.

"Apasih kamu ikut-ikutan panggil aku dengan sebutan Ning."

"Ya kan kamu memang seorang Ning."

"Terserah kamu saja deh Wa. Yang penting Kamu senang."

Selalu saja jika Zahra di panggil Ning oleh sahabatnya itu, ia akan sangat kesal sekali. Bukan tidak bersyukur terlahir di keluarga Kiai dan mendapatkan gelar Ning. Hanya saja Zahra lebih senang orang lain menganggap nya sebagai orang biasa, bukan seorang anak Kiai ataupun orang yang tersohor seperti Abahnya.

"Hehe, oh iya Ra, tadi aku lihat sewaktu mau masuk ke kamar kamu, kakak kamu Gus Ashraf sedang mengobrol dengan seorang lelaki tampan, itu siapa?"

Sebenarnya Hawa memang sudah penasaran sedari tadi, namun ia juga segan dengan sang sahabat. Baru tiba langsung menanyakan seorang lelaki, kan dia juga malu. Walaupun Zahra sahabatnya, akan tetapi mereka juga saling menghargai dan menjaga privasi masing-masing.

"Oh itu, namanya Zayn. Dia orang yang pernah di tolong Abah dan kak Ashraf, kenapa kamu menanyakan tentang dia? Kamu naksir?"

Zahra menatap sahabatnya dengan penuh selidik. Sepertinya sahabat nya itu ada perasaan tersembunyi kepada tamu yang ditolong oleh Abahnya itu.

"Ya nggak lah, ya kali baru pertama lihat aku sudah naksir. Tapi boleh sih, soalnya ganteng banget, ngalah-ngalahin aktor Korea. Gus Ashraf kakak kamu sama ustadz Azlan saja kalah ganteng nya. Maaf ya bukan bermaksud, aku hanya mengatakan yang sejujurnya. Hehe."

"Hhmm, memangnya setampan itu? Aku tidak berani menatapnya, aku berusaha menjaga pandangan ku dari lelaki lain, apalagi aku akan segera menikah. Tidak pantas jika aku mengagumi lelaki selain calon imamku."

Zahra, dia memang selalu begitu dengan lelaki yang bukan mahramnya. Ya, Selama beberapa hari ini setiap berhadapan langsung dengan Zayn, baik dimeja makan, atau berpapasan dengan Zayn di rumah itu, Zahra selalu menundukkan pandangannya, ia tak berani menatap Zayn sama sekali.

"Iya deh, aku percaya. Oh iya Ra, memangnya kenapa dia sampai di tolong sama Abah dan Gus Ashraf?"

"Kata Abah begini ceritanya..."

Zahra menceritakan semua yang disampaikan Abah nya tanpa ada yang ia kurangi maupun ia lebihkan mengenai bagaimana Abah Hanan dan Gus Ashraf bisa membawa ia kerumah ini. Hawa yang mendengar penuturan sang sahabat hanya bisa ternganga dan menutup mulutnya. Tak menyangka jika lelaki tampan itu mengalami kejadian naas itu.

"Innalilahi wa innailaihi raji'un, kasian banget dia. Untung ketampanan nya tidak berkurang, hihi."

Memang saat Hawa pertamakali melihat Zayn, ia langsung tertarik dengan lelaki tampan itu. Bagaimana tidak, ia memiliki wajah bak pangeran dengan badan atletis dan tinggi semampai, siapa pun pasti langsung terpana dengan nya. Sama halnya seperti para santriwati yang melihat Zayn pertama kali di lingkungan pesantren.

"Astaghfirullah nyebut, tidak baik terlalu berlebihan mengagumi seorang yang bukan mahram kita."

"Astaghfirullah, iya deh Ning. Susah ni kalau berbicara sama seorang anak Kiai,"

Zahra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang sahabat. Ia juga memaklumi sahabatnya itu. Memang begitu lah sifat hawa, selalu apa adanya.

Tok.. Tok.. Tok..

"Assalamu'alaikum Zahra, boleh Ummi masuk nak?"

Suara ketukan menghentikan obrolan dua sahabat itu. Ummu Khadijah mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum sang putri mengizinkan nya masuk. Walupun Zahra adalah anaknya, namun ia juga menghargai privasi sang putri. Begitulah sedari dahulu Ummu Khadijah mengajar kan anak-anak nya.

"Wa'alaikumsalam Ummi, silakan Ummi, tidak dikunci."

"Ummi mengganggu waktu kalian tidak?"

Jika Zahra bersama sahabat nya, Ummu Khadijah selalu menghargai nya. Pasti ia akan bertanya terlebih dahulu, agar kehadiran Ummu Khadijah tidak menggangu mereka. Walau bagaimanapun anak gadisnya sudah dewasa, pasti ada hal-hal yang ia bahas bersama sahabatnya jika mereka bertemu.

"Tidak sama sekali Ummi, ada apa ya Ummi? Duduk sini Ummi."

Zahra menepuk bagian kosong disamping ia duduk. Ummu Khadijah pun duduk disamping sang putri. Ada raut khawatir terlihat di wajah Ummu Khadijah. Namun dari pada ia menebak-nebak, lebih baik langsung ditanyakan kepada putri tercintanya.

"Begini nak, tadi ibunya dari ustadz Azlan menghubungi Ummi, calon suami kamu dan keluarga nya ingin menemui kita. Apa ada ustadz Azlan mengabari kamu sayang?"

"Tidak ada Ummi. Memangnya ada masalah Ummi, bukankah pernikahan aku dan ustadz Azlan akan dilangsungkan besok?"

Ya, sejak seminggu sebelum hari H, mereka tidak pernah bertemu. Lebih tepatnya demi kebaikan keduanya, mereka memilih untuk tidak bertemu secara langsung baik dilingkungan pesantren ataupun melalui via chat atau telfon. Karena Zahra juga sangat menghindari komunikasi langsung jika hanya berdua.

"Ummi juga belum mengetahui pastinya, Ummi menanyakan ini sama kamu, karena Ummi fikir ustadz Azlan ada membahas maksud kedatangan mereka."

"Tidak sama sekali Ummi. Memangnya jam berapa mereka kesini Ummi?"

"InsyaaAllah setelah shalat zhuhur nak. Semoga tidak ada masalah. Ummi hanya ingin menanyakan itu sama kamu. Jangan terlalu dipikirkan. Tetap fokus untuk pernikahan kamu saja ya sayang."

"Ummi keluar dulu ya, Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikumsalam Ummi,"

Ummu Khadijah merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi, tetapi entah apa, Ummu Khadijah pun tidak tahu. Hanya firasat seorang ibu, namun biasanya firasat seorang ibu tidak pernah salah.

Zahra yang setelah mendengar penuturan sang ibu pun juga kepikiran. Kini pikirannya bercabang kemana-mana. Apa yang akan disampaikan oleh pihak dari ustadz Azlan? kenapa mereka harus datang sehari sebelum hari H? Bukan kah acara pernikahan nya akan di adakan satu hari lagi? Begitulah yang ada di pikiran Zahra kini. Hingga suara Hawa membuyarkan lamunannya.

"Ra, kamu memikirkan apa? apa kamu memikirkan maksud kedatangan calon suamimu dan keluarganya?"

Melihat keterdiaman sahabatnya, Hawa yakin sekali pasti sahabat nya itu tengah menghawatirkan apa yang akan terjadi, walaupun ia juga sama-sama memikirkan maksud kedatangan ustad Azlan tiba-tiba sehari sebelum hari H.

"Eh, bukan. Maksud aku iya Wa. Kenapa ustadz Azlan tidak mengabari aku sama sekali. Apa yang akan mereka sampaikan. Aku jadi takut Wa."

"Jangan terlalu dipikirkan, seperti yang Ummi katakan tadi, fokus saja untuk pernikahan kamu besok. InsyaaAllah tidak ada hal buruk yang akan terjadi."

Hawa mengelus punggung sahabatnya itu. Hawa berusaha menenangkan sahabat nya. Sebenarnya ia juga ikut kepikiran. Ia juga sedang bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa calon sahabat nya tiba-tiba ingin menemui keluarga Zahra sehari sebelum hari H. Namun ia tidak ingin menambah beban pikiran sang sahabat. Jadilah ia meredam rasa penasaran nya.

...****************...

Assalamu'alaikum sahabat Musim_Salju.

Ini karya kedua Author. baca juga karya pertama author yang berjudul PENANTIAN KEKASIH HALAL. Jangan lupa dukungan nya juga agar Author semangat dalam menyelesaikan tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan jejak (like, komen, subscribe, vote dan favorite kan agar tidak ketinggalan update selanjutnya). Karena tanpa dukungan sahabat semua. Novel yang Author tulis tidak ada artinya. Terimakasih.

Follow Ig Author @winda_srimawati

...----------------...

...To Be Continued...

Terpopuler

Comments

Bin's

Bin's

Maunya Zahra sama Zayn, tapi bagaimana dengan Hawa?😢

2023-10-24

1

Ainun Humaira

Ainun Humaira

Andaikan Zahra menikah dengan Zayn

2023-10-04

7

lihat semua
Episodes
1 Sebuah Kesalahpahaman
2 Menjaga Pandangan
3 Ketampanan Seorang Zayn
4 Firasat
5 Pembatalan Pernikahan
6 Izinkan Aku Menikahinya
7 Bertemu Kawan Lama
8 Mahar
9 Gelisah
10 Hari Bahagia
11 Sudahkah Jatuh Cinta
12 Kewajiban Istri
13 Suami Dingin
14 Pindahan
15 Kulkas Dua Belas Pintu
16 Berdebar
17 Mode Galak
18 Zahraku
19 Cemburu
20 Pertemuan
21 Di Ajak Kenalan
22 Bertukar Nomor Handphone
23 Garis Keturunan
24 Suara Jeritan Nayna
25 Bidadari
26 Aktivitas Zahra dan Zayn
27 Perpustakaan
28 Maaf Untuk Adiva
29 Sayang
30 Ke Curug
31 Kembali Ke Kediaman Papa Azzam
32 Melakukan Kewajiban
33 Arumi Nasha Razetha
34 Pingsan
35 Di Izinkan Pulang
36 Sudah Ada Calon?
37 Oppa
38 Gadis Yang Baik
39 Mual dan Muntah
40 Rujak Mangga Muda
41 Memanjat Pohon Mangga
42 Pengumuman (Novel Penantian Kekasih Halal)
43 Dikejar Anjing
44 Garis Dua
45 Ingin Soto Medan
46 Mobil Mogok
47 Check Up
48 Saran Dokter
49 Salah Bicara
50 Kabar Bahagia
51 Tidak Mungkin
52 Sidang Kelulusan
53 Cafe Ala Resto & Pusat Oleh-oleh
54 Wisuda
55 Ke Mall
56 Kecewa
57 Acara Empat Bulanan
58 Kembalinya Arumi
59 Kembar Tiga
60 Ungkapan Perasaan Zayn
61 Pertimbangan Zayn
62 Meminta Izin
63 Kejutan Untuk Zahra
64 Rumah Minimalis Kaca
65 Ulah Neyna
66 Tasyakuran Rumah Baru
67 Setan
68 Jadilah Wanita Yang Berkelas
69 Manusia Ular Atau Manusia Rubah?
70 Hanya Karena Pisang Goreng
71 Sangat Di Hargai
72 Berpamitan Ke Pondok
73 Mentang-mentang Ada Pawangnya
74 Bertemu Ustadz Azlan
75 Memangnya Masih Boleh Shalat?
76 Dosen?
77 Mood Ibu Hamil
78 Pendarahan
79 Henti Jantung
80 Koma
81 Bangun Zahra
82 Ternyata Arumi & Adiva?
83 Kejang-Kejang
84 Zahra Sadar
85 Bingung Mau Kasih Judul Apa
86 Pengumuman (Kau Hanya Untukku)
87 Akhirnya Zahra Pulang
88 Pemberian Nama & Aqiqah
89 Kegiatan Abin & Ibun Di Pagi Hari
90 Rencana Arumi
91 Bukan Salah Adiva
92 Akhirnya Thian Sadar
93 Menunjukkan Perasaan
94 Rencana Perjodohan Gus Ashraf
95 Wedding Day (A & Z)
96 The End
97 Extra Part 1
98 Extra Part 2
99 Extra Part 3
100 Extra Part 4
101 Extra Part 5
102 Extra Part 6
103 Extra Part 7
104 Extra Part 8
105 Extra Part 9
106 Extra Part 10
107 Extra Part 11
108 Extra Part 12
109 PENGUMUMAN
110 Shanum: SAMUEL & HANUM
111 Novel "Ours Time"
112 Novel: Takdir di Ujung Waktu
113 Novel: Jodoh Jalur Ummi
Episodes

Updated 113 Episodes

1
Sebuah Kesalahpahaman
2
Menjaga Pandangan
3
Ketampanan Seorang Zayn
4
Firasat
5
Pembatalan Pernikahan
6
Izinkan Aku Menikahinya
7
Bertemu Kawan Lama
8
Mahar
9
Gelisah
10
Hari Bahagia
11
Sudahkah Jatuh Cinta
12
Kewajiban Istri
13
Suami Dingin
14
Pindahan
15
Kulkas Dua Belas Pintu
16
Berdebar
17
Mode Galak
18
Zahraku
19
Cemburu
20
Pertemuan
21
Di Ajak Kenalan
22
Bertukar Nomor Handphone
23
Garis Keturunan
24
Suara Jeritan Nayna
25
Bidadari
26
Aktivitas Zahra dan Zayn
27
Perpustakaan
28
Maaf Untuk Adiva
29
Sayang
30
Ke Curug
31
Kembali Ke Kediaman Papa Azzam
32
Melakukan Kewajiban
33
Arumi Nasha Razetha
34
Pingsan
35
Di Izinkan Pulang
36
Sudah Ada Calon?
37
Oppa
38
Gadis Yang Baik
39
Mual dan Muntah
40
Rujak Mangga Muda
41
Memanjat Pohon Mangga
42
Pengumuman (Novel Penantian Kekasih Halal)
43
Dikejar Anjing
44
Garis Dua
45
Ingin Soto Medan
46
Mobil Mogok
47
Check Up
48
Saran Dokter
49
Salah Bicara
50
Kabar Bahagia
51
Tidak Mungkin
52
Sidang Kelulusan
53
Cafe Ala Resto & Pusat Oleh-oleh
54
Wisuda
55
Ke Mall
56
Kecewa
57
Acara Empat Bulanan
58
Kembalinya Arumi
59
Kembar Tiga
60
Ungkapan Perasaan Zayn
61
Pertimbangan Zayn
62
Meminta Izin
63
Kejutan Untuk Zahra
64
Rumah Minimalis Kaca
65
Ulah Neyna
66
Tasyakuran Rumah Baru
67
Setan
68
Jadilah Wanita Yang Berkelas
69
Manusia Ular Atau Manusia Rubah?
70
Hanya Karena Pisang Goreng
71
Sangat Di Hargai
72
Berpamitan Ke Pondok
73
Mentang-mentang Ada Pawangnya
74
Bertemu Ustadz Azlan
75
Memangnya Masih Boleh Shalat?
76
Dosen?
77
Mood Ibu Hamil
78
Pendarahan
79
Henti Jantung
80
Koma
81
Bangun Zahra
82
Ternyata Arumi & Adiva?
83
Kejang-Kejang
84
Zahra Sadar
85
Bingung Mau Kasih Judul Apa
86
Pengumuman (Kau Hanya Untukku)
87
Akhirnya Zahra Pulang
88
Pemberian Nama & Aqiqah
89
Kegiatan Abin & Ibun Di Pagi Hari
90
Rencana Arumi
91
Bukan Salah Adiva
92
Akhirnya Thian Sadar
93
Menunjukkan Perasaan
94
Rencana Perjodohan Gus Ashraf
95
Wedding Day (A & Z)
96
The End
97
Extra Part 1
98
Extra Part 2
99
Extra Part 3
100
Extra Part 4
101
Extra Part 5
102
Extra Part 6
103
Extra Part 7
104
Extra Part 8
105
Extra Part 9
106
Extra Part 10
107
Extra Part 11
108
Extra Part 12
109
PENGUMUMAN
110
Shanum: SAMUEL & HANUM
111
Novel "Ours Time"
112
Novel: Takdir di Ujung Waktu
113
Novel: Jodoh Jalur Ummi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!